Dilamar Mokondo yang SALEH
Melamar
Semua sudah tahu cerita masa lalu Fikri. Tuan Arsyad menggeser duduknya sedikit, punggungnya tegak, jari-jarinya saling bertaut di atas lutut. Tatapannya kembali ke Fikri.
“Baik,” katanya datar tapi tegas. “Kita nggak akan muter-muter lagi.”
“Tadi kamu sudah bilang mau melamar,” lanjutnya. “Kapan?”
“Secepatnya, Pak. Dalam waktu dekat.”
Bu Amira yang tadi bersandar, kini duduk lebih tegak. “Dekat itu seberapa dekat?” tanyanya, nadanya kembali tajam.
“Dalam hitungan minggu, Bu.”
Alina mengangkat alis, nyaris tersenyum tipis. Tapi kali ini dia tidak langsung menyela.
Tuan Arsyad mengangguk pelan. “Lamaran boleh cepat,” katanya.
Bu Amira mengambil alih, suaranya lebih dingin, “aku nggak mau ribet dengan istilah ‘sederhana’ yang kamu bayangkan.”
Zizi menoleh sedikit ke arah ibunya.
“Undangan dari pihak kami sekitar seribu orang,” tambahnya ringan, seolah itu angka biasa.
Tuan Arsyad menyambung, “Dua ratus untuk kalian."
Alina terkekeh kecil. “Jangan lebih ya,” gumamnya, setengah bercanda tapi tetap terasa menusuk.
Fikri diam. Rahangnya sempat mengeras, tapi tidak ada bantahan keluar.
Pak Joko yang sejak tadi tenang, akhirnya bersuara. “Kami datang bukan untuk menumpang nama,” tuturnya lembut.
Semua mata beralih ke arahnya.
“Yang kami bawa mungkin tidak sebesar yang Anda bayangkan,” lanjutnya, masih tenang, “tapi cukup untuk menjaga martabat keluarga kami.”
Tuan Arsyad menatapnya beberapa detik. Bu Amira menghela napas. “Yang penting jelas,” ucapnya. “Kami tidak mau repot di hari H karena hal-hal yang seharusnya sudah selesai dari awal.”
“Dan satu lagi,” sambung Amira, kini menatap langsung ke Fikri. “Yang menentukan tanggal lamaran dan akad dari kami."
Hening. Pertemuan itu selesai… dengan banyak syarat untuk keluarga Fikri.
*
Malam di rumah Fikri terasa lebih sunyi dari biasanya.
Ruang tengah yang sederhana itu dipenuhi orang, tapi tidak ada yang benar-benar bicara setelah Pak Joko selesai menjelaskan semuanya.
Fadlan berdiri paling ujung. Tangannya di pinggang. Wajahnya menyiratkan emosi yang berusaha dia tahan.
“Seribu orang?” ulangnya, nadanya naik sedikit. “Serius?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
“Ini nikahan atau hajatan satu kecamatan?” lanjutnya, mulai berjalan mondar-mandir kecil.
Farah yang duduk bersandar di kursi hanya menghela napas panjang. “Dari awal juga udah kelihatan,” gumamnya pelan, tapi cukup terdengar. “Kita diposisikan di bawah.”
Fikri duduk di lantai, punggungnya bersandar ke dinding. Diam.
“Dek,” panggil Fadlan, kali ini langsung menatap adiknya. “Lo sadar nggak sih ini bakal makan biaya berapa? Gedung, katering, seserahan… belum yang lain-lain.”
“Aku tahu,” jawab Fikri pelan.
“Tahu?” Fadlan tertawa pendek, tapi tidak ada yang lucu. “Tahu doang nggak cukup!”
Pak Joko mengangkat tangan sedikit. “Lan.” Fadlan berhenti, tapi wajahnya masih kesal.
“Kita pikirkan pelan-pelan,” lanjut Pak Joko. “Jangan pakai emosi.”
Fadlan menghembuskan napas kasar. “Yang bakal keluar uang juga kita, Pak,” ucapnya lebih rendah tapi tetap tajam.
Farah menyilangkan tangan. “Dari cara mereka ngomong aja sudah kelihatan, Fik,” katanya, menatap adik iparnya lurus. “Belum apa-apa kita sudah dituntut rapi. Jangan bikin malu. Jangan kurang ini itu.”
“Iya,” sambar Fadlan pelan, “dari sini aja kita sudah diremehkan.”
Bu Rahma yang sejak tadi diam, hanya menunduk. Tangannya saling menggenggam di pangkuan. Wajahnya tidak marah, tapi jelas penuh pikiran.
Satu per satu… suasana itu mengendur bukan karena selesai, tapi karena semua orang memilih mundur, bergulat dengan pikirannya masing-masing.
Fadlan masuk kamar tanpa banyak bicara lagi. Farah ikut berdiri, menggeleng kecil sebelum berlalu. Bu Rahma menyusul pelan.
Tinggal Fikri… dan Pak Joko, lalu ia juga berdiri dan masuk ke kamar, meninggalkan ruang itu dalam diam yang lebih dalam.
Fikri tetap di tempatnya. Beberapa detik berikutnya, ia meraih tas, mengeluarkan buku dan pulpen.
Ia mulai menulis. Seserahan lebih rinci. Emas untuk mahar, perhiasan tambahan dan perlengkapan rumah.
Napasnya teratur saat menghitung kasar biaya kontrakan yang tadi sempat mereka lihat serta menambahkan estimasi hidup tiga bulan pertama.
Di kepalanya, semua mulai tersusun, bagaimana ia akan datang nanti… tanpa menunduk.
***
3 bulan kemudian.
Pagi itu, halaman kampus kembali ramai. Zizi berdiri di antara lautan toga hitam, jemarinya merapikan ujung selempang yang sedikit miring. Napasnya pelan, tapi dadanya terasa penuh. Hari ini… gilirannya.
Dari kejauhan, ia melihat Fikri datang bersama Pak Joko dan Bu Rahma. Membawa buket bunga rose pink, dan parcel humidifier lengkap beserta aroma terapinya.
Lamaran sudah lewat. Sederhana, hanya keluarga inti, Pak RT, dan beberapa saudara perwakilan masing-masing. Hanya penetapan tanggal gelaran pernikahan setelah wisuda.
“Zi!” suara temannya memanggil.
Ia menoleh, lalu tersenyum, ikut berjalan ke arah barisan. Tapi sebelum naik ke panggung, matanya sempat mencari satu orang.
Fikri berdiri sedikit di belakang, tapi tetap terlihat. Tangannya di saku celana, wajahnya mengarah ke Zizi. Saat mata mereka bertemu, Fikri mengangkat dagunya sedikit.
Isyarat kecil seolah berkata, Aku di sini.
Zizi tidak sadar kalau bibirnya ikut terangkat, hingga mencetak senyum Fikri di bawah sana.
Prosesi berjalan lancar. Nama Zizi dipanggil naik, menerima map kelulusan dengan tangan sedikit dingin tapi hati yang hangat.
Dari atas panggung, ia melihat banyak wajah. Teman, dosen… dan keluarga. Mamanya duduk tegak. Tuan Arsyad di sampingnya.
Saat turun dari panggung, suasana langsung pecah oleh ucapan selamat. Pelukan datang dari teman-temannya. Kamera mulai sibuk.
Di tengah itu semua, Fikri mendekat. “Selamat, Sayang,” ucapnya pelan.
Zizi tersenyum, menunduk malu-malu, “Makasih.”
Fikri mengangguk kecil. “Resmi ya.”
Zizi menahan tawa kecil. “Iya.”
Beberapa detik mereka diam, menikmati jeda.
“Foto yuk!” seru seseorang dari belakang. Zizi ditarik pelan ke tengah. Fikri ikut berdiri di sampingnya. Kamera mengarah.
“Ciyeee, calon pengantin!”
Tawa pecah.
Fikri hanya senyum tipis. “Bismillah ya, Sayang,” jawabnya santai.
Zizi menunduk sedikit, pipinya menghangat tatkala Fikri memanggilnya sayang untuk pertama kali di depan umum. Suara riuh kawannya membuat dirinya makin gugup.
Setelah sesi foto, keluarga berkumpul. Bu Rahma menggenggam tangan Zizi lebih lama. “Alhamdulillah,” ucapnya pelan.
Zizi membalas genggaman itu. Di sisi lain, Tuan Arsyad mulai berbicara dengan Pak Joko. Sampai akhirnya… seperti sengaja atau tidak, arah pembicaraan bergeser.
“Sekarang kamu sudah selesai kuliah,” ucap Tuan Arsyad, matanya beralih ke Fikri. “Kerja kamu bagaimana?”
Zizi langsung menoleh. Pertanyaan itu… sederhana tapi suasananya langsung berubah sedikit lebih serius.
Fikri berdiri tegak. “Alhamdulillah, Pak. Masih jalan.”
“Di BMT?” sambung Bu Amira cepat.
Fikri menggeleng pelan. Zizi ikut mengerutkan alis. “Bukan, Bu.”
Alina yang baru datang, berdiri di samping ibunya, melirik sekilas. “Oh?” gumamnya.
Bu Amira menatap lebih tajam sekarang. “Lalu di mana?”
Fikri menarik napas sebentar, lalu menatap mereka satu per satu. “Sekarang saya dipercaya bantu kelola usaha milik seseorang, Bu.”
Zizi berkedip. Usaha milik siapa? LPK atau yang minta dibantu pembukan? Dia ingat kalau Fikri pernah cerita.
“Usaha apa?” tanya Tuan Arsyad.
Fikri menjawab tenang, “Rumah potong hewan dan catering aqiqah, Pak.”
Hening.
Sepersekian detik… cukup untuk membuat mereka terdiam. Alina sedikit menegakkan badan. Bu Amira terlihat penasaran.
Zizi menatap Fikri. Ada rasa kaget… Apakah itu hasil dari langkah yang di ambil kemarin sampai waktunya habis untuk kerja?
Bu Amira akhirnya bersuara, pelan tapi jelas. “…kamu keluar dari BMT?”
Fikri menggeleng. “Masih pegang, Bu. Tapi fokus utama saya sekarang di sana.”
Tatapan Bu Amira berubah. Gurat wajahnya masih ingin mengulik lebih dalam. “Usaha itu…” ia berhenti sebentar, “…punya siapa tadi?”
.
.