Dibalik Seragam Sekolah
Clara Merasa Cemas
Guru BK langsung membukakan pintu kamar mandi dengan kunci cadangan yang selalu ia simpan di laci ruangannya. Begitu pintu terbuka, tubuh Raka terlihat terkulai di sudut, bersandar pada dinding dingin yang sedikit lembap. Wajahnya pucat, bibirnya memutih, dan kedua tangannya gemetar menahan dingin yang menusuk.
“Ya Allah… Raka!” seru Clara yang refleks berlari menghampiri, meski Guru BK segera menahan bahunya.
“Biar saya dulu. Kamu tunggu di luar, Clara.”
Clara menggigit bibir menahan panik. Dadanya naik turun cepat, matanya tak lepas dari tubuh Raka yang tampak begitu lemah.
Guru BK memeriksa Raka sekilas, menyentuh dahinya, lalu meraih lengannya.
“Badannya dingin sekali. Dia bisa pingsan kalau telat beberapa menit lagi.”
Raka mengangkat wajah perlahan, suaranya serak.
“Bu… saya… gak bisa buka pintunya sejak tadi…”
Guru BK mengangguk, memapahnya.
“Tenang, Nak. Kita bawa kamu ke puskesmas sekarang.”
Clara langsung menghampiri begitu Raka berhasil berdiri.
“Raka… kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, kan?”
Raka berusaha tersenyum kecil, tapi yang muncul hanya garis tipis yang lemah.
“Aku… gak tahu… tadi pintunya tiba-tiba gak bisa dibuka.”
Clara menelan keras. Ada getaran halus yang tak bisa ia sembunyikan di suaranya saat berkata,
“Kamu ikut saya, ya. Kamu tidak sendirian.”
Guru BK dan Clara bergegas keluar dari sekolah. Beberapa siswa yang melihat rombongan kecil itu saling pandang, berbisik-bisik, namun Clara tak peduli. Fokusnya hanya pada Raka yang tampak berjalan sambil menahan pusing.
Di puskesmas terdekat, seorang perawat langsung membawa Raka ke ruang pemeriksaan. Clara duduk di kursi tunggu dengan tangan terkepal, lututnya tak henti bergetar. Guru BK berdiri di sampingnya, berusaha menenangkannya.
“Kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Apa pun yang terjadi, ini bukan salahmu,” ujar Guru BK lembut.
“Tapi… bu, kalau saja tadi saya maksa izin dari guru… kalau saja saya keluar lebih cepat…”
Clara memandang lantai, suaranya pecah. “Raka bisa saja… kenapa-kenapa…”
Guru BK menepuk bahunya. “Yang penting sekarang Raka selamat. Itu sudah cukup.”
“Bu, aku yakin ada yang ingin mencelakakan Raka," ujar Clara dia ingin kejadian ini tidak akan terulang lagi.
“Iya, ibu guru pasti akan segera cari tahu siapa pelakunya, kamu gak usah khawatir ya."
Namun ketakutan itu tetap tinggal di dada Clara. Ia belum pernah merasa sepanik itu seumur hidupnya. Sesuatu menegang di dalam dirinya seolah ketakutan itu bukan hanya karena Raka adalah teman, tapi… lebih dari itu. Ia menepis pikiran itu cepat-cepat.
Tak lama kemudian, pintu ruang periksa terbuka. Dokter keluar sambil mencatat sesuatu.
“Kondisinya stabil, hanya kedinginan hebat dan sedikit sesak karena terlalu lama di ruangan tertutup. Tapi dia butuh istirahat. Jangan dibiarkan kembali ke sekolah hari ini.”
Clara menghela napas lega, hampir saja matanya berkaca-kaca. “Bolehkah saya menemui dia, Dok?”
“Boleh, asal tidak terlalu banyak bicara dan biarkan dia beristirahat.” Clara berdiri paling pertama. Guru BK mengangguk mempersilakan.
Raka sedang berbaring, selimut putih menutupi tubuhnya. Ia menoleh ketika mendengar pintu dibuka.
Clara masuk dengan langkah pelan, seperti takut mengganggu.
“Hai…” Clara duduk di kursi samping tempat tidur. “Gimana? Masih pusing?”
Raka menarik napas pelan. “Masih agak pusing… tapi udah mendingan.”
Clara menatap wajah Raka lama. Ada bekas kelelahan di matanya yang biasanya jernih.
“Kenapa kamu bisa… terkunci?”
Raka menarik napas pelan.
“Aku gak tahu. Tadi ada suara langkah di luar sebelum pintunya ketutup. Tapi aku gak lihat siapa.”
Clara mengepalkan jarinya tanpa sadar.
“Rendi, ya?”
Raka terdiam. Ia tidak ingin asal menyebut nama tanpa bukti.
“Tapi cuma dia yang… kelihatannya memang gak suka sama kamu,” lanjut Clara dengan suara yang menurun.
Raka menatap langit-langit.
“Biarin aja. Aku gak mau ribut sama siapa pun.”
Clara mencondongkan tubuh sedikit.
“Tapi ini sudah keterlaluan, Rak. Kamu bisa sakit lebih parah kalau tadi gak ketemu.”
“Aku baik-baik aja kok.”
Raka mencoba tersenyum, tapi Clara melihat jelas itu hanya penampilan.
Clara menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Mulai sekarang… kalau ada apa-apa, kamu harus bilang ke aku. Jangan diam.”
Raka menatap Clara dalam-dalam. “Clara…”
Clara segera mendekat. “Ya?”
“Terima kasih… kamu dan Bu BK udah nolong aku.”
Clara mengangguk kecil. “Iya, Rak. Tenang aja. Yang penting kamu selamat.”
Raka tersenyum, dia merasa sangat beruntung bisa kenal dengan Clara yang begitu baik sekali, dalam hatinya dia masih bertanya-tanya namun ia urungkan niatnya, nanti saja.
Tidak ada percakapan mendalam, tidak ada bahasan tentang perasaan. Hanya ucapan tulus yang membuat dada Clara sedikit lega.
Telepon dari Viola
Saat Clara masih menemani Raka, ponselnya bergetar. Nama Viola muncul di layar.
Clara segera menjawab. “Vi, kenapa?”
“Clara! Kamu di mana? Aku dengar Raka dibawa ke puskesmas beneran? Kondisinya gimana?” Suara Viola terdengar panik.
“Iya, aku lagi sama dia. Udah mendingan. Dokter bilang cuma kedinginan dan harus istirahat.”
“Syukurlah…” Viola terdengar menghela napas panjang. “Kamu… bakalan lama di sana?”
“Kayaknya iya. Aku mau nunggu sampai keluarganya datang.”
“Kalau gitu, tas kamu gimana? Kamu tinggal di kelas.”
Clara baru ingat. Tas ranselnya masih ada di sekolah, lengkap dengan buku pelajaran dan dompetnya.
“Iya ya… aduh, aku lupa.”
“Tenang, aku ambilin,” jawab Viola cepat.
“Aku sekalian pulang, nanti aku antar tas kamu ke rumah. Biar kamu fokus jagain Raka dulu.”
Clara tersenyum mendengar sahabatnya satu itu. “Makasih banget, Vi. Hati-hati ya pulangnya.”
“Iya. Dan Clara…”
Clara mengerjap. “Hmm?”
“Izin sama guru sudah aku bantu sampaikan. Jadi kamu gak usah balik sekolah lagi. Fokus jaga temen kita itu, oke?”
Clara menghela napas lega. “Duh, Vi. Kamu penyelamat banget.”
“Udah ya, aku berangkat. Nanti kabarin kalau Raka udah boleh pulang.”
Sambungan berakhir. Clara menatap Raka yang sedang terpejam, entah tiduran atau memulihkan tenaga.
“Viola bakal ambilin tasku. Jadi kamu tenang aja, aku gak harus balik sekolah dulu,” kata Clara pelan.
Raka membuka mata sedikit. “Kamu… gak usah repot, Cla.”
“Ayolah, Rak. Kamu baru kejadian kayak gitu, masa aku tinggal pulang?”
Raka memejam kembali. “…terima kasih.” Clara tersenyum lembut.
Di sekolah, Rendi sedang bersandar di tembok belakang kelas. Gengnya berdiri mengelilingi sambil tertawa kecil, seolah aksi mereka tadi hanyalah iseng biasa.
“Raka tadi keluar gak?” tanya Rendi pura-pura santai.
“Kayaknya sih udah. Kita gak liat lagi,” jawab salah satu temannya.
Rendi tersenyum miring. “Bagus. Biar dia kapok.”
Namun beberapa menit kemudian, kabar beredar cepat bahwa Raka dibawa ke puskesmas dalam keadaan lemah.
Senyum Rendi menghilang. “Serius?” Wajahnya sedikit memucat.
“Lha iya, Ren. Katanya terkunci di kamar mandi. Kamu yakin dia udah keluar waktu kita pergi?”
“Rendi, katanya Raka beneran sakit, lho,” kata salah satu kawannya.
Rendi menoleh cepat. “Parah?”
“Ya… katanya lemes banget. Clara sama Bu BK yang nganterin.”
Rendi meremas tangan di bawah meja. Ada rasa tak nyaman menggelitik dadanya. “Apa… dia bilang siapa yang kunciin?”
Kawannya menggeleng. “Belum. Tapi semua mikirnya kamu…”
.
Rendi merasakan sesuatu menusuk dadanya.Ia tidak menyangka rencananya akan separah itu. Ia hanya ingin membuat Raka terlambat masuk kelas. Hanya itu, bukan membuatnya sakit. Tapi gengsinya terlalu besar untuk mengaku menyesal.
“Bukan salah gue. Dia aja yang lemah,” gumam Rendi dingin, meski hatinya bergetar.
Waktu yang Berjalan Pelan. Pukul 3 sore, keluarga Raka akhirnya datang. Ibunya langsung memeluknya sambil menahan air mata, Clara berdiri di samping mereka, memberikan ruang.
Guru BK menjelaskan kronologi singkat, tanpa menuduh siapa pun, hanya bahwa Raka ditemukan terkunci dan mengalami kedinginan parah. Raka kemudian dibawa pulang naik motor orang tuanya.
Ketika mereka pergi, Clara berdiri sendirian di depan puskesmas. Angin sore menerpa rambutnya perlahan. Ia meraih ponsel dan menghubungi Viola.
“Vi, Raka udah pulang.”
“Syukurlah. Kamu juga langsung pulang ya. Tas kamu udah aku titipin sama Mamamu. Aku gak berani masuk rumah, jadi aku taruh di meja teras.”
Clara tersenyum kecil. “Makasih banget, Vi.”
“Udah… lain kali jangan bikin aku panik gini lagi.”
Clara terkekeh. “Maaf…”
Sebelum telepon ditutup, Viola menambahkan, “Clara… tolong hati-hati ya. Ini sekolah kita, bukan tempat yang selalu aman. Kalau ada yang kamu curigai, kamu bilang ke aku.”
Clara mengangguk walau Viola tak bisa melihat.
Setelah sambungan terputus, Clara menatap jalan yang mulai lengang. Ada rasa lega, tapi juga kekhawatiran yang tak hilang.
Tidak ada konflik terbuka.
Tidak ada konfrontasi.
Namun sesuatu berubah di sekolah mereka hari itu.
Sebuah api kecil telah menyala api yang membakar diam-diam di hati seseorang bernama Rendi.
Sementara Clara, tanpa ia sadari, mulai memposisikan dirinya di antara dua sisi: nilai yang ia jaga dan rasa tanggung jawab yang tumbuh pada seseorang bernama Raka.