Dinikahi Calon Ipar

Mengalahkan Ego

Desta terus mengamati dua wanita yang sedang bertengkar di dapurnya. Dari jarak sekian, ia bisa melihat sikap tenang yang ditunjukkan istrinya. Berbanding terbalik dengan Meta yang berapi-api mencecar kakaknya. 

 

"Meta, lebih baik kamu pulang kalau cuma buat gaduh di rumahku! Lagipula, dia kakakmu, harusnya kamu bisa bicara sopan padanya," ucap Desta tanpa emosi. 

 

Seperti biasa, ia menampilkan wajah datarnya ketika di hadapan Diana. Karena tak ingin wanita itu salah paham dengan sikapnya. 

 

"Dan kau, Diana, kembalilah ke kamarmu. Malu di dengar bik Ijah dan mang Asep!"

 

"Iya, Mas." Perempuan berhijab itu melangkah meninggalkan adiknya yang masih diliputi amarah. Melewati sang suami sambil menunduk. 

 

Desta yang sejak tadi mencuri pandang padanya merasa kesal karena tak dilirik sama sekali. 

 

"Kenapa kamu malah membelanya? Apa sekarang kamu sudah mulai mencintainya?" teriak Meta yang masih bisa didengar oleh Diana. 

 

"Kamu ngomong apa sih? Aku hanya nggak ingin ada yang mendengar pertengkaran kalian." Desta menoleh ke kiri dan kanan memastikan bik Ijah sudah pergi dari sana. 

 

"Kamu tahu pernikahanku hanya pura-pura. Aku bahkan benci melihat wajahnya yang sok alim itu. Jadi kamu jangan berpikir macam-macam, oke?" 

 

Meta terlihat sudah bisa mengendalikan diri. Sudut bibirnya tertarik ke atas lalu mendekat ke arah sang kekasih. 

 

"Tapi kenapa kamu melarangku kemari, aku kan kangen, sayang," perempuan itu sudah kembali ke mode awal. Manja dan ganjen. 

 

"Karena aku nggak mau bik Ijah dan mang Asep tahu kita masih berhubungan sementara di rumah ada Diana. Bik ijah pasti akan melapor pada Mommy kalau ketahuan aku masih bersamamu sementara aku sudah menikah."

 

Lagi-lagi Meta mengerucutkan bibirnya. "Harusnya aku yang jadi istrimu, bukan dia. Jadi tak perlu sembunyi-sembunyi jika ingin bertemu."

 

Pria itu menghela nafas lelah. Nggak mengerti dengan jalan pikiran kekasihnya ini. Bukankah dia sendiri yang menolak dinikahi karena insiden itu? Dan keluarganya sendiri yang memaksanya untuk menikahi Diana, lalu mengapa seolah-olah dirinya dan Diana yang salah. 

 

Setelah berhasil membujuk gadisnya untuk pulang, lelaki itu berjalan menuju kamarnya. Saat melintasi kamar Diana yang sedikit terbuka, ia menghentikan langkahnya. Entah mengapa ia selalu ingin memerhatikannya diam-diam. 

 

Dari dalam kamar itu terdengar sang istri sedang tadarus Al-Qur'an. Suaranya yang merdu membuatnya betah berlama-lama di sana. Bacaan itu membuatnya merinding. Ada getar tak biasa menyusup dalam aliran darahnya. 

 

Bahkan selama ia pacaran sama Meta, tak pernah sekalipun ia mendengar kekasihnya itu mengaji atau melaksanakan salat. "Kenapa dua wanita yang lahir dari rahim yang sama memeiliki karakter dan kebiasaan yang berbeda? Padahal mereka diasuh dan dibesarkan oleh orang yang sama," batin Desta berkata. 

 

Ia menyandarkan punggungnya di tembok dekat pintu kamar Diana. Memejamkan mata sambil menghayati setiap ayat yang dia dengar. Hatinya damai meski tak paham arti bacaan itu. Cukup lama ia berada pada posisi itu hingga Diana menyudahi tadarusnya dan keluar untuk mengambil air minum ke dapur. 

 

"Ma--mas, ngapain berdiri di sini?" 

 

Spontan pria itu membuka mata dan menegakkan tubuhnya. Ia gelagapan karena tertangkap basah menguping di depan kamar Diana. Tiba-tiba otaknya blank. Tak tahu harus berkata apa untuk membuat alasan. 

 

"Mas?" Sekali lagi Diana menyadarkan suaminya. Wajahnya menyiratkan kebingungan yang nyata. Bertanya-tanya dalam hati untuk apa pria yang membencinya ini berdiri di depan kamarnya. 

 

"E--eh, saya cuma mau bilang, nanti malam mau ke rumah sakit. Ada jadwal operasi. Kalau saya sudah berangkat, tutup semua pintu dan jangan biarkan siapapun masuk."

 

"Hah?" Diana benar-benar tak paham dengan sikap lelaki di depannya ini. Bukankah tadi ia bilang pada adiknya kalau dia sangat membencinya? Kenapa tiba-tiba dia pamitan mau ke rumah sakit? Biasanya juga pulang dan pergi tanpa permisi. 

 

Melihat istrinya yang melamun, pria itu tak melewatkan kesempatan untuk kabur dari sana. Ia merutuki kebodohannya yang bicara seperti itu. "Bagaimana kalau ia mengira aku peduli padanya? Argghh! Ada apa, sih denganku?" 

 

***

 

Beberapa hari setelah kejadian ia tertangkap basah menguping istrinya mengaji, Desta memikirkan cara supaya bisa mendengarkan ayat-ayat itu lagi tanpa ketahuan. Ia mulai kecanduan dengan bacaan itu. Namun gengsinya sangat besar untuk berkata jujur dan meminta Diana untuk membacakan Al-Qur'an untuknya. 

 

Di sinilah ia sekarang. Di kamar Diana yang sedang ke sekolah untuk mengajar. Tadi pagi ia sengaja berangkat ke kantor. Namun dua jam kemudian ia kembali pulang dan membuka kamar perempuan itu dengan kunci cadangan. 

 

Pertama kali ia melangkah masuk, aroma menenangkan langsung menyeruak ke paru-parunya. Ia mengamati setiap sudut ruangan berukuran 4x5 meter ini dengan saksama. Ada kaligrafi bertuliskan Allah dan Muhammad tergantung di salah satu dinding. Sementara di dinding lainnya terdapat beberapa potongan ayat Alquran dalam bentuk kaligrafi yang indah. Tempat tidurnya tertata rapi dan wangi. 

 

Pria itu membaringkan tubuhnya di kasur empuk berlapis sprei motif sakura itu. Menghirup aroma vanila kesukaan Diana. Pikirannya pun mulai traveling ke mana-mana, melupakan tujuan awalnya masuk ke kamar ini. 

 

Tiba-tiba bunyi notifikasi HP membuatnya sadar. Ia segera bangkit dan membuka gawainya. Pesan dari rumah sakit yang memintanya datang untuk operasi pasien dua jam lagi. Ia segera melaksanakan tujuannya. Memasang alat penyadap di bawah meja rias Diana. Senyumnya mengembang kala benda kecil itu telah terpasang sempurna. Lalu keluar dan mengunci kembali pintunya. 

 

鈥Dokter, anda sudah datang?" 

 

"Ya."

 

"Pasien sudah di ruang operasi, apa bisa dilakukan sekarang?" Seorang perawat menanyakan kesiapan Desta untuk melakukan tugasnya. 

 

"Lima menit lagi saya menyusul. Saya bersiap dulu," Desta melangkah menuju ruangannya dan segera berganti pakaian khusus untuk operasi. 

 

Satu jam berkutat dengan pisau bedah, akhirnya pria yang menjadi idola para perawat itu keluar dengan senyum mengembang. Ia mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya dan memejamkan mata. Bibirnya berkedut menyadari apa yang telah ia lakukan. 

 

Kini ia seperti pencuri yang diam-diam mengamati sang istri. Bukan tanpa alasan ia melakukan itu. Ia rindu mendengarkan suara istrinya mengaji. Namun egonya tak mau mengakui. Ia malu jika kembali menguping dan tertangkap basah lagi. Sehingga ia berinisiatif untuk menyadap kamar Diana supaya bisa mendengar bacaan itu lagi. 

 

Ah, Diana. Ternyata pesonamu sungguh luar biasa. Aku tak mampu membencimu selamanya meski ingin. Kehadiranmu telah menjungkirbalikkan duniaku. Andai pernikahan kita bukan pura-pura ... ah, kenapa semuanya jadi semakin rumit begini? 

 

Desta berusaha menetralkan d gub jantungnya yang menggila setiap kali mengingat Diana. Belum genap sebulan ia hidup seatap dengan wanita itu, tapi ia sudah hampir goyah dengan pendiriannya. 

 

Lelaki itu mengacak rambutnya kasar. Membenci hatinya yang mulai berubah. "Apa ... aku mulai mencintai wanita itu? Tidak. Todak mungkin secepat itu. Dia sama sekali bukan tipeku. Lihatlah cara berpakaiannya yang kampungan. Selalu tertutup dan nggak modis sama sekali. Jelas itu bukan tipeku," batin Desta menyangkal. 

 

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Seorang perawat masuk untuk memberikan data pasien yang sedang dalam pantauannya. 

 

"Sebentar lagi jadwal Dokter visit," ucap perawat itu mengingatkan. 

 

Desta mengangguk lalu berdiri keluar ruangan. Satu per satu pasien ia datangi. Menanyakan keluhan masing-masing dengan perhatian. Meski di luar ia terkesan dingin dan datar, tapi tidak dengan para pasiennya. Ia sangat ramah dan lembut. Hal itu membuat para pasien yang dirawatnya senang. 

 

"Setelah ini apa ada jadwal operasi lagi?"

 

"Tidak ada, Dok."

 

"Baiklah, kalau gitu saya langsung pulang."

 

Rencanakan Desta akan menjemput sang istri di sekolah. Sekarang sudah jadwalnya pulang. Entah dapat dorongan dari mana ia melakukan itu. 

 

Mobil yang ditumpanginya berhenti di depan sekolah tempat Diana mengajar. Ia menunggu istrinya keluar dengan jantung berdetak kencang. Satu per satu guru telah keluar. Namun Diana masih belum tampak. Hatinya mulai gelisah kala sekolah sudah mulai sepi tapi belum ada tanda-tanda wanita itu keluar. 

 

Dengan tergesa, pria yang masih terlihat segar meski sudah lewat tengah hari itu melangkah masuk ke area sekolah mencari ruang guru. Kaki panjangnya menyusuri lorong-lorong kelas yang sepi. Netranya menangkap sosok yang ia kenal di tempat parkir. Ya, itu adalah Diana istrinya dan ... seorang pria yang dikenal. Mereka tampak akrab. Saling melempar senyum dan sesekali tertawa. 

 

Kobaran api telah membuat panas dada Desta. Kedua tangannya mengepal hingga menampakkan buku-buku jarinya yang memutih. Rahangnya mengeras dengan mata menggelap. 

 

"Jadi ini yang kamu lakukan di luar?!"

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!