Dilamar Mokondo yang SALEH

Dream Zizi

Zizi menunduk sebentar, ujung sepatunya menggeser kerikil kecil di halaman. Udara sore terasa lembut setelah panas siang tadi. 

Pertanyaan Fikri barusan masih menggantung di kepalanya.

Zizi menarik napas pendek, lalu menatap jalan sebentar sebelum akhirnya menoleh lagi pada Fikri yang berdiri tidak jauh darinya. Pria itu berdiri santai di samping motor, satu tangan di saku jaket, menunggu tanpa mendesak.

“Aku ... ada satu hal yang selalu kepikiran.”

Fikri mengangkat sedikit alisnya, kala Zizi menatap langit yang mulai berubah warna.

“Aku pengen hidupku nggak cuma kebuang begitu saja,” lanjutnya. “Aku pengen ada gunanya. Buat orang lain… dan buat akhiratku juga.”

Ia berhenti sebentar, seperti menimbang apakah harus melanjutkan atau tidak. Lalu akhirnya ia berkata dengan lebih jujur.

“Kalau soal menikah… aku punya satu harapan.”

Fikri masih diam, tapi perhatiannya jelas tertuju padanya.

Zizi menelan ludah kecil sebelum berkata,

“Aku pengen punya imam yang benar-benar imam. Yang kalau aku lagi lemah, dia yang ngingetin. Yang ngajak ke arah yang benar, bukan malah kebalik.”

Ia menghela napas kecil, lalu tersenyum canggung. “Bukan cuma pasangan yang enak diajak ngobrol atau jalan-jalan.”

Tangannya kembali memainkan tali tas. “Pokoknya… seseorang yang bisa bertanggung jawab. Kalau nanti aku salah, dia berani menegur. Dan bila aku capek, dia bisa jadi tempat pulang.”

Kalimat terakhir itu keluar lebih lembut dari yang ia rencanakan. Zizi langsung merasa wajahnya sedikit hangat.

“Kedengarannya serius banget ya,” katanya cepat, mencoba menutup rasa canggung.

Fikri justru tersenyum tipis. “Tidak.” Ia menepuk pelan jok motornya, lalu berkata sederhana, “Itu harapan yang baik.”

Zizi tidak menjawab lagi. Ia hanya mengangguk kecil. Beberapa detik kemudian Fikri menyalakan motor. “Aku pamit dulu.”

“Iya. Terima kasih ya… sudah bantuin dari tadi.”

Fikri hanya mengangguk, lalu motor itu bergerak menjauh dari gerbang.

Zizi berdiri beberapa detik di tempat yang sama. Entah kenapa ia masih melihat ke arah jalan yang sudah kosong.

Baru ketika pintu gerbang terbuka di belakangnya, ia menoleh.

Kakaknya itu bersandar di kusen pagar, kedua tangan terlipat di dada. Ekspresinya datar, tapi sorot matanya tajam seperti sedang mengamati sesuatu yang menarik.

Zizi langsung tahu kebiasaan Alina. 

“Baru pulang?” tanya Alina santai.

Zizi berjalan masuk sambil melepas sepatu. “Iya.”

Alina tidak langsung menjawab. Matanya justru melirik ke arah gerbang. “Motor siapa?”

“Teman.”

Alina menyipitkan mata sedikit. “Teman?” Nada suaranya seperti orang yang tidak sepenuhnya percaya.

Zizi pura-pura sibuk menggantung tas. “Iya.”

Alina melangkah mendekat dua langkah. “Namanya?”

Zizi menoleh. “Kak.”

“Namanya siapa?”

Zizi mendesah kecil. “Fikri.”

Alina mengangguk pelan, seperti mencatat sesuatu dalam pikirannya. Dia mengekori adiknya ke kamar, masih mencecar Zizi dengan banyak pertanyaan yang membuat risih. 

Zizi meraup wajahnya sebentar. “Kita cuma ngobrol!" 

Brak. Zizi kesal, menutup pintu kamarnya.

Dia merebahkan tubuhnya di kasur, bayangan Fikri melintas di pelupuk mata. Dia memang jarang dekat dengan teman pria. Biasanya mereka berubah canggung setelah tahu siapa Zizi sebenarnya. Atau Alina sudah lebih dulu memata-matai.

Zizi sengaja berpenampilan tidak mencolok, agar tidak dimanfaatkan teman-teman, dan dia bisa menjalin kedekatan dengan lawan jenis tanpa terlalu kontras.

“Kita lihat saja nanti, Zii.” Teriakan Alina terdengar sampai ke dalam kamar.

***

Sepekan Kemudian.

Hari-hari di kampus berjalan seperti biasa.

Zizi masih datang ke kajian, meskipun sebenarnya ia sendiri tidak tahu kenapa jadi lebih rajin. 

Mungkin karena suasananya tenang. Atau mungkin karena seseorang yang pernah ia temui di sana.

Namun sampai beberapa hari berlalu, orang itu tidak pernah terlihat lagi.

Zizi tidak pernah bertanya ke siapa pun, tapi matanya sering tanpa sadar menyapu ruangan sebelum kajian dimulai.

Setiap kali tidak menemukannya, ia langsung pura-pura fokus ke buku catatan.

"Ya sudah lah." Ia mencoba bersikap biasa.

Sore itu, saat Zizi keluar dari gerbang kampus, mobil kakaknya sudah parkir di pinggir jalan. Alina duduk di kursi pengemudi sambil menunggu.

Zizi berjalan menyeberang jalan kecil menuju mobil itu. Saat itulah sebuah motor melambat di depan gerbang.

Zizi langsung mengenalinya, Fikri juga. Selama satu detik mereka hanya saling menatap.

Lalu Fikri mengangguk kecil. Zizi membalas dengan senyum tipis yang agak canggung. Motor itu kemudian melaju lagi.

Tapi ketika Zizi membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang, Alina sudah menatapnya dengan wajah penuh arti.

“Tadi itu, dia?”

Zizi pura-pura bingung, “Apa?”

Alina menyalakan mobil. "Kalian saling senyum.” Ia melirik adiknya sebentar. “Dan kamu kelihatan gugup.”

Zizi mendesah pelan.

Alina mengangkat bahu. “Kamu biasanya tidak begitu.”

Mobil melaju perlahan keluar dari area kampus. Beberapa detik mereka diam. Lalu Alina berkata lagi dengan nada santai, "Jadi… gituuuuuuu?”

Zizi tak menjawab, dia malas jika Alina sudah ikut campur. 

Keesokan harinya. Sang mama melarang Zizi bawa motor setelah insiden pekan lalu.

Akhirnya Zizi pulang pergi dengan ojek online. Beberapa hari pertama ia tidak terlalu memperhatikan siapa drivernya.

Sampai suatu sore, ketika aplikasi menunjukkan nama yang membuatnya berhenti bernapas sejenak. Zizi menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu menghela napas kecil.

Motor itu datang beberapa menit kemudian.

Fikri berhenti di depan gerbang kampus dan membuka helm. Zizi mengangguk kecil, langsung naik ke motornya.

Perjalanan pulang terasa agak canggung. Biasanya Fikri sesekali berbicara, sekarang ia lebih banyak diam. Hanya suara angin dan mesin motor yang terdengar.

Zizi menggigit bibir bawahnya sebentar, sebelum berujar, “Kak Fikri…”

Fikri melirik ke kaca spion. “Iya?”

Zizi menatap punggungnya beberapa detik sebelum bertanya jujur, “Aku boleh tanya sesuatu?”

“Boleh.”

Zizi menarik napas kecil. “Aku salah apa ya?”

Motor itu sedikit melambat.

Zizi menelan ludah sebelum melanjutkan. “Soalnya… rasanya Kak Fikri seperti menghindari aku.”

Fikri tidak langsung menjawab. Dan Zizi menunggu dengan perasaan yang tiba-tiba membuat detak jantungnya lebih cepat.

Beberapa detik setelahnya, “Aku bukan menghindari," suaranya tetap tenang.

Zizi menatap punggungnya. “Terus?”

Fikri terkekeh kecil. “Aku cuma… baru sadar sesuatu.”

Motor berhenti di lampu merah. Fikri menoleh sedikit ke kaca spion. “Aku tahu kamu.”

Zizi mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

“Sering lihat kamu di kajian itu.”

Zizi terdiam.

“Sudah lama.”

Lampu berubah hijau. Motor kembali berjalan.

Fikri melanjutkan dengan nada ringan, “Awalnya kukira… kamu mahasiswa biasa.”

Zizi makin bingung.

“Tapi ternyata anak konglomerat.”

Zizi menahan napas sebentar. Angin sore kembali lewat di antara mereka.

“Aku kaget aja,” lanjut Fikri pelan. “Padahal sempat mikir… mungkin kita bisa dekat.”

Kalimat itu membuat jantung Zizi berdetak lebih cepat.

“Tapi ya sudah.” Nada Fikri kembali datar. “Dunia kita beda.”

Zizi menggigit bibirnya, menatap jalan di depan. Fikri sedikit melambatkan motor saat mendekati gang rumah Zizi.

“Padahal aku kira Kak Fikri beda.”

Motor berhenti tepat di depan rumah. Fikri tidak langsung menjawab. Tangannya tetap memegang setang, matanya menatap lurus ke depan.

Beberapa detik berlalu, ia hanya berkata singkat, “Sudah sampai.”

Zizi menunggu sebentar, tapi tidak ada kalimat lain. Ia turun dari motor dengan perasaan aneh yang menggantung di dada.

“Makasih, Kak.”

Fikri hanya mengangguk kecil.

Motor itu tidak langsung pergi sampai Zizi membuka gerbang rumah dan melangkah masuk ke halaman. Baru setelah itu suara mesinnya menjauh perlahan.

Begitu pintu rumah dibuka, suasana ruang tamu terasa tegang.

Ayahnya duduk di sofa dengan wajah serius, kacamata yang tadi ia pakai membaca sudah diletakkan di meja. Sementara Alina berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya kesal.

Beberapa berkas dan brosur rumah sakit terbuka di meja. Alina baru saja memungut salah satunya, lalu menjatuhkannya lagi dengan napas panjang.

Alina mengusap wajahnya, jelas menahan emosi. “Zizi saja, duluan nikah,” katanya tiba-tiba.

Zizi yang baru menutup pintu langsung berhenti di tempat.

Alina menoleh ke arahnya. Sorot matanya berubah cepat, dari kesal menjadi setengah menang. “Dia sudah punya pacar.”

Ruangan mendadak hening. Ayah mereka menoleh pelan ke arah Zizi. “Pacar?”

“Hah?” Zizi melongo. “Kok aku?”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!