Dinikahi Calon Ipar
Panik
Suara pintu terbuka membuatnya memutar leher hingga melihat siapa yang masuk.
"Daniel? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa bersamanya?"
Desta menatap sahabatnya dengan tajam seolah menguliti setiap jengkal tubuhnya. Tangan kekar pria itu mengangkat istrinya yang seperti ... pingsan?
"I--itu kenapa dengan dahi dan tangannya?"
Daniel hanya menatap sekilas wajah sahabatnya, lalu berjalan melewatinya begitu saja. Satu per satu anak tangga ia lalui dalam diam. Diikuti Desta dari belakang yang masih penasaran dengan apa yang terjadi.
Dengan hati-hati Daniel membaringkan Diana di atas ranjang. Ia memperlakukan gadis itu dengan sangat lembut seolah Diana adalah guci mahal yang akan retak jika terlalu keras meletakkannya.
"Dan, katakan! Dia kenapa? Kenapa bisa bersamamu?" Desta menyeret tangan sahabatnya dengan kasar. Entah mengapa ia tak rela istrinya disentuh pria lain meski tidak ada cinta di hatinya.
Menghembuskan napas lelah, Daniel menatap netra kelam Desta dengan kesal. "Emang kamu peduli? Bukankah kamu lebih suka menghabiskan waktu dengan gadis manja itu?"
Tak percaya dengan ucapan sahabatnya, Desta mengepalkan kedua tangan di samping tubuh. Rahangnya mengeras dengan kilat mata menyala.
"Apa maksudmu? Kenapa Lo seolah membelanya? Atau ... jangan-jangan Lo suka sama dia?" kekehnya.
"Kalau iya emang kenapa?"
Spontan tangan Desta menarik kerah baju pria berjambang tipis itu dan menatapnya tajam.
"Lo tahu dia istri gue?"
Suara tawa Daniel menggelegar memenuhi lorong depan kamar Diana. Suaranya seolah mengejek sahabatnya yang sedang emosi.
"Cemburu, heh?"
"Jaga ucapan, Lo. Gue nggak cinta sama dia, untuk apa gue cemburu!"
Dengan senyum sinis, Daniel meninggalkan pria berkaos polo itu dengan santai. Ketika kakinya sampai di pertengahan tangga, ia berbalik dan meminta Desta untuk segera mengobati istrinya.
***
Dengan telaten Desta membersihkan luka di dahi dan lengan Diana. Setelahnya ia membalut luka itu dengan kain kasa dan plester. Dilihatnya gamis yang dikenakan perempuan cantik ini sobek di beberapa bagian dengan noda darah.
Seketika ia gugup kala menyadari bahwa ia harus mengganti pakaian istrinya. Keringat dingin sudah membanjiri pelipisnya. Tangannya gemetar ketika hendak membuka kerudung yang menutupi kepala gadis itu.
Ia bukanlah pria suci yang tak pernah melihat aurat wanita. Apalagi Meta, kekasihnya sering memakai pakaian seksi yang menampilkan lekuk tubuhnya. Namun entah mengapa ia merasa asing ketika harus membuka gamis perempuan yang biasanya selalu menutup auratnya dengan sempurna.
Untuk menetralkan degub jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya, Desta memilih untuk mengambil baju ganti terlebih dahulu. Lalu menenggak air minum yang ada di atas nakas.
Tangan pria itu masih gemetar saat meloloskan jilbab dan khimar istrinya. Untuk sesaat ia terpaku menatap wajah putih bersih tanpa polesan itu. Lalu matanya beralih pada surai legam dan lurus yang jatuh pada bantul dengan ikatan yang sudah terlepas entah sejak kapan.
Wanita ini, benar-benar sangat cantik. Cantik alami yang jarang dimiliki oleh wanita di luar sana yang full make up setiap hari. Ada rasa asing yang tiba-tiba menyeruak dalam dada.
Lalu netranya turun ke bawah. Hembusan napas lega terdengar di ruangan sunyi itu. Ternyata Diana masih memakai pakain rumahan di dalam gamisnya sehingga ia tak perlu melihat auratnya. Meski begitu, tampak jelas bentuk tubuh ramping dan padat yang selama ini tertutup baju gamis kebesarannya.
Susah payah Desta berjuang melawan gejolak di dalam dirinya. Bagaimana pun ia pria normal, dan dihadapannya adalah istri sahnya. Andai ia tak gengsi dan memikirkan nasib pernikahan sementara ini, sudah pasti ia akan melakukan kewajibannya sebagai suami malam ini dengan senang hati. Namun ia masih cukup waras untuk tak melakukannya. Apalagi sekarang kondisi wanitanya sedang terbaring lemah entah karena apa.
Dua puluh menit akhirnya gadis itu sudah kembali menutup auratnya dengan sempurna. Tentu saja Desta yang berjuang sendiri memakaikannya.
"Lo masih di sini?" Kenapa nggak pulang saja?" tanya Desta saat ia melihat Daniel berbaring di sofa ruang tamu. Ia berniat untuk mengambil air minum ke dapur tadi. Namun matanya menangkap sosok yang terbaring sini.
"Gue pikir Lo ingin tahu kenapa Diana bisa seperti itu. Kalau nggak butuh penjelasan, gue bakal pulang sekarang." Pria yang sejak pagi tadi bersama Diana itu bangkit dan hendak melangkah menuju pintu.
"Jelaskan!"
"Ck, tak bisakah Lo sedikit sopan pada Gue?"
"Jangan banyak omong! Jelaskan kenapa kalian bisa bersama dan apa yang terjadi padanya?"
Daniel menyugar rambutnya kasar. Tatapan matanya menghujam dalam ke manik kelam pria di hadapannya. Sedikit menilai apakah ia harus jujur atau tidak. Semenjak ia tahu jati diri Diana sesungguhnya, Daniel menjadi benci terhadap sahabatnya ini.
"Tadi pagi gue ketemu di di taman dekat alun-alun. Nggak sengaja," imbuhnya. "Dia terlihat sangat sedih saat itu. Lalu ... gue mendekat. Ternyata dia bukan cewek gampangan seperti yang kita kira. Bahkan ia sangat menjaga jarak dari gue."
Desta tampak fokus mendengar penjelasan sahabatnya. Tak sedikit pun berusaha menyela atau menanggapi.
"Bahkan saat gue menawarkan tumpangan untuk pulang bareng, dia menolak mentah-mentah dengan alasan dia sudah jadi istri orang. Dia harus bisa menjaga kehormatannya meski tahu Lo masih menjalin hubungan dengan perempuan manja itu."
"Dia punya nama, Dan. Meta. Namanya Meta," tekan Desta dengan nada kesal.
"Whatever. Yang jelas gue bisa menilai sekarang. Siapa yang lebih baik dari keduanya. Dan Lo tahu? Saat ia berusaha lari dari gue yang hanya ingin mengantarnya pulang, ada sebuah motor melaju kencang hingga membuatnya terserempet. Untung tidak terlalu parah."
Kedua mata Desta melotot sempurna sekarang.
"Lalu kenapa sampai malam baru pulang? Dan kenapa ia pingsan?"
Daniel menjelaskan alasan kenapa wanita itu baru dibawanya pulang. Padahal kejadiannya siang. Tentu saja ia menutupi beberapa hal yang menjadi rahasia mereka berdua. Ya, hanya mereka berdua yang tahu hingga suatu saat mereka yakin untuk membongkarnya.
"Sebaiknya Lo buatkan makanan untuknya karena seharian ini ia belum makan sama sekali." Dia tidak pingsan. Hanya terpengaruh obat saja."
Kali ini Daniel benar-benar pergi meninggalkan Desta dengan berjuta tanda tanya di benaknya. Bohong jika ia tak sakit hati melihat betapa dekatnya sahabat dan istrinya sekarang.
Bahkan dia sendiri yang notabene suami, belum mampu berkomunikasi secara normal dengan wanita itu. Egonya yang besar menahannya untuk berdamai dengan keadaan. Ditambah lagi Meta yang semakin hari semakin lengket dan posesif.
***
Suara derit pintu mengalihkan fokus gadis yang terbaring di atas kasur Queen zise. Setengah jam lalu ia terbangun dari tidurnya yang terasa sangat nyaman. Ini pertama kalinya ia bisa tertidur sepulas itu pasca insiden pelecehan itu. Entah karena pengaruh obat yang diminumnya atau karena fakta baru yang membuatnya bahagia.
"Sudah bangun?" tanya Desta mendekat sambil membawa sebuah nampan berisi semangkok bubur dan segelas susu.
"Ya. Ke--kenapa kamu bisa ada di sini, Mas?"
"Merawatmu. Kamu lupa dengan kejadian yang menimpamu?"
"Hah?" Bulu mata lentik gadis itu mengibas-ngibas bak sayap kupu-kupu yang hendak terbang. Sangat cantik.
Ia tak percaya dengan apa yang disaksikannya saat ini. Bukannya menjawab pertanyaan sang suami, gadis itu justru mencubit tangannya sendiri. "Auw!"
"Kenapa? Apanya yang sakit?" tanya Desta panik. Ia segera meletakkan nampannya di atas nakas lalu memeriksa tubuh Diana.
"Apa aku masih tidur sehingga bisa bermimpi seindah ini?"