Dibalik Seragam Sekolah

Api Kecil di Mata Rendi

Kabar hasil ujian masih hangat terngiang di seluruh kelas. Banyak yang masih membicarakan bagaimana Raka, anak beasiswa yang awalnya diremehkan, tiba-tiba melonjak ke peringkat dua tepat di bawah Clara. Semua orang terkejut, beberapa bangga, beberapa lainnya iri. Tapi ada seseorang yang tidak bisa menerima kenyataan itu.

 

Sejak pagi, ekspresi Rendi terlihat berbeda. Tidak seperti biasanya yang penuh percaya diri, hari itu wajahnya terlihat tegang, rahangnya mengeras. Saat daftar nilai ditempel, Rendi sempat berdiam lama di depannya. Tatapannya terpaku pada angka yang berada di samping namanya: Peringkat 5.

 

Hanya beberapa baris di atasnya ada nama yang membuat dadanya berdesir tidak nyaman:

Raka peringkat 2.

Di belakangnya, Fahsya dan Vino saling melirik, lalu menatap Rendi dengan ekspresi gelisah.

 

“Bro… lo gapapa?” tanya Vino pelan.

 

Rendi tidak menjawab. Ia hanya menatap nama Raka lama sekali, seolah-olah angka dua itu sedang mengejeknya, mencabik ego yang selama ini ia banggakan.

 

Lalu, perlahan, muncul api kecil di matanya api yang membara dari campuran iri, gengsi, dan rasa kalah.

 

“Gue benci banget… ngeliat nama itu ada di atas gue,” gumam Rendi rendah, namun sarat amarah.

 

Fahsya mengurut tengkuknya. “Udah lah, Ren. Cuma ujian awal tahun.”

 

“Justru itu,” Rendi membalas, suaranya dingin. “Kalau awalnya aja dia begini, nanti gimana? Dia bakal mikir dia siapa?”

 

Tatapannya mengarah ke arah kelas, di mana Raka sedang duduk sambil membaca buku, tampak tenang dan sama sekali tidak sadar bahwa sedang menjadi objek kebencian seseorang.

 

“Gue gak suka kalah,” desis Rendi. “Apalagi… kalah di depan Clara.”

 

Rendi memendam rasa pada Clara sejak lama. Walau Clara tak pernah memberi isyarat balasan, Rendi selalu yakin bahwa hanya dia yang pantas berdiri di sisi gadis itu. Namun kini, perhatian Clara mulai teralihkan. Ia sering terlihat berbicara dengan Raka, tersenyum padanya, bahkan membelanya secara halus saat ada yang memperolok.

 

Rendi merasa tergeser, dan jika ada hal yang paling tidak ia tahan, itu adalah kalah dari seseorang yang ia anggap tidak pantas berada di sekolah ini.

 

“Ada rencana?” tanya Fahsya hati-hati.

 

Rendi tersenyum kecil, senyum yang tidak pernah muncul ketika ia bahagia. Senyum itu muncul hanya saat ia siap membuat seseorang menderita.

 

“Ada,” jawabnya. “Hari ini. Setelah istirahat.”

 

Istirahat siang. Kantin ramai, suara siswa bercampur tawa, aroma makanan memenuhi udara.

 

Raka, seperti biasa, tidak ikut keramaian. Ia berjalan sendirian ke lantai dua menuju toilet. Ia baru saja selesai makan bekal buatan ibunya di lantai atas, dan hendak mencuci tangan sebelum kembali ke kelas.

 

Ia tidak menyadari bahwa beberapa meter di belakangnya, Rendi dan dua sahabatnya mengikuti dengan langkah pelan dan senyum penuh rencana.

 

Saat Raka masuk ke toilet, mereka menunggu beberapa detik. Ketika Raka sudah di dalam, mereka saling mengangguk.

 

“Cepet,” bisik Rendi.

 

Fahsya memegang pintu dari luar, sementara Vino mengeluarkan kunci gembok kecil yang telah mereka bawa dari gudang olahraga.

 

Klik.

Kunci dipasang.

Pintu toilet dikunci dari luar.

 

Rendi menepuk bahu kedua temannya, puas. “Ayo kabur sebelum ada yang liat.”

 

Mereka bertiga pergi sambil tertawa pelan.

 

Di dalam, Raka baru menyadari ada yang salah saat hendak keluar.

 

Pintu tidak bergerak.Ia mendorong lebih keras. Tetap tidak bergerak.

 

Raka menelan ludah. “Halo? Ada orang di luar?” Tidak ada jawaban.

 

Ia mengetuk lebih keras. “Halo? Tolong buka pintunya.”

 

Masih tidak ada jawaban. Toilet itu berada di area yang jarang dilewati saat istirahat. Suara orang-orang di lantai bawah terlalu jauh untuk mendengarnya.

 

Detik demi detik berlalu. Peluh mulai membasahi tengkuknya.

 

Hatinya teriris. Ia tahu… hanya ada satu kelompok yang mungkin melakukan ini.

 

“Rendi…” gumamnya pelan, napasnya goyah.

 

Di kelas, Clara sedang mengecek catatan ketika ia menyadari sesuatu. Raka belum kembali.

 

Bel masuk terdengar, dan guru matematika memasuki ruangan. Semua siswa bergegas duduk. Tapi kursi Raka kosong. Bahkan tasnya masih belum terlihat.

 

Clara menoleh ke arah Viola, sahabat dekatnya. “Rakanya belum balik.”

 

Viola mengunyah permen karet pelan. “Tenang aja, Clar. Dia mungkin lagi ke toilet, tau sendiri dia sering diem sendiri.”

 

Clara menggeleng. “Tapi dia gak pernah telat masuk.”

 

Guru mulai membuka buku pelajaran.

 

Clara mengangkat tangan. “Bu, izin ke toilet sebentar.”

 

Sebelum guru sempat menjawab, Viola meraih pergelangan tangan Clara, suaranya rendah tapi tegas. “Clara. Jangan.”

 

Clara menatapnya penuh protes. “Vi, aku cuma mau cek.”

 

“Kamu bukan malaikat penyelamatnya dia,” jawab Viola pelan. “Kamu bukan harus selalu ikut campur.”

 

“Tapi aku khawatir.”

 

Viola menatap sahabatnya itu dengan mata penuh ketakutan yang tidak diucapkan. “Justru itu. Kamu semakin terlibat. Semakin banyak orang yang bakal lihat kamu beda.”

 

Clara diam sejenak.

Viola tidak bermaksud jahat. Ia hanya ingin melindungi Clara dari masalah.

 

“Bukannya aku ikut campur,” Clara akhirnya berkata lirih, “aku cuma… gak mau dia kenapa-napa.”

 

Guru memanggil nama Clara. “Jika tidak penting, duduk kembali ya, Clara.”

 

Clara menggigit bibir, frustasi. Ia duduk perlahan, tapi rasa gelisahnya makin kuat.

 

Setiap menit terasa seperti satu jam.

 

 

Di toilet lantai dua, Raka mulai panik. Ia sudah mengetuk pintu berkali-kali. Suaranya parau.

 

“Hallo… tolong… ada orang…?” Tidak ada siapa pun.

 

Ia memukul pintu menggunakan bahunya, tapi gembok di luar terlalu kuat. Napasnya mulai memburu. Ia melihat jam di pergelangan tangan: kelas sudah mulai sejak beberapa menit lalu.

 

“Tolong… siapapun… buka…”

 

Tubuhnya mulai gemetar. Ruangan itu terasa semakin sempit. Ia mencoba menenangkan diri, tapi ketakutan muncul perlahan: bagaimana jika tidak ada yang lewat? Bagaimana jika ia tertinggal pelajaran? Bagaimana jika guru mengira ia sengaja bolos?

 

Dan lebih buruk lagi… bagaimana jika ini akan terus terjadi?

 

Raka menutup matanya, menahan air mata. Ia tidak mudah menangis, tapi rasa terjebak itu terlalu menyakitkan.

 

Di kelas, Clara sudah tidak bisa fokus sama sekali. Ia terus melirik ke pintu kelas.

 

“Bu,” Clara kembali mengangkat tangan, kali ini suaranya terdengar lebih memaksa. “Boleh saya ke toilet? Benar-benar butuh.”

 

Guru menghela napas. “Cepat, Clara.”

 

Clara langsung bangkit.

 

Viola memegang pergelangan tangannya sekali lagi. “Clara. Jangan cari masalah.”

 

Clara menatapnya dengan mata yang sudah dipenuhi keputusan. “Kalau kamu gak mau ikut, gak apa-apa. Tapi aku harus cari dia.”

 

Viola terdiam. Ia melepaskan genggamannya, pasrah. “Hati-hati.”

 

Clara mengangguk lalu keluar dari kelas.

 

Clara berlari kecil melewati koridor. Ia mengecek satu per satu ruangan yang mungkin didatangi Raka, tapi tidak ada. Hatinya semakin gelisah.

 

Ketika ia tiba di lantai dua, suasana sepi. Hanya ada tiga pintu toilet. Desir kecurigaan mengalir di dadanya.

 

“Raka?” panggilnya. Tidak ada jawaban.

 

Ia mendekat ke toilet paling ujung. Baru saja hendak melewati pintu pertama, ia mendengar suara sangat pelan.

 

Tok… tok… tok… Seperti ketukan lemah dari dalam.

 

Clara memutar tubuhnya cepat. “Raka?!”

 

Tok… tok… tok… Kali ini sedikit lebih keras.

 

Clara langsung berlari ke pintu itu. “Raka! Kamu di dalam?!”

 

“Clara… tolong…,” suara Raka terdengar serak dan goyah.

 

Clara menahan napas, matanya melebar ngeri, tanpa pikir panjang, ia menarik gagang pintu, tidak bergerak.

 

“Ya Allah… dikunci,” bisik Clara panik.

 

Ia langsung menunduk dan melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup cepat.

Sebuah gembok kecil terpasang di luar pintu.

 

Tanpa ragu, Clara berteriak: “Tolong! Ada yang terkunci di toilet!”

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!