Dibalik Secangkir Teh

Kebenaran Lainnya 2

Ibu beranjak ke dalam kamar lalu keluar lagi sambil membawa amplop cokelat.

“Di sini tertulis semua tentang kamu. Termasuk siapa ibu kandungmu. Dokumen ini diberikan emak kepada ibu supaya ibu bisa menyimpannya dan tidak ketahuan oleh kamu. Suatu saat nanti, kamu mungkin ingin mencari ibu kandungmu dan mencari kebenarannya, kami tidak akan menghalangi. Itu hak kamu. Ibumu meninggal ketika kamu berusia tujuh tahun. Beliau perempuan luar biasa. Bertahun-tahun ibumu berjuang dengan satu harapan, bisa melihatmu tumbuh besar. Ibumu beberapa kali datang ke rumah. Kamu menjadi energi kuat yang bisa membuat ibumu bertahan.”

Aku menerima amplop cokelat tersebut dengan tangan gemetar. Fakta ini sungguh membuatku terguncang. Suatu saat nanti, amin apa yang akan aku imani kali ini?

“Jadi, kalian bukan orang tua kandungku?” tanyaku pilu.

“Bukan. Aku adalah kakakmu. Kamu adik bungsu kami. Darah abah sama-sama mengalir dalam tubuh kita.”

“Bolehkah Ratih tetap memanggil ibu?”

“Tentu saja. Kamu boleh tetap memanggilku ibu. Ibu juga mewakili kakak-kakakmu yang lain, ingin minta maaf sama kamu karena sikap kami selama ini. Menerima kamu sebagai adik itu sangat berat bagi kami. Bayang-bayang abah yang sudah menyakiti emak dan kesedihan emak akibat perbuatan abah, membuat kami memutuskan hidup jauh dari abah dan emak. Kami tidak bisa menerimamu. Tapi, kami juga tidak bisa membencimu. Jadi lebih baik kamu jauh dari jangkauan dan pandangan kami.”

“Bu, apa boleh Ratih memeluk ibu?” Aku memberanikan diri untuk memeluknya.

Ibu tidak menjawab. Dia langsung beranjak mendekatiku. Merentangkan tangannya lalu memelukku dengan erat. Tanpa suara, air mata mengalir membasahi baju kami berdua.

“Kamu hebat. Kamu sudah melewati hari-hari yang sangat berat,” bisik ibu di telinga kananku.

“Ratih minta maaf kalau selama ini merepotkan keluarga,” isakku.

“Kamu enggak salah. Kamu tidak bisa memilih lahir dari orang tua yang mana. Kami marah dan kecewa kepada abah dan emak. Abah yang sudah melakukan kesalahan fatal dan emak yang memiliki hati seluas samudera dengan bersedia merawatmu seperti anaknya sendiri. Kami sengaja menjaga jarak denganmu karena kami tak ingin perasaan tidak suka kami akan berubah menjadi kebencian yang tidak bisa kami kendalikan.”

“Maaf karena Ratih tidak bisa menjaga Laras Rasa. Ratih malah membuat emak kehilangan ruko yang dibeli dengan keringatnya.”

“Mungkin memang harus seperti ini. Bagi kami, ruko itu jadi wujud nyata kesedihan dan air mata emak. Sejak kedatangan ibumu lalu disusul dengan keputusan emak untuk merawatmu, setiap hari emak menghabiskan hampir seluruh waktunya di ruko itu. Emak pernah bilang, bertemu dan berbincang dengan para pelanggan membuat hati emak jauh lebih tenang. Dengan kamu menjualnya, kamu sudah meruntuhkan salah satu saksi perjalanan emak dan kekecewaan kami. Karena itulah, kami diam saja dengan keputusan kamu.”

Aku mengurai pelukan dan kembali duduk. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau abah menorehkan luka begitu dalam kepada keluarganya.

“Kami sebagai kakak-kakakmu tidak bisa menjanjikan kalau setelah ini semuanya akan baik-baik saja. Pasti ada yang berubah. Jangan paksa kami untuk bisa menerima kamu sama seperti emak. Ibu hanya bisa memastikan kalau kami tidak akan membuangmu. Kamu boleh tetap tinggal di rumah abah, melanjutkan Laras Rasa, juga melanjutkan hidup kamu.”

Lama kami bertiga diam. Sejak tadi, aku tidak mendengar suara Ajeng sepatah kata pun. Aku tahu, dia lebih dari sekadar terkejut. Aku pun masih berharap kalau semua ini hanya mimpi yang akan berakhir ketika aku membuka mata.

Suara mobil bapak atau lebih tepatnya kakak iparku menyadarkan lamunanku. Gegas aku menyeka sisa air mata, lalu pamit untuk pulang ke Lampung. Aku merasa urusanku di sini sudah usai. Sudah bukan waktunya lagi untuk menangis dan menyesali apa yang sudah terjadi. Aku harus segera pulang dan menata hidupku sendiri tanpa bergantung lagi kepada orang lain.

***

“Tih, kamu enggak kenapa-kenapa kan?”

“Jelas aku kenapa-kenapa. Kamu dengar kan apa yang tadi diceritakan ibuku, eh kakakku maksudnya. Siapa yang akan baik-baik saja menghadapi kenyataan itu.”

Aku dan Ajeng sedang menikmati makan di Botani Square sambil menunggu Damri ke Lampung yang akan berangkat satu jam lagi. Tubuhku nyaris tak bertenaga. Semua energi terkuras oleh berbagai emosi yang menerjang tiba-tiba.

“Jeng, kamu tahu gak? Selama ini aku sangat percaya dan yakin dengan kalimat ‘Suatu saat nanti’. Sebuah harapan berbalut doa dan keyakinan kalau semua keinginan kita akan terwujud suatu saat nanti. Kalimat tersebut kembali muncul dalam pikiranku kurang lebih beberapa hari ini. Kata yang dulu pernah terucap juga sekitar tahun 2017 sebagai dasar salah satu pengantar doaku saat mengucap sebuah impian yang akan aku gapai.”

Mataku menerawang mencoba menembus remang di luar sana.

“Suatu saat nanti aku pengen bisa memeluk hangat bapak dan ibu. Tertawa bersama kedua adikku sambil berbagi cerita. Bisa berkumpul dan diajak main bareng sepupu-sepupuku. Entah mengapa, kalimat ‘Suatu Saat Nanti’ menancap begitu kuat dalam benakku. Aku jadi penasaran, apakah semesta sekarang sedang bekerja mengumpulkan puzzle demi puzzle amin yang kuimani? Doaku saat ini sederhana, ‘Semoga untuk apa yang disemogakan seperti segera untuk yang disegerakan’.”

Ajeng menggenggam tanganku.

“Tih, kita enggak pernah tahu ke mana semesta menuntun langkah kita. Entah jalan itu mulus, berkerikil, masih berbentuk setapak, atau mungkin buntu. Contohnya aku, siapa yang bisa memprediksi rumah tanggaku akan berantakan. Orang hanya melihat aku yang selalu tersenyum dan tidak kekurangan secara materi. Mereka enggak tahu kalau aku selalu merasa minder ketika pulang ke Lampung terus menerima tatapan mengejek, kasihan, ah macam-macam pokoknya. Aku sadar, aku hanya harus bertahan dan terus saja berjalan walaupun pelan-pelan. Lama-lama aku kaget karena ternyata aku sudah jauh meninggalkan luka-lukaku.”

 “Berat banget Jeng.” Aku menghembuskan napas berat.

“Memang. Aku enggak bilang ini gampang. Aku juga enggak akan menyuruhmu untuk sabar atau menghibur kamu dengan kata-kata klise. Aku yakin, kamu pasti akan sabar ketika kamu enggak punya pilihan lain. Aku mau, kamu tetap bertahan. Berjalanlah pelan-pelan. Kamu punya luka dan luka itu harus dirawat. Bukan diabaikan. Kamu masih punya aku.”

Makasih banyak ya Jeng. Aku enggak tahu gimana jadinya kalau tadi ke sini sendirian. Aku masih enggak percaya. Puluhan tahun loh Jeng, puluhan tahun mereka menutup rapat semuanya. Aku pengen marah. Tapi, marah ke siapa?”

“Aku enggak membela siapa pun. Menurutku, mereka juga punya alasan kuat untuk tidak membicarakannya. Kan tadi kamu dengar sendiri, untuk kakak-kakakmu, ini juga bukan sesuatu yang mudah. Kalian hanya perlu waktu. Bukan perkara mudah untuk bisa saling menerima, tetapi ya enggak mustahil juga. Bus kamu udah mau berangkat tuh. Ayo siap-siap. Jangan sampai kamu ditinggal. Aku sih seneng kalau kamu masih di sini.”

“Enak aja. Aku harus pulang. Lusa harus ngurus surat-surat penjualan ruko.”

Bus yang aku tumpangi mulai bergerak keluar dari Botani Square. Aku mulai mereka-reka rencana apa yang akan aku lakukan besok dan seterusnya. Sesaat bayangan Dimas berkelebat. Membawa angan pada pertanyaan, haruskah aku mulai memikirkan permintaannya untuk kembali merancang masa depan bersama?

Lalu kolase kenangan selama sepekan di Solo mulai mengusir ingatan tentang Dimas. Solo yang telah menyeretku ke dalam arus pusaran rasa. Adakah ‘suatu saat nanti’ yang bisa aku aminkan di sana?  

Entahlah. Yang jelas, masih banyak perjalanan yang mesti dikisahkan....

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!