Dilamar Mokondo yang SALEH

Maju atau Stop

Ibunya menghela napas pelan. “Zizi itu… kelihatan anak orang berada.”

Fikri tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di tengah ruang tamu dengan tangan di saku celana, memikirkan kalimat ibunya.

“Apa hubungannya?” akhirnya ia bertanya pelan.

Ibunya menatapnya sebentar, lalu berjalan menuju meja dan meletakkan kantong buah yang tadi dibawa Zizi.

“Bukan apa-apa,” katanya hati-hati. “Ibu cuma tidak ingin kamu salah langkah.”

Fikri bersandar di punggung kursi, mengangkat alis sedikit. “Dia teman kampus, Bu.”

“Iya.” Ibunya mengangguk. “Teman kampus.”

Mereka sama-sama diam. Dari dapur terdengar bunyi sendok mengenai gelas. Suara televisi di ruang tamu masih menyala pelan.

Ibunya kembali menatap Fikri. “Tapi kadang hati orang tidak berhenti di kata teman.”

Fikri menghembuskan napas pelan saat mengambil segelas air di meja lalu meneguknya.

Ibunya tersenyum tipis. “Perempuan itu datang sendiri ke rumah kita, Dek.” Ia berhenti sebentar. “Tidak semua perempuan begitu.”

Fikri tidak menjawab. Ia hanya menunduk sedikit, memperhatikan plester di sikunya. Entah kenapa, ingatannya kembali ke sore tadi.

Zizi berdiri di ruang tamu kecil itu, memegang kantong buah dengan wajah yang sedikit canggung.

[Cuma mau lihat… Kak Fikri masih hidup atau nggak.]

Fikri menahan senyum kecil yang hampir muncul di wajahnya. Ibunya memperhatikannya dengan sudut mata. “Lihat,” katanya pelan.

Fikri langsung mengangkat kepala. “Apa?”

“Kamu tersenyum.”

Fikri cepat-cepat menegakkan badan. “Nggak.”

Ibunya terkekeh pelan, ia mengambil buah dari kantong plastik itu dan membawanya ke dapur. Sebelum masuk, ia sempat menoleh lagi ke arah Fikri. “Kamu boleh berteman dengan siapa saja,” katanya lembut. “Ibu cuma takut… nanti kamu yang terluka.”

Fikri tidak langsung menjawab. Di kepalanya justru terlintas satu kalimat "tinggal jawab iya". Ia menghembuskan napas pelan, lalu bergumam, “Masalahnya… aku sudah kepikiran begitu.”

Di dapur, ibunya yang masih berdiri di dekat pintu ternyata mendengar kalimat itu. Ia erkata pelan, “Dek…”

Fikri menoleh ke arah suara itu. Ibunya melanjutkan dengan nada tenang, tapi kali ini diikuti sorot mata serius. “Kalau kamu sudah mulai berpikir begitu… berarti kamu harus siap memperjuangkannya. Biar harga diri kita tidak direndahkan.”

Dhuar.

Fikri terdiam. Kalimat ibunya berat. Ia mematung, menatap lantai ruang tamu yang mengkilap samar terkena cahaya lampu. “Siapa yang merendahkan, Bu?” tanyanya akhirnya pelan.

Ibunya keluar dari dapur, menyeka tangan dengan ujung kerudung. Ia duduk di kursi seberang Fikri. “Belum ada,” jawabnya tenang. “Dan Ibu berharap tidak akan pernah ada.”

Fikri mengerutkan kening.

“Tapi perbedaan itu nyata, Dek.” Suara ibunya lembut, tidak menghakimi. “Cara hidup, lingkungan, kebiasaan. Kadang bukan mereka yang sengaja merendahkan… tapi keadaan yang membuat kita merasa kecil.”

Fikri menghela napas panjang. Ia mengusap tengkuknya pelan. “Zizi bukan orang seperti itu.”

Ibunya tidak langsung membantah. Ia hanya menatap anaknya dengan mata yang hangat tapi tajam membaca hati. “Perempuan itu mungkin tidak,” katanya perlahan. “Tapi dunia di sekelilingnya?”

Ucapan ibu membuat Fikri terdiam lagi. Ia teringat rumah besar Zizi, halaman yang rapi dengan taman kecil, banyak mobil terparkir di garasi, dan cara ayah Zizi berbicara ... tenang tapi berwibawa.

Fikri menunduk sebentar.

Ibunya melanjutkan pelan, “Ibu hanya tidak ingin kamu nanti harus berdiri di tempat yang membuatmu merasa tidak pantas.”

Fikri langsung mengangkat kepala. Ada kilat kecil di matanya. “Kalau begitu bukan Zizi yang harus dijauhi,” katanya pelan tapi tegas. “Tapi aku yang harus memperbaiki diriku.”

Ibunya menatapnya lama.

Ruangan itu kembali sunyi beberapa detik.

Lalu beliau tersenyum tipis. Senyum seorang ibu yang baru saja melihat anaknya mulai tumbuh dewasa. “Kalau begitu,” katanya perlahan, “kamu harus mulai dari sekarang.”

Fikri mengerutkan kening. “Mulai apa?”

Ibunya menyandarkan punggung ke kursi. “Buktikan dulu kamu bisa berdiri tegak dengan hidupmu sendiri.”

Fikri tidak menjawab, hanya mengangguk kecil. Di kepalanya, tanpa sadar, muncul lagi wajah Zizi sore tadi. Cara ia menatap siku Fikri yang terluka dengan ekspresi khawatir yang tidak dibuat-buat.

Fikri menghembuskan napas panjang. Dalam hati ia bergumam pelan, 'Kalau benar harus memperjuangkan… berarti aku tidak boleh setengah-setengah.'

Ibunya memperhatikannya diam-diam. Ia tahu tatapan itu, milik laki-laki yang mulai punya alasan untuk berjuang lebih keras dari biasanya.

Dan entah kenapa, perasaan ibunya justru semakin tidak tenang. Ia menatap ke arah pintu rumah yang sudah tertutup sejak Zizi pergi tadi. Lalu bergumam hampir tak terdengar, “Semoga saja… keluarga perempuan itu tidak punya rencana lain untuk anaknya.”

Fikri yang masih berdiri di ruang tamu langsung menoleh. “Rencana apa, Bu?”

Sambil kembali ke dapur, beliau berkata, “Anak perempuan seperti Zizi… biasanya tidak lama dibiarkan sendiri.”

Fikri mengerutkan kening. “Maksud Ibu?”

Ibunya menarik napas panjang. “Bisa saja suatu hari nanti dia dijodohkan.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sunyi. Tangannya yang tadi masuk ke saku celana kini keluar, lalu Fikri menyilangkan tangan di dada.

Ibunya melanjutkan pelan, “Dan itu artinya perjuanganmu dipandang sebelah mata.”

Fikri mengangkat alis sedikit, tapi ia tetap diam.

“Orang-orang berkata,” lanjut ibunya, suaranya makin lembut tapi justru makin dalam, “kamu hanya mahasiswa biasa. Tidak selevel, tidak pantas buatnya.”

Fikri menunduk sebentar, lalu menghela napas. Ibunya memperhatikan wajah anaknya yang kini tidak lagi santai seperti tadi.

“Kalau itu terjadi,” katanya lagi, “dan akhirnya Zizi harus menikah dengan pilihan keluarganya… kamu siap?”

Fikri mengangkat kepala. Pertanyaan itu menggantung beberapa detik di udara.

Ibunya menatap lurus ke matanya sekarang. “Kamu siap terluka?” tanyanya.

Fikri berjalan beberapa langkah ke arah jendela ruang tamu, lalu berhenti di sana. Di luar, malam sudah turun. Lampu gang menyala redup.

Ia menatap keluar sebentar, baru sadar jalan yang ada di depannya tidak akan mudah. Fikri menoleh lagi ke arah ibunya. “Bu,” ujarnya pelan.

Fikri mengusap tengkuknya sebentar sebelum melanjutkan, suaranya datar tapi jelas. “Dari tadi Ibu bicara seolah-olah aku sudah kalah duluan.”

Ibunya mengangkat alis sedikit.

Fikri mengulas senyum. “Padahal aku bahkan belum mulai.”

Ibunya memiringkan kepala sedikit, menatap anaknya lebih tajam. “Perjuangan itu tidak selalu menang, Dek.”

Fikri mengangguk kecil. “Aku tahu.”

“Kalau nanti kamu berjuang tapi tetap kalah?” tanya ibunya lagi.

Fikri diam sebentar. Lalu bahunya terangkat sedikit dalam satu tarikan napas panjang. “Ya sudah.”

Ibunya menatapnya lama. “Ya sudah?”

“Setidaknya aku pernah berani.”

Ibunya menghela napas pelan, lalu berkata dengan nada yang lebih dalam sekarang. “Kamu siap tidak dilihat?”

Fikri mengerutkan kening. “Apa?”

Ibunya menatap lurus ke matanya. “Siap tidak dianggap tidak pantas masuk ke lingkungannya?” beliau melanjutkan lagi, “Kamu siap capek berjuang sendirian… sementara dia mungkin bahkan tidak tahu kamu sedang berjuang?”

Fikri menelan ludah.

Ibunya mencondongkan badan sedikit ke depan. “Kamu siap begitu, Dek?” tanyanya sekali lagi.

Fikri menunduk sebentar. Tangannya bertumpu di kusen jendela. “…Belum tahu.”

Ibunya terdiam. Fikri mengangkat kepala lagi, menatap ibunya dengan ekspresi yang jauh lebih jujur dari sebelumnya. “Tapi kalau aku mundur sekarang,” katanya pelan, “aku bahkan tidak akan pernah tahu jawabannya.”

Ibunya memandang anaknya lama sekali.

Lalu perlahan mengangguk. “Kalau begitu,” katanya pelan, “mulai sekarang kamu harus siap satu hal lagi.”

Fikri mengangkat alis. “Apa?”

Ibunya tersenyum tipis. “Perasaan seperti itu,” katanya pelan, “tidak akan bisa kamu sembunyikan lama-lama.”

Fikri mengerutkan kening. “Kenapa?”

Ibunya berdiri dari kursi. "Karena laki-laki yang mulai jatuh cinta… mulai terlihat berbeda." Ia berjalan menuju dapur, lalu berkata sebelum benar-benar menghilang di balik pintu. “Dan jika dia menyadarinya, perjuanganmu dimulai."

Fikri berdiri, kata-kata itu membuat dadanya berdetak sedikit lebih cepat. Karena tiba-tiba satu pertanyaan muncul di kepalanya.

"Kalau Zizi menyadarinya…" Ia menghela napas pelan. "Dia akan menjauh… atau justru menunggu?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!