Dilamar Mokondo yang SALEH

Dinner

“Zie….”

Suara itu datang dari belakang mereka. Zizi langsung menoleh.

Seorang laki-laki berdiri beberapa meter dari papan pengumuman. Kemeja putih yang rapi, tas kerja disampirkan di bahu. Wajahnya familiar bagi keduanya.

Ia melangkah mendekat dengan santai, seolah sudah terbiasa berada di lingkungan itu.

“Bang Rasyid?” Zizi terlihat sedikit terkejut. “Bukannya lagi dinas?”

Rasyid tersenyum ringan. “Iya. Ini mau ke rumah sakit.” Ia berhenti di dekat mereka, lalu mengangguk sopan ke arah Fikri.

Fikri membalas anggukan itu.

“Maaf ganggu ya,” kata Rasyid santai. “Om tadi telepon. Kata beliau, sekalian jemput kamu pulang.”

Zizi mengerutkan kening sedikit. “Sore?”

“Iya. Keluargamu diundang makan malam di rumahku.”

Zizi tampak berpikir sebentar. “Padahal aku masih ada urusan wisuda. Lama loh.”

Rasyid tersenyum sabar. “Aku tunggu nanti. Nggak sampai malam kan?"

Zizi menggeleng dan akhirnya menyetujui permintaan Rasyid. Tak lama, lelaki muda itu pamit. Kembali ke parkiran dan meninggalkan pelataran kampus.

*

Ruang sekretariat BEM mulai sepi ketika matahari turun perlahan di balik gedung fakultas. Cahaya sore menembus jendela tinggi dan jatuh memanjang di lantai, membelah meja yang penuh kertas dan map wisuda.

Fikri dan Zizi masih duduk berhadapan.

Kertas daftar nama lulusan terbuka di tengah meja. Beberapa nama sudah diberi tanda, sisanya masih diperdebatkan urutannya.

Diskusi mereka sebenarnya sederhana, tapi selalu berakhir lebih lama dari yang direncanakan. Setiap kali satu hal selesai, muncul detail lain yang ingin Zizi rapikan.

Fikri sudah terbiasa. Ia memperhatikan bagaimana Zizi menulis cepat di buku kecilnya, lalu sesekali berhenti, berpikir, dan menggigit ujung pulpen tanpa sadar.

Ritme kecil itu terasa familiar baginya. Seolah dunia di luar ruangan itu tidak terlalu penting. Sampai ponsel Zizi bergetar.

Zizi melihat layar sebentar, lalu tersenyum kecil. “Bang Rasyid,” katanya singkat, seraya mengetik cepat sebelum menaruh ponselnya lagi.

“Kayaknya aku harus pulang sekarang,” katanya lembut.

Fikri menutup laptopnya perlahan. “Iya.”

Mereka membereskan kertas-kertas di meja tanpa banyak bicara. Ketika keluar dari gedung, udara sore sudah mulai dingin.

Mobil itu masih di sana. Rasyid berdiri di sampingnya, bersandar ringan dengan satu tangan di saku celana. Begitu melihat Zizi, ia langsung berdiri tegak.

Ekspresinya berubah. Fikri melihat semuanya dari beberapa langkah di belakang.

Rasyid tidak banyak bicara. Ia hanya mengambil tas jinjing dari tangan Zizi dengan gerakan natural, seolah hal itu sudah biasa dilakukan. Lalu membuka pintu mobil untuknya.

Fikri diam cukup lama di tempatnya. Ada sesuatu dalam sikap laki-laki itu yang terasa… matang.

Seolah hidupnya sudah berada di jalur yang jelas. Berbeda dengan dirinya.

Fikri tiba-tiba sangat sadar pada sepatu lamanya yang sedikit pudar, tas ransel yang sudah menipis di sudut-sudutnya. Pada hidupnya yang masih berjalan pelan.

Zizi sempat menoleh sebelum masuk mobil. Memberi senyum kecil padanya.

Mobil itu kemudian bergerak pelan meninggalkan halaman kampus. Fikri akhirnya berjalan kembali ke dalam gedung. Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya.

Dirinya benar-benar melihat seperti apa laki-laki yang mungkin dianggap “pantas” berada di dunia Zizi.

***

Malam itu, rumah keluarga Rasyid terang oleh lampu taman.

Hunian besar dengan halaman luas, suara air dari kolam kecil di sudut taman terdengar samar di antara percakapan orang dewasa.

Keluarga Zizi datang sebagai tamu. Pertemuan dua keluarga lama yang sudah saling mengenal bertahun-tahun.

Tawa terdengar beberapa kali di ruang makan besar. Cerita lama diulang. Kenangan masa kecil tentang bagaimana anak-anak mereka dulu berlarian di halaman yang sama.

Zizi duduk di salah satu kursi, mendengarkan percakapan orang tua mereka yang mengalir tanpa henti.

Rasyid duduk tidak jauh darinya. Sesekali ikut menjawab pertanyaan ayah Zizi tentang rumah sakit, bisnis, pendidikan juga rencana masa depan.

Sesekali tersenyum ketika ibunya menambahkan cerita masa kecilnya yang memalukan.

Semua terasa ringan, sampai pembicaraan itu berbelok ke arah yang lebih serius. Topik yang hampir selalu muncul ketika dua keluarga lama bertemu.

Ayah Rasyid tertawa renyah, “Anak-anak sekarang sudah besar semua. Dulu masih nangis rebutan mainan.”

Ayah Zizi mengangguk sambil tersenyum. “Waktu cepat sekali.”

Ibu Rasyid kemudian menoleh ke arah Zizi. “Zizi sekarang sudah mau wisuda ya?”

“Hmm, baru mau skripsi, Tante.”

“Cantik lagi,” katanya ramah. “Pasti banyak yang antre nanti.”

Semua orang di meja tersenyum tipis. Zizi pun meski terasa agak canggung.

Lalu ayah Zizi berkata santai, “Rasyid juga makin matang. Harus cepat dipikirkan, Syid.”

Rasyid tertawa kecil. "Pelan-pelan mulai seleksi, Om.”

Semua orang mengangguk dengan senyum semringah. Tapi ibu Rasyid tampaknya benar-benar penasaran. Ia menatap Zizi dengan hangat.

“Kalau Zizi sendiri bagaimana?” tanyanya lembut. “Sudah ada yang disukai?”

Pertanyaan itu membuat suasana meja makan sedikit berubah. Orang tua Zizi menoleh ke arah putrinya. Rasyid berhenti memegang gelasnya.

Zizi terdiam beberapa detik. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Entah kenapa, yang muncul di kepalanya justru wajah seseorang di ruang sekretariat BEM. Seorang laki-laki yang sering duduk tenang di seberangnya.

Zizi menunduk sebentar. Lalu mengangkat wajahnya lagi. “Ada,” jawabnya pelan.

Semua orang di meja makan langsung memperhatikannya.

Ibu Rasyid tersenyum penasaran. “Siapa?”

Zizi tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap piring di depannya sebentar, lalu berkata singkat, “Seseorang.”

Kalimat itu menggantung di udara ruang makan besar itu. Ayah Zizi tidak langsung bicara. Rasyid memandang Zizi beberapa detik lebih lama dari yang lain.

“Sudah ada seseorang yang aku suka.”

Sendok yang tadi bergerak pelan kini berhenti. Lampu gantung memantulkan cahaya hangat di meja panjang, tapi suasana tiba-tiba terasa lebih dingin.

Ayah Zizi menatap putrinya beberapa detik. Ia bukan tipe yang mudah menunjukkan emosi, tapi jelas jawaban itu tidak ia duga.

“Siapa?” tanya beliau akhirnya.

Zizi menunduk sebentar, seperti menimbang sesuatu.

Di seberangnya, Rasyid memperhatikan dengan tenang.

“Tapi dia belum tahu,” kata Zizi pelan.

Beberapa orang di meja saling bertukar pandang. Ibu Rasyid tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.

“Lho, kalau belum tahu, berarti belum serius dong?”

Zizi tidak menjawab.

Ayah Zizi mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Nada suaranya tetap datar, tapi kali ini lebih tegas. “Siapa pun dia,” katanya pelan, “Ayah harap dia laki-laki yang jelas.”

Zizi menatap ayahnya. Ayahnya melanjutkan, “Yang bisa datang ke rumah ini sebagai lelaki.”

Kalimat itu cukup tajam, membuat Zizi menelan ludah. Glek.

Beberapa detik tidak ada yang bicara, tiba-tiba Rasyid menyandarkan punggungnya ke kursi dan berkata santai, “Kalau begitu… berarti saya terlambat ya, Om.”

Semua mata langsung menoleh padanya. Rasyid tersenyum tipis. “Padahal saya baru mau bilang sesuatu malam ini.”

Ayah Zizi menatapnya. “Bilang apa?”

Rasyid menatap Zizi sebentar, lalu berkata dengan tenang, “Saya mau minta izin lebih sering datang ke rumah.”

Zizi membeku di tempat duduknya.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!