Dinikahi Calon Ipar

Bertemu Kakak Kandung

"Bang, ... ini ... bukan mimpi, kan? Be--benarkah apa yang kulihat ini?" Gadis itu terlihat menahan gejolak yang membuncah dari dalam dadanya. 

 

"Iya. Ini nyata."

 

Bendungan air mata yang sudah ia jaga agar tetap terkumpul di tempatnya akhirnya jebol. Diana tak kuasa menahan haru dan bahagia. Keduanya berpelukan di depan dokter Fahri yang ikut bahagia menyaksikan drama keluarga itu. 

 

Selama ini Daniel sering menceritakan soal adiknya yang hilang. Dan setelah insiden di apartemen waktu itu, ia yakin kalau Diana adalah adiknya. Saat ia mencoba untuk melecehkan gadis itu, matanya menangkap bekas luka di pundak akibat ulahnya dulu waktu kecil. Namun awalnya ia masih belum meyakininya. Baru setelah melihat liontin yang hanya ada dua di dunia ini karena dibuat khusus dengan ukiran nama itu, ia semakin yakin bahwa Diana adiknya yang hilang. 

 

Tak butuh waktu lama baginya untuk tahu jati diri Diana setelah menyewa detektif swasta. Saat ia menemukan sang adik sedang bersedih di alun-alun tiga hari lalu, ia akhirnya bisa meyakinkannya kalau mereka kakak adik. Itulah sebabnya gadis itu pulang malam. Kecelakaan itu terjadi karena Diana merasa kesal dengan cerita Desta yang dianggapnya hanya rekayasa. 

 

Kini, keduanya berjalan menuju parkiran untuk pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.10 wib. Rencana mereka untuk mengambil motor ke apartemen ditunda karena Diana ingin langsung pulang dan istirahat. 

 

Sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan menceritakan kehidupan masing-masing selama berpisah. Diana tak henti-hentinya tersenyum karena telah bertemu keluarga kandungnya. Bahkan selama ini ia tak pernah tahu jika dia hanyalah anak angkat di keluarga yang membesarkannya. 

 

"Bang, kalau kita bersaudara, bagaimana dengan pernikahanku? Berarti nggak sah dong?" Tiba-tiba Diana merasa panik kala menyadari nasib pernikahannya. 

 

Daniel menoleh sesaat lalu mengusap puncak kepala adiknya penuh sayang. Bibirnya tertarik ke atas meski tatapannya tetap fokus pada jalanan.

 

"Tenang saja, pernikahan kalian tetap sah di mata hukum dan agama."

 

"Tapi bagaimana mungkin?"

 

Seolah paham dengan apa yang dipikirkan adik semata wayangnya, Pria yang semakin tampan dengan balutan kemeja warna navy yang lengan digulung ke atas hingga ke siku itu menepikan mobilnya lalu merubah posisi duduk menyamping menghadap sang adik. 

 

"Karena abang yang jadi wali nikah kalian kemarin."

 

"Kok bisa? Apa mereka tahu kalau kita kakak adik?"

 

Pria itu menggenggam kedua tangan Diana dengan tatapan lembut. 

 

"Tidak ada yang tahu kecuali kita dan Fahri." Diana hendak bertanya lagi, tapi Daniel kembali berkata. "Mereka tidak peduli siapa yang jadi wali nikah. Karena mereka hanya menganggap pernikahan kalian pura-pura. Kamu ingat, siapa yang harusnya menikah?"

 

Diana mengangguk. Ia tahu jika ia hanya menjalankan apa yang sudah direncanakan keluarga angkatnya. Ia juga tahu jika rumah tangganya hanya dibatasi satu tahun. Setelah itu suaminya akan kembali pada Meta. Adiknya. Ah, ternyata hanya adik angkat. Pantas saja nggak pernah sopan padanya. 

 

"Apa itu juga yang membuat Desta memisahkan kamarnya? Ia tak mau sekamar meski sudah menikah, karena menganggap pernikahan ini hanya pura-pura." Diana memutar otaknya dan berpikir keras. Menduga-duga atas apa yang menimpanya akhir-akhir ini. 

 

"Bolehkah aku berharap atas pernikahan ini? Bagaimana pun aku ingin hanya menikah sekali seumur hidup," batin Diana bersenandika. 

 

Daniel membiarkan sang adik berkelana dengan pikirannya. Tak ingin mengganggu hingga gadis itu tersadar bahwa masih ada dirinya di hadapannya. 

 

"Lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya, Bang? Aku nggak mau rumah tanggaku seperti neraka. Bukankah tujuan dari menikah itu untuk mencari sakinah? Bagaimana mungkin bisa tenteram jika suamiku yang menjadi imam justru memilih untuk banyak menghabiskan waktu luangnya bersama kekasih daripada rumah tangga barunya?" 

 

"Biarkan tetap seperti ini. Jangan sampai mereka tahu tentang kita sampai tiba waktunya nanti. Sekarang abang tanya sama kamu, apa yang kamu inginkan?"

 

Gadis berhijab itu menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia ingin mengatakan sesuatu pada sang kakak. Namun ia malu untuk mengutarakannya. 

 

"Kamu mencintai Desta?"

 

Seketika Diana mendongak. Namun mulutnya terasa terkunci. Mulutnya membuka dan menutup tanpa suara. 

 

"Baik. Abang bisa menyimpulkan. Kalau kamu mau berjuang untuk rumah tanggamu, abang cuma bisa mendukung saja. Akan abang bantu supaya dia jatuh cinta sama kamu."

 

Pria itu menjelaskan rencanannya pada sang adik untuk bisa mendapatkan cinta dari Desta. 

 

***

 

Diana masuk ke rumah dengan langkah ringan. Senyum berkembang menghiasi wajahnya. 

 

"Dari mana kamu?"

 

Diana berjengkit. Ia pikir suaminya masih di kantor. Namun ia salah. Pria itu sedang duduk di sofa dengan kaki menyilang dan tangan bersedekap.

 

鈥Dari ngajar, Mas."

 

"Sampai jam segini?" Desta bangkit dan melangkah mendekat. "Kamu lupa sedang tinggal dimana?"

 

Susah payah Diana menelan ludahnya. Jarak mereka yang semakin dekat membuat tubuhnya panas dingin. Ia binggung dengan perubahan sikap suaminya yang begitu cepat. 

 

"Maaf, Mas." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Lalu bergerak menjauh menuju kamarnya. 

 

Ia tak tahu jika pria yang menjadi suaminya beberapa hari lalu terus menatapnya hingga bayangan tubuhnya lenyap ditelan pintu. 

 

Desta bingung dengan sikapnya sendiri. Tiba-tiba ia merasa tidak suka kalau Diana mengabaikannya. Apalagi melihat kedekatannya dengan Daniel. Padahal dia sangat membencinya. 

 

"Argh, kenapa bisa seperti ini?" geramnya sambil mengusak kasar rambutnya sendiri. Pikiran lelaki itu kacau sekarang. Bayangan senyum Diana yang begitu indah pada Daniel membuat darahnya mendidih. 

 

"Kurang ajar! Tidak ada yang boleh membuatnya tersenyum seperti itu. Dia hanya perempuan hina yang merusak hubungannya dengan sang kekasih. Tak sepantasnya wanita itu bahagia." 

 

"Den, a--ada mbak Meta di luar. Apa Aden mau menemuinya atau bibik suruh pulang aja?"

 

Sebenarnya saat ini ia tak ingin menemui kekasihnya. Ia hanya ingin menenangkan hatinya yang mulai kacau. Apalagi jam delapan malam ia harus ke rumah sakit untuk operasi pasien. Jika kekasihnya itu datang, sudah pasti moodnya akan semakin buruk. 

 

"Bilang saja aku nggak di rumah, Bik."

 

"Tapi, Den. Dia nggak mau pergi. Dia melihat mobil Aden di depan. Nggak percaya kalau Aden sedang pergi," jawab bik Ijah ragu-ragu. 

 

Pria itu menatap jam dinding, baru pukul 16.30, masih ada waktu sebenarnya. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Desta membiarkan Meta untuk masuk. 

 

"Sayang, kenapa lama banget sih? Pembantumu itu sekarang mulai kurang ajar tahu nggak sih? Masa aku dilarang masuk ke rumahmu? Padahal dia kan tahu aku ini pacarmu," ucap Meta merajuk. 

 

Ia mendaratkan bobot tubuhnya di sofa dekat sang kekasih. Seperti biasa ia akan bergelayut manja di lengan pria itu. Jika dulu hal itu sangat disukai Desta, tapi tidak untuk sekarang. Pria itu berusaha melepas belitan tangan gadisnya karena merasa risih. 

 

"Jangan begini, Ta, ada bik Ijah. Aku takut ia akan berpikir macam-macam tentang pernikahanku," bisiknya di telinga gadis manja itu. 

 

"Emangnya kenapa? Dia juga tahu kalau aku kekasihmu kan?"

 

"Iya, itu dulu. Tapi sekarang dia tahunya aku sudah menikah dengan Diana, Ta. Tolong jangan mempersulit keadaan." 

 

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Kakinya menghentak lalu bergeser sedikit menjauh. 

 

"Ada apa kemari? Sebentar lagi aku harus berangkat ke rumah sakit. Pulanglah!" lirih Desta.

 

"Kamu mengusirku? Apa sekarang aku sudah tak ada artinya lagi bangimu?"

 

Entah sejak kapan Desta mulai membenci drama yang dimainkan kekasihnya ini. Sikapnya yang selalu ingin menang sendiri membuatnya muak. Ia baru saja hendak berdiri meninggalkan gadis berpakaian seksi itu, tapi nelihat Diana menuruni tangga ia mengurungkan niatnya. 

 

Spontan ia menarik kekasihnya mendekat dan berubah romantis. Tentu saja Meta tak melewatkan kesempatan ini. Hatinya hancur ketika sadar bahwa Desta melakukan itu karena ada kakaknya. Setelah perempuan yang dianggap perusak hubungannya itu berlalu tanpa menoleh pada mereka, Desta pergi meninggalkannya begitu saja. 

 

"Puas sekarang?" teriak Meta di belakang kakaknya. 

 

Diana yang baru saja hendak menyesap teh lemon buatan bik Ijah menoleh padanya. Menampilkan senyum indahnya tanpa merasa tersinggung sama sekali. Apalagi setelah tahu kalau mereka bukan saudara kandung, Diana tak lagi merasa harus menjaga perasaan gadis di hadapannya ini. 

 

"Emangnya apa yang sudah kulakan, Ta?" ucapnya dengan nada lembut seperti biasa.

 

Ia tek boleh terpancing dengan apa yang diucapkan adik angkatnya ini. 

 

"Kamu lupa telah merebut Destaku? Dan sekarang dia juga telah mengabaikanku," teriak Meta hingga membuat bik Ijah yang berada di samping rumah masuk demi melihat keributan itu. 

 

Gadis yang selalu anggun dengan balutan jilbab dan khimarnya itu lagi-lagi tersenyum manis. Lalu berjalan mendekat ke arahnya dengan tenang. Tak ada lagi sikap gugup dan takut seperti sebelumnya. Tingkat kepercayaan diri Diana meningkat kala mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. 

 

"Kamu lupa siapa yang menjebakku dalam pernikahan ini? Aku bahkan tak pernah tahu kalau akan dinikahkan dengan kekasihmu. Tak ada seorang pun yang memberitahuku waktu itu. Lalu di mana salahku?"

 

Skak mat. Apa yang dikatakan Diana seratus persen benar. Dia nggak salah. Karena dia dipaksa menerima pernikahan itu. 

 

Tanpa mereka sadari seseorang memerhatikan interaksi kakak-adik itu dari tangga. Bibirnya sedikit berkedut melihat perdebatan itu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!