Dilamar Mokondo yang SALEH

Diremehkan

Lampu ruang tamu masih terang ketika keluarga Rasyid pamit.

Pintu depan terbuka, suara langkah dan salam bersahutan di teras. Tawa terakhir terdengar sebelum mobil mereka benar-benar meninggalkan halaman rumah.

Rumah besar itu kembali tenang. Zizi berdiri di dekat tangga, baru saja hendak masuk kamar ketika suara ayahnya memanggil.

“Zi."

Ia berhenti.

“Ayah mau bicara sebentar.”

Nada suaranya tidak tinggi. Tapi cukup jelas untuk membuat langkah Zizi berbalik, dan paham jika ini bukan sekedar obrolan ringan.

Ruang tengah masih terang oleh lampu gantung. Ayahnya sudah duduk di kursi panjang, tangan bertaut di lutut. Ibunya berdiri di dekat meja, membereskan cangkir yang belum sempat diangkat pembantu.

Zizi duduk di kursi seberang. Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Ayahnya menatapnya cukup lama sebelum akhirnya bertanya pelan, “Yang kamu bilang tadi di meja makan… itu serius?”

Zizi menunduk sebentar. “Iya.”

Ibunya langsung berhenti bergerak. “Apa maksudnya iya?” suaranya terdengar lebih tajam dari sebelumnya.

Zizi menarik napas kecil. “Aku suka seseorang.”

Kalimat itu membuat ibunya menoleh penuh ke arahnya. “Siapa?”

“Ayah dan Mama belum kenal dia,” jawab Zizi pelan.

Ayahnya tidak terlihat terkejut. Ia hanya menunggu. Namun, ibunya tidak sesabar itu.

“Dia siapa, Zi?”

“Teman kampus.”

“Jurusan?”

Zizi mengatupkan bibirnya, tahu akan kemana arah ucapan ibunya jika ia jujur sekarang.

Sang mama menghela napas panjang, seperti menahan sesuatu. “Orang tuanya kerja apa?”

Zizi diam sebentar.

“Aku nggak tahu.”

Kalimat itu membuat ibunya tertawa pendek. “Ayah dan Mama belum kenal. Tapi kamu sudah bilang suka?”

Zizi tidak menjawab. Ayahnya masih diam, membiarkan ibunya berbicara. 

Amira-ibu Zizi akhirnya duduk di kursi dekat meja, menatap putrinya lurus.

“Zie,” katanya lebih tegas sekarang, “jangan salah pilih kalau tidak mau sengsara.”

Zizi menelan ludah. “Aku cuma bilang aku suka.”

Ibunya langsung memotong, “Suka itu awal dari keputusan.”

Zizi mengangkat wajahnya. “Maa… aku belum memutuskan apa-apa.”

Bu Amira menatapnya tajam. “Justru karena itu Mama bicara sekarang.” Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Kamu dari kecil susah diatur, Zi.”

Zizi terdiam.

Ibunya melanjutkan dengan nada yang semakin keras. “Kita ini keluarga dokter.”

Ayah Zizi masih duduk diam, tapi jelas mendengarkan setiap kata. Bu Amira lantas duduk, maju, jarinya menekan permukaan meja. “Kamu tidak mau jadi dokter, Mama sudah mengalah.”

Kalimat itu membuat Zizi menunduk.

“Tapi paling tidak,” lanjut ibunya tegas, “suamimu harus dokter.”

Ruangan itu terasa semakin sunyi.

“Titik.”

Deg.

Zizi perlahan mengangkat wajahnya. Matanya tidak lagi ke arah ibunya, melainkan ayahnya.

Ada sesuatu dalam tatapan itu, bukan meminta dibela tapi seseorang yang sudah tahu dirinya berada di posisi yang sulit.

“Ayah,” katanya pelan.

Ayahnya memandangi putrinya kembali. Zizi menarik napas sebelum berkata jujur, “Aku memang baru suka.”

Ibunya mendengus kecil.

“Tapi,” lanjut Zizi pelan, “kriteria calon suamiku… ada pada dia.”

Ibunya langsung berdiri dari kursi. “Kriteria?” suaranya naik. “Kamu baru suka, bahkan dia belum tahu perasaanmu, tapi sudah bicara kriteria suami?”

Zizi mematung. Ibunya menggeleng pelan, jelas menahan emosi. “Zi, hidup itu bukan cerita kampus yang manis.”

Ia menunjuk pintu depan, ke arah jalan tempat mobil Rasyid tadi pergi. “Kamu lihat Rasyid?”

Zizi diam.

“Dia jelas masa depannya.” beliau melanjutkan, “Keluarganya kita kenal. Pekerjaannya jelas. Hidupnya jelas.” Ia menatap putrinya dengan sorot yang keras. “Sedangkan laki-laki yang kamu sebut itu… bahkan belum berani datang ke rumah ini.”

Zizi menunduk lagi. Kalimat itu tepat mengenai sesuatu yang bahkan ia sendiri belum berani pikirkan.

Ibunya masih berdiri, dadanya turun naik mengatur napas karena emosi. Ayahnya akhirnya bersandar sedikit di kursi. Lalu menatap putrinya.

“Namanya siapa?”

Zizi menelan ludah, lalu pelan sekali menjawab, “Fikri.”

Ibunya langsung menoleh lagi. “Kerja apa dia?”

“Belum tahu pasti, denger-denger di BMT.”

Kalimat itu membuat ibunya tertawa pendek lagi. “Kamu serius?”

Zizi tidak menjawab.

Ibunya menggeleng pelan. “Zi…”

Nada suara Bu Amira sekarang lebih dingin. “Jangan sampai kamu memilih dengan hati… lalu hidupmu menyesal puluhan tahun.”

Zizi kembali menatap ayahnya. Pandangan itu kali ini benar-benar pasrah.

Ayahnya memperhatikannya lama, dan berkata pelan, “Kalau memang dia seperti yang kamu bilang…” Ia berhenti sebentar. “Suruh dia datang ke rumah.”

Zizi membeku.

Ayahnya menatapnya lurus. “Biar Ayah lihat sendiri.

Dhuar.

Kalimat ayahnya cukup untuk membuat dada Zizi bergetar.

Beberapa detik tidak ada yang bergerak. Ibunya masih berdiri dengan wajah tegang. Ayahnya tetap duduk tenang, seolah ucapan itu hanya keputusan sederhana.

Padahal bagi Zizi, kata-kata tadi terasa seperti tembok tinggi yang tiba-tiba berdiri di depannya.

“Ayah…” suaranya hampir tidak terdengar.

Ayahnya mengangkat alis sedikit. “Kamu bilang dia punya kriteria yang kamu cari.”

Zizi menunduk. “Iya.”

“Berarti dia laki-laki yang baik.”

Zizi tidak menjawab.

Ayahnya melanjutkan dengan nada yang tetap datar, “Kalau dia laki-laki yang baik, dia tidak akan takut datang ke rumah orang tua perempuan yang dia sukai.”

Ibunya menyela cepat. "Masalahnya dia bahkan belum tahu Zizi suka dia.”

Ruangan kembali sunyi.

Ayah Zizi menoleh pelan ke arah istrinya, lalu kembali menatap putrinya. “Kalau begitu lebih sederhana.”

Zizi mengangkat wajahnya. Ayahnya berkata tenang, “Beri tahu dia.”

Deg.

Ucapan barusan justru terasa lebih berat dari yang sebelumnya. Zizi menggenggam ujung bajunya di pangkuan.

Ia membayangkan wajah Fikri di ruang sekretariat. Cara laki-laki itu menunduk ketika berpikir, saat dia tersenyum kecil ketika bercanda.

Cara dia berdiri beberapa langkah di belakang mobil sore tadi… tanpa berusaha mendekat. Ia tahu satu hal dengan sangat jelas sekarang. Fikri bukan tipe laki-laki yang datang ke rumah orang tanpa alasan. Dan sekarang ayahnya justru meminta hal yang hampir mustahil.

Ibunya menghela napas panjang, “Zi, Mama tidak mau kamu main-main dengan perasaan.”

Zizi menoleh.

“Kalau laki-laki itu memang seperti yang kamu bilang, buktikan.”

Malam ini terasa seperti ujian yang tiba-tiba diberikan tanpa waktu persiapan. Ayahnya berdiri dari kursi. Pembicaraan itu jelas sudah selesai baginya.

Sebelum berjalan ke arah kamar, ia berhenti sebentar. Lalu berkata tanpa menoleh, “Ayah tidak memaksa kamu memilih Rasyid.”

Zizi menatap punggungnya.

“Tapi Ayah ingin melihat laki-laki yang kamu pilih… berani berdiri di depan rumah ini.”

Pintu kamar orang tuanya tertutup beberapa detik kemudian. Ruang tengah kembali sunyi. Ibunya akhirnya berjalan melewati Zizi tanpa berkata apa-apa lagi. Langkahnya tegas menuju kamar.

Zizi sekarang sendirian di ruang tengah yang terang. Ia duduk di kursi itu cukup lama. Pikirannya penuh, dadanya terasa sempit. Karena satu kenyataan tiba-tiba terasa sangat jelas. Ayahnya sudah menantang Fikri.

Masalahnya… Fikri bahkan belum tahu dia sedang berada di dalam sebuah pertarungan.

Zizi baru melangkah ketika suara lain tiba-tiba muncul dari arah ruang keluarga yang setengah gelap.

“Wah.”

Zizi menoleh.

Alina bersandar di kusen pintu dengan tangan terlipat, entah sejak kapan berdiri di sana. Tersenyum sinis. 

“Jadi ayah baru saja menantang laki-laki yang bahkan belum tahu kamu suka dia?” Alina memiringkan kepala sedikit, menatap adiknya tajam. “Aku cuma penasaran satu hal, Zi…” ia berhenti sejenak, lalu berkata pelan, “kalau Fikri benar-benar ke rumah ini nanti… dia datang karena kamu, atau buat sadar sendiri kalau dia memang nggak selevel sama keluarga kita?”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!