Dinikahi Calon Ipar
Jebakan ART
Diana menghembuskan napas lelah. Ternyata majikan dan pembantunya sama saja. Pemaksa. Baru saja ia hendak mengatakan sesuatu, pintu kamarnya terbuka menampilkan sosok pria yang sedang memenuhi pikirannya.
Tatapan keduanya saling beradu. Tubuh mereka menegang. Untuk sesaat, waktu serasa berhenti berputar. Diana tak bisa bergerak, terpaku di tempatnya.
"Ehem!" Bik Ijah berdehem untuk menyadarkan keduanya bahwa masih ada orang ketiga di antara mereka.
Spontan Diana menyembunyikan pipinya yang merona sambil mencari bergonya yang tadi ditaroh di sebelahnya. Ketika tangannya sudah menemukan benda yang dicari, gadis itu langsung memakainya tanpa melihat sosok yang masih menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
Jangan tanyakan bagaimana irama jantung pria itu sekarang. Andai tak ada suara detik jarum dinding yang begitu nyaring, sudah pasti ia bisa mendengar bunyi jantungnya sendiri.
Mata elang itu masih enggan berkedip meski pemandangan yang membuatnya takjub telah tertutupi khimar panjang hingga hanya terlihat telapak tangannya.
"Mas, ada apa?" Pertanyaan wanita cantik itu membuat pria yang biasanya dingin dan jutek tampak salah tingkah. Ia bahkan lupa tujuannya kemari.
Yang pasti, otaknya sekarang sedang mendeskripsikan wanita yang telah ia nikahi itu dengan gambaran yang berbeda. Ia mulai mencoret beberapa label yang sempat ia sematkan padanya. Seperti kampungan, jelek, nggak modis, dan nggak seksi. Ketiga label itu runtuh seketika hanya dengan melihatnya tanpa jilbab dan khimar. Ya, semudah dan secepat itu ia mengubah persepsinya.
Lalu mengapa ia dulu menolak mentah-mentah bahkan membencinya? Nyatanya perempuan yang telah menjadi istrinya ini jauh lebih cantik dari kekasihnya. Bahkan jika dibanding perempuan-perempuan seksi di luaran sana, yang hanya mengandalkan uang untuk mengubah penampilannya, Diana nggak ada tandingannya.
Diana cantik dengan alami. Auranya memancarkan keteduhan dan ketenangan. Kulit putih mulusnya yang bebas jerawat sama sekali bukan dempulan atau polesan. Nyata. Dari sananya. Dan yang menjadi nilai tambah bagi Diana adalah ia menutupinya dengan pakaian syar'i. Tidak diumbar ke sembarang orang.
Jika diibaratkan dengan kerang, Diana adalah kerang mutiara yang mana harganya mahal dan hanya bisa dimiliki oleh orang tertentu. Dia dipajang di tempat yang khusus dan tidak semua orang boleh untuk menyentuhnya. sementara mereka yang tidak menutup aurat diibaratkan kerang rebus, yang mana semua orang boleh mencicipi dan dijual di sembarang tempat. Indah bukan perumpamaan untuk wanita yang menutup aurat? Ya seperti Diana ini.
"Mas?" Sekali lagi Diana bertanya.
"E--eh, kenapa tidak mau makan? Apa kamu ingin maghmu kambuh agar dapat perhatian dariku?"
Pria ini telah kembali ke mode judes dan ketus. Untuk menutupi kegugupannya, ia memilih untuk berkata demikian. Sementara bik Ijah yang tahu karakter majikannya hanya mampu menutup mulut menahan tawanya.
"Bu--bukan gitu, Mas. Aku masih kenyang. Nanti pasti kumakan. Makasih perhatiannya," lirih Diana sambil menyembunyikan senyumnya.
Melihat sang majikan melangkah maju, wanita paruh baya yang menyaksikan drama dua majikannya ini memilih kabur dari kamar itu. Lalu perlahan menutup pintu dari luar tanpa disadari keduanya. Bahkan ia berani menguncinya. Karena kebetulan kunci kamar itu masih menggantung di luar.
Ia sengaja melakukan itu agar hubungan majikannya mengalami kemajuan. Ia tahu selama ini mereka tidur di kamar terpisah. Dan Meta, kekasih Desta masih sering mengganggu hubungan mereka.
Wanita berdaster itu menuruni anak tangga dengan senyum mengembang. Bahkan tingkahnya seperti anak muda yang menang undian. Mengepalkan tangan di udara dan mengatakan, "yes!'
***
Suasana kamar menjadi akward. Diana menahan napas karena takut dengan aura yang dipancarkan suaminya. Apalagi setelah menyadari bahwa mereka di kamar hanya berdua saja.
Tanpa kata, pria itu mengambil piring yang berisi nasi dan lauk pauknya. Menyendok sedikit lalu mengarahkan pada mulut istrinya. Lagi-lagi muka Diana memerah. Ia handak menolak tapi takut pria di depannya akan marah lagi. Dengan jantung yang berdebar kencang, ia membuka mulutnya. Menerima suapan itu dengan tatapan yang saling mengunci.
Beberapa sendok telah masuk ke lambungnya, pria itu meletakkan piring kembali ke meja. Mengusap bibir merah alami wanitanya dengan lembut. Sentuhan itu membuat keduanya seperti tersengat listrik bertegangan tinggi.
Desta merasakan ada yang tak beres dengan tubuhnya. Panas tiba-tiba menjalar ke sekujur tubuhnya. Gejolak ga**ah yang pernah ia rasakan saat kejadian yang membuatnya terjebak dengan pernikahan ini, hadir kembali. Bedanya, sekarang ia dalam keadaan sadar. Tidak mabuk seperti waktu itu.
Ia mencoba meredam gejolak itu dengan menenggak air putih milik Diana hingga tandas. Namun rasa panas itu tak bisa dihentikan. Semakin lama semakin menyiksa. Tatapannya berkabut. Dalam hati ia memaki pembantunya yang dengan sengaja memasukkan obat perangsang dalam minumannya.
Spontan ia berdiri dan hendak ke kamarnya. Ia tak mau melakukannya jika Diana tak menginginkannya. Ia harus memastikan dulu perasaan istrinya itu. Namun sayangnya ia tak bisa lagi mengelak. Pintunya terkunci. Mereka terjebak dalam kamar berdua dengan kondisi yang sangat berbahaya.
"Di, mana kunci kamarmu?"
Diana yang nggak paham dengan apa yang terjadi menatap pria itu bingung.
"Cepat, Di. Aku harus keluar!" bentak Desta kesal. Ia hanya ingin menyelamatkan istrinya. Jangan sampai kembali menjadi korban karena obat sia*an itu.
"Kuncinya tergantung di luar, Mas," jawab Diana gemetar. Ia takut melihat kilat mata suaminya.
Pria itu mengerang frustasi. Menyugar rambutnya kasar sambil menahan sesuatu yang sudah naik ke ubun-ubun.
"Di, bisakah kamu membantuku?" ucapnya memohon.
"Apa yang bisa kulakukan, Mas? Apa yang terjadi?"
Gadis itu berdiri dan mendekat pada suaminya. Bahkan ia lupa jika saat ini hanya memakai baju tidur berbentuk dress selutut. Tadi saat tiba-tiba pria ini datang, ia menutup kepalanya dengan kerudung tanpa menggunakan gamisnya. Karena ia berpikir tidak akan berdiri.
Melihat penampilan Diana yang seperti itu justru membuat Desta semakin tersiksa. Kaki telanjang Diana membuatnya tak mampu berpikir jernih lagi. Perlahan pria itu mendekat. Mengikis jarak diantara keduanya.
Hembusan napas pria itu terasa panas menerpa wajah Diana yang menegang. Ia binggung dengan perubahan sikap suaminya.
"Bisakah kita lakukan malam ini?" bisik pria yang sudah diselimuti kabut ga***h akibat obat itu dengan serak.
"Lakukan apa, Mas?" Wanita itu mundur. Bayangan kejadian waktu itu berputar-putar di kepala membuatnya gemetar. Tidak, ia tak mau mengalami hal serupa kedua kalinya.
"Malam pertama kita yang tertunda."
"Tapi, ini nggak benar. Bukankah kamu sudah punya Meta?"
"Tidak. Meta hanya kekasihku. Dan sebentar lagi akan menjadi mantan. Tapi kamu adalah istriku. Kamu wajib melayaniku. Apa kamu tidak takut dosa karena menolak suamimu sendiri?" Pria itu semakin berani.
Tangannya sudah berkelana ke mana-mana, membuat wanita itu semakin tak nyaman. Ia mundur, suaminya maju. Begitu seterusnya hingga ia tak lagi bisa bergerak karena kakinya menabrak ranjang.
Pria itu menyeriangai, merasa menang karena sang istri sudah berada di posisi yang menguntungkan dirinya.
"Masih mau lari, hem?"
"Mas, ... tolong, jangan lakukan ini! Ini tidak benar. aku nggak mau nanti Meta marah gara-gara hal ini. Tolong, jangan lakukan ini!"
"Tenang saja, Dia nggak akan marah. Apa yang kita lakukan ini halal. Kita sudah menikah. Kamu tahu kan kewajibanmu sebagai istri?"
"Tapi kamu nggak mencintaiku, Mas! Kamu mencintai adikku. Aku nggak mau masalah kita semakin rumit!"
"Siapa bilang aku nggak mencintaimu? Apa kamu tahu isi hatiku?" Pria itu semakin dekat. Terus merangsek maju hingga Diana terjerembab pada kasur empuknya.
"Kamu tahu betapa cemburunya aku melihatmu dekat dengan Daniel? Kamu milikku Diana. Hanya milikku. Aku suamimu. Bukan dia!"
Ucapan pria itu membuat Diana membeku. Pikirannya kosong. Hingga sesutu yang seharusnya terjadi sejak malam pertama mereka, akhirnya terjadi. Diana tak mampu lagi melepaskan diri. Ibadah pertama mereka terjadi begitu saja.