Dibalik Seragam Sekolah
Nada Yang Tak Lagi Sama
Rendi tahu, sejak beberapa hari terakhir, ada sesuatu yang berubah.
Bukan perubahan besar yang langsung terlihat, tidak ada pertengkaran, tidak ada kalimat tajam atau suara meninggi tapi justru karena itulah semuanya terasa aneh, terlalu tenang.
Latihan band sore itu berjalan seperti biasa, jadwal tetap, lagu tetap, ruangan musik tetap sama dengan bau kayu dan kabel listrik yang sudah akrab tapi satu hal terasa berbeda, ritmenya.
Raka datang tepat waktu, menyapa semua orang seperti biasa, lalu langsung menyiapkan alat. Ia tidak bercanda seperti biasanya, tidak mengeluh soal lagu yang diulang terlalu sering, terlihat fokus. Profesional dan itu membuat Rendi gelisah.
Setelah dua lagu dimainkan, Raka menghentikan permainan. Ia melihat jam di ponselnya, lalu menghela napas pendek, Raka mulai membagi waktunya untuk berlatih dan mengikuti kelas tambahan untuk bimbingan lomba, Rendi tidak pernah menyangka bahwa satu kalimat sederhana bisa terasa seberat itu.
“Gue izin dulu, Ren. Ada bimbingan olimpiade.”
Kalimat itu diucapkan Raka dengan nada sopan bahkan sedikit ragu, tangannya sudah menggenggam tas, langkahnya sudah mengarah ke pintu ruang musik, tidak ada drama, tidak ada permintaan maaf berlebihan, terlalu tenang.
Rendi hanya mengangguk. “Iya.” Itu saja.
Tidak ada tambahan, tidak ada penahanan, tidak ada larangan. Rendi terlihat cuek namun Raka merasakan kekecewaan pada raut wajahnya.
Raka mengangguk, seolah lega karena tidak perlu menjelaskan lebih jauh. Ia memasukkan buku ke dalam tasnya, lalu berdiri.
Raka sempat berhenti di depan pintu, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi namun akhirnya ia hanya tersenyum kecil, lalu pergi. Pintu tertutup pelan, tapi suara itu justru terdengar nyaring di kepala Rendi.
Begitu Raka benar-benar menghilang dari balik pintu, ruangan musik mendadak terasa sempit dan sunyi.
Rendi berdiri kaku beberapa detik. Jemarinya masih menggenggam pick gitar, tapi tidak ada nada yang keluar. Vino dan Aldi saling melirik, tahu bahwa sesuatu sedang tidak beres.
“Ren?” panggil Vino pelan.
Rendi tidak menjawab.
Ia mengambil botol minum di atas ampli, membukanya dengan satu gerakan cepat, lalu meneguk isinya terlalu keras. Air tumpah sedikit ke dagunya. Botol itu kemudian ia banting ke lantai.
BRAKK!
Suara benturan menggema di ruangan.
Vino terlonjak. Aldi refleks berdiri. “Ren, woi….”
“Latihan lanjut,” potong Rendi dengan suara tertahan.
Nada suaranya tidak tinggi, justru itu yang membuatnya terdengar lebih berbahaya, rahangnya mengeras, napasnya tidak beraturan.
Ia bukan marah pada Raka, ia tahu itu.
Yang membuat dadanya sesak adalah kenyataan bahwa ia tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan perubahan ini. Band yang ia bangun perlahan bergeser, orang-orang di sekitarnya mulai memilih jalan masing-masing.
Dan ia harus berpura-pura baik-baik saja, latihan berlanjut tapi tidak ada yang benar-benar fokus lagu dimainkan sampai akhir, lalu berhenti tanpa komentar, tidak ada evaluasi, tidak ada candaan. Selesai.
Rendi mengambil tasnya dan keluar tanpa menoleh.
Jam istirahat tiba.
Rendi berjalan di koridor dengan langkah cepat, mencoba mengusir rasa sesak yang belum juga hilang. Di kejauhan, ia melihat Raka duduk di bangkunya. Bayu baru saja datang dan menepuk bahu Raka dengan semangat.
“Gila lu, Rak!” seru Bayu cukup keras hingga beberapa siswa menoleh. “Olimpiade tingkat kota, men! Itu keren banget!”
Raka tersenyum canggung. “Belum tentu lolos juga.”
“Ah, lu tuh kebiasaan ngerendah,” balas Bayu sambil terkekeh. “Gue bangga sih, serius.”
Bayu merangkul bahu Raka sebentar, lalu melepasnya. Gestur sederhana, tapi entah kenapa membuat dada Rendi kembali mengencang.
Ia berdiri beberapa langkah dari sana, tanpa sadar memperhatikan.
Raka terlihat… tenang tidak tertekan, tidak bimbang seperti yang Rendi kira, seolah keputusan itu sudah mantap, sudah dipikirkan matang-matang.
Dan itu membuat Rendi merasa tertinggal, di sisi lain koridor, Clara dan Viola berdiri dekat jendela kelas, mereka tidak ikut mendekat hanya melihat.
“Itu Bayu kan?” bisik Viola.
Clara mengangguk. “Iya.”
“Mereka lagi ngomongin lomba?” tanya Viola lagi.
Clara memperhatikan ekspresi Raka dari kejauhan. Ia mengenali raut itu raut seseorang yang sedang berada di persimpangan, tapi berusaha terlihat biasa saja.
“Iya,” jawab Clara pelan. “Kemarin Raka nanya aku.”
Viola menoleh cepat. “Nanya apa?”
“Dia bilang… dia bingung. Soal ikut olimpiade atau tetap fokus ke musik karena ada event,” ucap Clara jujur. “Aku cuma bilang, apapun pilihannya, dia harus siap tanggung jawab.”
Viola mengangguk pelan. “Kamu dewasa.”
Clara tersenyum tipis. “Aku cuma nggak mau bikin dia tambah berat.”
Dari kejauhan, Rendi melihat Clara dan Viola. Ia tahu mereka sedang membicarakan sesuatu dan entah kenapa, ia yakin Raka ada di dalam topik itu.
Rendi memalingkan wajah, Ia tidak ingin tahu lebih banyak.
Pelajaran berlangsung seperti biasa. Rendi duduk di bangkunya, mencatat dengan rapi, menjawab pertanyaan guru tanpa ragu, tidak ada yang mencurigakan dari luar, semua tampak normal.
Tapi di dalam kepalanya, suara-suara lain berisik.
Ia teringat bagaimana dulu ia mengajak Raka masuk band, bagaimana Raka ragu, tapi akhirnya mengiyakan, bagaimana suara Raka menyatu dengan musik mereka, membuat band itu terasa utuh dan sekarang, perlahan bagian itu mulai terlepas.
Rendi tidak menyalahkan siapa pun. Ia tahu hidup bukan hanya soal band. Ia tahu masa depan Raka tidak bisa digantungkan pada panggung sekolah. Tapi memahami tidak membuat rasa kesal itu hilang.
****
Bel pulang berbunyi.
Rendi keluar kelas dan berjalan menuju parkiran. Di sana, ia melihat Raka berdiri sendirian, tampak menunggu jemputan Bayu, tanpa sadar, langkah Rendi melambat.
Raka menoleh dan melihatnya. “Ren,” sapa Raka.
Rendi berhenti. “Hm?”
“Latihan tadi…” Raka menggaruk tengkuknya. “Maaf kalau gue ninggalin di tengah.”
Rendi menggeleng cepat. “Nggak. Lu nggak salah.”
Raka ragu sejenak. “Gue nggak ninggalin band, kok. Cuma….”
“Gue tahu,” potong Rendi. Suaranya lebih tenang sekarang. “Lu lagi ngejar hal yang lebih besar.”
Raka menatapnya, ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi suara motor Bayu sudah terdengar mendekat.
Motor Bayu datang, memotong percakapan.
“Rak! Yuk pulang.”
Motor Bayu berhenti tepat di samping mereka, Raka naik, lalu melambaikan tangan singkat sebelum pergi.
“Oke,” kata Raka akhirnya. “Sampai besok.”
Rendi mengangguk. “Iya.”
Rendi berdiri sendirian di parkiran, menatap punggung motor yang menjauh, untuk pertama kalinya, ia membiarkan perasaan itu muncul tanpa ditahan.
Bukan marah, bukan benci tapi takut. Takut kehilangan peran, yakut tidak lagi dibutuhkan, takut bahwa ia akan tetap berada di tempat yang sama, sementara orang-orang di sekitarnya melangkah lebih jauh.
Malam itu, di kamarnya, Rendi kembali membuka gitar. Ia memainkan lagu yang biasa mereka latih perlahan, sendirian, tidak ada vokal Raka, tidak ada harmoni lengkap.
Tapi ia tetap memainkannya sampai akhir karena ia tahu, meski nadanya berubah, musik harus terus berjalan.
Dan Rendi, harus belajar menerima bahwa tidak semua kebersamaan ditakdirkan untuk bertahan selamanya.