Dibalik Seragam Sekolah

Jejak Yang Belum Selesai

Hujan sudah mereda ketika Viola menarik lengan Vino menuju kafe kecil di samping sekolah. Kafe itu tak terlalu ramai di sore hari hanya ditemani bau kopi yang lembut dan dentingan sendok dari pengunjung yang duduk berpasangan.

 

Mereka memilih meja dekat jendela. Vino menghempaskan tubuhnya ke kursi, masih dengan amarah yang tersisa di wajahnya. Viola duduk di hadapannya, menatapnya lama tanpa berkata apa-apa. Tatapan itu membuat Vino justru semakin gelisah.

 

“Berapa kali aku bilang jaga emosi kamu!” suara Viola akhirnya pecah, datar tetapi menggigit.

 

“Dan tolong, jauhi Rendi. Lihat diri kamu sekarang, Vin. Dia yang sudah rubah kamu kayak begini.”

 

Vino terdiam. Jari-jarinya mengetuk pelan meja kayu. Rambutnya masih basah, wajahnya kusut. Ia tidak menatap Viola.

 

“Aku nggak berubah,” gumamnya.

“Aku cuma… marah. Itu aja.”

 

Viola menghela napas. “Kamu marah sama siapa? Sama Raka? Sama dirimu sendiri? Atau sama Rendi yang selalu nyeret kamu ke dalam masalah?”

 

Vino mengangkat wajahnya, tatapannya tajam namun lelah.

“Ini urusan gue, Viola. Bukan urusan siapa-siapa.”

 

“Termasuk bukan urusan aku?” Viola mencondongkan tubuh ke depan, suaranya lebih lembut namun tegas. “Vin… kamu bukan orang kayak gini dulu.”

 

Ada jeda. Hening yang panjang menggantung di antara mereka.

 

Kafe itu pernah menjadi tempat kenangan—tempat mereka dulu tertawa, sambil makan waffle kesukaan Viola. Tempat di mana Vino sering berjaga-jaga agar cappucino Viola tidak tumpah. Tempat di mana Clara, Rendi, dan mereka berempat sering duduk satu meja sebelum semuanya berubah.

 

Seorang staf datang membawa dua gelas minuman dan sepiring roti.

“Silakan ya,” katanya ramah.

 

“Terima kasih, Mbak,” jawab Viola, masih menatap Vino.

 

Vino mengambil napas panjang dan bersandar. “Kayaknya kamu yang nggak perlu ikut campur deh. Ini urusan lelaki.”

 

Viola terdiam beberapa detik. Kalimat itu menusuk, namun ia mencoba tetap tenang.

 

“Urusan lelaki?” ia tersenyum sinis. “Vin, keras kepala bukan tanda jago. Aku cuma nggak mau lihat kamu makin masuk ke masalah karena Rendi.”

 

Vino menunduk. Ada sesuatu di dalam dirinya yang goyah, tapi gengsinya terlalu besar untuk mengakui.

 

Viola meminum cokelat panasnya, tangannya sedikit gemetar karena marah dan kecewa. Tapi di balik itu semua, kepedulian masih tinggal. Bukan cinta yang sama seperti dulu, tapi sesuatu yang tetap membuatnya ingin menjaga Vino.

 

Karena bagaimanapun juga Vino pernah menjadi rumahnya

 

***

 

Sementara itu, di gang kecil dekat kompleks rumah sederhana, mobil Clara berhenti perlahan. Mobil itu tak bisa masuk karena gang terlalu sempit, jadi Clara turun untuk memastikan Raka pulang dengan selamat.

 

“Di sini aja, Ra,” katanya lembut.

“Rumahku di ujung gang. Terima kasih udah anter,” jawab Raka sopan.

 

Clara tersenyum. “Kapan pun.”

 

Raka mengangkat sepedanya dan masuk ke gang. Clara memperhatikan punggungnya hingga sosok itu menghilang di balik tikungan. Ada sesuatu dalam diri Clara yang berbeda ketika melihat Raka bukan jatuh cinta, bukan juga sekadar kasihan. Lebih seperti rasa ingin melindungi seseorang yang terlalu sering menghadapi dunia seorang diri.

 

Ketika Clara kembali ke mobil, hujan kembali turun tipis-tipis seperti embun. Sopir mengantar Clara pulang dengan tenang.

 

 

***

Rumah Clara tampak terang dari jauh, lampu ruang tamu hidup dan aroma makanan tercium sampai di teras. Clara terkejut biasanya rumah terasa lengang karena orang tuanya sering dinas luar kota.

 

Begitu membuka pintu, Clara langsung membeku.

 

Papah dan Mamanya duduk di meja makan, tersenyum lebar dengan hidangan lengkap: sup ayam, steak favoritnya, dan salad buah yang jarang sekali Mamanya buat kecuali ada momen spesial.

 

“Papah! Mamah!” Clara memekik bahagia.

 

Ia berlari tanpa menunggu sepatu dilepas, memeluk Mamanya erat-erat. Mamanya memeluk balik sambil tertawa halus.

 

“Kok pulang tiba-tiba? Kenapa nggak ngabarin?” Clara hampir menangis saking senangnya.

“Kami mau kasih kejutan dong,” jawab Papah sambil mengusap rambut Clara.

 

Clara duduk. Senyumnya tak hilang-hilang.

 

Sudah dua minggu orang tuanya dinas luar kota. Malam-malamnya sepi. Sarapan sendirian. Pulang sekolah tanpa ada yang tanya bagaimana harinya. Kehadiran mereka membuat rumah kecil itu terasa hidup kembali.

 

“Bagaimana sekolah? Ada cerita?” tanya Mamanya sambil menuangkan sup.

 

Clara terdiam sejenak. Bayangan Raka terkurung di toilet muncul, juga wajah pucatnya ketika ditemukan. Bayangan Rendi yang makin kasar. Suasana kelas yang penuh bisik-bisik. Dan Vino yang hampir memukul Raka.

 

Semuanya menumpuk, namun ia tak tahu bagaimana memulai.

 

“Banyak…” jawab Clara pelan.

 

Papah menatapnya serius. “Kalau ada apa-apa, cerita ya. Jangan dipendam.”

 

Clara mengangguk. Ia ingin bercerita, tapi tidak saat itu. Masih terlalu rumit, dan ia sendiri masih belum paham perasaannya. Ia hanya ingin menikmati malam bersama orang tuanya.

 

“Besok kita makan malam di luar ya,” ujar Mamanya sambil tersenyum.

Clara mengangguk bahagia.

 

Namun di sudut hatinya, sesuatu mengganggunya—pikirannya kembali pada Raka yang sendirian di rumah kecilnya. Apakah dia sudah makan? Apakah dia baik-baik saja setelah kejadian tadi?

 

Clara memejamkan mata sejenak. Entah sejak kapan, perhatian itu tumbuh begitu kuat.

Malam semakin larut ketika Clara masuk ke kamarnya. Ia baru saja hendak melepas seragam sekolah ketika ponselnya bergetar.

 

Nama yang muncul membuat hatinya menegang. ‘Rendi’

 

Clara menghela napas panjang. Ia ragu untuk mengangkat, namun ia tidak ingin masalah makin panjang. Ia menekan tombol hijau.

 

“Halo?” suaranya datar.

 

“Hei… Clara,” jawab Rendi, suaranya terdengar serak. “Aku bisa ketemu kamu bentar? Penting.”

 

Clara langsung menolak. “Nggak. Aku capek. Besok sekolah.”

 

Ada jeda panjang sebelum Rendi berbicara lagi. “Maafin gue, Clar.” 

 

Clara mengerutkan kening. Ini pertama kali setelah sekian lama Ia mendengar nada serendah itu dari Rendi.

 

“Aku tahu aku salah,” lanjut Rendi dengan suara menahan emosi. “Aku kebablasan. Aku cuma… aku cuma pengen jadi yang terbaik, Clar. Orangtuaku selalu bilang aku harus masuk tiga besar. Harus selalu unggul. Harus sempurna.”

 

Clara terdiam. Rendi jarang sekali membahas keluarganya.

 

“Mereka nggak pernah benar-benar marah,” lanjut Rendi pelan, “tapi tatapan kecewa itu… rasanya lebih nyakitin dari marah. Aku capek, Clar. Aku cuma… enggak tahu harus gimana.”

 

Untuk pertama kalinya, suara Rendi terdengar seperti remaja yang kehilangan arah, bukan anak yang sok kuat seperti biasanya.

 

“Aku tahu kamu benci aku sekarang,” katanya lagi. “Tapi… jangan tinggalin aku. Aku janji nggak akan ngulangin apa pun yang bikin kamu kecewa.”

 

Clara menutup mata. Ini rumit. Sangat rumit.

 

Rendi memang salah, tetapi ia juga seorang anak yang selalu dituntut untuk menjadi juara oleh orangtua yang terlalu menuntut dan itu menghancurkannya perlahan.

 

“Rendi…” Clara akhirnya berkata lembut. “Semuanya harus kamu perbaiki. Bukan demi aku. Tapi demi diri kamu sendiri.”

 

“Aku bakal berubah. Aku janji.”

 

Clara hening. Hatinya seperti ditarik dua arah antara rasa kasihan pada Rendi… dan rasa peduli yang semakin tumbuh untuk Raka.

 

“Kita omongin besok di sekolah,” katanya akhirnya.

“Ya… boleh,” jawab Rendi.

 

Telepon ditutup. Clara menatap langit-langit kamar, merasakan dadanya sesak oleh banyak hal yang belum selesai.

 

Di luar jendela, hujan turun lebih deras. Di ujung gang sana, Raka mungkin sedang duduk di meja kecil rumah tuanya, memandang atap seng yang bocor di beberapa titik.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!