Dilamar Mokondo yang SALEH
Motivasi Ayah
Fikri membuka mata, sedikit terkejut melihat sosok yang berdiri di ambang pintu ruang tamu.
Sarung masih terlipat rapi di pinggang, peci sedikit dimiringkan ke belakang. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi matanya jelas memperhatikan anaknya dari tadi.
Fikri langsung duduk lebih tegak. “Baru pulang, Yah?”
Ayahnya mengangguk pelan sambil melangkah masuk. Ia menaruh tasbih kecil di atas meja lalu duduk di kursi seberang.
“Dari tadi kamu bicara sendiri,” katanya santai. "Ketawa sendiri juga.”
Fikri menggaruk tengkuknya pelan. “Nggak… cuma kepikiran sesuatu.”
Ayahnya menatap anaknya sebentar, seperti sedang menerka kegelisahan Fikri.
Lalu ia menyandarkan punggung ke kursi. “Perempuan?”
Fikri tersedak, “Yah…”
Ayahnya terkekeh pelan. “Mukamu itu loh.”
Fikri menunduk, menahan senyum yang malah terasa kaku. Lalu ayahnya berkata lagi dengan nada lebih tenang, “Zizi?”
Fikri mengangkat kepala cepat. “Ayah tahu?”
Ayahnya mengangkat bahu ringan. “Nebak aja."
Fikri menghela napas pelan. Ia menatap meja di depannya beberapa saat sebelum akhirnya berkata jujur.
Ayahnya memperhatikan wajah anaknya yang kini terlihat jauh lebih serius dari biasanya.
“Dan kamu suka.”
Fikri menelan ludah, lalu mengangguk kecil. “Iya.”
Ruangan itu kembali sunyi beberapa detik. Ayahnya mengusap dagu sebentar sebelum berkata pelan, “Lalu masalahnya apa?”
Fikri tertawa, ada sedikit rasa putus asa menyelinap di kalimatnya. “Masalahnya banyak, Yah."
Ayahnya menunggu. Fikri menunduk lagi, kedua tangannya bertaut di pangkuan. “Dia kan anak orang kaya.”
Ayahnya tidak terlihat terkejut. “Seberapa kaya?”
Fikri menghela napas panjang. “Rumahnya besar. Mobilnya banyak. Ayahnya… kelihatannya orang penting.”
Ayahnya mengangguk tanpa komentar.
Fikri melanjutkan, suaranya kini lebih rendah. “Aku kan baru kerja di BMT, Yah.”
“Ayah tahu.”
“Gajiku segini.” Fikri tersenyum pahit. “Buat hidup sendiri cukup. Tapi buat bawa anak orang seperti dia ke rumah ini…”
Kalimatnya menggantung. Ayahnya mengikuti arah pandang Fikri ke sekeliling ruang tamu kecil itu.
Dinding sederhana. Kursi lama yang masih layak pakai tapi jelas sudah terlihat usang termakan usia.
Lalu ayahnya kembali menatap anaknya. “Dia tahu kamu kerja di BMT?”
“Iya, hmm entah tau apa nggak ya?”
“Dia mempermasalahkan?”
Fikri menggeleng pelan. “Belum.”
Ayahnya mengangguk. “Lalu kamu sudah mempermasalahkannya duluan.”
Fikri terdiam. Ayahnya tidak bicara dengan nada menghakimi.
“Bukan cuma itu, Yah," lirihnya sambil mengusap wajah.
“Apa lagi?”
Fikri menelan ludah. “Keluarganya mungkin punya pilihan lain buat dia.”
Ayahnya memiringkan kepala sedikit. “Pilihan seperti apa?”
“Yang lebih pantas.”
Kali ini ayahnya benar-benar tertegun, lalu bertanya pelan, “Kamu sudah pernah bicara dengan Zizi tentang semua ini?”
Fikri menggeleng.
“Dia tahu kamu suka?”
“Belum juga.”
Ayahnya menarik napas dalam. “Jadi kamu sudah capek berjuang… padahal belum melangkah.”
Kalimat itu membuat Fikri mengangkat kepala. Ayahnya menatapnya dengan sorot mata yang tenang tapi tegas.
“Dek.”
Fikri menunggu.
“Kadang laki-laki terlalu sibuk takut kalah… sampai lupa mencoba.” Ayahnya melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya. “Perempuan baik mencari lelaki yang berjuang.”
Fikri mengerutkan kening sedikit, menatap ayahnya lama sedangkan sang Ayahnya tersenyum tipis.
Dia menghembuskan napas panjang. “Tapi kalau aku berjuang… dan tetap kalah?”
“Ya berarti memang bukan rezekimu.” Jawaban beliau sederhana sekali. Tapi justru membuat dada Fikri terasa lebih ringan sekaligus lebih berat.
Ayahnya berdiri dari kursi. Sebelum berjalan ke kamar, ia berhenti sebentar di samping Fikri. “Yang penting satu saja,” katanya pelan.
Fikri menoleh.
Ayahnya menatap lurus ke matanya. “Kalau kamu datang nanti… jangan datang sebagai laki-laki insecure, merasa kerdil.”
Fikri terdiam.
Ayahnya menepuk pelan bahu anaknya. “Datang sebagai laki-laki yang sedang membangun hidupnya.” Ia lalu berjalan meninggalkan ruang tamu.
Fikri tetap duduk di kursi itu. Pikirannya masih penuh, tapi sekarang rasanya berbeda. Ia menatap ponsel retaknya lagi di meja. Lalu bergumam pelan, “…Berarti aku harus mulai benar-benar berjalan.”
***
Sore itu kampus sudah mulai lengang. Matahari condong ke barat, sinarnya masuk dari jendela ruang sekretariat BEM dan jatuh miring di meja kayu yang penuh kertas.
Fikri duduk di satu sisi meja, membuka laptopnya. Di depannya, Zizi sedang menuliskan sesuatu di buku kecil yang selalu ia bawa.
Mereka kembali tenggelam dalam diskusi kecil itu. Suasana tenang, hanya sesekali terdengar suara kursi bergeser dari ruangan lain.
Bagi Fikri, momen seperti ini selalu terasa nyaman. Tidak perlu banyak bicara, cukup duduk berhadapan seperti ini saja.
Zizi menutup bukunya sebentar. “Kak Fikri nanti sudah pasti ikut wisuda bulan depan kan?”
Fikri mengangguk. “Harusnya.”
“Harusnya?”
Fikri tersenyum tipis. “Masih nunggu revisi terakhir skripsi disetujui.”
Zizi tertawa pelan. “Dosen pembimbing Kak Fikri terkenal galak.”
“Bukan galak,” jawab Fikri. “Perfeksionis.”
Zizi mengangguk, lalu menatap catatannya lagi.
Suara mesin mobil berhenti di depan gedung membuat Zizi sedikit menoleh ke arah jendela. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Zizi melihat layar, lalu berdiri.
“Sebentar ya, Kak.”
Fikri mengangguk.
Zizi berjalan keluar ruangan. Dari jendela, Fikri bisa melihat halaman parkir depan gedung.
Sebuah mobil hitam berhenti di sana. Seorang laki-laki keluar dari kursi pengemudi. Posturnya tinggi, pakai kemeja putih yang digulung sampai siku.
Mereka berbicara sebentar. Laki-laki itu terlihat tersenyum ramah. Zizi mengangguk beberapa kali, lalu menunjuk ke arah gedung seperti menjelaskan sesuatu.
Fikri tidak mendengar apa-apa dari dalam. Tapi entah kenapa dadanya terasa sedikit aneh.
Kemudian Zizi masuk lagi ke ruangan. “Maaf ya, Kak,” katanya sambil mengambil tasnya. “Aku harus pulang sekarang.”
Fikri mengangguk. “Ada apa?”
“Disuruh Ayah. Ada titipan buat ayahnya teman Ayah yang harus aku serahkan ke dia.”
Fikri hanya mengangguk lagi. Zizi sempat berhenti di dekat pintu. “Besok kita lanjut lagi ya soal urutan wisuda.”
“Iya.”
Zizi tersenyum kecil, lalu pergi. Fikri tetap duduk di kursinya beberapa saat setelah pintu ruangan tertutup. Di luar jendela, mobil hitam itu perlahan keluar dari parkiran. Dan entah kenapa, Fikri masih menatap ke arah sana cukup lama.
*
Keesokan harinya kampus kembali ramai.
Fikri sedang berdiri di depan papan pengumuman ketika Zizi datang dari arah koridor. “Pagi, Kak.”
“Pagi.”
Zizi berdiri di sampingnya, ikut melihat daftar yang ditempel. “Sudah keluar jadwal gladi bersihnya?”
“Baru ditempel.”
Keduanya membaca dalam diam, lalu Fikri berkata pelan, “Yang kemarin itu siapa?”
Zizi menoleh.
“Yang jemput.”
Zizi tampak berpikir sebentar sebelum menjawab. “Oh… itu Bang Rasyid.”
Fikri menunggu.
“Anak kolega Ayah,” lanjut Zizi. “Dia dokter spesialis jantung, sama seperti Ayah.”
“Sering ke rumah?”
“Kadang.” Zizi menatap lagi papan pengumuman itu.
Suasana tiba-tiba terasa sedikit canggung, meski tidak ada yang berubah di sekitar mereka.
Fikri akhirnya bertanya lagi, kali ini lebih pelan. “Dia… calonmu?”
Deg.
Zizi langsung diam. Matanya masih menghadap papan pengumuman, tapi ia tidak lagi membaca.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Fikri langsung merasa bersalah. “Maaf,” katanya cepat. “Aku cuma—”
“Bukan.” Zizi memotong pelan.
Fikri berhenti bicara.
Zizi akhirnya menoleh ke arahnya. “Bukan calonku,” katanya lagi, tidak melanjutkan kalimatnya.
Ada sesuatu yang menggantung di antara mereka. Fikri memperhatikan wajah Zizi yang sekarang terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Seperti… sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya sendiri.
“Cuma… Ayah memang suka menyuruh dia mampir kalau ada urusan keluarga.”
“Begitu.”
Mereka kembali menatap papan pengumuman.
Angin dari koridor menyapu perlahan. Dan di tengah keramaian kampus pagi itu, ada satu perasaan baru yang mulai tumbuh di dada Fikri. Perasaan takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar ia mulai.
Tiba-tiba.
"Zie...."
.
.