Dilamar Mokondo yang SALEH

Mbatin

Langkah Fikri langsung terhenti di ambang pintu. Perlahan, Fikri menoleh.

Fadlan berdiri di ujung lorong. Kaosnya kusut, wajahnya masih penuh sisa emosi tadi, ada jengkel yang belum selesai.

“Gue nanya,” ulangnya, lebih rendah tapi tetap tajam. “Mau ke mana malam-malam gini?”

Fikri menatap kakaknya beberapa detik. Rahangnya masih kencang, tapi suaranya datar, “Keluar bentar.”

Fadlan mendengus, “Keluar bentar apaan? Kepala lo lagi panas gitu.” Ia melangkah mendekat. “Atau jangan-jangan…” matanya menyipit, “…mau kabur dari semua ini?”

Fikri menggeleng pelan. “Kalau aku mau kabur… dari tadi aku udah mundur, Kak.”

Fikri lanjut, “Aku cuma butuh jalan bentar. Biar kepala nggak penuh sama omongan semua orang.”

Fadlan terkekeh pendek. “Semua orang?” ulangnya. “Atau karena lo mulai ngerasa mereka ada benarnya?”

Fikri diam.

Fadlan mengangguk kecil, seperti dapat celah. “Nah. Mikir juga, kan?”

Ia melipat tangan di dada. “Fik… gue ngomong kasar bukan karena gue benci lo.” suaranya turun sedikit. “Gue cuma nggak mau lo susah… terus nyeret semua orang.”

Fikri menatap kakaknya lagi. Lebih lama.

“Kalau aku susah…” ucapnya pelan, “…aku yang tanggung.”

Fadlan langsung menggeleng. “Nggak sesimpel itu.” Ia menunjuk ke dalam rumah. “Ada Ayah. Ibu. Nama keluarga.” Lalu menunjuk ke arah luar. “Dan ada Zizi. Lo nggak pernah susah sendirian.”

Fikri menelan pelan. Dadanya naik turun. “Iya,” akhirnya ia mengangguk. “Makanya aku nggak mau nyusahin.”

Fadlan menyipitkan mata. “Dengan cara nekat kayak gini?”

Fikri menarik napas panjang. Lalu mengangkat wajah, guratnya menegas. “Bukan nekat.”

“Terus apa?” potong Fadlan cepat.

Fikri menatap lurus ke kakaknya. “Mulai.”

Fadlan terdiam beberapa detik. Lalu tertawa pendek, tidak benar-benar lucu. “Lo pikir mulai itu cukup?”

Fikri menggeleng pelan. “Enggak. Tapi kalau nggak mulai… aku nggak akan ke mana-mana.”

Fadlan memperhatikan adiknya, mencoba mencari celah lain… agar nasihatnya masuk. 

Fikri menurunkan pandang sebentar. Lalu menambahkan, lebih rendah, “Aku juga takut, Kak.”

Fadlan sedikit terkejut. Alisnya mengernyit perlahan.

Fikri lanjut, “Takut mereka bener.” napasnya tertahan sebentar, “…tapi aku lebih takut…” matanya naik lagi, “…kalau aku mundur sekarang… aku bakal jadi orang yang cuma berani punya niat.”

Fadlan tidak langsung menyahut. Tangannya yang tadi terlipat… perlahan turun. Suasana berubah lebih lembut.

Akhirnya, Fadlan menghela napas panjang. “Kalau lo tetap jalan…” ucapnya, kali ini lebih berat dari marah, “…jangan setengah-setengah, Fik.”

Fikri mengangguk. “Aku nggak akan.”

Fadlan menatapnya sekali lagi. Lalu memalingkan wajah. “Pergi sana. Tapi jangan lama.”

Fikri membuka pintu. Udara malam langsung menyambut. Dingin, tapi justru terasa lebih jernih dari dalam rumah tadi. Langkahnya turun ke halaman lalu mulai menaiki motor dan pergi.

***

Langit sore berwarna abu-abu gelap, belum jadi hujan.

Fikri duduk di lantai masjid, punggungnya bersandar ke tiang dingin yang sudah akrab dengan lelah banyak orang. Ponselnya tergeletak di samping. Layarnya mati. 

Hari itu dia merasa sedikit kelelahan. Meski belum lulus, dia sudah rutin kerja di BMT dari pagi. Siang bantu revisi laporan.

Sejak sore kemarin, dia sempatkan mampir ke tempat usaha aqiqah, ngajarin admin mereka yang masih bingung debit-kredit.

Sebelum yudisium, dosennya pernah menawarkan untuk membantunya mengajar di kelas karyawan kala akhir pekan. Dan lusa, dia akan memulai perdana tugasnya sebagai asisten dosen.

Semua kemungkinan yang bisa menambah pundi rupiah, Fikri ambil. Termasuk membantu kerabat sang ayah yang memiliki lembaga kursus. Dia diminta mengajar pembukuan sederhana sebagai penunjang materi kursus.

Fikri sedang dikejar sesuatu yang tidak bisa ditunda. Dia menghembuskan napas pelan. Matanya terpejam sebentar. Masjid sudah lebih lengang… tapi kepalanya masih berisik.

Di sudut lain, ada dua pria sedang berbincang. Seragamnya rapi. Logo bank syariah di dada mereka terlihat jelas.

“…lagi butuh cepat koorlap sih sekarang,” salah satu dari mereka berkata.

Fikri membuka mata. Kata ~butuh cepat itu seperti dilempar tepat ke arahnya. Ia bangkit perlahan mendekati mereka tanpa ragu.

“Assalamu’alaikum, Bang.”

Keduanya menoleh. “Wa’alaikumussalam.”

“Saya tadi dengar… lagi buka posisi?”

Salah satu dari mereka tersenyum. “Iya. Koorlap. Buat dampingi analis.”

Fikri mengangguk. “Syaratnya apa aja, Bang?”

Penjelasan mulai mengalir. Pengalaman, kemampuan dasar, kesiapan lapangan. Fikri mendengarkan dengan serius. Mengangguk di beberapa bagian. Sesekali bertanya.

Saat pembicaraan hampir selesai, pria itu menatapnya sebentar, “Kamu serius mau coba?”

“Iya, Bang.”

Jeda.

Pria itu mendekat sedikit. Suaranya dipelankan, “Sebenarnya… lagi butuh cepat juga. Kalau kamu mau… bisa saya bantu masukin lewat saya.”

Fikri diam. Kalimat itu… terdengar seperti pintu yang dibuka dari dalam. “Gimana maksudnya, Bang?” tanyanya hati-hati.

Pria itu tersenyum tipis. “Saya yang pegang lapangan. Bisa saya dorong ke atas CVmu. Biar diprioritaskan.”

Jeda sebentar.

“Tapi ya… ada timbal balik.”

Fikri menunggu, otaknya langsung berpikir apakah ini suap? 

“Bukan apa-apa,” lanjut pria itu santai. “Saya cuma minta fee satu juta.”

Satu juta.

Jumlah itu lumayan, untuk seseorang yang sedang mengumpulkan hidupnya dari rupiah-rupiah kecil.

“Saya lagi butuh buat sekolah anak,” tambahnya. “Masuk TK. Gaji saya kepotong karena nasabah nunggak.”

Nada suaranya terdengar… manusiawi. Bukan seperti transaksi kotor. Dia lagi butuh bantuan.

Fikri menunduk. Pikirannya mulai bergerak cepat.

Kalau diterima kerja… gaji bakal naik. Kalau ini jalan cepat… kenapa tidak? Bukankah dia lagi butuh dan dikejar waktu? ini cuma “bantuan kecil”?

Tapi, napasnya tertahan saat satu kalimat muncul di kepalanya.

Ini bukan bantuan. Bukan sedekah, hadiah, apalagi kebetulan. Ini transaksi untuk membuka pintu… yang seharusnya dibuka dengan kelayakan dan kualitas yang dia punya.

Ia teringat sesuatu yang dulu pernah disampaikan ayahnya. Tentang memberi untuk mendapatkan posisi, mengambil jalan yang bukan haknya. Bukan karena dia paling suci. Fikri tahu ini salah.

Kalau aku masuk dari sini… Pikirannya berhenti sebentar …aku nggak lagi berdiri di atas usahaku sendiri.

Namun, ada bagian dari dirinya yang masih berusaha membela.

Ini kan kesempatan datang sekali… Nanti juga bisa diperbaiki… Yang penting masuk dulu…

Fikri mulai goyah, sampai satu bayangan lain muncul.

Zizi. Dan ayahnya.

Fikri menarik napas panjang. Dada yang tadi bergejolak, kini lebih lega. Ia mengangkat wajah.

“Bang…”

Pria itu menunggu.

Fikri menatapnya sopan, “Maaf. Saya nggak bisa.”

Pria itu mengernyit. “Nggak bisa?”

Fikri mengangguk pelan. “Kalau memang saya memenuhi kualifikasi… saya mau masuk dari jalur biasa, Bang. Kalau nggak diterima … ya berarti saya harus coba lagi.”

Pria itu menatapnya beberapa detik. Lalu menarik napas kecil. “Ya udah,” ucapnya datar. “Silakan daftar aja lewat jalur biasa.”

Fikri mengangguk. “Makasih, Bang.”

Percakapan selesai. Ia kembali duduk di tempatnya tadi. Ponselnya diambil, membuka link lowongan. 

Tangannya mulai mengetik. Di layar ponselnya, kolom terakhir hampir terisi, Fikri berhenti sebentar menarik napas.

Lalu menekan tombol submit. "Bismillah."

Fikri menyandarkan kepalanya di dinding. Tawaran tadi masih termasuk ri

sywah (suap) sebab mengambil jalur tidak adil dan jujur. Bisa “menggeser” orang lain yang lebih berhak. 

"Innalilahi," gumamnya.

Tiba-tiba. "Kenapa, Bang?" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!