Dilamar Mokondo yang SALEH
Ditentang
“Nyusahin orang tua!”
Suara Fadlan meledak. Kali ini tidak lagi ditahan. Kata-katanya terlontar keras.
“Fadlan!” suara Pak Joko langsung memotong.
Tapi Fadlan sudah tak peduli, adiknya bebal.
“Lo pikir ini cuma soal lo sama dia?” lanjutnya, napasnya berat. “Ini bawa nama keluarga, Fik! Lo nikah… kalau nggak pantes, bukan cuma lo yang kelihatan gagal!”
Jeda.
“Orang bakal lihat kita,” tunjuknya ke lantai, ke rumah itu. “Bukan looooo doang!”
Sunyi menegang.
Fikri tidak langsung jawab. Rahangnya mengeras. “Makanya aku nggak mau ngasal ngelamar,” ucapnya pelan.
Fadlan tertawa pendek. “Semua orang juga nggak mau pasang badan, begeeeeeee!”
“Tapi nggak semua orang berani mulai sebelum siap,” balas Fikri.
Fadlan melongo setengah detik. “Berani?” ulangnya tajam. “Lo sebut ini berani?"
Fikri mengangguk kecil. “Iya.”
“Ini nekat, Dodoooolll!” potong Fadlan.
“Lebih baik nekat dengan tujuan… daripada nunggu aman tapi nggak jalan-jalan,” jawab Fikri, tetap tenang.
Farah menghela napas panjang. Tangannya menyentuh lengan suaminya, sedikit menahan.
“Fik…” ucapnya pelan. “Nikah itu bukan cuma soal lo siap tanggung jawab. Tapi dia juga siap ikut hidup lo.” Ia memandang Fikri. “Lo yakin dia ngerti nanti hidupnya bakal berubah?”
Fikri gegas menyahut, “Dia nggak butuh hidup yang sama kayak dulu,” ucapnya pelan. “Dia cuma butuh ditemenin bener.”
Bu Rahma memejamkan mata sejenak. Nafasnya ditarik pelan. Lalu ia membuka lagi, menatap anaknya dengan campur aduk yang tak disembunyikan.
“Temenin itu gampang diucap, Dek…” suaranya lirih. “Yang susah itu… konsisten ada.”
Fikri menoleh ke ibunya. “Aku belajar itu, Bu.”
“Dari siapa?” tanya Fadlan cepat, hampir memotong.
Fikri tidak menoleh ke arahnya. “Dari Ayah.”
Ruangan langsung diam. Pak Joko tidak bergerak. Tapi sorot matanya menajam sedikit.
Fikri lanjut, suaranya tetap rendah. “Ayah nggak pernah janji hidup enak. Tapi Ayah selalu ada.”
Jeda.
“Aku lihat itu.”
Bu Rahma menunduk. Tangannya menggenggam ujung bajunya.
Fadlan menghembuskan napas kasar, “Jangan bawa-bawa Ayah buat pembenaran lo.”
Fikri akhirnya menoleh. Tatapannya lurus ke kakaknya. “Aku nggak pembenaran,” ucapnya pelan. “Aku minta kesempatan, buat buktiin.”
Semua suara hilang.
Pak Joko menarik tangannya bertumpu di lutut. Pandangannya tidak lepas dari Fikri.
“Waktu,” ucapnya pelan. “Kamu punya berapa lama buat buktiin ini bukan sekadar niat?”
Fikri menarik napas panjang, “Secepatnya,” jawabnya.
Fadlan langsung mendengus, “Nggak jelas.”
Pak Joko mengangkat tangan sedikit. Cukup untuk menghentikan sanggahan putra sulungnya.
“Bukan ke Ayah,” lanjutnya tenang. “Ke diri kamu sendiri.”
Fikri mengangguk. “Iya, Yah.”
Pak Joko berdiri perlahan. Langkahnya tidak tergesa. Tapi setiap pijakan terasa seperti menutup perdebatan yang sejak tadi berputar. Ia berhenti di depan Fikri.
“Satu hal,” ucapnya.
Fikri menatap ayahnya.
“Jangan bawa dia masuk… kalau kamu belum siap jadi tempat pulang untuk segala hal.”
“Ibu nggak setuju, Yah…”
Suara Bu Rahma akhirnya pecah, cukup membuat ruangan kembali menegang. Matanya menatap Pak Joko, lalu bergeser ke Fikri. Ada khawatir yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.
“Dia masih bocah,” lanjutnya lirih. “Masih belum tahu seberapa beratnya hidup setelah ini.”
Fikri menunduk. Tangannya masih mengepal, tapi kini bukan karena menahan emosi… melainkan menahan sesuatu yang lebih dalam.
Fadlan menghela napas kasar. Sudah tidak ingin memperpanjang. Ia berbalik cepat, langkahnya berat menuju kamar.
“Keras kepala…” gumamnya tajam. Tangannya meraih gagang pintu. “Naif… aargh, bodoh!”
Brak.
Pintu tertutup keras. Suaranya memantul, menyisakan getaran di dada semua orang.
Farah menatap pintu itu sebentar, lalu kembali ke Fikri. Ia melangkah mendekat. “Kamu tahu yang kamu lakukan ini apa?” tanyanya pelan.
Farah melanjutkan, suaranya tetap tenang… tapi menusuk tepat sasaran. “Kamu narik hidup Zizi ke level kamu sekarang… bukan nanti.”
“Kamu bawa nama ayah, ibu,” lanjutnya. “Bukan cuma diri kamu sendiri.” Sorot matanya sedikit melunak, tapi tidak mengurangi tegasnya, “Jangan siksa anak orang, Fik.”
Fikri menunduk lebih dalam. Nafasnya tertahan. Tidak ada bantahan. Farah menatapnya beberapa detik lagi… lalu menghela napas pelan. Ia berbalik mengikuti arah Fadlan. Pintu kamar itu terbuka lagi… lalu tertutup pelan kali ini.
Tinggal tiga orang di ruang tengah.
Bu Rahma duduk dengan bahu yang sedikit turun. Matanya tidak lagi menatap siapa-siapa. Hanya diam… memikirkan sesuatu yang tidak mudah diputuskan.
Fikri tetap berdiri sendiri… di tengah keputusan yang barusan ia ucapkan sendiri.
Suara jam dinding terdengar lebih jelas dari biasanya. Detiknya seperti menghakimi tanpa menunggu siapa pun siap.
Fikri menarik napas panjang. Matanya terpejam sebentar. Semua kata tadi… berputar lagi di kepalanya. MoKonDo. Benalu. Turun level. Jangan siksa anak orang. Dadanya terasa penuh.
Beratnya bukan di perkataan orang lain… tapi bagaimana jika ~kemungkinan yang mereka ucapkan itu benar.
Tangannya perlahan mengendur. Kepalanya menunduk lebih dalam. “Kalau aku gagal…” gumamnya.
Pak Joko berdiri, berjalan melewati Fikri. Tangannya terangkat… menepuk bahu anaknya. Tidak ada nasihat, hanya melanjutkan langkahnya menuju kamar.
***
Ponsel itu bergetar di tangan Zizi saat malam sudah terlalu sunyi.
Zizi menatapnya beberapa detik… sebelum akhirnya mengangkat panggilan dari Fikri.
Percakapan dimulai biasa, tapi makin lama… topik itu berubah. Zizi berdiri di dekat jendela. Tirai sedikit terbuka. Lampu kamar temaram, cukup untuk memperlihatkan wajahnya yang tidak lagi setenang siang tadi.
Ia lebih banyak mendengar, sampai akhirnya berujar, “Jangan sekarang, Kak.”
Zizi menunduk. Jemarinya menggenggam sisi gorden. “Aku nggak mau kamu buru-buru cuma karena keadaan,” lanjutnya. “Ini bukan lomba. Aku mau Kak Fikri beneran siap… bukan sekadar berani.”
Napasnya mulai terasa berat. “Kalau nanti kita kesulitan…” suaranya merendah, “…aku nggak mau jadi bebanmu.”
Zizi menutup mata sebentar. “Aku bisa nunggu. Tapi aku nggak mau kamu maksa diri cuma biar aku aman.”
Si seberang sana, Fikri masih ngotot menegaskan bahwa dia mampu. Zizi menggeleng pelan, suaranya terdengar lebih rapuh saat tuan Arsyad berhenti di depan kamarnya.
Zizi lupa, pintu kamar itu masih terbuka separuh.
“Kenapa suara kamu kayak gitu?”
Pintu belum sepenuhnya terbuka. Tapi kepala ayahnya menyembul masuk. Zizi langsung menoleh. Terkejut.
“Yah…”
Belum sempat ia menjelaskan, Tuan Arsyad sudah masuk. Tatapannya langsung ke arah wajah anaknya.
“Ada apa? Sakit?”
Zizi menggeleng cepat. “Nggak apa-apa—”
Tangannya yang memegang ponsel… tidak luput dari perhatian.
Tuan Arsyad mendekat. “Siapa?”
Zizi diam. Ponsel itu diambil.
“Assalamu’alaikum,” suara Tuan Arsyad terdengar dingin.
Di seberang, Fikri langsung tegak. “Wa’alaikumussalam, Pak…”
Hening sepersekian detik. Cukup untuk mengubah arah segalanya. Tuan Arsyad menebak pembicaraan mereka yang didengar sepenggal.
“Kalau mau nikah cepat,” ucapnya datar, jelas, “…bawa badan saja.”
Deg.
Zizi membeku di tempatnya. Fikri di seberang—diam.
“Dan terima semua syarat dari kami. Gimana?”
Dhuar.
Kalimat itu jatuh seperti palu, memecah kehampaan ruang. Sunyi menggantung. Zizi menatap ayahnya. Matanya mulai berair. Tapi ia tidak berani bicara. Kalimat ayahnya ... merendahkan Fikri.
Di luar, langkah kaki lain mendekat. Ia baru saja hendak masuk kamar… tapi suara terakhir itu membuatnya berhenti.
Dan ketika ia menangkap kalimat sang ayah, tawa kecilnya lolos. “Hahaha… MoKonDo juga akhirnya…”
Zizi langsung menoleh. Dadanya seperti ditarik. Sementara Tuan Arsyad tetap berdiri. Ponsel masih di tangannya.
"Halo?"
.
.