Dilamar Mokondo yang SALEH
Dua Keluarga
Perlahan, Zizi menoleh. Matanya tidak lagi ragu seperti tadi.
“Aku nggak nikah sama kemampuan dia, Kak,” ucapnya pelan.
Alina diam.
Zizi melanjutkan, suaranya lembut… tapi mantap. “Aku nikah sama tanggung jawabnya.”
Jeda.
“Kalau nanti aku harus menyesuaikan hidup… ya aku yang belajar.” Ia menatap kakaknya lurus. “Bukan dia yang harus jadi orang lain biar aku nyaman.”
Hening beberapa detik. Zizi lalu menambahkan, lebih lirih, “Rezeki itu bukan cuma uang, Kak.”
Tatapan Alina sedikit berubah, ada kasihan campur kuatir mendengar Zizi berkata demikian. Nyatanya, wanita takkan menarik pria hidup di levelnya melainkan pria yang akan membuat wanita menyesuaikan hidup sesuai kemampuannya.
Zizi tidak menunggu lagi. Ia berbalik, melangkah masuk ke dalam rumah.
"Rezeki bukan cuma uang, ya…” Ia mengulang pelan, seperti meremehkan ucapan Zizi. Alina tertawa, bukan karena lucu. Adiknya terlalu polos memandang hidup ini.
Lalu kepalanya sedikit miring. Matanya kembali ke arah pintu. “Masalahnya,” lanjutnya tenang, “hidup itu tetap pakai uang, Zi.”
Zizi yang sudah hampir melangkah ke dalam… berhenti.
Alina melanjutkan sambil melangkah mendekat ke teras, kali ini tanpa emosi yang meledak. “Kamu bisa sabar. Hidup sederhana dan siap menyesuaikan,” Ia berhenti sebentar. “Tapi kebutuhan tetap datang tanpa nanya kamu siap atau nggak.”
Zizi perlahan menoleh lagi. Alina menatapnya lurus.
“Dan saat itu datang,” ucapnya pelan, “yang kamu uji bukan perasaan kamu lagi…”
Jeda.
“…tapi cara dia mencukupi semuanya.”
Zizi membeku.
Alina melangkah satu langkah lebih dekat. “Kalau dia goyah, kamu ikut jatuh.” suaranya tetap rendah. “Kalau dia kuat, kamu ikut tenang.”
Ia menatap adiknya lebih dalam. “Jangan keburu makan romantis dulu, Zi,” lanjutnya tajam. “Karena kuat itu bukan niat tapi kebiasaan.”
Hening.
Zizi menelan ludah. Alina menarik napas pelan, lalu menambahkan, “Dan kamu belum pernah lihat dia jatuh nyaris putus asa, kan?”
Zizi melongo, ucapan kakaknya ada benarnya. Pintu sudah di depan mata, tapi kakinya seperti tertahan di ambang yang tidak terlihat.
Ucapan Alina menggantung di kepalanya. Bukan sekadar kalimat… tapi bayangan hari-hari yang belum terjadi. Tentang kemungkinan yang selama ini tidak pernah ia pikirkan sejauh itu.
Zizi menelan ludah pelan, selama ini, ia selalu melihat Fikri dalam versi yang tenang. Padahal… ia belum pernah benar-benar melihat sisi paling lelah dari laki-laki itu dan membuat dadanya terasa sesak.
Perlahan, Zizi melangkah masuk. Pintu tertutup di belakangnya, meredam suara luar… tapi tidak dengan pikirannya.
Tangannya refleks meraih ponsel. Nama Fikri masih ada di bagian atas percakapan terakhir mereka.
“Kak…”
Berhenti. Hapus. Mengetik lagi. “Tentang lusa…”
Berhenti lagi. Zizi menghela napas. Dadanya terasa penuh. Bukan ragu pada Fikri… tapi pada dirinya sendiri.
Akhirnya ia kirim. “Kak Fikri, lusa jadi ya?”
Balasan muncul. [“InsyaAllah jadi.”]
Zizi menatap layar itu lama, lalu mengetik lagi. “Keluarga Kakak… nggak keberatan?”
[“Kaget, tapi nggak keberatan.”]
Zizi hampir tersenyum. Sampai satu pikiran lain masuk lagi. Ia menggigit bibirnya pelan. Lalu mengetik, “Kak… Kalau nanti… ternyata nggak mudah?”
Zizi menatap layar. Jemarinya mulai dingin lagi menunggu jawaban Fikri.
[“Memang nggak akan mudah, Dek.”]
Zizi terdiam. Matanya menelusuri tiap kata saat balasan berikutnya muncul.
[“Makanya aku minta waktu, bukan buat nunda.”]
Jeda.
[“Tapi supaya aku nggak asal bawa kamu ke jalan yang aku sendiri belum kuat jalanin.”]
Dadanya… pelan-pelan berubah hangat. Dirinya tidak sedang diyakinkan tapi diajak sadar… dan tetap digandeng.
Zizi menarik napas panjang.
Lalu mengetik satu kalimat pendek. “Aku ikut langkah Kakak.”
[“Jangan ikut aku.”]
Zizi mengernyit. Belum sempat berpikir, lanjutan pesan masuk.
[“Kita sama-sama belajar jalani dengan bener.”
Tanpa sadar… sudut bibirnya naik tipis, ada sesuatu yang mulai terasa lebih kokoh karena mereka sama-sama tahu arah.
***
Dua hari terasa cepat. Dan sore itu… akhirnya tiba juga.
Langit belum sepenuhnya gelap ketika mobil sederhana yang disewa keluarga Fikri berhenti di depan rumah Zizi.
Fikri turun lebih dulu. Pak Joko keluar dengan langkah tenang. Di sampingnya, Bu Rahma turun perlahan, tangannya merapikan ujung jilbab, matanya sempat menyapu rumah besar itu.
Zizi berdiri di ruang tamu, melihat semuanya dari balik tirai tipis. Dadanya berdebar.
Ruang tamu terasa lebih formal dari biasanya. Tuan Arsyad sudah duduk di kursi utama. Nyonya Amira di sisinya, punggung tegak, senyum tipis tersungging di wajahnya. Zizi duduk sedikit ke samping, tangannya terlipat rapi di pangkuan.
Fikri dan kedua orang tuanya duduk di seberang.
Beberapa detik pertama diisi basa-basi seperlunya. Lalu seperti yang sudah bisa diduga—arah pembicaraan berubah cepat.
Nyonya Amira yang lebih dulu membuka percakapan, “Niatnya sudah jelas ya,” ucapnya ringan. “Jadi tidak perlu berputar terlalu lama.”
Zizi langsung menunduk. Nada itu… sama seperti kemarin. Halus, tapi terasa angkuh.
“Tunangan saja dulu,” lanjutnya. “Setelah wisuda.” Amira melirik sebentar ke arah Bu Rahma, lalu kembali ke tengah.
“Tidak usah repot-repot. Cukup bawa badan saja.” Senyumnya tipis. “Ini acara kami. Tamu-tamu juga dari kolega kami. Sudah biasa kami menjamu seperti itu.”
“Kalau dari pihak kalian mau syukuran sendiri…” tambahnya santai, “silakan saja. Itu hak masing-masing.”
Bu Rahma diam. Tapi jari-jarinya saling menggenggam… sedikit mengeras.
Pak Joko menoleh sekilas. Tatapannya tenang. Pelan sekali, ia menyentuh punggung tangan istrinya sebagai isyarat sederhana agar menahan diri.
Tuan Arsyad kemudian menyambung, “Soal ke depan,” katanya datar. “Zizi masih kuliah.” Ia menatap Fikri. “Jadi saya tidak mau dia kekurangan.”
Zizi menahan napas.
“Kamu boleh tetap kerja di mana pun sekarang,” lanjutnya. “Tapi saya akan siapkan satu usaha. Kamu yang kelola.”
Jeda.
“Minimal ada pemasukan lain yang jelas.”
Sunyi.
Kalimat itu bukan tawaran biasa. Lebih seperti penegasan posisi bahwa mereka yang punya kuasa, ikut campur tipis dalam kehidupan rumah tangga Zizi kelak sebab Fikri dinilai belum mumpuni menopang kebutuhan Zizi.
Zizi menunduk lebih dalam. Ucapan Alina malam itu… satu per satu kembali muncul. Hidup tetap pakai uang… yang diuji cara dia mencukupi…
Perlahan, Zizi mengangkat pandangan. Matanya jatuh ke Fikri. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat itu. Fikri tidak lagi setegak kemarin. Bahunya sedikit turun. Kepalanya menunduk. Tangannya saling bertaut lebih erat dari sebelumnya.
Dada Zizi langsung terasa sesak. Ini yang Kak Alina maksud…
Hening itu cukup lama. Sampai akhirnya...
Pak Joko meluruskan punggungnya, dan menatap ke depannya.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya pelan.
Semua mata beralih.
“Soal niat baiknya… kami sangat menghargai.”
Ia berhenti sebentar. Menyusun kalimatnya tanpa terlihat terburu-buru. “Tapi kami dari awal mendidik anak kami…” lanjutnya perlahan tapi penuh percaya diri, “untuk berdiri dari apa yang dia usahakan sendiri.”
Zizi mengangkat wajah.
“Kami tidak menolak bantuan,” tambah Pak Joko. “Tapi kami juga tidak ingin… anak kami merasa harus berdiri di bawah bayangan orang lain untuk bisa berjalan.”
Fikri menoleh sedikit ke arah ayahnya. Tatapannya berubah. Pelan-pelan… kembali percaya diri.
Pak Joko melanjutkan, tetap dengan suara yang sama, “Kalau nanti Fikri memang butuh belajar… kami lebih senang dia belajar pelan-pelan. Jatuh, bangun… tapi tahu itu hasil langkahnya sendiri.”
Jeda.
“Supaya kalau suatu hari dia memimpin rumah tangga…” ia menatap sebentar ke arah Zizi, “…dia tahu persis bagaimana menjaga yang ada di dalamnya.”
Bu Rahma yang sejak tadi diam… akhirnya menghela napas lega.
Tuan Arsyad tidak langsung menjawab. Ia menatap Pak Joko cukup lama. Seolah menimbang sesuatu yang tidak bisa dinilai hanya dari kata. Di sampingnya, Nyonya Amira tidak tersenyum lagi.
Zizi menunduk lagi. Dadanya masih berdebar. Dia melihat Fikri sangat didukung keluarganya secara mental dan entah kenapa… itu membuat langkahnya sendiri terasa lebih mantap.
Hening itu belum benar-benar reda ketika Nyonya Amira kembali bersuara. Matanya berpindah dari Pak Joko… ke Fikri… lalu kembali lagi.
“Jadi,” ucapnya pelan tapi tajam, “artinya bantuan usaha itu… diterima atau tidak?”
.
.