Dibalik Seragam Sekolah

Suara Dari Rumah Tua

Rumah Raka bukanlah rumah besar, bukan pula rumah yang terlihat kokoh. Cat dindingnya mulai memudar, atapnya beberapa kali ditambal, dan ruang tamunya hanya cukup untuk dua kursi plastik dan sebuah meja kecil yang pernah patah kakinya. Tapi di balik kesederhanaan itu, rumah kecil ini selalu terasa hangat karena di dalamnya, ada satu-satunya orang yang selalu memperjuangkan Raka tanpa pamrih yaitu ibunya.

 

Sore itu, langit menggantungkan warna jingga yang lembut, Raka menutup pintu perlahan setelah Bayu pulang. Ia masih bisa mendengar suara sahabatnya itu menggantung di kepala tentang hukuman Rendi, tentang kelas yang mulai ribut, tentang Clara yang membela dirinya tanpa pikir panjang. Namun setelah pintu tertutup, suara-suara sekolah itu hilang, digantikan suara rumah yang jauh lebih sunyi.

 

Ibunya masuk sambil membawa mangkuk bubur panas. “Rak, makan dulu. Badan kamu masih lemes.”

 

Raka tersenyum kecil. “Makasih, Bu.”

 

Ia menerima mangkuk itu, merasakan aroma jahe dan bawang yang menghangatkan. Ibunya duduk di kursi kayu dekat tempat tidur, memperhatikan Raka dengan tatapan haru. Manik-manik air mata hampir jatuh, tapi dia tahan.

 

“Kamu jangan bikin Ibu khawatir lagi, ya,” ucap ibunya pelan.

 

Raka menatap ibunya. “Aku nggak sengaja, Bu… aku nggak tau kalau—”

 

“Ibu tau,” potong ibunya lembut. “Tapi Ibu juga tau kamu anak baik. Kamu nggak pernah cari masalah. Ibu cuma… takut kamu kenapa-kenapa.”

 

Raka mengangguk, menunduk pada buburnya agar tidak terlihat terlalu emosional. Tenggorokannya terasa tercekat.

 

Di rumah tua itu, suara yang paling sering terdengar adalah suara ibunya—menyapu lantai, memasak sederhana, memanggil Raka untuk makan, atau sekadar bernyanyi pelan saat mencuci baju. Suara itu sudah menjadi musik yang menemani kehidupan Raka sejak kecil. Suara yang membuat rumah tua ini tidak terasa sunyi.

 

Ibunya memegang tangan Raka, hangat dan kasar karena kerja. “Kalau kamu nggak nyaman di sekolah itu, kamu bilang sama Ibu, ya?”

 

Raka mengangkat wajah. “Bu, aku nyaman. Aku suka sekolah itu. Aku cuma… harus lebih hati-hati.”

 

“Anak-anak kaya itu beda, Nak. Ada aja tingkahnya. Tapi kamu jangan mau kalah sama mereka.”

 

Raka terdiam. “Aku bukan mau kalah atau menang, Bu. Aku cuma ingin sekolah baik-baik. Dapat nilai bagus. Biar beasiswa aku nggak diambil.”

 

Ibunya tersenyum bangga. “Itu mimpi kamu dari kecil. Ibu tau.”

 

Setelah makan, ibunya membereskan mangkuk itu ke dapur kecil di sudut rumah. Raka terbaring, memandangi langit-langit yang retaknya sudah seperti peta. Ada sesuatu di dadanya: campuran takut, syukur, dan sedikit rindu akan rasa aman yang dulu ia rasakan saat sekolah masih sederhana.

 

Tiba-tiba ibunya memanggil dari dapur, “Rak, sini bantu Ibu bentar.”

 

Raka bangkit pelan. Badannya masih lemah, tapi ia berjalan ke dapur. Ibunya sedang menjemur kedua seragam sekolah Raka yang sudah dicuci semalam.

 

“Kamu masuk besok?” tanya ibunya.

 

Raka mengangguk. “Iya, Bu. Aku harus masuk. Ketinggalan pelajaran nanti.”

 

Ibunya memegangi lengan Raka. “Kamu yakin?”

 

Raka tersenyum. “Yakin.” Senyuman tersebut membuat ibunya tenang.

 

***

 

Malamnya, hujan tipis turun, ritme rintiknya memukul seng yang sudah tua. Raka duduk di meja belajar kecilnya, meja yang dibuat ayahnya dulu sebelum meninggal. Meja itu sudah penuh goresan, ada bekas tinta, ada coretan angka-angka dari masa SD, tapi baginya itu adalah benda paling berharga di rumah ini.

 

Ia membuka buku mata pelajaran yang akan dipelajari besok. Meski tubuhnya belum pulih betul, ia terus membaca. Seolah buku-buku itu menjadi pelarian dari luka-luka yang tak terlihat.

 

Ibunya melihat dari pintu kamar. “Nggak usah dipaksa, Rak. Kamu istirahat aja dulu.”

 

Raka menggeleng. “Nggak apa-apa, Bu. Aku cuma baca sebentar.”

 

Ibunya masuk, lalu duduk di ranjang. “Ibu ingat waktu kamu kelas empat SD, kamu bilang… kamu mau jadi orang sukses supaya nanti bisa beliin Ibu rumah baru. Kamu bilang rumah kita bocor, jadi kamu mau beliin atap yang lebih bagus.”

 

Raka tertawa kecil. “Iya, Bu. Tapi mimpiku masih sama.”

 

Ibunya menatapnya lama, bangga sekaligus sedih. “Ibu udah cukup dengan rumah kecil ini. Yang penting kamu sehat dan sekolah sampai lulus. Kamu harus kuat, Nak.”

 

Raka mengangguk. Kata-kata ibunya selalu menenangkannya.

 

Ketika malam semakin larut, suara hujan mereda. Ibunya menutup jendela, lalu kembali duduk di sebelah Raka.

 

“Ada yang mau kamu ceritain?” tanya ibunya lembut.

 

Raka terdiam sebentar. “Bu… aku nggak mau Ibu sedih. Aku juga nggak mau Ibu pikir aku lemah.”

 

Ibunya mengusap kepala Raka. “Kamu anak Ibu. Ibu tau semuanya tanpa kamu cerita.”

 

Raka menunduk. “Aku cuma… takut Bu. Bukan takut sama Rendi. Tapi takut kalau aku gagal. Takut kalau aku nggak bisa ngejaga beasiswa. Takut kalau aku nggak bisa bikin Ibu bangga.”

 

Ibunya langsung memeluk Raka. “Raka… kamu udah bikin Ibu bangga dari dulu, dari pertama kali kamu bilang mau sekolah tinggi, dari waktu kamu belajar sampai malam, dari waktu kamu dapat ranking, dari waktu kamu nggak balas orang yang jahat sama kamu.”

 

Pelukan itu membuat dada Raka hangat.

 

“Yang penting kamu jangan berhenti. Jangan nyerah. Dunia ini besar, Nak. Ada banyak hal baik menunggu kamu.”

 

Raka menutup mata, menahan air mata. “Aku bakal terus sekolah, Bu. Biar apa pun terjadi.”

 

Ibunya tersenyum. “Ibu tau kamu kuat. Ibu cuma minta satu hal.”

 

“Apa, Bu?”

 

“Kalau kamu susah… kalau kamu sakit… bilang sama Ibu. Jangan disimpan sendiri.”

 

Raka mengangguk pelan. “Iya, Bu.”

 

 

Malam itu sebelum tidur, Raka memandangi lemari tua tempat ibunya menyimpan seragam kerjanya. Ibu Raka bekerja serabutan: kadang menjaga warung, kadang membersihkan rumah orang, kadang membantu tetangga untuk mencuci pakaian. Semua dilakukan demi dirinya.

 

Bahkan saat Raka kecil, ibunya jarang membeli baju baru untuk dirinya sendiri. Selalu mengatakan, “Buat Raka aja dulu.”

Bahkan sekarang pun, ibunya masih mengenakan sandal jepit yang solnya tipis. Raka mengepalkan tangan.

 

Ia berjanji dalam hati:

Tidak peduli seberapa keras dunia memperlakukannya, ia akan bertahan. Demi ibu. Demi masa depan yang sudah ia impikan sejak kecil. Demi rumah tua yang telah menyaksikan seluruh perjuangan hidup mereka.

 

*** 

 

Tengah malam, angin dingin masuk lewat celah jendela. Raka terbangun sebentar dan melihat ibunya tertidur di lantai dekat pintu kamarnya, masih memakai baju rumah dan selendang tipis.

 

Ia mendekat, mengambil selimut kecil, dan menyelimuti ibunya.

 

“Terima kasih, Bu…” bisiknya lirih.

 

Di rumah tua itu, suara penuh cinta selalu hadir: suara ibunya yang tak pernah berhenti memperjuangkannya, dan suara hatinya sendiri yang berjanji untuk tidak mengecewakan wanita yang paling ia sayangi.

 

Besok ia akan kembali ke sekolah dan babak baru akan dimulai. Mungkin langkahnya akan semakin sulit namun sekarang dia sudah banyak teman yang mau melindunginya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!