Dilamar Mokondo yang SALEH
Wejangan Ibu
Tidak ada senyum kali ini. Nada bicara Amira lebih menekan mereka.
“Jangan sombong, Pak,” lanjutnya tanpa jeda. “Kami ini menyerahkan Zizi karena menghargai keputusannya.” Ia berhenti sebentar. “Tapi sebagai ibu… saya tidak mau lihat anak saya susah.”
Kalimat ibunya terdengar arogan. Zizi menunduk lagi, malu dan tak enak hati. Dadanya kembali terasa sempit.
Pak Joko belum sempat berujar, kali ini Bu Rahma membalas perkataan nyonya Amira. Ia tidak mengubah posisi duduknya. Hanya merapikan sedikit ujung jilbab, lalu menatap ke arah Nyonya Amira.
Wajahnya lembut. Tapi ada ketenangan yang tak goyah di sorot matanya. “Tidak ada yang kami sombongkan, Bu,” ucapnya pelan.
Nada suaranya lembut tapi jelas, “Kami justru sangat mengerti maksud Ibu.”
Jeda.
“Karena kami juga orang tua.”
Zizi mengangkat wajah.
Bu Rahma melanjutkan, tetap dengan nada yang sama—hangat, tapi tidak lemah, “Tidak ada ibu yang rela lihat anaknya kekurangan.” Ia tersenyum tipis. “Dan tidak ada orang tua… yang ingin anaknya masuk ke hidup yang tidak pasti.”
Sunyi.
“Kalau nanti ada jalan rezeki lewat Bapak dan Ibu…” lanjutnya pelan, “kami tidak menutup pintu.” Ia menatap sekilas ke arah Fikri.
“Tapi kami ingin Fikri tetap belajar berdiri dengan kakinya sendiri.”
Jeda lagi.
“Supaya apa yang dia bawa untuk Zizi nanti… bukan cuma cukup, layak dan thayyib,” suaranya sedikit melembut, “tapi juga berkah.”
Zizi menelan ludah. Bu Rahma menatap kembali ke arah Nyonya Amira.
“Kami tidak menjanjikan hidup yang selalu mudah,” ucapnya jujur. “Tapi kami membesarkan anak kami… untuk tidak lari dari sulitnya hidup.”
Hening.
Tidak ada pembelaan berlebihan. Hanya… keyakinan yang tenang, terpancar dari wajah Bu Rahma.
Nyonya Amira tidak menanggapi. Tuan Arsyad bersandar sedikit, pandangannya berpindah dari Bu Rahma… ke Pak Joko… lalu ke Fikri. Seolah mengukur sesuatu yang tidak bisa mereka beli.
Beberapa detik berlalu. Lalu ia mengangguk pelan. “Baik.”
Satu kata, tapi cukup untuk meredakan tegang yang menggantung sejak tadi.
“Kalau begitu… kita saling mengerti batasnya.”
Nyonya Amira tidak menyela kali ini. Hanya menarik napas pelan, lalu mengangguk kecil. Kesepakatan itu tidak diucapkan tapi terasa jelas.
Acara tetap di pihak mereka. Dan keluarga Fikri tetap membawa cara mereka sendiri. Tanpa saling merendahkan.
Beberapa saat kemudian, suasana berubah sedikit lebih ringan. Bu Rahma menoleh ke arah Zizi. Pandangannya lembut. Berbeda dari semua tatapan yang Zizi terima sejak tadi.
“Kamu anak kami juga, Zizi,” ucapnya pelan.
Zizi membeku, hangatnya terasa sampai ke dada.
“Bukan sekadar menantu Ibu.”
Jeda.
“Selayaknya orang tua…” lanjutnya lirih, “Ibu juga tidak mau lihat kamu susah.”
Mata Zizi mulai terasa hangat, Ia menunduk cepat, kuatir sorot matanya yang mengembun terlihat oleh Fikri.
Bu Rahma tersenyum tipis. “Ridho ikhlasmu…” katanya pelan, “…insya Allah jadi jalan buat Fikri.”
Deg.
Fikri menoleh cepat ke arah ibunya sementara Bu Rahma melanjutkan, kali ini menatap Zizi lebih dalam.
“Terima kasih ya, Nak.”
Zizi menunduk lagi, kali ini lebih tunduk. Jemarinya saling menggenggam di pangkuan, menahan sesuatu yang pelan-pelan memenuhi dadanya.
Bu Rahma melanjutkan, suaranya tetap lembut, “Ibu tahu… ini bukan keputusan yang ringan buat kamu.”
Jeda.
“Dan mungkin… ke depan tidak selalu mudah.”
Zizi mengangkat wajah sedikit.
“Makanya,” lanjutnya pelan, “jangan dipendam sendiri.” Binar mata Bu Rahma masih hangat, “Kalau ada yang kamu rasa berat… tidak nyaman… atau ragu…”
Ia menoleh sekilas ke arah Fikri, lalu kembali ke Zizi. “Sampaikan ke Fikri.”
Deg.
Fikri ikut memandang ibunya.
“Biar dia yang belajar cari jalan,” ucapnya sederhana. “Biar Fikri yang belajar bertanggung jawab dari hal-hal kecil dulu.”
Zizi menelan ludah. Kalimat itu terasa… menenangkan, sekaligus membuka sesuatu yang selama ini ia tahan. Air matanya mulai menggenang.
“Jangan jadi perempuan yang diam demi terlihat kuat,” lanjut Bu Rahma. “Karena rumah tangga itu bukan soal siapa yang paling tahan… tapi siapa yang mau saling menguatkan.”
Hening. Tidak ada yang berani menyela.
“Dan,” tambahnya lirih, “tidak perlu jadi orang lain supaya semuanya terasa mudah.” Ia tersenyum tipis. “Cukup jadi dirimu… yang jujur sama perasaan sendiri.”
Mata Zizi meluruhkan tetes beningnya. Apalagi saat Bu Rahma mengangkat tangan sedikit, mendoakan.
“Semoga Allah mudahkan langkah kalian,” ucapnya pelan. “Dikasih cukup… bukan cuma cukup harta, tapi juga cukup sabar, cukup pengertian… dan cukup lapang hati.”
Jeda.
“Dan semoga,” lanjutnya, lebih lirih, “kalau nanti kalian diuji… tidak saling menjauh.”
Zizi langsung menunduk lagi, terisak. Bu Rahma menatapnya sebentar lagi, lalu mengangguk kecil. Seolah mengatakan—itu saja wejangan darinya.
Dan dari semua yang terasa berat malam ini—justru kalimat sederhana itu yang paling membuat Zizi merasa… tidak sendirian.
***
Hari-hari setelah itu berjalan lebih cepat dari biasanya.
Kampus mulai dipenuhi wajah-wajah sibuk. Poster wisuda ditempel di banyak sudut. Grup chat ramai oleh urusan toga, urutan nama, dan latihan gladi.
Di sela itu—nama Fikri dan Zizi mulai disebut-sebut lebih intens oleh beberapa orang.
Zizi sendiri masih sering terdiam di tengah kesibukannya. Kadang, saat melihat Fikri duduk seperti biasa di seberangnya… rasanya aneh. Karena sekarang ia tahu, laki-laki itu bukan lagi sekadar teman diskusi. Tapi seseorang yang sudah berdiri di hadapan ayahnya… dan tidak mundur.
Siang itu, aula kampus lebih ramai dari biasanya.
Beberapa mahasiswa berkumpul untuk koordinasi terakhir. Zizi sedang berdiri di dekat meja, mengecek daftar lagi, sementara Fikri di sisi kanan, berbicara dengan panitia lain.
Suasana riuh… Tidak ada yang terlalu memperhatikan. Sampai—pintu aula terbuka.
Seseorang masuk dengan langkah tenang, pandangannya langsung menyapu ruangan, mencari satu orang.
Beberapa mahasiswa mulai saling melirik. Sosok itu tak asing dan kehadirannya di tempat seperti ini… jelas mencuri perhatian.
“Zizi?”
Suara itu cukup untuk membuat beberapa kepala menoleh.
Zizi yang sedang menunduk langsung mengangkat wajah. “Ma…” ia gegas mendekat.
“Tadi Mama bilang mau jemput sore,” kata Zizi pelan, sedikit kaget.
“Ada yang perlu disiapkan lebih cepat,” jawab Amira singkat. “Kita fitting hari ini.”
Beberapa orang di sekitar mulai saling pandang. Fitting?
Zizi belum sempat menjawab—mata ibunya bergeser, dan berhenti di satu titik.
Lalu— “Fikri, Nak.” Suara Amira terdengar jelas.
Hening mendadak. Beberapa orang yang tadi tidak terlalu memperhatikan… langsung menoleh penuh.
Fikri sempat terdiam lalu melangkah mendekat. “Iya.”
Amira tidak terlihat canggung, “Dompet Mama ketinggalan di mobil.” Ia menunjuk ke arah luar. “Tolong ambilkan, ya," pintanya sambil menyerahkan kunci mobil ke Fikri.
Fikri mengangguk. “Baik, Bu.”
Ia berbalik, berjalan keluar aula dan di belakangnya, bisik-bisik mulai pecah pelan.
Zizi masih berdiri di tempatnya. Wajahnya terasa panas. Bukan karena malu semata. Tapi karena cara ibunya memanggil Fikri barusan.
Zizi menoleh pelan ke arah teman-temannya. Beberapa menatapnya dengan ekspresi yang sulit disembunyikan. Terkejut. Penasaran. Dan sedikit… kagum.
Sementara di luar, Fikri berhenti sejenak di samping mobil itu. Tangannya belum langsung membuka pintu.
Napasnya ditarik pelan. Ini sudah mulai... kehidupan yang harus ia jalani dengan Zizi kelak.
Ia membuka pintu mobil. Mengambil dompet itu. Tiba-tiba.
"Eh... Loh, kamu?"
.
.