Dilamar Mokondo yang SALEH

Akhirnya

Fikri tidak langsung mengalihkan pandangannya. Tatapannya tetap ke arah Zizi… lalu perlahan beralih ke Amira.

Ia menarik napas sebentar, memastikan kata-katanya tidak keluar dengan emosi. “Kalau boleh…” suaranya tenang, “saya lebih nyaman Zizi tetap seperti ini, Bu.”

Amira menoleh pelan, menatap Fikri dari ujung kepala sampai kaki. Sorot matanya menelisik, “Lebih nyaman? Maksudnya?” ulangnya ringan.

Fikri mengangguk kecil. “Iya.” ia menambahkan, “Saya belum jadi siapa-siapa buat Zizi,” lanjutnya pelan, “tapi saya niat menjaganya… jadi dimulai dari hal yang bisa saya jaga.”

Zizi menoleh cepat.

Fikri tetap tenang. “Termasuk… bagaimana dia dilihat orang lain.”

Amira menyilangkan tangan di depan dada. “Kamu tahu ini acara keluarga kami?” sindirnya ringan. “Standarnya juga kami yang tentukan.”

Fikri mengangguk lagi. “Saya paham, Bu. Tapi kalau nanti saya berdiri di samping Zizi…” ia berhenti sebentar, lalu menatap Amira lurus, “…saya harus ikut jaga dia, Bu.”

Zizi merasakan sesuatu di dadanya… hangat, tapi juga menegangkan. Dia tahu persisi bagaimana keinginan ibunya jika membuat acara.

Amira memiringkan kepala sedikit. Bibirnya tersenyum tipis—bukan karena setuju. Lebih seperti… menyindir halus, “Jadi kamu menolak?” tanyanya, ringan tapi menusuk.

Fikri menggeleng pelan. “Bukan menolak, Bu.” Ia menunduk sedikit, sopan. “Saya cuma… menjaga batas yang saya mampu.”

Zizi menunduk cepat. Jemarinya saling menggenggam. Entah sejak kapan… ia mulai merasa dilindungi, tanpa diminta.

Amira menghela napas pendek. Lalu—senyum tipisnya berubah jadi tatapan sinis. “Dasar kampungan,” ucapnya dingin.

Zizi langsung mengangkat wajah. “Ma—”

Belum sempat kalimatnya selesai, tangan Fikri bergerak sedikit. Tidak menyentuh. Hanya isyarat kecil… menahan Zizi.

Zizi terdiam.

Fikri tidak membalas atau tersinggung. Ia hanya berdiri di tempatnya, tenang seperti sebelumnya.

Amira memperhatikan semua itu. Cara Fikri tidak terpancing dan Zizi langsung ingin membela… tapi ditahan tanpa direndahkan. Fikri tahu tanggung jawabnya.

Amira akhirnya memalingkan wajah. Tangannya kembali merapikan kain di bahu Zizi, seolah tidak terjadi apa-apa.

Tapi di dalam benaknya, satu kalimat lewat begitu saja. Tidak mapan, iya… tapi tahu tanggung jawab.

Ia menarik napas pelan. Tidak semua yang pantas… harus datang dalam bentuk sesuai seperti keinginannya. Perlahan, Amira melihat Fikri bukan sebagai “pilihan Zizi” semata.

Tapi sebagai seseorang… yang mungkin memang mampu berdiri di samping anaknya.

***

Acara berlangsung dengan tertib, tapi jelas terasa disiapkan dengan sangat matang. Tamu-tamu berdatangan dengan pakaian terbaik mereka, percakapan mengalir pelan di antara meja-meja yang tertata rapi.

Di sisi lain ruangan, keluarga Fikri datang dengan langkah yang tenang.

Seragam navy yang mereka kenakan tampak elegan, meski hasil sewa. Tapi cara mereka berjalan… tegak, rapi, tanpa canggung—membuat mereka layak berdiri di ruang itu.

Fikri duduk di samping ayahnya. Tidak banyak bicara. Hanya sesekali menoleh ke arah Zizi… memastikan semuanya baik-baik saja.

Zizi yang duduk di sisi ibunya… tidak berani terlalu lama membalas pandang. Setiap kali mata mereka bertemu, ia cepat menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang sulit ditahan.

Saat hantaran dibawa ke depan, suasana sedikit lebih hening.

Kotak-kotak itu dibuka satu per satu. Buah dan kue dari toko ternama, tersusun rapi—tidak berlebihan, tapi jelas dipilih dengan sungguh-sungguh.

Lalu, sebuah kotak kecil diletakkan di tengah.

Kilau emasnya langsung menangkap cahaya.

Gelang seberat sepuluh gram itu disiapkan khusus untuk Zizi. Sederhana… tapi tegas maknanya.

Di sampingnya, logam mulia seberat tujuh belas gram ikut disertakan, diniatkan menjadi bagian dari mahar saat akad nanti.

Tidak ada upaya menyodorkan sesuatu yang memang masih dalam proses. Tapi dari cara keluarga Fikri meletakkannya, ini bukan sekadar simbol ... tapi kesungguhan.

Tuan Arsyad mengangguk pelan. Tidak banyak komentar, tapi sorot matanya cukup menunjukkan bahwa ia menghargai itu.

Di sampingnya, Nyonya Amira sempat menghela napas tipis. Tidak berkata apa-apa, dia menerima dengan caranya sendiri.

Tamu-tamu lain pun tampak mengangguk pelan. Bagi mereka, ini sudah lebih dari cukup untuk sebuah acara pertunangan.

Bu Rahma kemudian mengambil gelang. Jemarinya menggenggam erat saat memegang pergelangan tangan Zizi.

“Dipakai di kiri,” ucapnya tenang.

Zizi menatap calon mertuanya sekilas, lalu menurut.

Bu Rahma memasangkan gelang itu dengan hati-hati. Ujung jarinya sempat berhenti sebentar di kulit calon menantunya.

“Artinya biar harta tetap di tangan,” lanjutnya, suaranya lebih rendah. “Bukan di hati.”

Zizi terdiam.

“Supaya ingat… yang dijaga itu bukan nilainya,” tambahnya pelan, “tapi cara kamu memperlakukannya. Biar yang dipakai nggak cuma halal tapi membawa tenang.”

Jeda.

“Dan… supaya tidak menukar prinsip hidup… hanya karena ingin terlihat cukup.”

Zizi menunduk. Kalimat itu sederhana… tapi terasa dalam. Apalagi ketika Bu Rahma memeluk dirinya.

Setelah itu, Pak Joko diminta maju oleh MC. 

Ia berdiri tanpa terburu-buru. Tatapannya menyapu ruangan sebentar, lalu berhenti pada Fikri dan Zizi.

Tangannya terangkat pelan. Doa dimulai tanpa suara tinggi, tapi cukup membuat ruangan ikut hening.

“Ya Allah…” ucapnya pelan. “Kalau Engkau dekatkan mereka … maka dekatkan dengan cara yang Engkau ridhoi.”

“Hidup itu nggak selalu sesuai rencana,” ujarnya tenang. "Semoga kalian bukan cuma saling suka… tapi saling jaga.”

Beberapa tamu langsung diam.

“Kalau nanti kalian diuji … jangan Engkau pisahkan karena lelah… tapi kuatkan mereka untuk saling memahami.”

Hening.

“Dan cukupkan mereka… bukan hanya apa yang dimau. Namun, dengan apa yang mereka butuhkan.”

Ia menoleh sedikit ke arah Fikri. “Marriage is not about being ready,” katanya pelan, aksennya sederhana tapi tegas, “it’s about being willing to grow.”

Ia menghela napas sebentar. “Because love is not just about feeling…” lanjutnya tenang,

“…it’s about commitment, responsibility, and showing up… even when it’s hard.”

Zizi menahan napas. Beberapa kepala mulai menunduk dalam.

“Karena yang bertahan itu… bukan yang paling sempurna,” ucapnya, “tapi yang paling mau belajar.”

“Aamiin,” terdengar pelan dari beberapa sudut.

Tidak ada tepuk tangan. Hanya khidmat memenuhi ruangan.

Fikri kemudian dibawa berkeliling oleh Tuan Arsyad, diperkenalkan pada beberapa kolega.

Ia menjawab seperlunya. Tentang pekerjaannya, rencananya ke depan. Kadang hanya tersenyum, tidak membuka terlalu banyak. Bukan karena tidak mampu.

Tapi karena tahu… tidak semua hal harus dijelaskan di depan semua orang.

Sikap itu justru membuat beberapa orang mengangguk kecil. Ada batas yang ia jaga. Dan itu… terlihat sebagai karakter Fikri.

Di sisi lain, keluarga Fikri duduk di meja makan privat.

Bu Rahma sesekali menatap ke arah anaknya… yang kini berdiri di samping Zizi.

Matanya mulai berkaca. Tangannya terangkat pelan di atas meja. Bibirnya bergerak tanpa suara. Doa-doa dipanjangkan… lebih banyak dari biasanya. Bukan lagi untuk dirinya. Tapi untuk dua orang… yang sedang belajar berjalan bersama.

Di tengah ruangan, Fikri berdiri di samping Zizi yang masih menunduk sesekali, jemarinya merapikan ujung lengan baju yang sebenarnya sudah rapi. Nafasnya belum sepenuhnya stabil sejak tadi.

Fikri melirik sekilas, berbisik pelan, “Dek…”

Zizi mengangkat wajah sedikit. “Ya?”

Fikri menatapnya lebih lama dari biasanya, membuat Zizi salah tingkah sendiri.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!