Dibalik Seragam Sekolah
Seragam Baru, Dunia Baru
Udara pagi di gerbang Sekolah Nasional Cendekia terasa berbeda dari udara pagi di sekolah manapun yang pernah Raka rasakan. Angin yang lewat membawa aroma taman yang rapi, gedung yang menjulang tinggi, dan langkah-langkah siswa berseragam putih abu yang terlihat begitu percaya diri.
Raka berdiri di depan gerbang besar itu sambil menatap papan nama sekolah yang bertuliskan huruf emas. ‘Sekolah Nasional Cendekia’ Sekolah elit yang menjadi impian banyak siswa, tempat anak-anak pejabat, pengusaha, dan kalangan atas menimba ilmu.
Tangannya sedikit gemetar saat menggenggam tali tasnya.
Dia masih tidak percaya seorang anak kampung sepertinya bisa diterima di sekolah ini lewat jalur beasiswa penuh.
“Raka!”
Suara riang itu membuatnya menoleh. Dari kejauhan, seorang remaja dengan rambut sedikit berantakan berlari ke arahnya sambil menenteng buku.
“Bayu?” seru Raka, setengah tak percaya.
Bayu terkekeh dan menepuk bahunya. “Gila! Gue gak nyangka lo keterima juga di sini! Kirain cuma rumor!”
Raka ikut tersenyum, perasaan tegangnya sedikit reda, mereka dulu teman SMP, sempat berpisah karena Bayu pindah rumah, siapa sangka akhirnya mereka dipertemukan lagi di sekolah yang sama.
“Lo dapet beasiswa juga?” tanya Raka.
Bayu mengangguk. “Iya. Tapi gue di jurusan IPS, lo kan IPA.”
“Oh, pantes,” gumam Raka sambil tersenyum klecil.
Mereka berjalan berdampingan melewati koridor yang luas. Lantai keramiknya mengkilap, jendela-jendela besar memantulkan sinar matahari pagi. Raka memperhatikan murid-murid lain dengan kagum, semuanya tampak rapi, memakai sepatu mahal, dan membawa ponsel terbaru di tangan.
“Lo liat tuh,” bisik Bayu pelan.
Raka menoleh ke arah yang ditunjuk. Di ujung koridor, sekelompok siswa laki-laki sedang tertawa keras. Salah satu di antaranya berdiri dengan tangan di saku, wajahnya tegas, dagunya terangkat, dan senyumnya penuh keangkuhan.
“Itu si Rendi,” lanjut Bayu setengah berbisik. “Ketua geng di sekolah ini. Anak orang kaya banget. Lo jangan cari gara-gara sama dia.”
Raka menelan ludah. “Kenapa?”
“Soalnya dia paling gak suka sama anak beasiswa. Katanya cuma numpang nama sekolah. Lo ngerti kan maksud gue?”
Raka diam. Ada sedikit perih di dada mendengar kalimat itu. Tapi dia menahan diri. Dia datang ke sini bukan untuk cari musuh, tapi untuk belajar, untuk membuktikan bahwa nilai dan tekad bisa melampaui harta.
Bayu menepuk pundaknya lagi. “Santai aja, Rak. Selama lo gak ganggu mereka, mereka juga gak bakal ganggu lo.”
Raka mengangguk pelan. Namun, nasib kadang punya selera humor yang aneh.
---
Kelas 10 IPA 1.
Raka menatap papan nama di atas pintu kelas dengan sedikit gugup. Ini hari pertamanya, dan dia ingin meninggalkan kesan baik.
Dia menarik napas, mengetuk pelan, lalu masuk. Beberapa siswa sudah duduk di bangkunya masing-masing, sebagian mengobrol sambil tertawa, sebagian lagi sibuk dengan ponsel mereka. Raka mencari tempat kosong dan duduk di kursi paling belakang, dekat jendela.
Suara derit kursi membuat beberapa kepala menoleh.
Tatapan mereka membuatnya merasa seperti sedang diperiksa dari ujung kepala sampai kaki.
“Eh, itu anak baru ya?”
“Kayaknya anak beasiswa deh.”
“Serius? Mukanya kayak gak cocok di sekolah ini.”
Bisik-bisik itu terdengar jelas, tapi Raka berpura-pura tidak mendengar. Dia membuka buku catatannya dan menulis nama di halaman pertama, namun ketenangannya hanya bertahan sebentar.
“Eh, lihat siapa yang duduk di bangku belakang,” suara berat dan penuh ejekan terdengar dari arah depan.
Raka mendongak. Di sana berdiri sosok yang tadi ditunjuk Bayu di koridor.
Rendi.
Di belakangnya, dua temannya bernama Fahsya dan Vino, mereka tertawa kecil, menatap Raka dengan tatapan mengejek.
“Anak beasiswa, ya?” Rendi melangkah mendekat sambil menyeringai.
“Iya,” jawab Raka singkat, berusaha sopan.
“Minggir, ini tempat duduk gue.”
Raka mengerjap. “Oh, maaf. Di papan nama gak ada tanda tempat duduk milik siapa.”
Fahsya terkekeh. “Denger tuh, Rend. Anak baru ngelawan.”
Vino menambahkan, “Mungkin dia pikir ini sekolah negeri, semua kursi gratis.”
Beberapa murid yang mendengar mulai tertawa kecil. Pipi Raka panas. Ia menggigit bibir, menatap meja di depannya.
“Gue duduk di sini dari dulu,” lanjut Rendi santai. “Pindah sana di depan.”
Raka diam. Hatinya berdebar. Ia ingin bilang bahwa duduk di mana pun tak penting, tapi cara Rendi bicara membuat dadanya sesak, guru masih belum datang.
Raka menatap sekeliling, semua orang memperhatikannya tapi tak satupun berani bicara.
Ia menarik napas panjang, lalu berdiri pelan. “Baiklah. Kalau memang tempat kamu, saya pindah.”
Ia memungut tasnya, berjalan ke bangku tengah yang masih kosong, suara tawa kecil terdengar lagi, membuat langkahnya terasa berat.
Namun, begitu ia duduk, ia menghela nafas panjang. Ada pula yang menatapnya takjub sebab berani melawan Rendi karna di kelas ini tidak ada yang berani melawan ketua geng di sekolah.
—
Guru fisika masuk, memperkenalkan diri. Suasana langsung berubah jadi tenang. Raka berusaha fokus pada papan tulis, tapi suara tawa kecil dari belakang terus mengganggu pikirannya.
“Baik, sebelum mulai pelajaran, saya ingin melihat kemampuan dasar kalian,” kata guru itu. “Coba, siapa yang bisa menyebutkan hukum Newton kedua?”
Kelas terdiam. Rendi melirik teman-temannya, tersenyum tipis. “Biar anak baru aja, Pak.”
Semua mata kembali mengarah ke Rendi. Membuat Raka menelan ludah mendengarnya.
“Iya, kamu,” ujar guru dengan nada lembut. “Namamu siapa?”
“Raka, Pak.” Raka tersenyum dia memang cukup menguasai materi pelajaran fisika namun dia sedikit gugup karena ini hari pertamanya masuk sekolah.
“Baik, Raka. Coba jawab pertanyaannya.”
Raka menatap papan tulis sejenak, lalu mulai menjelaskan dengan tenang.
“Hukum Newton kedua berbunyi: percepatan yang dialami benda berbanding lurus dengan gaya yang bekerja padanya, dan berbanding terbalik dengan massanya. Secara matematis, F = m × a.”
Guru mengangguk puas. “Bagus sekali, Raka! Penjelasanmu jelas.”
Beberapa siswa terdiam. Bahkan Rendi yang tadi bersandar di kursinya, tampak menghentikan gerakan pensil di tangannya.
Raka menunduk malu, tapi dalam hati merasa lega. Paling tidak, hari ini ia membuktikan sesuatu.
---
Istirahat tiba. Raka hendak keluar membeli air minum di kantin, tapi langkahnya terhenti di depan pintu. Rendi berdiri di sana, bersandar santai dengan tangan di saku.
“Hebat juga lo tadi,” katanya dengan nada datar. “Anak beasiswa, pinter juga.”
Raka menatapnya sebentar. “Saya cuma jawab pertanyaan, gak lebih.”
Rendi tersenyum tipis. “Santai aja. Gue cuma bilang hebat. Tapi inget ya, di sekolah ini, gak semua hal bisa lo dapet cuma karena lo pinter.”
Ia menepuk bahu Raka pelan, lalu berlalu bersama Fahsya dan Vino. Raka menatap punggung mereka menghilang di ujung koridor, lalu menghela nafas panjang.
Ia menarik nafas panjang, dalam hati ia sudah berjanji. Tak peduli seberapa keras dunia ini menolaknya, ia akan tetap bertahan. Karena untuknya, beasiswa ini bukan sekadar tiket sekolah, tapi satu-satunya jalan untuk mengubah nasib keluarga di rumah.
Dan tanpa ia sadari, dari kejauhan, ada tatapan dari seorang gadis yang mengikutinya, tatapan penasaran dari seorang gadis yang merasa akan tersaingi.