Dinikahi Calon Ipar

Kedekatan Istri dan Sahabatnya

Cahaya mentari menembus ventilasi saat Diana telah bersiap untuk kembali ke sekolah. Tiga hari cuti karena nikah dadakan itu, membuatnya bosan di rumah. Ditambah lagi pasca kecelakaan, Desta benar-benar melarangnya untuk melakukan sesuatu. Entah apakah ia harus senang atau sedih atas perhatian suaminya itu. 

 

Lelaki yang begitu dingin dan jutek tiba-tiba berubah jadi perhatian saat ia sakit. Apa ia harus sakit saja agar suaminya seperti itu terus? 

 

Setelah memastikan semua barang bawaannya lengkap, perempuan yang baru tiga hari menyandang gelar istri itu turun menuju ruang makan. Langkahnya terhenti kala di sana sudah ada dua orang pria dengan wajah tegang. Baru saja ia akan berbelok untuk langsung ke pintu samping, Daniel sudah lebih dulu memanggilnya. 

 

"Diana! Mau kemana? Kamu sudah baikan?" tanya pria itu perhatian. 

 

Sudah tertangkap basah, mau tak mau gadis yang dipanggil itu kembali berjalan menuju meja makan. Ekor matanya melirik sang suami yang makan dalam diam. Namun aura yang menyelimutinya terasa menyeramkan. Sepertinya dia sudah kembali ke mode awal. Dingin dan datar. 

 

"Masa cutiku sudah habis, Bang. Aku harus kembali bekerja. Lagipula, bosan di rumah terus," ucap Diana sambil duduk di samping suaminya. 

 

Desta memicingkan mata mendengar panggilan Diana pada Daniel, sahabatnya. Sejak kapan mereka bisa seakrab itu? Bukankah pria di depannya ini juga sangat membenci gadis berhijab di sampingnya ini? 

 

Diana mengambil selembar roti yang telah diolesi selai kacang dan meminum susu cokelat yang telah dibuatkan bik Ijah untuknya. Keduanya terlibat obrolan ringan. Sesekali Diana menampilkan senyum manisnya. Tanpa ia sadari, pria yang duduk di sebelahnya sudah mengeraskan rahangnya. 

 

"Kalau sudah selesai sarapannya, segera pergi dari sini! Dasar nggak tahu malu, pagi-pagi sudah bertamu!"

 

Mendapat sindiran seperti itu tak membuat Daniel tersinggung. Ia justru menampilkan gigi-giginya yang rapi sambil terkekeh. Merasa senang sudah bisa menghancurkan mood sahabatnya sepagi ini. 

 

"Gue mau numpang sarapan."

 

"Emang perusahaan Lo sudah bangkrut sampai sarapan aja harus numpang di rah gue?" Desta mengelap mulutnya dengan tisu dan menyesap susu putihnya hingga tandas. Tatapan matanya begitu tajam tepat mengenai manik sahabatnya yang begitu santai menikmati makanan. 

 

"Perusahaan gue malah makin berkembang. Sekarang sudah mau buka cabang baru kalau Lo mau tahu. Tapi, di rumah gue gak bisa sarapan sendiri. Enakan di sini, bisa sarapan dengan ditemani perempuan cantik nan shaleha, ya nggak?" Pria itu menaik-turunkan alisnya sambil nyengir. 

 

"Terserah, Lo!" 

 

Dengan sedikit menghentak, Desta bangkit dan meninggalkan dua orang yang sedang menahan senyum itu. Dia pergi ke kantor dengan perasaan dongkol. Entah atas alasan apa ia begitu tak suka melihat sahabatnya mulai caper pada istrinya. Bahkan secars terang-terangan ia menunjukkan rasa simpatinya pada perempuan yang ia benci. 

 

Sepeninggal Desta, kedua orang itu tersenyum lebar. Tentu saja hal itu tak luput dari perhatian bik Ijah. 

 

"Mau kuantar?"

 

"Nggak usah, Bang!" 

 

"Kenapa? Motormu masih di apartemenku, kan?" 

 

"Astaghfirullah, iya ya. Kok aku bisa lupa. Pantesan aja seperti ada yang hilang gitu. Ya udah, deh. Nanti pulangnya jemput lagi ya, sekalian ambil motor." 

 

"Ya, tapi nanti kita ke rumah sakit dulu ya?" 

 

"Untuk? Lukaku dah sembuh lo, Bang! Nggak usah ke dokter lagi. Tinggal diolesi salep aja tiap hari, nanti juga hilang bekasnya."

 

"Bukan untuk itu. Ini lebih penting dari sekadar lukamu." 

 

Sebenarnya Diana masih sangat penasaran dan ingin bertanya lebih lanjut. Namun waktu yang terus berputar membuatnya mau tak mau harus segera berangkat. 

 

Mobil sedan mewah milik Daniel sudah melaju bersama para pengendara lain di jalanan. Tak henti-hentinya pria itu melirik perempuan di sampingnya sambil tersenyum. Dadanya berdegup kencang menanti saat-saat yang ia tunggu. 

 

Sejak mengetahui fakta beberapa hari lalu, ia segera menyewa detektif swasta untuk menguak informasi tentang masa lalu wanita di sampingnya ini. Dan ternyata digaannya benar. Kini tinggal menunggu satu bukti lagi yang akan menguatkan praduganya. 

 

Tanpa mereka sadar, sebuah mobil mengikuti mereka dari belakang. Pengemudinya terlihat sedang menahan gejolak amarah. Kedua tangannya mencengkeram erat setir mobil dengan mata nyalang. Siapa lagi kalau bukan Desta?

 

Tadi, setelah ia pergi dari meja makan, ia langsung menjalankan mobilnya dan menepi di pinggir jalan sambil menunggu Daniel. Ia menduga sahabatnya pasti akan melakukan banyak cara untuk membujuk istrinya agar mau diantar ke sekolah. Dugaannya seratus persen benar. Kini ia melihat istrinya berada dalam mobil sahabatnya menuju sekolah tempatnya mengajar. 

 

Yang membuat Desta tak habis pikir, untuk apa ia melakukan hal ini. Ia sendiri zangat membenci perempuan itu. Namun entah mengapa sisi lain hatinya selalu menyuruh untuk melakukan sesuatu di luar logikanya. 

 

Pria dingin tapi tampan itu rela membuang waktu yang begitu berharga demi bisa melihat dua orang itu. 

 

"Ternyata benar dugaanku. Mereka sangat dekat dan terlihat sangat akrab. Apa ada yang istimewa di antara mereka? Atau dua orang ini sengaja menjalin hubungan diam-diam dan akan menikah ketika kami berpisah kelak?" 

 

Memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu membuat dada Desta terasa sesak alih-alih senang karena ia bisa kembali pada cintanya yang tertunda. 

 

***

 

Daniel benar-benar menepati janjinya. Ia datang menjemput Diana. Satu jam ia sudah menunggu di pinggir jalan. Namun Diana masih belum ada tanda-tanda akan keluar. 

 

Senyum pria itu terus mengembang karena ia sudah tahu hasilnya terlebih dahulu. Dan ia sudah tak sabar untuk memberitahukan hal ini pada Diana. 

 

"Abang beneran jemput?" Ucapan Diana membuat pria berkaca mata hitam.itu melonjak kaget. 

 

"Tentu saja. Tapi janji nanti nggak bakalan nagis ya," ucap Daniel lalu memutar kunci hingga terdengar suara mesin mobilnya menyala. Ia menoleh sebentar memamerkan senyumnya lalu menginjak kopling dan memasukkan gigi bersamaan. Beberapa detik kemudian mobil melaju dengan kecepatan sedang. 

 

"Sebenarnya untuk apa kita ke rumah sakit ini, Bang? Siapa yang sakit?" 

 

"Nggak ada yang sakit. Yuk!"

 

Daniel berjalan lebih dulu ruang dokter yang dipercaya untuk mengatasi masalah ini. Ia mengetuk pintu ruangan bertuliskan nama dokter dan gelarnya. Setelah mendapat izin untuk masuk, keduanya melangkah menuju ruangan itu. 

 

"Bagaimana hasilnya, Ri?" Desta langsung menodongkan pertanyaan pada dokter Fahri yang merupakan dokter keluarganya. 

 

"Seperti dugaanmu. Bukankah kamu sudah mendapatkan salinannya?"

 

Daniel hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala yang nggak gatal. Sementara Diana yang tak tahu apa-apa hanya bergeming sambil menyaksikan keakraban dua pria ganteng di hadapannya. 

 

Sebuah amplop putih berlogo rumah sakit tempat mereka berada disodorkan dokter Fahri pada Daniel yang diterima dengan tangan gemetar. Meski ia sudah tahu hasilmya dari sang detektif, rasanya jauh berdebar-debar saat ia membaca sendiri. 

 

Diana yang ikut membaca hasil tes laboratorium itu hanya bisa melotot dengan bibir bergetar. Air matanya sudah hampir jatuh menuruni kedua pipi mulusnya. 

 

"Tadi sudah janji nggak bakalan nangis, kan? Kenapa malah mewek sekarang?"

 

"Bang, ... ini ... bukan mimpi, kan? Be--benarkah apa yang kulihat ini?" Gadis itu terlihat menahan gejolak yang membuncah dari dalam dadanya. 

 

"Iya. Ini nyata."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!