Dilamar Mokondo yang SALEH
Loh Kamu
Tiba-tiba ponsel Fikri berdering. Ia menepi di pinggir jalan, mematikan mesin motor. Lalu membuka helm sedikit agar lebih jelas mendengar. “Ya?”
Suara di seberang terdengar cukup keras sampai Fikri menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar. “Di mana kamu?”
“Di jalan, Kak."
“Bagus. Sekalian mampir ke Apotek Rahma di Jalan Melati. Titip ambil stok obat, nanti sekalian kirim ke klinik.”
Fikri mengangguk meski lawan bicaranya tidak bisa melihat. “Iya, Kak. Lima belas menit lagi sampai.”
Telepon ditutup.
Fikri memasukkan ponselnya kembali ke saku jaket, menyalakan motor, lalu melaju menuju alamat yang disebutkan.
Sore itu matahari sudah mulai turun ketika sebuah motor ojek online lainnya berhenti di depan sebuah apotek kecil di pinggir jalan.
Zizi turun dari boncengan sambil mengusap dahinya yang sedikit berkeringat. “Mas, sebentar ya,” katanya pada pengemudi ojol. Ia menunjuk ke arah gerobak minuman di depan apotek. “Haus.”
Pengemudi itu mengangguk santai. “Iya, Mbak.”
Zizi berjalan ke gerobak es teh, membeli satu gelas plastik dingin. Ia menyesapnya sedikit, lalu berdiri di pinggir trotoar sambil menunggu.
Baru beberapa detik kemudian matanya menangkap sesuatu. Seorang pria berdiri di depan etalase apotek.
Zizi langsung mengenalinya. Ia sedang berbicara dengan petugas apotek di balik meja. Tangannya memegang beberapa kotak obat kecil, terlihat sedang mencocokkan sesuatu dengan catatan di ponselnya.
Zizi berdiri diam. Dadanya tiba-tiba terasa aneh. Seriusan dia?
Ia melangkah sedikit lebih dekat, tanpa sadar. “Kak—” Suara itu keluar pelan sekali.
Fikri tidak menoleh, masih sibuk mendengarkan penjelasan petugas apotek yang menunjuk ke rak obat di belakang.
Zizi menggigit bibirnya. Pengemudi ojolnya sudah menoleh dari motor. “Mbak, sudah?”
Zizi ragu sebentar. Tatapannya kembali ke arah Fikri yang masih berbicara dengan petugas apotek. Ekspresinya serius, sesekali mengangguk sambil mencatat sesuatu di ponselnya.
Zizi menurunkan gelas es tehnya. "Ah sudahlah…" Zizi berbalik. “Iya, Mas. Jalan saja.”
Motor ojol itu perlahan menjauh dari depan apotek.
Di dalam apotek, Fikri baru saja menerima kantong obat terakhir.
Fikri berbalik menuju pintu. Baru dua langkah keluar, ia tiba-tiba berhenti. Alisnya sedikit mengerut.
Seperti… barusan ada yang memanggilnya. Fikri menoleh ke kiri dan kanan. Jalan di depan apotek tidak terlalu ramai. Beberapa motor lewat, satu mobil berhenti di lampu merah ujung jalan.
Di kejauhan, sebuah motor ojek online baru saja berbelok. Fikri memperhatikan sebentar.
Entah kenapa dadanya terasa sedikit tidak enak.
Ia menggeleng pelan. “Perasaan saja, kali.” Fikri mengenakan helmnya kembali lalu menyalakan motor dan melaju pergi.
Motor ojol yang ditumpangi Zizi melaju pelan meninggalkan jalan kecil itu.
Angin sore terasa lebih dingin di wajahnya. Zizi masih memegang gelas es teh yang tinggal setengah. Sedotan plastiknya ia putar-putar tanpa sadar.
Pikirannya kembali pada kejadian di apotek tadi. Dia kerja di situ? Zizi mengernyit kecil.
Beberapa hari terakhir ia hampir tidak melihat Fikri sama sekali. Tiba-tiba saja sekarang muncul… di apotek.
Motor berhenti di lampu merah. Ia tiba-tiba teringat sesuatu.
Tatapan kakaknya malam itu. Cara Alina tersenyum kecil sambil berkata akan mencari tahu. Zizi menghela napas panjang. "Ah… Kak Alina pasti sudah mulai kepo," batinnya.
Dan benar saja.
Malam berikutnya, saat Zizi turun ke dapur untuk mengambil air minum, ia sempat mendengar percakapan dari ruang kerja ayahnya.
Pintu tidak tertutup rapat. Suara Alina terdengar pelan, seperti sedang menjelaskan sesuatu.
Zizi tidak berniat menguping, tapi suara dari balik ruangan itu membuat langkahnya berhenti. Ia tidak mendengar semuanya, hanya potongan-potongan kalimat, tentang identitas seseorang, jurusan kuliah, pekerjaan juga latar belakang keluarganya.
Zizi berdiri diam beberapa detik di lorong, dia mencurigai seseorang tapi akhirnya berjalan lagi menuju dapur seolah tidak terjadi apa-apa.
***
Beberapa hari kemudian.
Zizi berdiri di depan ruang dosen pembimbing dengan map skripsi di tangannya.
Koridor fakultas cukup ramai siang itu. Beberapa mahasiswa duduk di kursi panjang sambil membuka laptop, sebagian lagi berdiri sambil memegang berkas. Musim bimbingan skripsi memang selalu seperti ini—orang datang dan pergi, pintu dosen sesekali terbuka lalu tertutup lagi.
Zizi menarik napas kecil sambil menatap papan jadwal di samping pintu.
“Hm…” Hampir penuh semua. Ia bersandar sedikit ke dinding sambil menunggu. Tangan satunya membuka ponsel, ibu jarinya menggulir layar tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ia lihat. Namun telinganya tetap menangkap suara-suara di sekitar.
Beberapa mahasiswi duduk di kursi panjang tidak jauh darinya. Awalnya hanya obrolan biasa. Tapi beberapa kata membuat Zizi tanpa sadar lebih memperhatikan.
Jari Zizi berhenti menggulir layar. Ia pura-pura tetap melihat ponselnya. Dari potongan-potongan kalimat yang terdengar, Zizi mulai menangkap gambaran tentang seseorang yang mereka bicarakan.
Tentang mahasiswa tingkat akhir di jurusan ekonomi syariah, lelaki yang dari dulu kuliah sambil kerja. Yang katanya sering terlihat nyambi ngojol, tapi tetap datang ke kampus kalau ada urusan penting. Dia kabarnya sudah hampir selesai skripsi. Minggu depan mungkin sudah daftar sidang.
Zizi menelan ludah kecil. Scroll di layar ponselnya sudah lama berhenti, tapi ia masih berpura-pura membaca.
Suara para mahasiswi itu semakin jelas sekarang. Rupanya mereka sedang membicarakan sosok yang cukup terkenal di fakultas.
Lelaki yang kalem. Jarang banyak bicara. Tapi entah kenapa banyak orang mengenalnya.
Salah satu dari mereka bahkan terdengar terkekeh pelan, menyebut bahwa lelaki itu padat aktivitas saja tapi tetap rapi setiap datang ke kampus.
Zizi mengernyit kecil.
Dia? Potongan-potongan cerita itu semakin membuat satu wajah muncul jelas di kepalanya.
Para mahasiswi itu terdengar semakin heboh sekarang, seperti sedang membicarakan seseorang yang diam-diam mereka kagumi.
Ada yang menyebut dia pintar, IPK-nya tinggi. Bahkan setengah bercanda bertanya bagaimana lelaki itu bisa punya tenaga untuk melakukan semuanya sekaligus—kuliah, kerja, tetap datang bimbingan, dan masih terlihat santai.
“Entah tenaga dari mana,” salah satu dari mereka terdengar berkata sambil tertawa.
Yang lain langsung menyahut dengan nada bercanda. “Mungkin pakai tenaga surya.”
Tawa kecil pecah di antara mereka. Zizi masih menunduk menatap ponselnya, tapi sudut bibirnya tanpa sadar ikut terangkat sedikit.
Namun sebelum ia sempat mencerna semuanya lebih jauh, tiba-tiba.
Klik.
Pintu ruang dosen terbuka. Suara engselnya membuat beberapa orang di koridor langsung menoleh. Zizi juga ikut mengangkat kepala.
Dan detik berikutnya matanya membesar. Lelaki yang baru saja keluar dari ruangan itu berdiri di ambang pintu dengan map di tangan.
Zizi melongo. “Loh…”
Mata mereka bertemu selama sepersekian detik, ekspresinya terlihat sama terkejutnya dengan Zizi.
.
.