Dilamar Mokondo yang SALEH

Tidur Aja

Lampu ballroom memantul lembut di kain gaun Zizi, membuatnya tampak berkilau.

Di pelaminan, ia berdiri sedikit merapat ke Fikri dari sebelumnya, tubuhnya mencari sandaran.

Fikri menangkap perubahan kecil itu. Tangannya yang sejak tadi sesekali berada di punggung Zizi, kini ibu jarinya memijat pelan, menenangkan lelah yang diam-diam menumpuk.

Beberapa tamu bergantian memberi selamat. Di antaranya, Tuan Arsyad kembali bersama beberapa kolega. Wajahnya terlihat bangga saat mengenalkan mereka.

“Fikri,” panggilnya, memberi isyarat halus. Fikri sedikit menegakkan badan.

“Ini Pak Hendra, rekan Ayah. Dan juga beberapa teman lama,” lanjut Tuan Arsyad, satu per satu memperkenalkan.

Fikri menyalami mereka dengan sopan, menyebut nama dengan jelas, menatap semringah. Zizi di sampingnya ikut tersenyum, sesekali mengangguk kecil saat diperkenalkan.

“Sekarang kesibukannya apa?” tanya salah satu dari mereka, nada suaranya ringan tapi penuh minat.

Fikri menjawab singkat, cukup membuat lawan bicara mengangguk-angguk paham. Zizi sempat melirik ke arahnya. Ada rasa tenang melihat cara Fikri berdiri, menjawab, dan tetap… sederhana.

Meski mereka tidak mengenal semua tamu, keduanya tetap menyambut dengan sopan. Senyum mengembang, kadang, mata mereka bertemu sebentar… lalu sama-sama menahan tawa kecil.

Saat antrean sedikit longgar, Fikri menunduk sedikit, mendekat ke telinga Zizi.

“Kayaknya nanti aku harus minta pijit,” bisiknya pelan.

Zizi menahan senyum, masih menatap ke depan. “Aku juga capek loh,” balasnya lirih.

Tangan Fikri bergeser, memijat pelan pinggang Zizi yang mulai terasa kaku. “Biar adil. Kamu dulu,” jawabnya ringan.

Zizi memejam sejenak, menikmati pijatan lembut yang lumayan meredakan pegal di pinggangnya.

Waktu berjalan tanpa terasa. Musik mengalun pelan, tamu datang dan pergi, hingga akhirnya jarum jam menunjuk pukul sembilan malam.

Acara selesai.

Begitu turun dari pelaminan, Zizi langsung mendekat ke ibunya dengan langkah yang sedikit terburu. Wajahnya berubah dari anggun menjadi… seperti anak kecil yang kelelahan.

“Ma… capek banget…” rengeknya pelan, nyaris bersandar di pangkuan Bu Amira.

Di belakangnya, Fikri berjalan sambil memegang juntai gaun Zizi agar tidak terseret. Tangannya telaten, sesekali merapikan lipatan kain yang hampir terinjak.

"Yah, gimana?" tanya Bu Amira.

Tuan Arsyad sempat mendekat, menatap keduanya. Ballroom masih menyisakan tamu, beberapa belum sempat bersalaman. Namun saat melihat wajah Zizi yang benar-benar lelah, ekspresinya melunak. Ia hanya mengangguk kecil. Memberi izin tanpa banyak kata.

Di kamar hotel, suasana berubah jauh lebih tenang. Tidak ada lagi musik, hanya terpaan lampu hangat dan semilir angin dari pendingin ruangan.

Salah satu asisten perias mengikuti, membantu Zizi duduk, melepas satu per satu aksesori yang sejak siang menempel. Mahkota dilepas, sanggul diurai lalu disisir agar tidak kusut, riasan dibersihkan perlahan. Gaun yang tadi berkilau kini diganti dengan piyama.

Fikri hanya memperhatikan dari samping ranjang. Sesekali membantu mengambilkan sesuatu yang dibutuhkan.

Dua jam berlalu seperti jeda panjang setelah hari yang padat.

Saat Zizi selesai mandi, rambutnya masih sedikit basah, langkahnya lebih ringan meski lelah belum benar-benar hilang.

Fikri sudah lebih dulu di atas sajadah. Menunggunya untuk menunaikan salat sunah bersama.

Setelahnya, Fikri menadah tangan. Doanya pelan tapi cukup jelas untuk didengar Zizi yang duduk di belakangnya.

Tangannya ikut terangkat saat mendengar doa itu. Bukan sekadar kata-kata baik yang diucapkan… tapi cara Fikri menyebut satu per satu harapan, dengan tenang dan pelan seolah setiap kalimat ingin benar-benar mereka resapi maknanya.

“…jadikan rumah kami tempat yang tenang…”

“…cukupkan kami dalam hal yang baik…”

“…jaga dia…"

Zizi menunduk dalam, dadanya terasa hangat dan sesak di waktu yang sama. Seharian ini mereka menjalani rangkaian acara yang harus dipatuhi. Tapi di momen itu… lantunan doa-doa ini hanya milik mereka.

“Aamiin,” bisiknya pelan, nyaris bergetar.

Ada jeda setelah doa itu selesai. Keduanya sama-sama sadar… bahwa mereka sedang berdiri di ambang sesuatu yang baru.

Fikri berbalik, merebahkan kepalanya di pangkuan Zizi yang masih memakai mukena. Zizi sedikit terkejut, tapi tidak menolak.

Tangan Fikri mencari jemarinya. Menggenggam lalu mengangkatnya, mengecup singkat sebelum menariknya ke dada.

Hangat.

“Besok kita lihat rumah ya…” ucap Fikri, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Bawa yang penting dulu. Baju, bukumu…”

Zizi menunduk sedikit. “Besok bukannya masih ada acara, Kak?”

“Iya. Malamnya,” jawab Fikri santai. “Siangnya kita bisa belanja dulu. Biar lusa langsung pindah. Gimana?”

Zizi diam sebentar, lalu mengangguk kecil. “Oke.”

Percakapan itu sederhana. Tapi rasanya seperti menyusun potongan masa depan… dari hal-hal kecil.

Satu jam berlalu dengan keheningan yang kikuk. Lampu kamar diredupkan. Mereka berbaring.

Zizi memunggungi Fikri, menarik selimut sedikit lebih tinggi. Matanya terpejam, tapi pikirannya belum sepenuhnya rileks. Ada debar yang menjalar.

Di belakangnya, Fikri menatap langit-langit sebentar, lalu menghela napas pelan.

Ia mengalah. Tubuhnya bergeser mendekat. Tangannya perlahan melingkari Zizi dari belakang.

“Gak sopan munggungin suami, Sayang,” bisiknya lembut di dekat telinga.

Zizi menahan napas. Tetap diam pura-pura tidur.

Hening sebentar.

Lalu suara Fikri lagi, lebih pelan, setengah menggoda, “Bobok, nih? Gak mau coba cari keringat dulu, Byy?”

Deg.

Deg.

Deg.

Fikri menahan tawa, merasakan tubuh Zizi yang menegang.

Zizi menoleh, kaget sekaligus malu. “Kenapa ketawa sih…” gumamnya pelan, setengah protes.

Fikri masih senyum, tapi sorot matanya melembut. Tangannya yang melingkar di pinggang Zizi malah makin erat.

“Kamu tegang banget,” katanya jujur, masih ada sisa tawa di suaranya.

Zizi langsung makin kaku. “Ya… gimana nggak…” Kalimatnya menggantung. Dia sendiri bingung mau jelasin apa.

Fikri menghela napas ringan, lalu mendekatkan wajahnya ke kepala Zizi. “Sayang,” suaranya lembut, “kita nggak harus ngapa-ngapain malam ini.”

Zizi diam.

“Kamu capek. Aku juga capek,” lanjutnya santai. “Ini bukan lomba belah-belahan nganuuuu.”

Zizi refleks menoleh sedikit. “Serius?”

Fikri tersenyum tipis. “Serius, bukan cuma malam ini doang.”

Zizi langsung tarik napas panjang, bahunya yang tadi tegang pelan-pelan turun.

Fikri malah iseng lagi. “Lagipula…” bisiknya dekat telinga Zizi, “kalau kamu kabur, aku juga belum tentu kuat ngejar. Kaki pegel dari tadi berdiri.”

Zizi langsung ketawa kecil, akhirnya. “Ya Allah… kirain…” dia nutup wajah pakai tangan sebentar, malu sendiri.

“Kirain apa?” tanya Fikri, sengaja mancing.

Zizi geleng cepat. “Nggak jadi.”

Fikri ikut ketawa. Pelukannya makin erat, bersandar nyaman di punggung Zizi.

Beberapa menit kemudian, napas Zizi mulai teratur. Beneran tidur. Fikri cuma senyum sembari menarik sedikit selimutnya dari belakang.

“Selamat tidur, istriku,” gumamnya pelan.

***

Pagi harinya, cahaya matahari masuk dari celah tirai.

Zizi bangun lebih dulu. Masih agak linglung, tapi lebih segar dibanding semalam. Disampingnya, Fikri tertidur dengan posisi tangannya masih di pinggang Zizi.

Zizi senyum kecil. Pelan-pelan melepaskan tangan itu dan turun dari ranjang.

Beberapa saat kemudian, mereka sudah siap. Berpamitan dengan orang tua, sementara keluarga Zizi masih ingin menikmati suasana hotel.

“Kalian duluan aja,” kata Bu Amira. “Kita nyusul nanti malam.”

"Ok, Ma," jawab keduanya sambil menyalami mereka.

Mobil melaju keluar dari area hotel.

“Ke mana, Kak?” tanya Zizi, sambil melihat ke jalanan yang agak lengang sebab hari ini Minggu pagi.

“Sebentar,” jawab Fikri santai.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!