Dilamar Mokondo yang SALEH
Wisuda
“Innalilahi,” gumamnya.
“Kenapa, Bang?”
Fikri membuka mata. Seorang pria duduk tidak jauh darinya. Usianya mungkin sekitar tiga puluhan. Kemejanya dilipat sampai siku, wajahnya tenang… tapi sorot matanya memperhatikan.
Fikri sempat diam sebentar, lalu menggeleng. “Nggak apa-apa, Bang. Cuma… lagi mikir.”
Pria itu tersenyum tipis. “Mikir sampai bilang innalilahi… biasanya bukan hal ringan.”
Fikri ikut tersenyum kecil, lebih ke sopan. “Iya… soal kerjaan.”
“Baru nolak sesuatu?” tebaknya santai.
Fikri sedikit terkejut. “Kedengeran, ya?”
“Nebak aja,” jawab pria itu ringan. “Masjid emang enak buat merenung sih.”
Fikri mengangguk, tersenyum tipis.
Pria itu memperhatikan sebentar. “Kamu pilih nolak, berarti itu bukan jalanmu.”
Fikri menunduk. “Saya cuma nggak mau mulai dari jalur yang salah, Bang.”
Sunyi sebentar.
“Bagus,” ucap pria itu akhirnya.
Fikri menoleh.
“Sekarang tinggal siap nggak kalau prosesnya jadi lebih lama?”
Fikri menghembuskan napas pelan. “Harus siap, Bang.”
Pria itu mengangguk. “Aku Rendra.”
“Fikri.” Mereka saling menjabat tangan singkat.
“Kerja di mana sekarang?” tanya Rendra.
“Di BMT, Bang. Sama… ngajar juga beberapa tempat.”
Alis Rendra terangkat sedikit. “Ngajar apa?”
“Akuntansi dasar.”
Rendra mengangguk pelan, “Kebetulan…” ucapnya santai, “saya lagi butuh orang buat bantu rapihin pembukuan usaha saya.”
Fikri langsung menoleh.
“Masih kecil,” lanjut Rendra. “Tapi lagi berkembang. Selama ini manual… dan berantakan.”
Jeda.
“Kalau kamu mau… coba bantu. Part time dulu.”
Fikri terpaku, bukan karena ragu… tapi seperti memastikan dia tidak salah dengar. “Waktunya?” tanyanya hati-hati.
Rendra tersenyum tipis, “Boleh weekend atau pulang kerja. Ada fee nya, tenang aja.”
Fikri mengangguk pelan. Tawaran ini datang setelah dia menolak jalan yang salah. Dan rasanya berbeda. “Saya mau, Bang.”
Rendra mengangguk. “Besok lusa bisa?”
“Bisa.”
“Datang ke alamat ini.” Ia menyebutkan lokasi, lalu menambahkan, “Kita lihat dulu cocok nggaknya.”
Fikri mencatat cepat di ponselnya. Percakapan itu selesai karena Fikri harus kembali masuk kantor dan Rendra pun segera pergi.
***
Hari wisuda datang lebih cepat dari yang Fikri kira.
Langit pagi cerah. Gedung kampus penuh warna. Tawa, kamera, bunga, dan pelukan.
Fikri berdiri di antara teman-temannya.
“Fik! Sini!” salah satu temannya memanggil.
Ia mendekat. Foto. Senyum. Tertawa. Semua terlihat sama seperti yang lain. Tapi di sela-sela itu…
Beberapa dari mereka bercerita bahwa ada yang sudah diterima kerja di kantor pusat. Ada yang lanjut kuliah S2 dan mulai merencanakan pernikahan, sepertinya.
Fikri hanya tersenyum. Tidak iri karena sadar langkahnya masih panjang. Di sisi lain, Pak Joko dan Bu Rahma berdiri melihat dari jauh.
Bu Rahma mengusap matanya pelan. “Akhirnya lulus juga…”
Pak Joko mengangguk kecil. Tatapannya tidak lepas dari Fikri. “Belum selesai,” ucapnya pelan.
Bu Rahma menoleh. Pak Joko melanjutkan, “Baru mulai.”
Fikri turun dari panggung dengan map di tangan. Namanya dipanggil. Gelarnya resmi.
Ia berhenti sebentar di tangga. Menghela napas. Mencari Zizi yang tersenyum lebar menatapnya dari bawah sambil mengacungkan dua jempol untuknya.
Dia membalas senyuman Zizi sebelum beralih ke kedua orangtuanya. Matanya sedikit berkaca-kaca, bibirnya merapal kata lirih, terima kasih untuk Bu Rahma.
Zizi berdiri di bawah, masih dengan senyum yang tadi. Sederhana, tapi… entah kenapa bikin langkah Fikri terasa lebih ringan.
Fikri menghampiri.
“Selamat ya,” ucap Zizi duluan.
“Terima kasih,” jawab Fikri, tersenyum lebar.
Mereka berdiri agak ke samping, memberi ruang orang lain lewat. Suara kamera dan tawa masih ramai di belakang, tapi di antara mereka… suasananya lebih canggung.
Fikri menggaruk pelipisnya sebentar, “Zi,” panggilnya pelan.
Zizi menoleh.
“Aku mau bilang dulu… kalau nanti aku agak susah dihubungin, bukan karena nyuekin kamu, ya.”
Zizi diam, mendengarkan. Fikri lanjut, “Aku ambil beberapa kerjaan tambahan. Weekend juga kepakai. Jadi mungkin balas chat lama… atau nggak selalu bisa call malam.”
Jeda sebentar.
“Tapi aku usahain tetap kabarin. Pagi masih bisa. Atau nyempetin telepon pas istirahat.”
Zizi mengangguk, “Iya, nggak apa-apa,” ucapnya pelan. Lalu matanya naik sedikit, menatap Fikri, “Yang penting jangan sakit.”
Fikri tersenyum tipis. “Iya.”
Hening sebentar.
Fikri lalu menghela napas kecil, “Oh iya,” katanya, “kamu nanti… mau dibawain apa?”
Zizi mengernyit sedikit. “Apa?”
“Seserahan,” jawab Fikri singkat. “Biar aku cicil dari sekarang.”
Zizi langsung menggeleng. “Nggak usah banyak-banyak, Kak.”
Fikri mengangguk pelan. “Iya. Tapi tetap harus dipikirin.”
Zizi tersenyum tipis.
Fikri melanjutkan, “Terus… soal tempat tinggal.”
Zizi menatap lagi, lebih fokus sekarang. Mengamati wajah yang membuatnya jatuh cinta.
“Kamu maunya gimana? Kita cari kontrakan… atau di rumah aja? Nanti kamarku diberesin.”
Zizi tidak langsung jawab. Ia berpikir sebentar. “Ngontrak aja,” ucapnya akhirnya.
Fikri mengangguk. “Oke. Kamu yang pilih.”
Zizi langsung menggeleng kecil. “Nggak mau.”
Fikri sedikit bingung. “Kenapa?"
“Kita pilih bareng,” jawab Zizi sambil tersenyum malu-malu.
Fikri diam sebentar. “Ok. Akhir pekan ini aku ada ngajar di LPK,” lanjutnya. “Kalau selesai… sekitar jam sebelasan. Aku jemput?”
Zizi menggeleng cepat. “Nggak usah.”
Fikri menatapnya.
“Aku ke tempat kakak aja,” lanjut Zizi. “Sekalian nungguin ngajar.” Nada suaranya masih malu-malu.
Fikri tertawa kecil. “Ya sudah. Boleh.”
Mereka saling diam sebentar. Sebelum suara lain memanggil Fikri.
“Fik! Sini dulu!” suara dari belakang.
Fikri menoleh sebentar. Lalu kembali ke Zizi.
“Foto, ya?”
Zizi mengangguk. Mereka berdiri berdampingan. Kamera terangkat. Klik.
“Ciyeee…” suara dari samping langsung nyelonong. “Resmi nih?”
Beberapa teman Fikri mulai mendekat, senyum-senyum jahil.
Fikri cuma tersenyum. “Doain aja,” jawabnya santai.
Zizi langsung menunduk sedikit, senyum tipis sambil menghindari tatapan. Pipinya terasa hangat.
“Wah, ini dia manusia favorit Fikri, ya?” Tepukan ringan mendarat di bahu Fikri. Seorang pria paruh baya, wajahnya familiar.
“Pak,” sapa Fikri cepat, sedikit lebih tegak. Beliau dosen pembimbingnya.
Sang dosen melirik ke Zizi, lalu kembali ke Fikri dengan senyum yang susah diartikan. “Kita diundang, kan?”
Fikri langsung senyum. “InsyaAllah, Pak.”
Zizi makin menunduk.
“Zizi, sini,” suara Bu Rahma memanggil. Zizi menoleh, agak kaget. “Iya, Bu?”
“Sini foto bareng,” ajaknya sambil tersenyum hangat.
Zizi sempat melirik Fikri. Fikri mengangguk kecil, memberi isyarat… nggak apa-apa. Zizi melangkah mendekat.
Di tengah keluarga itu, Bu Rahma menariknya pelan agar berdiri lebih dekat. “Di sini aja,” katanya.
Zizi menurut. Di samping Fikri. Lebih dekat dari tadi. Klik. Satu foto lagi diambil.
Di dalam hati Zizi… ada sesuatu yang pelan-pelan melambung karena ia tidak disembunyikan, membuat Zizi tahu, dia sedang diperjuangkan.
"Fikri.” Suara itu berasal dari belakang.
Fikri menoleh. Seorang perempuan berdiri beberapa langkah dari mereka. Rapi. Percaya diri. Senyumnya tipis, seperti sudah lama kenal.
“Lama nggak ketemu,” ucapnya santai.
Fikri sempat diam sepersekian detik. Lalu, “Iya… lama.”
.
.