Dibalik Secangkir Teh
Laras Rasa
Emak sudah suka membuat kue jauh sebelum menikah dengan abah. Tidak heran, begitu menikah, urusan makan dan ngemil abah menjadi kewenangan emak sepenuhnya. Begitu pula dengan anak-anak emak. Sejak SD hingga SMP, anak-anak emak nyaris tidak pernah jajan di kantin sekolah. Emak selalu membawakan mereka bekal makan siang sampai makanan ringan untuk cemilan.
Ketika anak-anak emak mulai beranjak remaja dan dewasa, emak mulai menerima pesanan kue dari para tetangga dan kantor abah. Sebelumnya, banyak yang memesan kue emak, tetapi selalu ditolak dengan alasan emak masih mau fokus urus anak dan suami. Maka, begitu emak mulai mau menerima pesanan, emak langsung banjir orderan. Tak sedikit yang emak tolak karena keterbatasan waktu serta tenaga. Ya, emak mengerjakan semuanya sendiri. Kadang dibantu anak-anaknya jika mereka sudah pulang sekolah.
Kue dan masakan emak sangat enak. Tidak ada yang meragukan hal itu. Jumlah pesanan yang semakin banyak membuat emak mau tidak mau harus merekrut karyawan untuk membantunya. Bi Juesah adalah karyawan pertama emak. Bi Juesah tinggal tepat di belakang rumah emak. Dia janda dengan tiga anak. Suaminya meninggal karena stroke. Kondisi keluarga yang sangat kekurangan menyebabkan Bi Juesah tidak bisa maksimal dalam mengobati suaminya. Walaupun tidak ada basic membuat kue, Bi Juesah belajar dengan sangat cepat.
“Ratih, emak menerima pesanan karena emak pengen punya uang untuk emak kasih ke anak-anak emak. Kalau ditanya apakah kami miskin, emak bisa jawab kami enggak miskin. Gaji abah sebagai PNS bisa emak atur untuk biaya kami sehari-hari. Walaupun, sebelum abah gajian, emak sering ngutang beras, minyak, dan kebutuhan lainnya ke warung Mang Ono.”
Mata emak berkaca-kaca sambil menerawang, “Satu hari, tantemu sedang main bp atau orang-orangan dari kertas sama temannya. Gambar baju yang ada di mainan itu bagus-bagus. Ada juga kasur, kalung, dan aksesoris lainnya. Emak dengar dengan jelas sekali, tantemu dan temannya merasa bingung untuk memerankan orang kaya. Mereka tidak tahu bagaimana hidup orang kaya.”
Kala itu, tontonan belum marak seperti sekarang. Apalagi di Buah Dua, Sumedang, tempat abah dan emak tinggal. Anak-anak sudah merasa puas jika bisa bermain dengan teman-temannya. Satu kampung itu tidak ada yang memiliki TV berwarna. Penduduk lebih banyak menghabiskan waktu di sawah atau di pasar. Sedikit sekali yang menjadi pegawai negeri seperti abah.
Emak ingin menghasilkan uang untuk membantu abah. Bukan sekadar untuk menjadi kaya. Emak hanya tidak mau anak-anaknya sampai tidak berani bermimpi untuk menjadi orang kaya atau sukses.
Baru dua tahun emak merintis toko kue yang belum dia beri nama, abah sudah dipindahtugaskan ke Lampung. Mau tidak mau emak dan anak-anaknya ikut pindah bersama abah. Dengan berat hati, emak meninggalkan para pelanggan kuenya. Namun, emak memberikan peralatan kuenya ke Bi Juesah. Emak berharap, Bi Juesah bisa meneruskan berjualan kue untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Abah dan emak memulai hidup di Lampung. Tinggal di daerah Kemiling yang cukup dingin karena berada di dataran tinggi dan dekat dengan Gunung Betung.
Badai itu datang di kehidupan emak dan abah ketika emak berpikir sebentar lagi mereka hanya tinggal menikmati masa tua saja. Anak-anak emak sudah dewasa. Bahkan anak emak yang pertama atau uwaku dan ibuku sudah menikah. Uwa membawa istrinya tinggal di Lampung Barat. Ibu-bapakku tinggal di Lampung dekat rumah emak. Sedang kedua adik perempuan ibu memilih kuliah di Yogya.
Pagi itu, emak dan abah sedang duduk berdua di teras. Lalu datang seorang perempuan menemui abah dan emak sambil membawa anak kecil berusia setahun. Perempuan itu mengatakan kalau anak kecil yang dia bawa adalah anak abah. Perempuan itu mengaku sudah menikah siri dengan abah satu setengah tahun lalu. Abah tidak membantah semua yang didengar emak. Asma emak kambuh sampai membuatnya pingsan.
Sejak saat itu, semuanya berubah. Abah dan emak tidak bercerai, tetapi kehangatan yang biasanya menyelimuti rumah mendadak sirna. Emak hanya memberitahu keempat anaknya saja. Emak diam menyembunyikan semuanya dari keluarga besar emak dan abah. Hingga saat ini, keluarga besar emak dan abah tidak pernah tahu kalau abah memiliki anak dari perempuan lain.
Aku ingat, beberapa kali aku sering melihat ada seorang perempuan yang bertamu ke rumah abah dan emak. Namun, setelah aku beranjak besar, aku tidak pernah lagi melihat perempuan itu.
Emak melanjutkan ceritanya. Beberapa bulan setelah kedatangan perempuan itu, emak pergi ke Sumedang, mengajak Bi Juesah agar mau ikut ke Lampung dan membantu emak membuka toko kue. Bi Juesah tidak menolak, ikut emak ke Lampung sambil membawa Mbak Ani, anak bungsunya. Dua anaknya yang lain ditinggalkan di Sumedang bersama orang tua Bi Juesah.
Dibantu oleh Bi Juesah, emak mulai membuka toko kue yang diberi nama Laras Rasa. Selain untuk mengalihkan rasa sakitnya atas pengkhianatan abah, emak juga mulai berpikir utuk tidak bergantung sepenuhnya kepada abah. Emak paham, pengeluaran mereka bertambah karena abah punya kewajiban memberi nafkah kepada anak dari istri sirinya. Emak pun harus mapan secara finansial agar jika sewaktu-waktu abah pergi, emak bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Perlahan, Laras Rasa mulai berkembang. Walau tidak pesat, tapi lebih dari cukup untuk membuat tabungan emak membengkak.
Menurut cerita dari abah dan emak, aku lahir bertepatan dengan peringatan empat tahun Laras Rasa. Hal ini juga sama dengan cerita dari kedua orangtuaku. Kehadiranku dianggap membawa berkah bagi Laras Rasa yang saat itu bisa pindah ke sebuah ruko di Kemiling. Tidak lagi menempati dapur sempit di rumah emak.
“Ratih, itulah awal keterikatan kamu dengan Laras Rasa. Kalian terhubung satu sama lain melalui tangan dan hati emak.”
Aku mulai membuka tiap lembar kenangan. Bertahun-tahun aku tumbuh bersama Laras Rasa, aku tidak bisa merasakan adanya keterikatan yang emak katakan. Bagiku, toko kue itu tak ubahnya seperti toko-toko yang lain. Sebatas tempat usaha emak. Tak ada perasaan lain yang aku rasakan tiap kali aku bermain di Laras Rasa. Karena itulah, aku memilih untuk bekerja di kantoran dengan gaji menggiurkan dibandingkan harus meneruskan Laras Rasa.
Di tahun keempat kuliahku, Bi Juesah minta izin untuk pulang ke Sumedang karena ingin menghabiskan hari tuanya di sana. Mbak Ani, anak Bi Juesah tetap ikut emak dan bekerja di Toko Kue Laras Rasa. Hingga saat ini, Mbak Ani menjadi satu-satunya orang yang tahu bagaimana jatuh-bangun emak membesarkan Laras Rasa.
***