Dilamar Mokondo yang SALEH
Biru Laut
Pagi setelah pengajian, rumah Fikri belum benar-benar rapi.
Zizi sudah bangun lebih dulu. Rambutnya diikat seadanya, keluar kamar memakai kaos Fikri yang longgar di badannya. Dia hanya membawa satu baju ganti untuk siang nanti.
Zizi ikut bantu di dapur, nyiapin sarapan, sambil sesekali disapa tetangga yang masih mampir membawa sisa kue.
“Udah bangun aja, Nyonya Fikri?” goda salah satu ibu.
Zizi cuma ketawa kecil, masih belum terbiasa dipanggil begitu.
Fikri muncul dari dalam, memakai kaos santai, rambut masih agak berantakan. Dia langsung nyamperin Zizi, berdiri di belakangnya sebentar.
“Udah makan?” tanyanya pelan.
Zizi menoleh sedikit. “Belum.”
Fikri mengambil. Sesekali bahunya nyenggol pelan Zizi tapi cukup bikin Zizi senyum sendiri.
Menjelang siang, mereka pamit sebentar. Beberapa barang dari rumah Fikri dimasukkan ke mobil. Tidak banyak. Baju, beberapa buku, tas, dan barang penting lain.
“Pelan-pelan aja, ya,” pesan Bu Rahma.
“Iya, Bu,” jawab Zizi lembut. Fikri hanya mengangguk, lalu menutup bagasi.
Perjalanan ke rumah baru terasa… beda. Ada harapan baru menunggu mereka di sana. Rasanya tak sabar ingin mengisi dengan segala hal yang berbau ~kita.
Begitu sampai, rumah itu masih seperti kemarin, belum banyak isi. Tapi siang ini satu per satu barang datang.
Kulkas dua pintu diantar lebih dulu. Disusul TV dari tempat kerja Farah. Kardus-kardus kecil berisi alat dapur juga mulai ditata. Mesin cuci langsung mereka letakkan pertama kali.
Zizi yang awalnya ragu-ragu, lama-lama bergerak cepat. Dia lap permukaan meja, menyusun perlengkapan dapur, buka plastik-plastik pembungkus.
Sementara Fikri mulai memasang TV, menggeser posisi dipan, sambil sesekali melihat ke arah Zizi.
“Capek?” tanyanya.
Zizi menggeleng. “Enggak… seru.”
Lembayung senja mulai tampak, memberi semburat garis di teras depan mereka. Rumah bercat biru laut itu sudah mulai terasa rapi. Belum lengkap tapi nyaman.
Zizi berdiri di tengah ruang tamu. Matanya pelan menyapu sekitar. Lalu bicara ke diri sendiri, “Ini beneran rumah kita ya, Kak…”
Fikri berdiri di sampingnya, melihat puas hasil kerja sama mereka sejak siang. “Iya…” jawabnya pelan. “Tapi besok mulai kita isi.”
Zizi nengok. “Isi?”
Fikri senyum tipis. “Sabar.”
Zizi langsung manyun dikit. “Ih…”
Malamnya, setelah membersihkan diri, mereka masuk kamar. Lampu sengaja diredupkan, udara dingin dari AC mulai terasa.
Zizi duduk di pinggir ranjang, masih agak lelah tapi wajahnya tersirat bahagia. Fikri sempat mengacak isi tasnya, lalu kembali duduk di sisi ZiI dengan sesuatu di tangan.
“Ini,” ucapnya, menyodorkan.
Zizi menerima. Alisnya langsung naik sedikit. “Apa ini?” jarinya membuka pelan. Sebuah buku tabungan atas nama dirinya.
Tangannya berhenti di halaman pertama. Matanya membaca angka di sana. Jumlahnya lumayan. Zizi mengangkat wajahnya pelan. “Kak…”
“Biar kamu pegang juga. Rumah tangga itu bukan cuma aku yang jalanin,” lanjut Fikri. “Kamu juga.”
Zizi diam, menggenggam buku itu sedikit lebih erat. Dadanya menghangat. Tanpa banyak kata, dia mengangguk. “Makasih…”
Fikri cuma tersenyum tipis. Dia lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu lagi.
Sepasang gantungan kunci. Fikri menyerahkan satu ke Zizi. “Yang ini… buatmu,” ucapnya ringan.
Zizi langsung senyum. Kali ini lebih lebar.
“Kok gemes…” gumamnya. Sepele tapi terasa milik bersama.
Keesokan paginya, Zizi menyapu teras depan rumah.
Udara masih segar, tapi beberapa tetangga sudah mulai aktivitas. Seorang ibu yang lewat melirik, lalu tersenyum ramah.
“Penghuni baru ya?” sapanya.
Zizi langsung mengangguk sopan. “Iya, Bu.”
Ibu itu mendekat sedikit. “Oh… ini tuh Bu Fikri, ya? Yang katanya baru pindahan kemarin?”
Zizi sempat diam. Bu… Fikri? Batinnya. Panggilan ini, belum terbiasa didengarnya tapi ada bahagia terselip. Zizi tersenyum pelan. “Iya, Bu…”
Ibu itu mengangguk-angguk, lalu lanjut jalan. Zizi masih mematung di sana. Angin pagi menyapu helai rambutnya pelan. Dia menengadah ke langit.
"New day, ya Allah. Terima kasih," gumamnya.
Zizi masih berdiri di teras beberapa detik setelah menyapu.
Bu Fikri. Dia tersenyum kecil sendiri, lalu masuk lagi ke dalam rumah.
Siangnya, mereka sepakat ke rumah orang tua Zizi sebentar. Ambil baju tambahan, beberapa barang pribadi, sekalian pamit lagi dengan lebih tenang.
Sesampainya di sana, ,Zizi masuk seperti biasa.
“Ma, aku ambil baju lagi ya,” ucapnya santai.
“Iya, ambil aja,” jawab Bu Amira dari ruang tengah.
Zizi langsung ke kamar. Lemari dibuka, beberapa baju dilipat cepat. Tangannya bergerak luwes, tapi matanya sesekali berhenti… melihat sekeliling kamar yang sudah lama jadi dunianya.
Di luar, Tuan Arsyad duduk bersama Fikri. “Motor Zizi nanti diantar saja ya,” ucap beliau.
“Iya, Yah. Nggak apa-apa,” jawab Fikri sopan.
“Sekalian bawa mobil aja,” tawarnya lagi. “Biar lebih enak.”
Fikri tersenyum kecil, menggeleng pelan. “Nggak usah, Yah. Terima kasih.”
Zizi yang baru keluar kamar ikut nimbrung. “Iya, Yah. Belum perlu kok.”
Bu Amira langsung menoleh. “Loh, kenapa? Bingung parkir di sana?”
Zizi menggeleng santai. “Nggak sih, Ma. Ada carport kok… cuma kita belum butuh aja.”
Bu Amira mengernyit. “Carport? Bukannya rumah Fikri… ngepas ya?”
Zizi berhenti sebentar, baru ingat sesuatu. Dia menyodorkan kertas kecil ke ayahnya. “Oh iya…” dia tersenyum kecil, “maaf lupa bilang… aku sama Kak Fikri pindah ke rumah kami.”
Hening.
“Rumah?” ulang Bu Amira.
Tuan Arsyad juga menoleh. Tatapannya pindah ke Fikri. Fikri menunduk sedikit. Tangannya saling bertaut, tidak langsung menjelaskan.
Zizi juga tidak menambah apa-apa. Dia cuma berdiri di samping Fikri, tersenyum lebar.
“Aku angkut tas dulu ya, Ma,” ucap Zizi akhirnya, memecah suasana.
Setelah itu, mereka pamit. Tidak menjelaskan panjang lebar. Seolah… biar waktu yang nanti menjawab semuanya.
Di depan rumah, Zizi berhenti sebentar sebelum benar-benar naik ke motor. Dia menoleh ke belakang.
Rumah masa kecilnya. Tempat dia tumbuh, marah, nangis, ketawa… semua ada di sana.
Fikri sudah duduk di motor, menunggu. Tapi begitu melihat Zizi diam, dia ikut menoleh.
“Kak…” suaranya pelan.
“Iya?”
“Aku bukan sedih…” Zizi menarik napas kecil. “Cuma… belum percaya aja. Aku… beneran pindah ke rumah sendiri.”
Fikri menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum, “Nanti kita gantian nginep,” ucapnya santai. “Di rumah sini… sama di sana.”
Zizi langsung mengangguk. “Iya, Mas.”
Fikri langsung menoleh cepat. Alisnya naik. “Mas?”
Zizi senyum malu-malu, tapi sorot matanya berbinar. “Mas Fikri…” ulangnya pelan. “Udah lama banget pengen manggil itu.”
Fikri menatapnya beberapa detik, lalu geleng kecil sambil senyum. Tangannya naik, mencubit pelan pipi Zizi. “Gemes banget sih…” gumamnya, lalu tanpa banyak aba-aba, dia condong sedikit dan mengecup cepat pipi Zizi.
Zizi langsung refleks nengok kanan kiri. “Ih… di depan rumah, Kak—eh, Mas!” Fikri malah makin senyum lebar.
Menjelang petang, motor Zizi diantar ke rumah baru mereka. Tuan Arsyad dan Bu Amira ternyata ikut datang.
Mobil mereka berhenti di depan rumah bercat biru laut itu. Begitu turun, Bu Amira langsung melihat ke arah dalam rumah.
Zizi sedang berjongkok di ruang tamu, merapikan barang. “Zi?” panggilnya.
Zizi langsung menoleh. Wajahnya langsung cerah. “Masuk, Ma!” serunya bangkit menyambut sang mama. “Ini rumah aku sama Mas…” Nada suaranya ringan tapi penuh rasa bangga.
Bu Amira melangkah masuk pelan. Matanya menyapu sekitar. Sudah ada kulkas, TV, mesin cuci, alat dapur… meski masih ditata sederhana.
Tuan Arsyad ikut masuk. Tangannya bertaut belakang punggung, matanya memperhatikan setiap sudut. “Ini?” tanyanya singkat.
Zizi langsung jawab semangat. “Kado dari saudara Mas. Yang itu dari Ayah sama Kak Fadlan. Yang ini dari ibu… itu dari Mbak Farah…”
Fikri berdiri di sampingnya.
“Fikri,” panggil Tuan Arsyad.
“Iya, Yah.”
“Ini?”
Fikri menarik napas sebentar. Lalu menjawab tenang. “Rumah kami, Yah. InsyaAllah.”
Hening sejenak.
Perlahan… senyum muncul di wajah Tuan Arsyad. “Alhamdulillah…” ucapnya pelan. Tangannya menepuk bahu Fikri. “Ayah tenang kalau begitu.”
Zizi menoleh ke Fikri. Dan untuk pertama kalinya… kalimat itu benar-benar terasa seperti sebuah penghargaan serta pengakuan kecil dari sang ayah.
"Nekat nyicil?"
Deg.
.
.