Dibalik Seragam Sekolah

Menikmati Liburan Sambil Mancing

Sekolah sedang libur, tetapi pagi di rumah Raka tetap dimulai dengan kesibukan. Matahari belum terlalu tinggi ketika ia sudah berada di dapur kecil, membantu ibunya menyiapkan adonan kue untuk dijual ke warung-warung sekitar. Bau manis gula dan mentega memenuhi ruangan sempit itu, membuat suasana terasa hangat meski perabot yang ada sangat sederhana.

 

Raka berdiri di samping meja, tangannya cekatan menuang adonan ke dalam cetakan, sesekali ia melirik ibunya yang berdiri agak membungkuk di dekat kompor, wajah perempuan itu terlihat tenang tetapi Raka tahu betul, ketenangan itu sering kali hanya penutup rasa lelah yang disimpannya sendiri.

 

“Bu,” panggil Raka pelan. “Istirahat aja, ya. Biar Raka yang lanjut. Nanti sekalian Raka yang jual ke warung.”

 

Ibunya menoleh, lalu menggeleng sambil tersenyum tipis.

“Enggak usah, kamu belajar saja di rumah,” katanya lembut tapi tegas.

 

 

Kalimat itu selalu sama, hampir setiap kali Raka menawarkan bantuan lebih, ibunya selalu menolak dengan alasan yang sama belajar, masa depan, sekolah dan selalu membuat dada Raka menghangat sekaligus perih. Ibunya memang jarang mengeluh bahkan ketika rasa lelahnya jelas terlihat, ia tetap memaksakan diri seolah tubuhnya tak pernah rapuh.

 

Raka tahu betul penyakit ibunya. Kadang terlihat baik-baik saja, kadang kambuh tanpa aba-aba dan setiap kali itu terjadi, Raka merasa bersalah seolah belum cukup cepat menjadi anak yang bisa membahagiakan ibunya.

 

“Raka pengen cepet sukses, Bu,” ucapnya pelan. “Biar ibu nggak capek-capek kayak gini lagi.”

 

Ibunya berhenti sejenak, lalu menepuk tangan Raka yang masih berlumur adonan.

“Kesuksesan itu nggak perlu buru-buru, Nak. Yang penting kamu jadi orang baik dan bertanggung jawab.”

 

Raka mengangguk. Tapi di dalam hatinya, tekad itu semakin kuat. Ia ingin lebih dari sekadar bertahan. Ia ingin menang untuk ibunya.

 

Di tempat lain, Bayu duduk sendirian di teras rumahnya, libur sekolah yang seharusnya menyenangkan justru terasa membosankan baginya. Ia menatap jalanan desa yang sepi, lalu menghela napas panjang.

 

“Ah, mending ke rumah Raka,” gumamnya.

 

Tak lama kemudian, Bayu sudah melaju dengan motornya menyusuri jalan kecil menuju rumah Raka. Ia tahu rumah sahabatnya itu sederhana, tapi entah kenapa selalu terasa lebih hidup.

 

Begitu sampai, Bayu langsung melihat Raka sedang membantu ibunya mengemas kue ke dalam plastik.

“Rak!” sapa Bayu ceria.

Raka menoleh dan tersenyum. “Bayu? Tumben.”

 

“Bosen di rumah. Eh, ini kue buat jualan ya?”

Ibunya Raka tersenyum ramah. “Iya, Nak. Mau dibawa ke warung.”

 

Bayu mengangguk kagum. Setelah membantu sebentar, Bayu akhirnya menarik Raka ke samping.

 

“Rak, mancing yuk. Ke rawa. Biar kepala nggak mumet.”

 

Raka sempat melirik ibunya. “Boleh, Bu?”

Ibunya tersenyum kecil. “Pergi aja, jangan lama-lama.”

 

Rawa di pinggir desa itu tenang. Airnya berwarna kecokelatan, dikelilingi rumput liar dan pepohonan kecil. Raka dan Bayu duduk berdampingan, masing-masing memegang pancing sederhana.

 

Awalnya mereka hanya diam, menikmati suasana libur yang jarang mereka rasakan benar-benar santai, hingga akhirnya Bayu membuka percakapan.

 

“Rak… nilai gue turun lagi,” katanya tiba-tiba.

 

Raka menoleh, menatap wajah Bayu yang terlihat lebih murung dari biasanya.

“Kenapa bisa?”

 

Bayu mengangkat bahu. “Sekolah gue susah, Rak. Di sekolah elit, semua orang pinter, susah banget buat jadi juara rasanya gue selalu kalah.”

 

Raka terdiam sejenak. Ia paham perasaan itu. “Lo nggak bodoh, Yu,” ucapnya akhirnya. “Lo cuma lagi capek.”

 

Bayu tersenyum kecil. “Lo enak ngomong. Hampir semua pelajaran bisa lo kuasain.”

 

Raka menggeleng pelan. “Gue juga belajar keras, kalau lo mau, gue bisa bantu, kita belajar bareng kalau ada tugas.”

 

Bayu menatap Raka cukup lama. Ia tahu, di balik kecerdasan Raka, ada beban hidup yang jauh lebih berat dan justru itu yang membuatnya semakin menghargai sahabatnya.

 

“Makasih, Rak,” ucap Bayu tulus.

 

Angin berhembus pelan. Pelampung pancing mereka bergoyang di permukaan air. Bayu lalu menghela napas lagi, seolah mengingat sesuatu yang mengganjal pikirannya.

 

Meskipun mereka beda kelas, Bayu tahu apa yang telah terjadi dengan Raka selama ini, bulan maksud dia untuk diam namun dia juga tidak berani ikut campur dia berharap Raka bisa melewati semuanya, meski begitu dia sangat tidak terima jika sahabatnya ini diperlakukan kasar oleh orang lain. 

 

“Rak,” katanya hati-hati. “Lo harus lebih hati-hati sama Rendi.”

 

Raka mengangguk. Ia tak perlu berpikir lama untuk setuju.

 

“Gue juga ngerasa dia nggak bisa dipercaya,” jawabnya jujur.

 

“Walaupun sekarang kalian satu panggung,” lanjut Bayu, “gue tetep ngerasa dia nggak tulus. Apalagi sekarang lo deket sama Clara.”

 

Nama itu membuat Raka terdiam sesaat. Ia menatap air rawa yang tenang, lalu berkata pelan,

“Gue nggak mau ribut sama siapa pun, Yu. Tapi gue juga nggak mau dibodohin.”

 

Bayu tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Raka.

“Makanya, jangan bengong. Nanti kesambet.”

 

Raka tertawa kecil, menggeleng. Suasana kembali cair.

Tiba-tiba pelampung Raka bergerak cepat.

“Eh, Rak! Tarik!” teriak Bayu.

 

Dengan sedikit usaha, Raka berhasil mengangkat seekor ikan. Tidak besar, tapi cukup membuat mereka tersenyum puas. Beberapa waktu kemudian, Bayu juga mendapat satu ikan lagi.

“Lumayan,” kata Bayu. “Buat makan malam.”

 

**** 

 

Mereka pulang saat matahari mulai condong ke barat, ember kecil berisi ikan mereka bawa ke rumah Raka. Ibunya menyambut dengan wajah terkejut sekaligus senang.

 

“Alhamdulillah,” ucapnya. “Bisa dimasak nanti malam.”

 

Raka langsung mengambil alih. “Biar aku aja yang bersihin, Bu.”

 

Raka langsung mengambil alih membersihkan ikan. Ia tak ingin ibunya kelelahan lagi, Bayu ikut membantu tanpa diminta.

 

Ibunya hendak menolak, tapi Bayu ikut membantu. “Biar kami aja, Bu.”

 

Malam itu, mereka makan sederhana bersama, tidak ada hidangan mewah, hanya ikan hasil pancingan, nasi hangat dan sambal buatan ibunya. Namun suasana terasa hangat dan penuh kebersamaan.

 

Di sela makan, Raka memandang ibunya, ada rasa haru yang menyelinap di dadanya. Ia semakin yakin, jalan hidup yang ia pilih belajar keras, menahan lelah, dan terus berjuang adalah satu-satunya cara untuk membalas semua pengorbanan itu.

 

Hari libur itu tidak diisi dengan kesenangan besar, tidak ada liburan jauh atau barang baru namun bagi Raka, hari itu justru menjadi pengingat kuat, bahwa di balik kesederhanaan, ada mimpi besar yang sedang ia bangun perlahan.

 

Dan ia berjanji pada dirinya sendiri, suatu hari nanti, semua lelah itu akan terbayar

 

Setelah makan malam selesai, Bayu berpamitan pulang. Motor tuanya perlahan menjauh dari halaman rumah Raka, meninggalkan suara knalpot yang memecah sunyi malam desa. Raka berdiri sebentar di depan rumah, menatap langit yang mulai dipenuhi bintang.

 

Udara malam terasa sejuk. Ia menarik napas panjang, seolah ingin menyimpan ketenangan itu di dalam dadanya.

 

Di dalam rumah, ibunya sudah berbaring. Raka mengintip dari ambang pintu kamar, memastikan ibunya tertidur dengan nyaman. Wajah perempuan itu terlihat damai, meski garis-garis kelelahan masih jelas tergambar. Raka menutup pintu pelan, lalu kembali ke kamarnya.

 

Ia duduk di tepi ranjang, membuka buku pelajaran yang sejak pagi belum sempat ia sentuh namun pandangannya terhenti, pikirannya melayang jauh. Tentang sekolah, tentang band, tentang Clara, tentang Rendi dan tentang masa depan yang terasa begitu dekat sekaligus jauh.

 

Raka mengepalkan tangannya pelan.

“Aku nggak boleh lemah,” bisiknya pada diri sendiri.

 

Di luar, angin kembali berembus pelan, menggerakkan dedaunan. Malam semakin larut, namun tekad Raka justru semakin terang. Bab demi bab dalam hidupnya terus berjalan, dan ia siap menghadapi apa pun yang menunggu di depan selama ia tahu untuk siapa ia berjuang.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!