Dinikahi Calon Ipar

Perdebatan Unfaedah

Mobil hitam yang dikendarai Daniel melaju diantara padatnya kendaraan di jalan. Setiap hari minggu jalanan menuju utara memang sangat padat. Karena di sana banyak terdapat tempat wisata dan pusat perbelanjaan. 

 

Sebenarnya Diana enggan keluar rumah setelah semalam. Apalagi mendengar pernyataan cinta suaminya. Rasanya ingin menghabiskan waktu bersama saja seharian. Namun ketika sang suami tidak mencegahnya pergi, hatinya merasa kesal dan akhirnya menuruti abangnya yang sengaja membuat pria yang sudah mengakui perasaannya itu cemburu lagi. 

 

"Lihatlah mobil belakang itu, apa abang bilang," ucap Daniel sambil melirik spion dengan senyum mengembang. 

 

Diana yang sejak tadi larut dalam pikirannya langsung menoleh ke belakang. Matanya membelalak melihat mobil yang dikenalnya tepat berada di belakang mobil yang dinaikinya. 

 

"Itu kan mobilnya--"

 

"Ya, dia pasti mengikuti kita." Pria berjambang tipis itu terkekeh. "Kau lihat? Sepertinya ia sudah jatuh dalam pesonamu."

 

Wanita yang sejak beberapa menit lalu selalu memasang senyum itu kembali menoleh. Dadanya berdebar-debar setiap kali bayangan keintiman semalam berputar kembali. Ia memutar lehernya ke samping memandangi deretan toko yang terlihat berlarian untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. 

 

Dua puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah mall terbesar dengan fasilitas yang super lengkap. Keduanya berjalan beriringan masuk ke toko pakaian muslim yang ada di dalamnya. 

 

"Kita mau ngapain ke sini, Bang? Abang mau cari baju?"

 

"Nggak."

 

"Terus?"

 

"Cari baju buat kamu. Baju-baju kamu sudah banyak yang ketinggalan zaman, Di. Sepertinya kamu harus mengganti model dengan yang kekinian biar sedikit modis."

 

"Tapi Diana nggak mau kalau pakai pakaian seksi, Diana nggak mau dosa, Bang!" Wanita itu hanya berdiri di depan pintu tanpa mau masuk. 

 

Gila aja kalau sampai abangnya mau merubah penampilannya dengan pakaian terbuka seperti wanita-wanita zaman sekarang. Susah payah ia berusaha istiqomah agar tidak membuka auratnya. Bukan ia tak mampu membeli baju, tabungan yang ia miliki jauh lebih dari cukup untuk membeli baju dan aksesoris untuk mempercantik penampilannya. Namun ia tak mau melakukannya. Karena ia paham bahwa setiap muslimah tak boleh berlebihan dalam penampilan. Selain tabaruj, ia juga nggak suka menjadi pusat perhatian lawan jenis. 

 

Sebuah tangan menariknya masuk ke dalam toko. 

 

"Kenapa malah bengong? Nih, di sini juga banyak gamis. Kamu nggak perlu mengubah gaya penampilanmu. Pilihlah gamis terbaik yang kamu suka!"

 

Sekali lagi wanita berhijab itu hanya bisa melongo. Ia kira abangnya akan memintanya membeli pakaian terbuka. Nyatanya pria itu tetap mengikuti seleranya. 

 

Dengan senyum mengembang, Diana memilih gamis yang sederhana tapi elegan. Ia memilih yang berbahan ringan dan nggak panas. Seorang pelayan membantunya untuk memilihkan beberapa yang lebih kekinian tapi tidak meninggalkan kesan syar'i. Lalu memadupadankan dengan kerudungnya agar tampak serasi. 

 

Beberapa kali wanita itu diminta untuk mencoba pakaian yang dipilihkan pelayan tadi. Ia tampak mengagumi penampilannya sendiri di cermin. Terlihat lebih modis tapi tetap syar'i. Tak ada lekukan tubuhnya yang terlihat. Karena ia tak mau menampakkannya. 

 

Lima paper bag telah ia terima. Tentu saja abang tercinta yang membayar semua tagihannya. 

 

"Sekarang kita ke toko tas dan sepatu, ya," ajak Daniel yang hanya diangguki Diana. Ia tak bisa menolak. Karena untuk saat ini ia ingin merasakan diperhatikan oleh satu-satunya keluarga yang ia miliki di sini. Bahkan ia akan menerima apa saja pemberian abangnya. 

 

Mereka sadar, pada jarak tertentu ada yang mengikutinya. Namun mereka pura-pura tak melihat saja. Tetap asik berbelanja hingga keduanya lelah dan lapar. 

 

"Kita cari makan dulu yuk, bang! Diana lapar banget nih!" 

 

"Oke! Yuk!"

 

Kedua pasangan kakak beradik ini berjalan menuju lift untuk naik ke lantai empat. Tempat dimana banyak food court di sana. 

 

Di lain sisi, Desta terus mengikuti kedua orang itu dengan dada terbakar. Hatinya panas melihat betapa dekat dan akrabnya mereka. Belum lagi sahabatnya yang sengaja membelikan barang-barang mewah untuk istrinya. Padahal dia sebagai suaminya, belum pernah memberikan nafkah kepada sang istri.

 

Pria itu jadi merasa bodoh dengan sikapnya selama ini. Andai Dia bisa memutar waktu kembali, iya akan memperlakukan sang istri dengan sangat baik. 

 

"Sayang, ternyata kamu disini? Kenapa sekarang susah sekali dihubungi?"

 

Desta yang fokus memperhatikan istri dan sahabatnya, berjingkat mendengar suara yang dikenalnya. Meta, sejak kapan gadis itu ada disini. Bisa hancur rencananya ketika ada dia di sini. 

 

"Ngapain kamu di sini?"

 

"Harusnya aku yang tanya begitu, Sayang. Ngapain kamu ada di sini?" Gadis itu memutar lehernya. Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Dadanya terbakar ketika melihat ada kakaknya di sana. 

 

"Oh, jadi kamu menguntit dia? Apa sekarang Kamu sudah mulai jatuh cinta padanya?" 

 

Karena tak ingin terjadi keributan, Desta hanya diam saja. Namun netranya tetap fokus mengamati gerak-gerik sang istri dan sahabatnya. 

 

Merasa diabaikan, gadis yang datang entah dari mana itu memutar otaknya untuk mencari cara agar Desta kembali padanya. Dengan percaya diri gadis itu menggandeng tangan sang kekasih dan menariknya menuju meja Diana. 

 

"Kakak, kamu di sini juga?" 

 

Seketika pasangan kakak beradik itu menoleh dan mendapati adik serta suaminya telah berdiri di sana, di dekatnya dengan tangan sang adik membelit tangan suaminya. Hati yang semula berbunga-bunga kini menjadi panas dan terbakar melihat kedekatan mereka kembali. 

 

"Eh, Meta, mau makan juga?" tanya Diana dengan tenang. Meski hatinya nyeri melihat sang suami yang ternyata memiliki janji dengan kekasihnya. Lalu apakah ucapannya semalam hanya palsu belaka? 

 

Kini Diana meyakinkan dirinya sendiri bahwa pria itu hanya memanfaatkannya semalam. Ia menganggap bahwa yang dilakukan suaminya hanyalah bentuk penasaran seorang pria terhadap dirinya, bukan karena cinta. 

 

"Bolehkah kami bergabung di sini?" tanya Mita kepada kakaknya.

 

Sebenarnya Diana enggan menerima kehadiran mereka, namun ia ingin menunjukkan kepada suaminya kalau ia tak cemburu sama sekali. Ia nggak boleh lemah di hadapan mereka. 

 

Dengan terpaksa Desta duduk dihadapan pasangan kakak beradik ini. Seorang pelayan datang untuk menanyakan pesanan mereka. 

 

"Mau pesan apa, Sayang?" tanya Meta manja. Ia sengaja menunjukkan kemesraan di hadapan yang kakak. 

 

"Terserah." Desta tak selera untuk memesan apapun. Moodnya hancur dengan kehadiran gadis ini. 

 

Sesekali ekor matanya melirik sang istri. Wajahnya terlihat keruh dan sedikit cemas. Khawatir perempuan yang sudah menduduki singgasana di hatinya ini salah paham dengan kedatangannya bersama Meta. Padahal ia benar-benar tidak ada janjian dengan gadis ini. Entah bagaimana bisa bertemu di saat yang sangat tak tepat. 

 

Diana makan dalam diam. Seolah tak ada orang lain di depannya. Sesekali ia mencomot makanan abangnya. Begitupun sebaliknya. Sengaja ia melakukan itu agar adiknya tahu, bahwa dirinya tak termakan drama murahannya lagi. Ia ingin menunjukkan kalau dia juga bisa mendapatkan pria yang lebih sayang dan perhatian padanya. 

 

"Kamu mau pesan sesuatu lagi, Di? Kamu harus banyak makan. Lihat kamu tampak kurus setelah menikah," ujar Daniel membuat Desta mendongak dan menatap sang istri. 

 

Dalam hati ia membenarkan ucapan sahabatnya itu. Istrinya memang tampak lebih kurus dari yang ia lihat pertama kali. Bahkan wajahnya terlihat lebih tirus meski masih terlihat cantik. 

 

"Nggak, Bang. Diana dah kenyang."

 

"Oke, mau belanja lagi? Masih ada yang dibutuhkan? Skin care, mungkin?"

 

"Nggak ah. Diana nggak butuh itu. Kita ke Gramedia aja, yuk! Bukunya kan belum dapet."

 

"Ok. Apapun untukmu, Baby."

 

Mendengar percakapan itu, Desta mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Jantungnya terasa nyeri menyaksikan hal itu. Seharusnya dia yang berada di posisi Daniel sekarang. 

 

Secara terang-terangan, pria itu terus menatap kepergian dua orang itu dengan dada terbakar. Meta yang melihat perubahan sikap kekasihnya merasa kesal. 

 

"Yang, kita nonton, yuk! Sudah lama kita nggak ke bioskop. Mumpung ada film baru, nih!"

 

"Kamu aja sendiri. Sorry aku nggak bisa!" Pria itu memanggil pelayan dan memberikan beberapa lembar uang merah lalu beranjak pergi. Meninggalkan sang kekasih yang terus menggerutu. 

 

Dengan menghentak-hentakkan kakinya, gadis itu menyusul sang kekasih. 

 

"Kamu kenapa sih, Yang? Kok sepertinya nggak suka gitu ketemu sama aku. Oh, ... aku tahu sekarang. Kamu mulai jatuh cinta kan sama dia? Dasar munafik! Kemarin bilang nggak akan pernah tertarik padanya, sekarang apa? Kamu sudah terjerat olehnya!"

 

Ucapan gadis itu yang sedikit keras mengundang perhatian para pengunjung. Tentu saja Desta yang nggak suka dengan keramaian merasa geram dengan tingkah kekanakan kekasihnya, yang mungkin beberapa waktu lagi akan menjadi mantan kekasih. 

 

"Emang kenapa kalau aku jatuh cinta pada istriku sendiri? Ada yang salah?" Setelah mengucapkan hal itu, Desta pergi meninggalkan Meta yang menganga mendengar jawabannya. Mungkin nggak menyangka akan mendapat reaksi demikian.

 

 

Baca juga novelku kainnya yang berjudul: Kontak Pernikahan Hati Tergadaikan 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!