Dilamar Mokondo yang SALEH
Teras Masjid
Gerimis turun tipis di kampus ketika Azzima Rahmadani berlari kecil melintasi pelataran. Tas ranselnya bergoyang ke kiri kanan, sementara ujung pashminanya tertiup angin.
“Ya Allah,” gumamnya pelan, saat menginjak genangan.
Bukan hujannya yang membuatnya panik, melainkan roti isi cokelat yang hampir jatuh dari bungkus kertas di tangannya.
“Eh, eh!” bisiknya refleks.
Ia berhasil menangkap roti itu sebelum benar-benar meluncur ke tanah. Nafasnya terengah sedikit. Zizi menatap roti itu beberapa detik, lalu tersenyum lega.
“Alhamdulillah.” Ia menepuk-nepuk bungkusnya pelan seolah menenangkan sesuatu yang baru saja hampir celaka.
Zizi—begitu semua orang memanggilnya. Ia berhenti di depan tangga masjid kampus, lalu naik dua anak tangga dan duduk di sana.
Sneakers putihnya yang sudah sedikit pudar digesekkan ke tepi tangga untuk menghilangkan sisa air hujan. Tas ranselnya diletakkan di samping, resletingnya terbuka sedikit memperlihatkan laptop, charger kusut, dan mukena travel yang terlipat asal.
Dari dalam masjid terdengar suara mikrofon, sedang berlangsung kajian rutin.
Zizi melirik ke dalam melalui pintu yang terbuka setengah. Mahasiswa duduk rapi di karpet hijau.
Ia menatap lagi rotinya. Lalu pintu masjid dan rotinya lagi.
Helaan napas panjang keluar dari bibirnya. “Kalau masuk… nggak boleh makan di dalam, rotinya keburu dingin.”
Ia membuka bungkus kertas perlahan. “Kalau enggak masuk…” gumamnya lagi, “…nanti malaikat nyatet, mahasiswa multimedia malas ikut kajian.”
Zizi tertawa kecil pada dirinya sendiri. Ia akhirnya memutuskan tetap duduk di tangga. Roti itu digigit pelan, sambil telinganya tetap menangkap suara ustaz dari dalam.
“Dalam memilih pasangan hidup…” suara itu bergema lembut melalui speaker kecil.
Zizi mengunyah perlahan.
“…jangan hanya mencari yang menyenangkan mata.”
Ia berhenti mengunyah sebentar.
“…tapi yang bisa menuntun menuju surga.”
Zizi menatap lurus ke halaman yang masih basah oleh hujan. Beberapa mahasiswa berjalan cepat sambil menutup kepala dengan tas.
Pikiran kecil melintas di kepalanya, ~menuntun ke surga. Ia menggeser duduknya sedikit, lalu bergumam, “Berarti standarku tinggi ya…” Ia tersenyum malu setelah mengatakannya.
Tapi rupanya suara itu tidak sepenuhnya hanya terdengar oleh Zizi saja. Dari sebelah kirinya muncul tawa samar atau seperti seseorang yang gagal menahan senyum.
Zizi menoleh cepat.
Seorang pria duduk di dua anak tangga di sampingnya. Kemejanya digulung sampai siku. Rambutnya sedikit basah oleh gerimis. Sebuah tas ransel hitam tergeletak di dekat kakinya. Rupanya dia baru saja keluar dari dalam masjid.
Pria itu masih tersenyum tipis. Zizi membeku setengah detik. Tangannya refleks menutup separuh wajah dengan bungkus roti.
“Eh… kedengeran ya?” tanyanya pelan.
Pria itu mengangguk ringan. “Lumayan jelas.”
Pipi Zizi langsung terasa hangat. Ia menunduk sedikit sambil menggigit roti lagi, pura-pura sibuk.
“Astaghfirullah… malu banget.”
Pria itu mengalihkan pandangannya ke halaman kampus, seolah memberi ruang agar Zizi tidak semakin kikuk. Namun senyum kecil masih tersisa di sudut bibirnya.
Zizi melirik lagi diam-diam. Pria itu duduk dengan punggung lurus, kedua tangannya bertumpu di lutut. Sepatunya sedikit pudar, tapi bersih. Ia seperti seseorang yang terbiasa menjaga dirinya tetap terlihat rapi meski penampilannya sederhana.
Sejenak mereka hanya mendengar suara kajian dari dalam masjid. Angin sore berhembus membawa aroma tanah basah.
Zizi mengunyah rotinya sambil menatap lurus ke depan. Dalam hati ia sedikit menertawakan dirinya sendiri.
Kenapa sih harus ngomong begitu? Kalau tadi orang ini mengira dia gadis aneh bagaimana?
Ia mencuri pandang lagi. Pria itu sekarang sedang menatap pelataran kosong dengan ekspresi yang sulit ditebak. Seperti sedang memikirkan sesuatu dan menahan dirinya.
Zizi tiba-tiba sadar sesuatu, apakah pria itu berpikir negatif tentangnya? Kajian kok malah duduk di luar makan roti.
Zizi menghela napas kecil, lalu bergumam pelan, “Harusnya aku masuk juga sih…”
Pria itu menoleh sedikit.
Zizi buru-buru menambahkan, cengengesan, “Tapi aku lapar jadi makan dulu.”
Sudut bibir pria itu terangkat lagi.
Zizi mendesah pelan, membatin, "Kenapa sih orang ini kelihatannya mudah sekali menertawakan hal kecil?" Meski dia tidak merasa tersinggung.
Di dalam masjid, ustaz melanjutkan ceramahnya tentang rumah tangga yang dibangun dengan iman.
Zizi kembali mendengarkan setengah hati.
Kata “imam” beberapa kali terdengar. Entah kenapa kata itu selalu membuatnya diam.
Sejak kecil, rumahnya penuh dengan jadwal aktivitas, prestasi, dan target. Tapi soal hal sederhana seperti shalat berjamaah… jarang benar-benar dilakukan apalagi merasakan kehangatan beribadah bersama. Dan dia butuh itu.
Ia menggeser duduknya sedikit. Tanpa sadar, berkata lirih, “Yang penting imamnya baik sih…”
Kali ini pria itu tidak tertawa. Ia hanya melirik sebentar, lalu kembali menatap halaman.
Satu jam kemudian, kajian selesai seiring gerimis yang benar-benar berhenti. Cahaya sore pun mulai memantul di genangan kecil di halaman kampus.
Beberapa mahasiswa keluar dari masjid. Suasana menjadi sedikit ramai. Pria itu akhirnya berdiri lebih dulu. Ia mengangkat tas ranselnya, menyampirkannya ke bahu.
Zizi ikut berdiri, meski sebenarnya tidak tahu kenapa.
Pria itu menoleh padanya. “Saya Fikri.”
Zizi berkedip sebentar sebelum menjawab.
“Azzima.” Lalu tersenyum kecil. “Tapi orang-orang panggil aku Zizi.”
Fikri mengangguk pelan. Tidak ada jabat tangan atau basa-basi panjang. Hanya dua orang yang berdiri di tangga masjid setelah hujan.
Zizi masih di sana beberapa detik setelah Fikri melangkah turun dari tangga. Entah kenapa ia merasa percakapan singkat itu belum selesai, padahal mereka bahkan hampir tidak berbicara apa-apa.
Ia menggeleng kecil, mengendikkan bahu, “Aneh,” gumamnya.
Zizi akhirnya turun juga dari tangga masjid dan berjalan menuju parkiran motor kampus. Genangan air memantulkan langit yang mulai cerah.
Suasana parkiran sudah agak sepi saat ia sedang mencari motornya. Mata bulat Zizi menangkap sosok tadi.
Pria itu berdiri di dekat motor Vario putih. Tangannya sedang menarik sesuatu dari dalam jok. Sebuah jaket hijau.
Zizi berhenti melangkah, melihat Fikri mengenakan jaket itu dengan cepat lalu mengambil helm dari stang motor.
Tulisan aplikasi ojek online di punggung jaket itu terlihat jelas.
Zizi berkedip, sambil memiringkan kepalanya sedikit, seolah mendengarkan otaknya yang berbisik, “Oh, jadi itu mahasiswa… atau driver?"
Fikri menyalakan motor. Mesin menderum pelan. Zizi masih berdiri di tempatnya sambil memeluk tas ransel.
"Kalau driver…" Ia mengerucutkan bibirnya. "kenapa ikut kajian di sini?"
Motor itu melaju keluar dari parkiran. Zizi memperhatikannya sampai hilang di tikungan kampus. Lalu ia mengangkat bahu kecil. “Ya sudah,” gumamnya. “Tetap lucu sih orangnya.”
Zizi hendak menyalakan motor tepat saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari sang mama, bahwa dirinya dijemput di depan gerbang kampus.
“Maksa banget sih,” gerutunya pelan. “Motorku ditinggal lagi.”
Zizi menghentakkan kakinya meninggalkan parkiran. Sebuah mobil hitam sudah menunggu di depan gerbang. Kacanya turun perlahan.
Dia mendesah kecil lalu masuk ke kursi belakang. Mobil itu melaju meninggalkan kampus. Jalanan masih sedikit basah oleh hujan. Zizi menempelkan pipinya ke kaca, memperhatikan lampu-lampu kota yang mulai menyala.
Beberapa menit kemudian mobil berhenti di lampu merah. Zizi masih menatap keluar dengan pikiran kosong… sampai sebuah motor berhenti di samping mobil.
Refleks ia menoleh. Helmnya masih terpasang, tapi Zizi langsung mengenali wajah itu.
Zizi berkedip dua kali. Lampu lalu lintas berubah hijau. Motor itu melaju lebih dulu dan dia masih menatap jalan di depan dengan alis terangkat sedikit.
“Ah," lirihnya. "paling juga nggak ketemu lagi." Zizi tidak tahu bahwa kota ini ternyata tidak sebesar yang ia kira.
.
.