Dibalik Seragam Sekolah
Rendi Mulai Cemburu
Angin sore berhembus pelan di halaman belakang sekolah, membawa aroma kayu dan debu tipis dari ruang band lama yang berada di ujung lapangan. Ruangan itu cukup besar, sangat nyaman sekali jika latihan disana, suara mereka terdengar bagus, tempat itu seperti rumah kedua. Di sanalah mereka latihan setiap sepulang sekolah tempat yang cukup sunyi, jauh dari keramaian kantin dan kelas.
Hari ini pun begitu, sehabis pulang sekolah, Raka sempat mampir ke rumah sebentar untuk mengganti baju dan meletakkan barang-barang. Namun sebelum berangkat kembali ke sekolah, ia sempat membuka lagi buku catatan cokelat pemberian Clara. Ia menyentuh halaman pertamanya, membaca tulisan tangan itu untuk kedua kalinya, lalu menutupnya sambil tersenyum.
Senyum yang tidak bisa ia hilangkan bahkan sampai ia memasuki ruang band.
Rendi sudah berada di dalam sejak lima menit yang lalu, sibuk menyetel gitar elektriknya. Bayu belum datang katanya masih kena tugas piket kelas. Ruangan hanya berisi suara petikan gitar yang bergema, bercampur suara kipas angin tua yang berputar malas.
Begitu Raka masuk, Rendi menoleh. Ia memperhatikan sesuatu. Raka terlihat… berbeda, lebih cerah, lebih ringan seperti seseorang yang baru menerima kabar baik.
“Rak,” panggil Rendi, singkat tapi tegas.
“Sorry telat,” jawab Raka sambil menaruh tasnya. “Tadi pulang dulu.”
“Pulang buat apa?” tanya Rendi datar, tetap menatap gitarnya.
“Buat naruh buku.”
“Buku apa?”
Pertanyaan itu terdengar polos, tapi ada sesuatu di baliknya nada ingin tahu yang tajam, hampir seperti sedang menginterogasi.
Raka hendak menjawab jujur, tapi kata-katanya tertahan. Sebagian dirinya ingin bercerita tentang hadiah ulang tahun dari Clara. Tapi bagian lainnya… ingin menyimpan momen itu untuk dirinya saja.
“Buku catetan baru,” jawab Raka akhirnya.
Jawaban itu benar… tapi tidak seluruhnya.
Rendi mengangguk singkat, tapi ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Ia tak suka Raka menyembunyikan sesuatu, walau sekecil apa pun.
“Yaudah, alatnya nyalain dulu,” ucap Rendi akhirnya.
Raka mengangguk, menyalakan keyboard yang biasa ia pakai. Ia memeriksa pedal, volume, dan sound, sementara Rendi mulai memainkan riff sederhana untuk pemanasan.
Suasana sebenarnya tenang. Tapi di dalam hati Rendi, ada gelombang kecil yang mulai beriak.
Apa yang tidak mereka lihat adalah bahwa di luar jendela kecil ruang band, seorang gadis sedang berdiri diam sambil memeluk tasnya. Clara.
Ia datang diam-diam. Tidak bermaksud mengganggu. Ia hanya… penasaran. Raka sempat bercerita sedikit soal band mereka, dan Clara ingin melihatnya bermain musik. Ia berdiri sekitar dua meter dari jendela, tepat di bawah bayangan pohon besar. Dari sana, ia bisa melihat Raka menekan tuts keyboard dengan fokus atau setidaknya, fokus sebagian.
Clara tersenyum kecil. Entah kenapa ia merasa damai hanya dengan melihat Raka dari jauh.
Ia tidak ingin terlihat namun seseorang di dalam melihatnya. Rendi.
Saat ia berpaling sejenak ke jendela, ia melihat sosok itu, lelaki yang memakai kemeja putih rapi, rambut terikat, sorot mata yang diarahkan pada satu orang: Raka.
Tatapan penuh perhatian itu menusuk sesuatu di dalam hati Rendi. Ia memalingkan wajah cepat, menelan sesuatu yang terasa pahit.
Ia mengenal Clara si anak pintar, murid kesayangan guru, murid yang berani namun tenang yang akhir-akhir ini sering muncul di sekitar Raka.
Dan untuk pertama kalinya, Rendi merasakan sesuatu yang mirip kemarahan… tapi lebih menusuk, kayaknya Rendi Mulai cemburu.
***
Latihan berjalan lagi. Tapi kali ini, Rendi memetik gitar lebih keras dari biasanya agak terburu, tidak selembut tadi.
“Rend, pelan dikit…” tegur Bayu.
“Fokus dong,” tambah Raka, lembut.
Rendi berhenti memetik gitar. Ia mengambil napas dalam. “Gue fokus kok.”
Raka menatapnya bingung. “Serius?”
Rendi mengangguk tanpa senyum. “Ulang dari intro.”
Mereka mulai lagi namun setiap kali tatapan Clara terlintas di ujung penglihatan Rendi… suaranya jadi lebih keras, lebih cepat, lebih tak terkontrol. Bukan seperti Rendi yang biasanya tenang dan presisi.
Bayu menoleh ke Raka dengan ekspresi takut-takut, seolah ingin berkata: "Dia kenapa sih?"
Raka hanya mengangkat bahu perlahan.
Dan ketika Rendi memetik satu nada terlalu keras hingga suara gitar pecah, Bayu menghentikan semuanya. “Oke, stop dulu!”
Suara ruangan menjadi hening.
Raka menoleh. “Rend, lu kenapa?”
“Gue bilang gue nggak apa-apa!” suara Rendi sedikit meninggi.
Hening kembali mengisi seluruh ruangan.
***
Clara panik mendengar suara keras itu. Ia mengira mungkin ada masalah, jadi ia melangkah maju. Dari pintu yang terbuka sedikit, ia muncul dengan raut canggung.
“A—aku… cuma lewat,” katanya pelan.
Raka langsung menoleh, kaget. “Clara?”
Bayu melambai semangat. “Claraaa! Kamu dari tadi di sana?!”
Clara tidak menjawab. Tatapannya beralih ke Raka. “Latihannya bagus.”
Raka tersipu—reaksi yang membuat dada Rendi terasa semakin sesak.
“Ada perlu?” tanya Raka, berusaha terdengar wajar
Clara menggeleng. “Nggak. Cuma mau bilang… ehm…”
Ia melirik tas Raka. “Dijaga baik-baik ya bukunya, aku juga mau pulang duluan gpp kan?"
Raka mengangguk lembut, “Iya, hati-hati.”
“Semangat latihan gaes!" seru Clara sebelum menghilang di balik pintu.
Ketika Clara pergi, Rendi merasa seperti ada batu besar yang jatuh tepat di atas dadanya.
Ruangan band sore itu terasa lebih panas dari biasanya, bukan hanya karena kipas angin tua yang malas berputar, tapi juga karena suasana di antara ketiga sahabat itu mulai berubah pelan-pelan.
Setelah Clara pergi, Rendi masih berdiri dengan gitar di tangannya, napasnya berat meski dia tidak sedang berlari. Raka menatapnya bingung, Bayu melirik ke arah pintu seakan ingin kabur dari ketegangan ini.
Namun sebelum siapa pun sempat bicara, pintu ruang band kembali terbuka.
“Kalian belum mulai serius nih?!” suara seseorang terdengar dengan nada ceria. Itu Vino.
Ia masuk sambil membawa minuman dingin. “Gue habis beli es, buat kita bertiga,” ujarnya, tapi begitu melihat wajah mereka bertiga, langkahnya terhenti.
“Hah? Kalian kenapa kayak abis berantem?” Vino mengernyit.
Tidak ada yang menjawab.
Rendi menunduk, memegang gitar terlalu erat sampai buku-bukunya memutih. Raka menatap ke arah jendela, seakan masih bisa melihat bayangan Clara yang tadi berdiri di luar. Bayu sibuk memainkan cajon-nya hanya untuk memecah hening.
Vino perlahan meletakkan minuman di atas meja amplifier. “Oke… kayaknya gue harus tahu apa yang terjadi.”
Ia menatap Raka dulu. “Lu kenapa?”
Raka menghela napas. “Nggak apa-apa. Kita cuma—”
“Ini bukan cuma, Rak,” potong Vino.
Lalu matanya jatuh ke arah Rendi. “Lu kenapa, Rend?”
Rendi menggertakkan gigi. “Nggak ada apa-apa.”
Vino menatapnya dalam, lama, lalu tiba-tiba mendekat dan menepuk bahu Rendi cukup keras. “Rend.”
Rendi mengangkat kepala.
“Kalau lu punya pertanyaan di hati lu,” kata Vino, suaranya pelan tapi penuh tekanan, “kalau lu ngerasa ada yang janggal… atau lu ngerasa sesuatu soal Clara…” Semua orang menahan napas.
“Lu jangan marah ke diri lu sendiri. Jangan marah ke Raka juga.”
Rendi mengerjap, terkejut karena Vino bisa membaca suasana sejelas itu.
Vino lalu menyilangkan tangan di dada. “Kalau lu mau tahu jawaban sebenarnya, tanya aja langsung ke Clara.”
Suasana langsung hening.
Bayu hampir tersedak ludahnya sendiri. “Eh—Vin, maksud lo?”
“Simple,” jawab Vino. “Daripada lu nebak-nebak, daripada lu mikir Raka bohong, daripada lu cemburu tapi pura-pura nggak.”
Kata cemburu membuat Rendi refleks memalingkan wajah.
Vino melanjutkan, kali ini lebih lembut, “Rend, kalau lu nggak nanya langsung ke Clara, lu cuma akan nyakitin diri lu sendiri… dan bikin semua latihan kita hancur.”
Raka terdiam. Bayu melongo.
Dan Rendi…
Rendi menggenggam gitar itu lebih erat.
“Gue…” suaranya serak. “…gue cuma nggak ngerti. Kenapa Clara deket sama Raka? Padahal gue yang duluan kenal.”
“Lu naksir Clara?” tanya Vino tanpa ragu.
Bayu spontan memukul lengannya. “Vin! Jangan to the point gitu!”
Tapi Rendi tidak menyangkal, tidak juga mengiyakan, hanya diam.Dan diamnya Rendi… adalah jawaban.
***
Raka menahan napas, dia memperhatikan temannya itu, baru kali ini ia melihat Rendi seperti ini lebih rapuh daripada ketika ia dihukum piket sebulan penuh, lebih bingung daripada ketika nilai matematikanya jeblok parah.
“Rend…” Raka mendekat. “Kalo gue bikin lu ngerasa nggak nyaman… maaf.”
Rendi menggeleng, cepat. “Bukan salah lu. Gue cuma… kaget.”
Vino menambahkan, “Makanya, daripada kaget sendiri atau lu jadi kesel sama Raka mending lu tanya Clara langsung. Clear.”
Bayu mengangguk cepat seperti anak ayam. “I—iya bener! Bener banget! Jangan diem-diem gitu, nanti malah meledak sendiri!”
Rendi terpaku, pertanyaan itu benar-benar membuatnya berpikir.
***
Clara muncul lagi, tepat ketika keheningan itu masih menggantung, suara langkah kecil terdengar dari luar pintu.
Tok… tok…
“Maaf… boleh masuk sebentar?”
Semua menoleh.
Clara.
Ia kembali.
Di tangannya ada botol air mineral dan kantong kecil berisi roti—mungkin ia merasa tadi mengganggu latihan, atau merasa bersalah karena sempat membuat suasana berubah.
“Aku tadi lupa… mau balikkan spidol yang kupinjam dari ruang band. Sekalian… ehm… bawa ini buat kalian.”
Ia meletakkan kantong itu di meja.
Raka tersenyum canggung. “Makasi…”
Bayu langsung sibuk membuka roti.
Vino melirik Rendi, lalu tanpa mengedip, mendorong bahu Rendi pelan, memberi sinyal: Sekarang waktu lu. Ayo.
Rendi menelan ludah.
Clara melihatnya. “Rendi? Kamu nggak apa-apa?”
Rendi menghela napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya, ia menatap Clara tanpa menutupi apa pun.
“Clara,” katanya pelan tapi tegas.
“Ada sesuatu yang mau gue tanya.”
Raka dan Bayu serentak menghela napas pendek. Vino tersenyum tipis — bangga karena sahabatnya akhirnya memilih jalan yang benar.
Clara mengangguk. “Tanya apa?”
Rendi menatapnya dalam, dan semua emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya mulai mengalir ke permukaan.
“Lu… sebenernya suka sama Raka?” Ruangan mendadak sepi.
Bayu hampir jatuh dari kursinya. Raka membeku. Vino sampai menutup mulutnya menahan teriakan.
Clara terkejut matanya membesar. Ia tidak menyangka pertanyaan itu keluar tiba-tiba.
“Rendi…” Suaranya melembut. “Aku…”
Ia menatap Raka sebentar, lalu kembali ke Rendi. “Aku nggak pernah niat bikin siapa pun salah paham.”
Rendi menahan napas. Clara menunduk sedikit.
“Dan soal Raka… aku cuma merasa nyaman ngobrol sama dia. Aku anggap dia teman yang baik.”
Raka terdiam, sesekali dia menghembuskan napasnya pelan, dia ikut menegang menunggu jawaban Clara yang sebenarnya.
“Kalau itu bikin kamu salah paham… aku minta maaf, Rendi.” Clara berkata jujur, tanpa basa-basi. “Aku nggak suka bikin orang tersakiti.”
Rendi memejamkan mata sesaat. Ada bagian dalam dirinya yang lega, ada yang masih sakit, tapi yang paling besar adalah rasa malu karena menahan semuanya tanpa bicara.
Vino menepuk bahunya pelan. “Tuh kan. Lebih enak tanya langsung.”
Clara menatap Rendi lembut. “Dan aku harap… kita tetep teman ya.”
Butuh waktu empat detik sebelum Rendi bisa menjawab. “Iya, tetep teman.”
Raka menunduk, tersenyum tipis. Bayu akhirnya bisa bernapas. Vino menyeringai puas.
Clara kemudian berkata, “Kalau gitu… selamat latihan lagi.” Lalu ia pamit, menutup pintu dengan lembut.
Rendi menghembuskan napas panjang seperti seseorang yang baru melepaskan beban berat dari dadanya.
Vino berbisik, “Good job, bro.”
Rendi hanya mengangguk kecil dan untuk pertama kalinya sore itu, suasana ruang band kembali terasa seperti biasa. Namun di balik itu semua, sesuatu tetap berubah.