Dinikahi Calon Ipar
Hampir Kehilangan
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Desta memicing. Tatapannya tertuju pada sang istri dan mantan kekasih bergantian. Seketika matanya membulat melihat darah menetes di lantai.
"Apa yang terjadi? Apa nggak ada yang bisa menjelaskan semua ini?" Nada biacara pria itu naik satu oktaf.
"Dia melukai dirinya sendiri setelah menamparku," lirih Diana sambil memegang pipinya yang masih terasa panas.
Bekas telapak tangan adiknya masih tercetak jelas di sana. Siapapun tahu bahwa wanita itu habis ditampar. Namun tuduhan dusta Meta justru membalikkan fakta yang terjadi.
"Dia mencoba melukaiku karena cemburu. Lihat ini tanganku, dia kejam sekali ... padahal aku hanya ingin menjelaskan yang terjadi semalam, tapi dia malah marah dan melukaiku seperti ini," bantah Meta dengan dibumbui acting menagis yang membuat kedua pasang mata Diana dan bi Ijah membulat seketika.
"Tidak. Itu tidak benar," ucap Diana menggeleng. Kedua matanya sudah basah akibat bendungan air mata yang jebol.
"Aku nggak habis pikir kalian melakukan hal kekanakan seperti ini! Diana, aku kecewa padamu," ketus Desta, satu-satunya pria di sini. Lalu tanpa diduga, ia mengangkat tubuh Meta dan membawanya keluar rumah. Mungkin membawanya ke rumah sakit.
Dari balik tubuh Desta, gadis itu melongok dan mengejek kakaknya. Menjulurkan lidah dan mengatakan "aku yang menang" tanpa suara.
Hati Diana terasa nyeri. Seperti dikerat selapis demi selapis. Tak percaya jika akhirnya seperti ini. Pria yang sudah menjadi imamnya itu lebih percaya dengan ucapan dusta mantan kekasihnya dari pada istrinya.
Tangisan pilu wanita itu terdengar menyayat hati. Bi Ijah yang menyaksikan ikut sakit melihat majikannya mengalami kejadian demikian. Dengan perlahan ia memapahnya dan membawa ke sofa ruang tamu.
"Sabar ya, Non, bibik yakin Den Desta akan akan kembali pada Non. Karena Non Diana lah tempatnya pulang. Gadis itu memang licik, Non. Den Desta hanya butuh waktu untuk bisa mencerna fakta yang terjadi. Karena bagaimanapun dia hubungan mereka terjalin cukup lama."
Diana termenung, berusaha membenarkan ucapan sang ART yang sudah dianggap ibunya sendiri. Tiba-tiba ia merasakan ada yang mengalir di kakinya. Seketika matanya membola melihat darah menetes di sana.
"Bik, da--darah," ucapnya panik.
"Ya Allah, Non, kenapa bisa begini. Ayo kita ke rumah sakit, Non. Sebentar aku panggil mang Ujang dulu untuk menyiapkan mobil ya, Non. Tunggu dulu sebentar," ujar wanita paruh baya itu ikutan panik.
Bahkan saking paniknya, wanita itu hanya mondar-mandir tak jelas. Mau memanggil mang ujang tapi seketika pikirannya blank.
"Bik, tolong telponkan bang Daniel aja. Suruh dia kesini sekarang, aku nggak mau menggunakan mobil Mas Desta. Takut dia marah karena menggunakannya tanpa izin."
Sepuluh menit kemudian seorang pria yang ditunggu datang setelah dihubungi bik Ijah. Kebetulan Daniel berada pada posisi tak jauh dari rumahnya. Sehingga ketika mendapat telpon langsung datang dengan segera.
"Diana, apa yang terjadi?"
"Den, lebih baik bawa dulu aja ke rumah sakit. Kasihan Non Diana, Den," wanita paruh baya itu menginterupsi pertanyaan Daniel.
***
"Bagaimana keadaannya, Dok? Apa yang sebenarnya terjadi pada adik saya?" tanya Daniel saat pintu UGD terbuka dan menampilkan sosok dokter di hadapannya.
Sebelum menjawab, wanita itu menghembuskan napas lega. Bibirnya tersenyum dibalik masker yang ia kenakan.
"Alhamdulillah, kondisi janinnya baik-baik saja. Untung segera dibawa kemari. Tolong dijaga agar ibunya tidak stres ya, usia kandungannya masih muda, sangat rentan keguguran jika ada pemicunya."
Daniel hendak bertanya tapi dokter wanita ber-name tag Alvina itu kembali bicara.
"Untuk sementara pasien butuh bedrest beberapa hari. Tolong Bapak urus administrasinya dulu supaya bisa dipindahkan ke kamar rawat!"
"Baik, Dok. Terimakasih."
Pria itu berlaku menuju bagian administrasi. Mengurus segalanya agar sang adik segera mendapat perawatan intensif. Sejenak ia melupakan penyebab kejadian itu. Bukankah seharusnya Desta yang dihubungi mengingat pernikahan mereka yang sudah berjalan normal. Lalu kenapa adik tercintanya ini kembali meminta bantuannya disaat genting begini?
Aroma khas rumah sakit tercium dari indra pembau Diana. Perlahan bulu mata lentik wanita itu bergerak lalu matanya terbuka. Mengedarkan pandangan Diana menemukan sosok Abang tercintanya duduk termenung di sebelahnya tidur sambil menggenggam tangannya erat.
"Bang, ini di mana?"
"Kamu sudah bangun apa yang kamu rasakan Di?" Bukannya menjawab pria itu malah berbalik bertanya. Raut khawatir tampak jelas di wajahnya.
Ingatan Diana kembali pada kejadian beberapa waktu lalu. Seketika tangannya mengelus perutnya yang masih rata dan menatap abangnya dengan tatapan bertanya.
"Tenang saja di dia kuat di dalam sana. Kenapa kamu nggak bilang kalau aku mau punya ponakan?"
Lelehan air bening menetes di sudut mata Diana. Wanita itu tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagia dalam dirinya. Hampir saja ia frustasi karena kehilangan calon buah hatinya. Namun ternyata Allah masih memberinya kesempatan untuk tumbuh di dalam rahimnya.
"Terima kasih Bang. Abang datang tepat waktu. Kalau saja ... Abang terlambat sedikit mungkin aku akan kehilangannya," lirik wanita itu sambil sesenggukan.
"Tenang saja deh semuanya baik-baik saja. Yang penting saat ini kamu harus banyak istirahat dan nggak boleh stress. Kamu harus bisa menjaga calon ponakanku dengan baik. Jangan terlalu capek karena kondisinya sangat lemah. Apa perlu Abang menguruskan surat cuti untukmu?"
Laki-laki Diana tak mampu menyembunyikan rasa haru yang menyeruak dalam dadanya. Di saat ia merasa diabaikan oleh sang suami ada abangnya yang selalu mendukung dan memberinya perlindungan.
"Makasih, Bang sepertinya memang aku butuh cuti untuk sementara waktu. Aku ingin fokus mengurus calon anakku."
Setelah mengatakan itu Diana kembali terlelap. Mungkin karena lelah dan pengaruh obat iya tak bisa menahan rasa kantuknya.
***
Pukul 9 malam Desta pulang ke rumah. suasana rumah tampak sepi, berbeda dengan hari-hari biasanya, ada Diana yang selalu menunggu kedatangannya. Namun tampaknya malam ini sang istri tak mau menunggunya. Hal itu tidak membuat pria itu kecewa karena sesungguhnya saat ini dia justru merasa kecewa dengan sikap istrinya tadi pagi.
Selepas kejadian itu Desta membawa Meta ke rumah sakit. Mantan kekasihnya itu selalu menghasut hingga membuatnya sedikit membenci sang istri. Walau hati kecilnya berusaha menolak apa yang dikatakan oleh Meta. Namun entah mengapa kejadian tadi pagi membuatnya bingung mengidentifikasi rasa di dalam dirinya. Ia juga belum yakin siapa yang benar dan siapa yang salah.
Langkah panjang pria itu membawanya menuju kamar. Lagi-lagi hanya kesunyian yang ia dapat. Tak ada Diana di sana. Namun pria itu juga tak ambil pusing ia mengira bahwa istrinya itu sedang tidur dikamar lain karena masih marah padanya.
Lalu ia memilih untuk membersihkan diri dan tidur. Hari ini begitu melelahkan baginya. jadwal operasi yang bertubi-tubi ditambah suasana hatinya yang sedang kacau membuatnya semakin lelah secara fisik dan juga pikiran. Tak butuh waktu lama untuknya terhanyut dalam dunia mimpi.
Pagi hari ia disambut dengan kesunyian lagi. Bi Ijah tampak berbeda dari biasanya. Setelah menyiapkan sarapan di meja makan wanita paruh baya itu memilih untuk pergi dari ruang makan dan berkutat di dapur tanpa menunggu tuannya sarapan.
"Bik, Diana kemana? Apa dia sudah berangkat kerja?" teriak Desta dari ruang makan.
Wanita itu menghampiri tuannya dan hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaan sang majikan.
"Kenapa?"
"Nggak papa, Den. Apa Non Diana belum mengabari Aden?"
"Kabar apa? Apa terjadi sesuatu?"
Wanita itu menggeleng. Mengingat bagaimana sikap majikannya ini kemarin membuatnya tak berani berkata apa-apa dan memilih bungkam. Menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakan kalau majikan perempuannya di rumah sakit atau tidak.
Setelah melalui pergolakan pemikiran, ia memutuskan untuk mengatakan yang sejujurnya pada tuannya. Supaya kesalahpahaman yang terjadi segera terselesaikan. Bagaimana pun, ia tak ingin tuan mudanya ini kembali pada kekasihnya yang manja dan bar-bar itu.
"Tuan, Nona sedang di--" Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, pria yang sudah diasuhnya sejak berusia 7 tahun itu mendadak menghentikan ucapannya. Sebuah panggilan masuk melalui gawai pria itu, sehingga mau tak mau bik Ijah menunggu tuannya selelsai bicara.
"Ada apa, Met? Bukankah sudah ada perawat yang menjagamu di sana? Apa ibumu belum datang?"
[...]
"Baiklah. Aku akan segera ke sana."
Desta menyelesaikan sarapan paginya dengan cepat lalu beranjak dari sana. Melupakan pertanyaannya yang belum terjawab sempurna.
Bik Ijah mendesah kecewa. Menatap punggung lebar sang majikan dengan nanar. Lalu ia menghubungi seseorang yang seharusnya ia hubungi. Bibirnya tersungging senyum kala panggilannya dijawab antusias olehnya.