Dibalik Seragam Sekolah

Ruang Musik, Latihan!!

Suara bel berbunyi panjang, menandai akhir kegiatan belajar hari itu. Siswa-siswa menyerbu gerbang sekolah seperti banjir kecil yang tak bisa dibendung. Namun di tengah riuh itu, Raka justru berjalan lebih lambat dari biasanya. Buku-buku sudah dimasukkan ke tas dan dia masih sibuk memasukkan botol minumnya ketika suara langkah cepat mendekat.

 

“Rak!”

Rendi menghampiri dengan napas sedikit terengah, rambutnya yang dulu selalu disisir rapi kini berantakan karena ia berlari dari lantai dua.

 

“Ada apa, Ren?” tanya Raka sambil menutup ritsleting tasnya.

 

“Latihan. Hari ini kita mulai. Aldi udah nunggu di ruang musik, Vino juga. Bayu katanya nyusul dia lagi ngerjain tugas matematika di kelasnya.”

 

Raka mengangguk pelan.

Sejujurnya ia gugup, meski menutupinya dengan wajah datar. Itu pertama kalinya ia benar-benar akan bergabung dalam latihan band. Meski beberapa hari lalu Rendi dan Vino memintanya bergabung, di hati kecilnya masih ada perasaan: Apa aku pantas? Apa suaraku cukup bagus?

 

Namun kata-kata Clara kemarin malam terngiang kembali.

“Kamu harus percaya diri, Raka. Kadang, yang kita butuhkan hanya satu langkah kecil ke depan.”

 

Dia tersenyum kecil. “Oke. Ayo.”

 

****

 

Ruang musik berada di gedung belakang sekolah, lantai pertama, dekat lapangan basket. Begitu pintu dibuka, aroma khas ruangan bekas sedikit lembap, bercampur bau kayu gitar dan karpet langsung menyambut mereka. Di dalam sudah ada Aldi dan Vino. Aldi sedang menyetem gitar elektriknya, sementara Vino mengetuk-ngetuk stick drum di pahanya.

 

“Woy, vokalis baru datang!” seru Aldi.

 

“Heh, belum resmi,” balas Raka sambil tertawa canggung.

 

Vino mendekat. Biasanya wajahnya tegang dan penuh amarah, namun kini sorot matanya lebih lembut.

“Relax, Rak. Kita cuma mau latihan kok, bukan audisi buat masuk TV.”

 

Bahkan Rendi ikut menggoda. “Kalau nanti kamu fals… palingan kita ketawain sebentar doang.”

 

“Yah, terima kasih atas dukungannya,” jawab Raka sarkastis sambil meletakkan tasnya.

 

Mereka semua tertawa. Suasana terasa ringan hal yang tak pernah Raka bayangkan sebelumnya. Dulu, berdiri satu meter dari Rendi saja sudah cukup membuatnya gelisah. Sekarang, ia berdiri bersama mereka… sebagai teman. Atau setidaknya, calon teman.

 

***

 

Sementara itu, tanpa mereka sadari…

 

Di balik pintu ruang musik, di lorong kecil menuju tangga belakang, seorang gadis berdiri diam sambil memegang buku catatannya. Clara.

 

Dia memastikan langkahnya tak berbunyi. Tangan kirinya menahan pintu yang terbuka sedikit, cukup untuk melihat ke dalam tapi tidak ketahuan. Dia tidak bermaksud menguping tidak juga mengawasi. Dia hanya… penasaran.

 

Sejak hari ketika ia mengantar Raka pulang, ada sesuatu yang berubah dalam perasaannya. Raka bukan hanya anak laki-laki yang baik. Ada ketenangan dalam caranya berbicara. Ada keberanian diam-diam dalam caranya memaafkan orang lain. Saat ia memandang Raka, hatinya terasa hangat dengan cara yang sulit ia jelaskan.

 

Dan Clara tahu satu hal lagi:

Rendi benar-benar mulai berubah. Dan penyebab perubahan itu… sebagian besar karena Raka.

 

Maka hari ini, ia sengaja tidak langsung pulang. Ia mengatakan pada supir untuk menunggu di parkiran belakang. Alasannya sederhana: ia ingin melihat latihan pertama Raka.

 

“Semoga semuanya berjalan lancar,” bisiknya pada diri sendiri.

 

*** 

 

Di dalam ruang musik, latihan dimulai.

 

“Rak, coba nyanyi bagian reff lagu ini dulu,” kata Aldi sambil memainkan chord pembuka.

 

Raka memegang mic, telapak tangan agak basah. Dia menarik napas dalam, mengalirkan seluruh ketakutannya keluar, lalu ia mulai bernyanyi.

 

Suaranya tidak sempurna, sedikit serak masih kurang stabil di beberapa nada. Namun suaranya jujur. Ada emosi di dalamnya. Ada kehangatan.

 

Aldi menghentikan petikannya dan melongo. Vino yang sedang memukul snare pelan langsung berhenti. Rendi sampai lupa menekan tuts keyboard.

 

“Gila, Rak…” ujar Vino. “Suara lo… cocok banget buat lagu pop rock gini.”

 

Rendi menambahkan, “Serak-seraknya tuh enak banget. Natural.”

 

Aldi mengangguk sambil memiringkan kepala. “Ada karakter. Itu yang bikin beda.”

 

Wajah Raka memerah. “Serius? Gue ngerasa biasa aja.”

 

“Justru itu masalahnya,” Vino menghela napas dramatis. “Orang yang berbakat tuh selalu ngerasa suaranya biasa.”

 

Raka tertawa. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tertawa tanpa rasa takut.

 

Mereka pun melanjutkan latihan.

Vino menghitung tempo, Aldi memainkan melodi, Rendi mengiringi dengan keyboard sederhana. Kesalahan-kesalahan kecil terjadi, tapi justru membuat mereka lebih akrab.

 

Ketika lagu selesai, suara tepuk tangan kecil terdengar dari arah pintu. Mereka semua menoleh.

 

Clara refleks menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Ketahuan.

 

“Oh… halo,” katanya canggung.

 

“Clara?” Rendi memicingkan mata. “Lo ngapain di situ?”

 

Clara tersenyum malu. “Aku… cuma lewat.”

 

“Apa lewatnya harus lewat pintu ruang musik?” Vino langsung mencurigai.

 

“Udah, jangan diganggu,” potong Raka cepat. Wajahnya panas, tapi ia berusaha santai. “Clara kan anggota OSIS. Mungkin mau ngecek kesiapan band buat acara.”

 

Padahal ia sendiri tidak yakin dengan alasannya. Clara menatap Raka sekilas dan ada senyum kecil yang tidak bisa ia sembunyikan.

 

“Aku cuma mau lihat latihan kalian,” katanya jujur akhirnya. “Dan… suaramu bagus, Raka.”

 

Raka terdiam.

Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti dorongan besar baginya.

 

“Oh ya?” Ia menggaruk tengkuknya, bingung harus bereaksi bagaimana.

 

“Yaa… lumayan lah,” celetuk Vino jahil.

 

Rendi memicingkan mata ke arah temannya. “Kalau lo komplain, kenapa tadi lo sendiri yang paling kaget?”

 

Vino mengangkat bahu.

 

Suasana menjadi lebih santai setelah itu. Clara duduk di kursi dekat jendela sambil menonton. Sesekali ia memberikan masukan kecil: “Aldi, bagian reff-nya coba lebih pelan dulu.”

“Mungkin keyboard-nya bisa dikurangi sedikit, Ren.”

 

Dan anak-anak itu mendengarkan. Bukannya karena Clara populer, tetapi karena ia benar-benar perhatian. Ia tahu musik, ia tahu ritme. Dan yang paling penting, ia tahu bagaimana membuat orang lain percaya diri.

 

***

 

Latihan berlangsung hampir dua jam. Ketika matahari mulai turun dan bayangan jendela memanjang, mereka akhirnya berhenti.

 

“Gila, capek juga ya,” ujar Aldi sambil menggelosor ke lantai.

 

“Latihan pertama yang bagus,” kata Vino sambil memutar-mutar stick drumnya.

 

Rendi menepuk bahu Raka. “Lo masuk, Rak. Lo resmi jadi vokalis utama band kita.”

 

Raka menatap mereka satu per satu. Rendi yang dulu menakutkan, kini menatapnya dengan bangga. Vino yang temperamen, kini tersenyum tipis. Aldi yang selalu bercanda, kini memberi acungan jempol. Dan Clara… menatapnya dengan mata yang berkilat lembut.

 

“Terima kasih,” kata Raka, tulus dari dalam hati. “Gue bakal berusaha sebaik mungkin.”

 

“Sip! Besok latihan lagi ya?” seru Rendi.

 

“Besok gue ada ekskul pramuka,” kata Bayu yang baru datang sambil membawa tas. “Tapi gue bakal nyusul kalo bisa.”

 

“Tenang, Bay,” jawab Raka. “Gue bakal rekam latihan buat lo.”

 

Bayu tersenyum bangga kepada sahabatnya. “Gue selalu tau lo bakal hebat.

 

***

 

Setelah latihan berakhir, mereka merapikan alat-alat. Vino dan Aldi pulang duluan, Rendi dijemput orang rumahnya, dan Bayu berjalan bersama Raka sampai gerbang.

 

Clara berjalan paling belakang. Ketika Raka hendak pergi, dia memanggil pelan. “Raka.” 

 

Raka menoleh. Clara mendekat sambil memegang buku catatannya di dada. “Tadi… kamu bagus. Aku serius.”

 

Raka mengangguk. “Terima kasih. Kamu juga… terima kasih ya udah lihat latihan kami.”

 

Clara tersenyum manis senyum yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. “Aku nggak cuma lihat, aku bangga.”

 

Raka terdiam. Bayu melirik ke arah mereka sambil menahan senyum. Dia berjalan sedikit lebih cepat agar memberikan ruang untuk mereka berdua.

 

“Hati-hati pulang, ya,” kata Clara.

 

“Kamu juga.”

 

Dan sore itu, untuk sesaat… dunia seperti berhenti. Di bawah langit jingga yang perlahan memudar, dua remaja itu berdiri saling mengucap salam dengan rasa yang mulai tumbuh.

 

Sementara itu, dari kejauhan…

Rendi memperhatikan mereka dari dalam mobil yang baru datang menjemput.

Dia tidak mendengar apa pun, tapi ia melihat tatapan Clara pada Raka.

 

Dan sesuatu di dalam hatinya terasa… aneh. Bukan marah, bukan cemburu, bukan juga kesal. Lebih seperti… ketakutan kecil bahwa Clara perlahan menjauh darinya.

 

Namun dia menghela napas, memalingkan wajah, dan berkata pada dirinya sendiri:

 

“Sudahlah, Ren. Perubahan itu punyamu. Tapi hatinya Clara? Bukan.”

 

Mobil pun melaju pergi, meninggalkan Raka, Clara dan Bayu di gerbang sekolah yang mulai lengang.

 

Sementara Raka melangkah pulang dengan senyum kecil yang tidak bisa disembunyikan.

 

Hari itu menjadi awal yang baru, bagi mereka semua dan Clara… tetap menyimpan rahasianya: bahwa ia telah jatuh pada seseorang yang paling tidak ia duga.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!