Dinikahi Calon Ipar
Maaf, Aku Khilaf
Pria berjambang tipis itu mencoba menghentikan Diana dengan mencekal lengannya. Tentu saja hal itu membuat sang gadis semakin geram dan ketakutan. Bayangan kejadian di apartemen beberapa waktu lalu terus berputar bak kaset rusak.
"Lepasin!" Diana mencoba menghentak tangannya agar cekalan itu lepas. Namun ia salah, tangan kekar pria itu makin menguat hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Dengerin aku dulu, baru nanti kulepas."
Menghembuskan napas lelah, perempuan berhijab itu mengangguk lemah. Tak ingin terlibat masalah lagi dengan pria ini. Namun nasib membawanya untuk kembali bertemu.
"Baiklah. Tapi tolong lepaskan tanganmu!"
"Oke, oke. Aku tak akan menyentuhmu. Sekarang bisakah kita bicara dengan nyaman?" Daniel berjalan menuju kursi panjang di dekat air mancur diikuti Diana dari belakang. Entah mengapa gadis itu mengekor meski sebagian hatinya was-was bukan main.
Namun ketika ia memutar bola matanya ke sekeliling terlihat ramai, ia menghembuskan napas lega. Setidaknya pria ini nggak akan berani macam-macam padanya. Kecuali ia rela menjadi bulan-bulanan masa jika ia berteriak nanti. Itu sih, cari mati namanya.
"Maaf," lirih Daniel setelah mendaratkan bobot tubuhnya di kursi taman.
"Maaf karena aku telah berprasangka buruk padamu. Maaf telah melukaimu dengan perbuatan bej*tku waktu itu. Tolong, beri kesempatan padaku untuk menebusnya."
"Kenapa kau tega melakukan itu? Padahal kita baru saja bertemu? Apa memang seperti itu kelakuanmu pada perempuan?"
"Tidak! Aku hanya ..."
"Hanya apa?" Diana sudah tak sabar dengan ucapan pria ini yang berbelit-belit. Duduknya mulai gelisah kala menyadari mereka berada pada kursi yang sama. Hanya berjarak beberapa jengkal saja.
Pria itu menatap sendu Diana, lalu membuang pandangannya ke sembarang arah. Hatinya seperti tertusuk ribuan jarum kala mengingat perbuatannya.
"Aku ... aku terhasut oleh cerita Desta. Maaf, seharusnya aku menyelidikimu dulu sebelum melakukan perbuatan keji itu. Padahal dengan penampilanmu seperti ini, tidak mungkin kamu menggodanya."
Pria itu menunduk. Merasakan penyesalan yang menyergap hatinya. Kebenciannya pada wanita penggoda membuat pria itu kalap. Siapapun yang suka mempermainkan makhluk berjenis laki-laki, pasti tidak akan segan pria itu untuk menyakitinya. Pengalaman hidupnya yang pahit, membuat ia sangat dendam pada perempuan seperti itu.
Dan ketika mendengar cerita sahabatnya, ia menyimpulkan sendiri wanita seperti apa Diana, hingga berujung penyesalan yang mendalam seperti ini.
Diana bergeming. Tak tahu harus menjawab apa. Yang jelas, hatinya terluka berujung trauma. Dalam waktu seminggu, ia dilecehkan dua kali. Dan itu membuat hatinya hancur berkeping-keping. Kesucian yang ia jaga selama ini, dihancurkan oleh dua pria yang saling bersahabat.
Padahal selama ia hidup, tak pernah sekalipun dekat dengan laki-laki. Ia juga selalu menutup auratnya dengan sempurna. Siapa sangka, ternyata ada saja cowok tak bermoral yang mencoba melecehkannya.
"Di, kamu mau memanfaatkan kesalanku, kan? Tolong, jangan diam saja. Apapun akan kulakukan asal kamu mau membuka pintu maafmu untukku."
Diana yang berhati lembut, tak tega melihat orang lain mengemis maaf padanya. Meski sudut hatinya masih nyeri kala mengingat perbuatan pria itu, tapi ia bukan manusia bebal yang tak mau berdamai.
"Bisa jadi pria ini memang sedang khilaf. Kalau Allah saja Maha pengampun, kenapa aku yang manusia biasa tak mampu memaafkan orang lain? Belum tentu juga aku tak pernah melakukan kesalahan," putus Diana akhirnya.
"Baiklah. Aku sudah memaafkanmu. Tolong jangan pernah mengulangi hal yang sama pada wanita mana pun."
Senyum pria itu mengembang sempurna. Ia yakin, suatu saat sahabatnya akan sadar jika perempuan yang dinikahinya karena terpaksa ini jauh lebih baik dari Meta yang manja dan materialistis itu.
"Kalau gitu, kita bisa berteman, kan?" ucap Daniel penuh harap. Dia sudah bertekad dalam hati untuk menjadi pelindung gadis di sampingnya ini meski tanpa diminta.
"Teman?"
"Ya, teman." Daniel mengulurkan tangannya pada Diana yang hanya ditatap datar olehnya.
"Aku tidak pernah berteman dengan lawan jenis. Selain tak suka, aku takut jadi fitnah."
Daniel speacless mendengar jawaban Diana. Untuk beberapa saat mereka bungkam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Maaf, aku harus pulang," ucap Diana bangkit meninggalkan pria itu sendiri.
"Tunggu! Aku antar?"
"Tidak."
"Ayolah, Di. Itung-itung sebagai permintaan maafku." Pria itu menyejajarkan langkahnya pada Diana yang terus maju meninggalkan tempat itu.
"Aku ini wanita bersuami. Tidak pantas pulang bersama pria lain. Lagipula kita bukan mahram. Tak boleh berduaan seperti ini."
"Kenapa tak boleh? Bahkan suamimu masih jalan sama Meta."
Tanpa sadar gadis bergamis mocca itu menghentikan langkahnya. Ia tahu hubungan antara suami dan adiknya. Namun kenapa saat orang lain yang mengatakannya rasanya sakit sekali?
"Karena mereka kekasih."
"Lalu untuk apa kamu menikah dengannya kalau dia masih berhubungan dengan kekasihnya?"
"Kenapa tak kau tanyakan saja pada sahabatmu itu? Kamu lebih tahu daripada aku."
Bendungan air mata yang berusaha ditahan akhirnya jebol juga.
"Kenapa kamu tidak menolaknya?" lirih Daniel hampir tak terdengar.
"Apa aku punya kuasa? Bahkan keluargaku sendiri tak mengatakan apapun soal pernikahan ini. Kupikir Meta lah yang jadi pengantin. Ternyata aku yang harus menajdi istri dari pria yang mencoba melecehkanku. Bukankah ini sangat tak adil?" Diana menyusut air mata yang sudah membentuk parit di kedua pipinya.
Beberapa orang yang berlalu lalang sempat menoleh ingin tahu dengan kedua manusia beda jenis ini.
"Bahkan sahabatmu itu menganggapku tak kasat mata. Seolah-olah aku ini makhluk halus yang tidak tampak di matanya."
Setelah mengatakan itu, Diana tak lagi mau bertahan di tempat itu. Ia terus melangkah menyusuri alun-alun di tengah terik mentari. Tatapan heran orang-orang tak dihiraukannya.
***
"Bik, kenapa rumah sepi sekali, kemana perempuan itu?" tanya Desta saat memasuki rumahnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat ia pulang. Namun rumah tampak lengang. Hanya ada bik Ijah yang bersiap untuk pulang.
"Maksud Aden non Diana? Dia keluar sejak pagi, Den."
Tampak pria itu menghembuskan napas lelah. Entah mengapa hatinya diliputi rasa bersalah mengingat ucapannya tadi pagi di meja makan. Bagaimana pun Diana sekarang sudah menjadi istrinya. Meski hatinya masih belum bisa menerima, tapi sebagai pria sejati ia harus bertanggung jawab atas pernikahan ini.
Dengan gontai ia melangkah menuju kamarnya. Setengah jam kemudian ia turun dalam keadaan segar. Rumah benar sepi sekarang. Entah dorongan dari mana, pria itu memilih untuk menunggu kepulangan sang istri.
Berkali-kali Desta melihat jam dinding berbentuk bulat yang terbuat dari ukiran kayu jati itu. Belum ada tanda-tanda kepulangan Diana. Matanya sudah mulai panas akibat lelah dan ngantuk. "Kemana wanita itu? Apa dia tidak berpikir sekarang sudah jam berapa? Apa dia pikir ini hotel yang bisa datang dan pergi seenaknya saja?"
Desta menatap pintu dengan gusar. Perasaannya tiba-tiba tak nyaman. Hingga deru mobil terdengar berhenti di halaman rumahnya. Hatinya menyuruh untuk mengintip dari balik korden. Namun otaknya mencegahnya untuk melakukan itu.
Suara pintu terbuka membuatnya memutar leher hingga melihat siapa yang masuk.
"Daniel? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa bersamanya?"