Dinikahi Calon Ipar

Hari yang Manis

"Di, maukah kamu memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri? Ajari aku menjadi lebih baik agar layak menjadi suamimu," tatapan teduh Desta yang baru pertama kali ini Diana lihat membuat hatinya meleleh. 

 

Sungguh, ia sangat ingin. Karena memang inilah yang ia harapkan dari pernikahan ini. Meski pada awalnya terjadi karena kesalahan dan paksaan, Diana tetap ingin memiliki rumah tangga yang bahagia.

 

"Kamu mau kan kita memulai semuanya dari awal?" 

 

"Tentu saja. Aku memang wanita tak sempurna tapi aku ingin memiliki keluarga yang sempurna. Pernikahan ini harus berjalan sesuai dengan sunnah Rasulullah. Terima kasih karena telah menerima aku, Mas."

 

"Tidak. Seharusnya aku lah yang berterima kasih padamu, sayang."

 

Panggilan sayang yang baru pertama kali ia dengar ini membuat wajah cantik Diana tersipu tampak kemerahan seperti tomat. Keduanya saling tatap dan melempar senyum. Ada rasa membuncah yang sulit untuk diungkapkan dari hati masing-masing. 

 

Pria itu lalu merogoh saku dan mengambil dompet dari sana. mengeluarkan sebuah kartu ATM dan meletakkannya di tangan sang istri. 

 

"Apa ini, Mas?"

 

"Anggap saja ini adalah bukti keseriusan ku padamu, Di. Di dalamnya ada saldo yang bisa kamu gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kamu juga bisa membeli sebuah mobil jika mau."

 

Kedua mata Diana membola. Tak percaya dengan apa yang ia dapatkan ini. Sungguh, bisa diterima sebagai istri saja ia sudah sangat bersyukur. Apalagi mendapatkan nafkah sebesar itu, ia hampir tak percaya. 

 

"Nanti setiap bulan akan kutransfer untuk kebutuhan bulanan. Pin-nya tanggal pernikahan kita."

 

Tak ingin mengecewakan, wanita itu menerima dengan senyum mengembang. Lalu ia izin untuk masuk kamar melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Mandi dan salat. 

 

Satu per satu paper bag yang terletak di lantai ia ambil. Hal itu tak luput dari tatapan sendu suaminya. Pria itu merasa kecewa karena sang istri menerima pemberian dari pria lain. Namun ia tak mau mempermasalahkan. Baru saja mereka berdamai, ia tak ingin merusak kebahagiaan ini hanya karena masalah sepele. 

 

Iangatkan dia untuk membelikan gaun terbaik untuk sang istri besok. Ia ingin wanitanya memakai pakaian yang ia pilihkan sendiri. 

 

***

 

Mentari mulai tenggelam di ufuk barat. Digantikan gelap menemani malam. Pasangan suami istri yang baru merasakan bahagia atas pernikahan mereka itu sedang duduk berhadapan menikmati makan malam.

 

Ini adalah makan malam pertama mereka semenjak menikah. Maksudnya dalam suasana bahagia tentu saja. Sesekali pasangan yang sedang dilanda kasmaran itu saling menatap. Lalu tersenyum malu-malu seperti ABG yang baru mengenal cinta. Jangan lupakan pula detak jantung mereka yang memompa darah lebih cepat dari biasanya. 

 

"Di, emm ... mulai malam ini kita satu kamar ya. Terserah, kamu yang pindah ke kamarku atau aku yang pindah ke kamarmu."

 

Diana yang sedang asik mengunyah makanan sambil menatap manik suaminya tersedak tiba-tiba. Wajahnya memerah menahan perih yang melanda. 

 

"Hati-hati makannya," ucap Desta sambil menyodorkan air minum miliknya. 

 

"Makasih, Mas." 

 

Pria itu mengambil selembar tisu dan mengelap bibir sang istri dengan gerakan lembut. Hal itu semakin membuat darah Diana mengalir lebih cepat. 

 

Untuk menghilangkan kegugupannya, Diana bangkit dan membereskan bekas makannya. Berjalan menuju wastafel untuk mencuci piring dan gelasnya. 

 

Sebuah tangan terulur membantu kegiatan itu. Jantung Diana yang sudah mulai normal kembali jumpalitan akibat perbuatan lelaki itu. 

 

"Sudah, Mas biar aku saja. Mas ke depan saja!" 

 

"Tidak papa. Aku mau membantumu. Setelah ini kita ke kamar ya," bisiknya di telinga sang istri membuat bulu kuduknya meremang. 

 

"Kamu tegang sekali, Di. Apa aku menakutimu?" Pria itu semakin merapatkan tubuhnya hingga dadanya membentur punggung sang istri. 

 

"Ti--tidak!" ucapnya semakin gugup. Bahkan suaranya tercekat di tenggorokan karena ulah tangan nakal suaminya. 

 

"Kalau nggak takut, kenapa kamu teru menunduk begitu? Tatap mataku, Di!"

 

Sambil menahan tubuhnya yang melemas akibat perbuatan sang suami, wanita itu menoleh. Sayangnya ia lupa kalau kepala Desta tepat menempel di pundaknya. Sehingga gerakan tiba-tiba itu justru membuat bibirnya menempel pada rahang tegas milik Desta. 

 

Keduanya membeku. Seperti ada sengatan listrik ribuan volt yang mengalir tiba-tiba. Namun bukan Desta namanya jika tak mampu mengubah suasana. Tiba-tiba Diana merasa tubuhnya melayang. Berayun-ayun di udara karena ulah suaminya. Mau nggak mau wanita itu mengalungkan kedua tangannya ke leher pria itu. 

 

***

 

Mentari bersinar cerah pagi ini. Secerah wajah dua insan yang sedang dimabuk cinta ini. Setelah malam panjang mereka, pagi ini keduanya sepakat untuk berangkat kerja bareng. Yang kebih menyenangkan lagi nahi Desta, sahabatnya absen sarapan pagi ini. Jadi mereka bisa menikmati waktu berdua tanpa gangguan. 

 

Dia saja yang tak tahu kalau sang istri sudah mewanti-wanti pada abangnya untuk tak datang pagi ini. Agar bisa menikmati keindahan kebersamaannya tanpa perubahan mood dari suaminya.

 

"Mulai sekarang aku yang akan mengantar jemputmu. Kamu nggak perlu lagi naik motor atau angkot."

 

"Tapi, Mas, apa tidak membuatmu repot? Tempat kerjaku tak searah dengan rumah sakit." 

 

Pria itu tersenyum, menggenggam tangan lembut sang istri yang terlihat sedikit gemetar karena grogi, lalu membawanya ke bibir untuk dikecup. 

 

Hati keduanya menghangat. Seperti ada kupu-kupu berterbangan di perut mereka. 

 

"Ya udah kalau gitu, yuk!" jawab Diana akhirnya. 

 

Dua puluh menit waktu yang ditempuh untuk sampai ke sekolah tempat Diana mengajar. Kedatangan mobil mewah yang tampak mencolok dibandingkan kendaraan lainnya tentu mengundang perhatian para guru. 

 

Alma, sahabat Diana berdiri di depan pintu penuh minat. Ia mengenal mobil itu, tentu saja. Saat Diana pingsan dan ditolong oleh Desta beberapa bulan lalu. 

 

"Aku turun ya, Mas. Hati-hati di jalan." Diana meraih tangan sang imam dan menciumnya takzim. 

 

Lagi-lagi rasa hangat menjalar dalam hatinya. Lalu mengecup kening sang bidadari hati ringan. 

 

"Kalau sudah selesai hubungi aku, ya. Nanti kujemput." 

 

"Ya. Assalamu'alaikum."

 

"Wa'alaikumsalam, Sayang."

 

Diana keluar dari mobil suaminya sambil menyunggingkan senyum. Meski samar, namaun telinganya masih bisa mendengar sang suami menyebutnya dengan "sayang". 

 

Alma sudah mesam-mesem melihat siapa yang turun dari mobil mewah itu. Namun ia belum bisa menebak ada hubungan apa antara teman sejawatnya ini dengan sang dokter idola. 

 

Rekan mengajarnya memang sudah tahu Diana telah menikah. Namun mereka tak tahu siapa yang menjadi suami dari wanita yang selalu menggunakan gamis saat mengajar ini. Dalam bayangan mereka suami Diana adalah laki-laki berjenggot dengan celana ngatung dan jidat hitam. Sehingga merasa heran ketika melihatnya datang bersama dokter ganteng incaran para guru perempuan di sini. 

 

"Wah, kayaknya ada yang terlewat nih. Ada hubungan apa sih kamu sama si dokter ganteng? Kok bisa berangkat dianter sama dia?"

 

Diana hanya memutar bola matanya jengah mendapati sahabatnya yang selalu kepo dengan urusannya ini. Beberapa hari lalu ia juga kepo saat Daniel menemuinya. Hingga mau tak mau ia menceritakan hubungan mereka. 

 

Setelah mendudukkan diri di kursinya, Diana menatap Alma yang masih menunggu jawaban. Dengan sedikit berbisik, dia berkata," Dia suamiku." 

 

Kedua mata Alma membola. Mulutnya menganga tak percaya. 

 

"Eh, beneran? Serius dia suamimu?" teriak gadis itu tanpa sadar. Otomatis para guru yang sejak tadi menunggu pernyataan Diana mengenai pria itu langsung memfokuskan pandangan padanya. 

 

"Kenapa harus teriak-teriak, sih. Kalau memang dia suamiku kenapa? Nggak rela?" ucapnya sambil tersenyum. Ia sengaja mengerlingkan matanya pada Alma berniat mengerjainya. Ia tahu gadis ini sangat ngefans pada suaminya. 

 

"Oh, potek hatiku, bang," ucap Alma mendramatisir. 

 

"Itu tidak benar kan, Bu? Saya yakin kabar bu Diana sudah menikah itu hanya gosip." 

 

Seorang pria berseragam kaos dan training tiba-tiba masuk dengan senyum khasnya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!