Dinikahi Calon Ipar
Kenapa Harus Aku
"Cantik," ucap Desta tanpa sadar yang masih bisa ditangkap telinga Diana.
Seketika gadis itu menatapnya bingung. Lalu menunduk kembali. "Tolong siapapun jelaskan apa yang sedang terjadi sekarang? Kenapa aku ada di hadapan laki-laki ini?" teriak Diana dalam hati.
Ingin rasanya gadis itu berlari meninggalkan tempat itu agar tidak menjadi pusat perhatian seperti saat ini. Namun suara MC sekali lagi membuatnya mendongak. Ia menatap horor pria di depannya saat tiba-tiba tangannya diraih olehnya.
Sebuah cincin bermata biru emerald tersemat indah di jari manisnya. Untuk sesaat ia hanya bisa memandang takjub benda itu. Pikirannya kosong. Hingga ia sadar kalau kini ia sudah menjadi istri seorang Desta Dirgantara. "Tapi kenapa aku yang jadi istrinya? Bagaimana dengan Meta?"
Desta menyodorkan tangan kanannya. Seperti robot yang sudah diseting sedemikian rupa, Diana mengikuti instruksi MC dengan kaku. Tak ada ekspresi apapun yang terlihat dari wajah cantiknya.
Kewarasannya kembali saat sebuah kecupan ringan mendarat di keningnya. Kedua matanya membola. Napasnya tersengal seolah oksigen di ruangan itu tiba-tiba habis. Spontan ia mendorong dada bidang pria yang sayangnya sudah sah menjadi suaminya itu.
Mata elang pria yang hari ini tampil maksimal dan terlihat sangat tampan itu menatap tajam pada Diana. Tak menyangka mendapat penolakan oleh istrinya sendiri di depan tamu undangan.
Ego lelakinya terluka karena hal itu, sehingga tanpa pikir panjang, Dia meraih pinggang ramping Diana dan menariknya hingga tubuh mereka berdempetan. Blitz kamera bersahut-sahutan mengabadikan momen itu.
"Jangan coba-coba mempermalukanku, Di. Sekarang kamu sudah sah menjadi iatriku," bisik Desta membuat bulu kuduk Diana meremang. Jangan tanyakan bagaimana jantungnya sekarang. Seandainya tidak terhalang tulang rusuk dan kulit yang kuat, mungkin sudah melompat keluar.
"A--apa maksudmu? Bukankah seharusnya Meta yang jadi istrimu?" ucap Diana terbata-bata.
Ia tak berani menatap netra pria ini. Tubuhnya gemetar hebat. Kedua lututnya sudah nelemas. Kalau saja pria tampan di sampingnya nggak memegangnya begitu erat, pasti ia sudah luruh di lantai.
"Ini semua karena kamu! Akan kupastikan hidupmu tak akan tenang setelah ini," jawabnya dingin.
Seketika tubuh Diana menegang. Sungguh, ia ingin segera kabur dari acara yang tidak dikehendaki ini.
Ia menggelengkan kepala berkali-kali. Pandangan matanya sudah memburam akibat cairan bening yang sudah terkumpul di kedua bola matanya.
Sementara Meta menatap interaksi pasangan pengantin itu dengan kedua tangan mengepal erat di atas pangkuannya. Hatinya dibakar api cemburu melihat bagaimana Desta dengan sengaja mencium dan merengkuh tubuh kakaknya.
"Apa aku akan benar-benar kehilangan dia setelah ini?" batin Meta bertanya-tanya.
***
Diana sudah mandi dan mengganti bajunya dengan gamis motif bunga dan kerudung instan warna pastel. Ia duduk di atas kasur dengan gugup. Sesekali ia melirik jam dinding bergantian dengan pintu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 Wib. Belum ada tanda-tanda seseorang akan masuk ke kamarnya. "Ah, apa pria itu akan masuk ke kamar ini? Apa yang kamu harapkan dari pernikahan aneh ini, Diana?" ucapnya pada diri sendiri.
Semakin lama kelopak matanya semakin berat. Tak terasa kesadarannya terenggut alam mimpi hingga mata itu tertutup sempurna.
Di ruang tamu, semua telah pulang. Tinggal ia sendiri ditemani Daniel. Sengaja sahabat Desta itu mengajaknya untuk menghabiskan malam dengan bermain catur. Padahal ini adalah malam pertama Desta. Namun semenjak mengetahui fakta yang masih ia simpan rapat sendirian, membuatnya tak rela jika Desta melakukan sesuatu pada Diana.
"Lo tahu, sebenarnya gue tertekan dengan pernikahan ini. Apalagi Meta sudah bisa memaafkan gue. Bukankah seharusnya menikahinya saja tanpa harus tersiksa selama setahun ke depan?"
Tubuh Daniel berjengkit kaget. "Maksud Lo, pernikahan ini hanya sementara? Untuk apa?"
"Ya, begitulah. Bapak yang meminta. Karena ... Gue telah melecehkannya," lirih Desta.
Ada seberkas sesal terpancar dari hatinya. Namun hanya sekilas. Pria itu sangat pandai menutupi suasana hati dengan ekspresi dinginnya.
"Lalu apa yang akan Lo perbuat setahun ke depan?"
Senyum sinis tercetak di sudut bibir Desta. Tatapannya menerawang jauh. Dahinya mengkerut seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat besar.
"Gue akan membuat pernikahan ini seperti neraka baginya. Karena dia, gue harus kehilangan waktu setahun ke depan."
Tanpa Desta sadari, kedua tangan Daniel mengepal kuat. Rahangnya mengeras. Pria itu sedang menahan gejolak emosi karena mendengar ucapan sadis sahabatnya.
"Akan kupastikan Lo yang bertekuk lutut dan mengemis cinta padanya," ucap Daniel dalam hati.
Cukup lama mereka berdua menghabiskan malam di ruang tamu. Daniel memutuskan untuk pulang sekarang. Dia sudah tak tahan lagi mendengar rencana-rencana jahat sahabatnya untuk Diana.
"Sorry, Bro. Hue harus pulang. Nggak enak sama mertua Lo kalau tahu menantunya bukan menghabiskan malam pertamanya di kamar pengantin malah bermain catur dengan gue."
Daniel berdiri, menatap sekilas pada Desta yang terlihat enggan meninggalkan tempatnya.
"Jangan terlalu benci, bisa jadi Lo yang akan berbalik mengemis cinta padanya. Gue lihat, dia gadis yang baik. Berbeda dengan kekasihmu yang maja itu."
Desta menatap Daniel tak percaya. Kenapa sahabatnya bicara seperti itu? Bukankah kemarin justru pria di hadapannya ini yang meyakinkannya untuk tak tertipu dengan sikap lembut Diana? Kenapa sekarang berubah pikiran?
"Maksud Lo?"
"Jalani aja dulu. Siapa tahu mata hati Lo mulai terbuka setelah ini."
Kali ini Daniel benar-benar pergi. Tak mau lagi mendengar pertanyaan atau apapun dari Desta. Karena semenjak kesalahan yang dilakukannya di apartemen kemarin, ia sudah menemukan fakta besar yang akan mengubah sikapnya pada Diana ke depan.
***
Sepeninggal Daniel, pria yang beberapa jam lalu telah resmi menjadi seorang suami ini merenungi ucapan sahabatnya. Mencoba memahami apa yang barusan dilontarkan Daniel padanya. Namun semakin ia berpikir, otaknya semakin buntu. Kepalanya berdenyut nyeri. Hingga ia memutuskan untuk melangkah naik menuju kamar Diana.
Entah apa yang membawanya ke kamar gadis yang dibencinya itu. Perlahan ia membuka pintu bertuliskan "Diana's room" dan melangkah menuju ranjang.
Di kamar ini tak ada sofa yang bisa ia tiduri. Di hadapannya telah tergolek seorang gadis cantik yang telah resmi menjadi istrinya. Tatapannya terhenti pada wajah polos gadis itu. Sangat berbeda dengan Meta yang selalu ditutupi make up setiap hari.
"Kenapa ia tidur dengan memakai kerudung? Apa tidak kepanasan?" gumamnya lirih.
Sudut hatinya tiba-tiba nyeri mengingat perlakuannya pada perempuan di hadapannya ini. Karena perbuatan bej*tnya, mereka harus terjebak pada pernikahan tanpa cinta.
Perlahan ia melepas jas yang masih melekat pada tubuhnya. Lalu netranya memindai sekeliling. Ada sebuah koper yang ia kenal. Dengan cepat ia membukanya dan mengambil celana pendek serta kaos oblong untuk ganti.
Pria ia mandi dengan cepat. Selain karena matanya sudah sangat lelah, ia juga kedinginan berlama-lama di bawah guyuran air meski suhunya telah ia setel hangat.
Hatinya bimbang. Antara tidur di samping istrinya atau di lantai. Ia tak menemukan apapun untuk alas tidur di lantai. Hanya karpet bulu tipis yang sudah terpasang di samping ranjang. Itupun panjangnya nggak sampai dua meter.
Setelah berperang dengan batinnya sendiri, Desta memutuskan untuk berbaring di sisi Diana. Untung saja gadis itu tidur di satu sisi yang masih menyisakan space yang cukup luas untuknya.
Tiba-tiba, saat Desta sudah sempurna merebahkan tubuhnya di sisi lain, kedua kelopak mata gadis itu terbuka. Kilat ketakutan tercetak jelas dari raut wajahnya.
"Ke--kenapa tidur di sini?"
"Karena aku suamimu sekarang!"
Gadis itu tampak kebingungan. Sepertinya ia mengalami disorientasi sesaat. Tatapannya horor. Lalu sponta ia bengun dan turun dari ranjang.
"Apa yang akan dia lakukan?"