Dinikahi Calon Ipar
Muslihat Daniel
Tubuh Diana menegang. Ia memutar lehernya ke belakang dan mendapati sosok tinggi tegap telah berdiri di sana dengan seringai licik.
"Ma--mas Daniel? Kenapa pintunya ditutup? Katanya sakit ke--napa bisa ada di sini?" tanya perempuan berhijab itu terbata.
Ia melangkah mundur saat pria itu maju. Tatapan nyalang pria bertubuh tinggi itu menyusuri tubuhnya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Seolah-olah mata laser itu mampu menembus penghalang yang menutupi seluruh auratnya.
"A--apa yang akan kau lakukan? Kenapa jadi seperti ini?"
Daniel terbahak hingga suaranya menggema di seluruh ruangan. Langkahnya semakin maju hingga membuat Diana tersudut di ujung sofa. Tangannya menggapai tangan Diana. Namun gadis itu menghindar.
"Kamu mau main-main denganku? Kamu pikir aku sudi melayanimu hah?"
"Apa maksudmu? Aku ke sini hanya mau membayar utang. Dan itu bubur pesananmu. Permisi, aku mau pulang!" ucap Diana sambil berjalan menuju pintu. Namun gerakannya kalah cepat dengan pria itu.
Dalam sekali hentakan, Diana terpelanting ke atas sofa. Pria itu langsung menindih tubuh lemah Diana. Menarik kedua tangannya ke atas kepala dan mengikatnya dengan dasi yang tersampir di sandara sofa.
Diana berusaha meronta. Melepaskan diri dari kungkungan pria yang telah dirasuki iblis itu. Tangan kekar pria itu sudah bergerilnya ke mana-mana. Jeritan dan tatapan mengiba dari gadis itu seolah nyayian merdu pengiring kegiatannya.
Air mata yang sudah berkumpul di kedua bola gadis itu kini luruh membentuk sungai kecil di pipi mulus tanpa polesan miliknya.
Bayangan pelecehan yang dilakukan Desta beberapa hari lalu masih jelas dalam ingatannya. Membuat Diana semakin meronta dan menendang-nendang apa saja yang bisa ia tendang.
"Perlakuan Desta kemarin sudah menghancurkan hidupku. Bagaimana kalau pria ini melakukan hal yang sama? Apa aku masih pantas untuk hidup di dunia ini?" teriaknya dalam hati.
"Tidak! Tolong, aku mohon jangan lakukan apapun ... aku hanya mau membayar utangku. Tolong lepaskan," ucapnya dengan tangis pilu.
Seolah sedang dirasuki iblis bemeran, Daniel terus menjamah tubuh Diana. Menarik gamis batik yang dikenakan hingga robek di sisi kanannya. Diana terus meronta sambil memohon.
"Kamu harus membayar utangmu!"
"Iya, itu uangnya sudah ku taruh dalam plastik. Ambillah. Atau kamu mau minta uang lebih? Aku punya. Ambil saja semua yang ada di dompetku. Tapi tolong kepaskan aku. Kumohon ...."
"Kamu pikir aku miskin? Aku tak butuh uangmu gadis bod*h! Aku mau kamu bayar utangmu dengan tubuhmu!"
"Tidak! Aku tidak mau. Apa kamu tak takut dosa? Dengar, Allah pasti murka kalau kau melakukan ini. Hidupmu akan sengsara karena menanggung dosa seumur hidup!"
"Kamu pikir aku peduli? Ha ha ha, dasar sok suci. Simpan saja ceramahmu itu! Aku tak butuh! Lagipula, gadis kotor sepertimu tak pantas bicara soal dosa."
Lama kelamaan tenaga Diana mulai habis. Tubuhnya melemah karena terus meronta. Sementara tenaga lelaki di atasnya itu sangat kuat. Tak seimbang dengan dirinya yang habis sakit.
Dalam hati Diana terus berdoa agar Allah mengirimkan pertolongan padanya. Hanya Dia satu-satunya yang bisa menolong dirinya dalam keadaan seperti ini.
Melihta buruannya mulai melemah, Daniel kembali melancarkan aksinya. Kali ini ia merenggut paksa kerudung yang menutup kepala gadis itu. Diana sudah tak mampu bergerak lagi. Tubuhnya lemas. Pasokan oksigen seakan habis tatkala pria itu telah menodai bibirnya.
Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Daniel. Ia langsung menarik gamisnya hingga memperlihatkan perhiasan yang selama ini ditutup rapat karena Allah memerintahkan dalam surat An-Nur ayat 31. (Dan hendaklah ia menutupkan kain kerudung hingga ke dadanya)
Seketika gerakan pria itu terhenti. Tatapan matanya tertuju pada satu fokus. Lalu tubuhnya luruh ke lantai. Membiarkan Diana dalam kebingungannya.
Bersamaan dengan itu suara gedoran pintu menyadarkan Diana.
"Tolong, biarkan aku pulang. Aku mohon ... lepaskan aku."
Perlahan tangan Daniel terulur dan membuak ikatan di tangan Diana. Melepas sweater yang dipakainya dan menyerahkan pada gadis itu.
Dengan suara gemetar ia berkata, "pakailah, dan pulanglah sekarang sebelum teman-temanku memangsamu!"
Dengan gerakan cepat Diana membenahi pakaiannya. Memakai kembali kerudung yang lepas dan menutup tubuh atasnya akibat gamisnya yang robek dengan sweater pemberian Daniel. Menyambar tasnya dan berlari menuju pintu.
Tanpa memedulikan beberapa orang yang hendak masuk ke dalam apartemen, Diana terus berlari tanpa alas kaki. Ia bahkan meninggalkan motornya di basment dan langsung mencari taxi.
Dalam perjalanan ia memejamkan mata menetralkan degub jantungnya yang bertalu-talu. Ucapan syukur tak lupa selalu mbasahi bibirnya karena Allah telah menyelamatkan.
***
Diana mengatur napas sebelum masuk ke gerbang rumahnya. Menetralkan kegugupannya agar tidak kentara ia habis mengalami hal yang mengerikan.
Setelah dirasa jantungnya kembali berdetak normal ia berjalan sambil menunduk. Namun ternyata di rumahnya sudah ramai orang. Banyak hiasan bunga di sekitar rumah itu. Bahkan kini rumahnya sudah disulapenjadi tempat pesta yang sangat indah.
Senyumnya mengembang karena sadar bahwa besok adalah hari pernikahan adiknya. Berarti semua masalahnya telah selesai. Buktinya pernikahan Meta tidak dibatalkan. Ah, ia harus banyak bersyukur atas karunia ini.
"Calon pengantin kok jam segini baru pulang. Seharusnya seminggu sebelum nikah sudah dipingit, bukannya keluyuran sampai sore," ucap seorang tetangga yang membantu di rumah itu.
Diana hanya menanggapi dengan senyum kecil. Tak mau mengklarifikasi ucapan wanita itu. Mungkin semua orang di sini mengira dirinya yang akan dinikahkan, mengingat dia anak sulung keluarga ini.
"Biarlah mereka mengira begitu. Besok juga pasti tahu kalau aku bukan pengantinnya," ucap Diana sambil berjalan menuju tangga.
Orang-orang terlihat saling berbisik melihat kedatangan Diana. Mungkin mereka yang bisik-bisik itu sudah tahu kalau Meta lah yang akan menikah. Sehingga ia merasa kasihan pada dirinya karena dilompati oleh adiknya.
Namun dia nggak masalah sebenarnya. Karena ia yakin bahwa setiap manusia sudah ada jodohnya masing-masing. Hanya saja Allah akan mempertemukan mereka dengan cara yang tak diketahui manusia. Waktunya pun tak tahu.
"Kenapa masih bersiri di situ? Cepat masuk kamar dan istrirahat. Jangan keluar kamar sampai besok pagi, mengerti?"
Yang barusan bicara itu adalah bapak. Diana hanya mengangguk patuh dan segera melangkah menuju kamarnya di lantai dua. Ia tahu, pasti bapaknya takut kalau Diana bakal mengacaukan acara ini.
Seketika sudut hatinya terasa nyeri. Tak ada niatan sedikit pun untuk mengacaukan acara ini. Ia justru bersyukur karena adiknya bisa kembali pada Desta. Sehingga rasa bersalah yang menghantui selama ini bisa hilang dari hatinya.
Ia juga berharap setelah pernikahan ini, keliarganya kembali hangat seperti dulu. Ia sangat merindukan momen-momen indah bersama sang ibu. Rindu nasehat dan belaian lembutnya yang menenangkan.
Tanpa terasa kakinya sudah sampai di depan pintu kamar. Namun ketika tangannya hendak membuka, sebuah tangan lain menariknya hingga tubuhnya terhuyung.
"Jangan senang dulu, sampai kapanpun, Desta akan tetap jadi milikku. Camkan itu!"