Dinikahi Calon Ipar

Perdebatan Sengit

Setelah mendonorkan darahnya untuk sang adik, Daniel berjalan menuju tempat dimana Desta dan Mommy berada. Tatapan mata elang keduanya saling beradu menguarkan aroma permusuhan. Namun Desta berusaha menekan egonya. Bagaimanapun sahabatnya ini telah menolong sang istri dan calon buah hatinya.

 

"Thanks, Bro. Lu telah menolong istri gue."

 

"Tentu saja. Karena dia sangat berharga bagi hidup gue. Meskipun Lo nggak meminta kalau gue tahu dia membutuhkan sudah pasti akan gue lakukan apapun untuknya. Dan Lo, tolong jaga dia baik-baik kalau Lo benar-benar seorang pria sejati!"

 

Sebenarnya Daniel ingin sekali menggampar wajah pria di hadapannya ini. Sungguh ia sangat tak rela adik yang selama ini ia cari, hidup menderita bersama sahabatnya. Andai saja ia bisa mengatakannya sekarang kalau dia adalah adik kandungnya ... sayangnya ia harus bersabar hingga kebenaran terungkap. 

 

Mommy yang tidak tahu masalah yang terjadi di antara mereka hanya diam menyaksikan perdebatan putra dan sahabatnya itu. Lalu berjalan meninggalkan mereka tanpa mau ikut campur urusannya. Terus melangkah mencari kamar menantunya dirawat. Tadi saat kedua pria muda itu sedang bersitegang, ia melihat menantunya telah dipindahkan ke ruang perawatan. Sementara kedua pemuda itu tidak tahu karena fokus dengan perdebatan mereka. 

 

Suara pintu terbuka membuat wanita lemah yang terbaring itu menoleh ke arahnya. Ya, Dia telah sadar setengah jam yang lalu. 

 

"Mommy, apa yang sedang terjadi, Mom? Maaf Diana sudah menyusahkan mommy," lirih suaranya namun masih terdengar di telinga mertuanya. 

 

"Tidak, sayang kamu jangan bicara seperti itu. Apa yang sedang kamu rasakan sekarang, Nak?"

 

Diana menerbitkan senyumnya dan menggeleng pelan. Ada rasa yang berdesir dalam dadanya melihat betapa sayangnya sang mertua pada dirinya meskipun mereka baru bertemu semalam. Ternyata wanita setengah baya ini betul-betul membuktikan ucapannya bahwa ia ya akan menganggap Diana seperti putri kandungnya. Dan itu membuat hatinya menghangat. Seketika ia mengingat ibu yang selama ini membesarkan nya. Biasanya dialah yang akan menemani ketika dia sakit. 

 

Dua bulir kristal bening menetes di sudut matanya tanpa diminta. Kini wanita yang telah membesarkannya itu sudah tak lagi menganggapnya sebagai anak. Tiba-tiba hatinya berdenyut nyeri mengingat kejadian waktu itu.  

 

"Maafin anak Mommy ya, sayang seharusnya dia menjagamu bukan malah sibuk dengan pekerjaannya. Terima kasih karena kamu sudah bersabar menghadapi sikap Desta yang cenderung dingin. Mami cuma minta satu hal, apapun yang terjadi jangan tinggalkan dia demi bayi yang ada dalam kandunganmu itu."

 

Yah, wanita ini mengatakan demikian karena ia tahu di luar sana ada pria lain yang juga memiliki kasih sayang tulus kepada menantunya. Iya juga tahu kalau putranya itu masih belum bisa menentukan sikap. Bahkan pria itu cenderung mengabaikan istrinya. 

 

Marini tahu bahwa pernikahan putranya terjadi karena terpaksa. Meski ia tinggal di belahan bumi lain, tapi koneksi suaminya dan juga mata-mata yang selalu memantau tindak-tanduk putranya tahu persis apa yang terjadi.

 

Satu hal yang tidak ia ketahui bahwa Daniel adalah kakak kandung Diana. Dan sampai detik ini ia menganggap bahwa ketulusan cinta Danil kepada Diana adalah perasaan cinta seorang laki-laki kepada perempuan bukan kakak kepada adiknya. Itulah sebabnya ia mengatakan hal ini kepada sang menantu.

 

***

 

Diana merasa bosan terlalu lama di rumah sakit. Ini adalah hari ketiga dia berada di rumah sakit ini. Sebenarnya kondisinya sudah mulai membaik tapi sang mertua yang tahu bahwa Diana pernah mengalami pendarahan dan hampir keguguran terlalu posesif padanya. Sehingga tak mengizinkan Diana untuk pulang lebih cepat. 

 

Tentu saja hal itu membuat wanita yang berprofesi sebagai guru itu merasa suntuk karena terus berbaring di kamar berbau alkohol itu. Tadi pagi mommy pamit untuk pulang karena ada sesuatu yang harus diurus. Sementara Desta sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Maka untuk menghilangkan kejenuhan ia meminta kepada seorang perawat untuk mengantarkannya menuju ke taman yang ada di rumah sakit. 

 

"Terima kasih, Sus. Tinggalkan saya sendiri," ucap Diana dengan senyum tipisnya. 

 

"Tapi Bu, Pak Desta nanti marah kalau bu Diana sendirian di sini." 

 

"Tidak, Sus nanti biar aku hubungi Mas Desta," ucapnya lagi. 

 

Akhirnya perawat yang mengantarkannya kembali dan meninggalkan Diana sendiri di taman itu. Entah sudah berapa lama dia na larut dalam pikirannya sendiri. Meskipun netranya menatap beberapa anak-anak yang sedang bermain di sana namun pikirannya melayang entah kemana. 

 

Hingga seseorang menepuk pundaknya membuat ia berjangkit. 

 

"Abang, kenapa baru kesini? Aku bosan sendirian," ucap wanita itu manja. 

 

Daniel berjalan memutari kursi roda yang diduduki oleh Diana dan berjongkok di hadapan sang adik. Menggenggam kedua tangannya dan menatap netra bening Diana dengan intens.

 

"Kamu yakin masih mau bertahan dengan pernikahan ini? Di, Jangan memaksakan hatimu kalau kamu tidak sanggup. Mari ikut Abang, kita pulang bertemu orang tua kita. Mami sangat merindukanmu, sayang."

 

Buliran bening saling berlomba mengalir di kedua pipi tirus Diana. Iya sangat ingin bertemu dengan orang tua kandungnya. Namun dia juga tak ingin berpisah dengan Desta. Tidak. setelah iya mengandung anaknya.

 

"Tapi Bang Bagaimana dengan bayi ini? Dia butuh orang tua yang lengkap." Diana menunduk. Mengelus perutnya yang sudah tak lagi rata. 

 

"Tapi sampai kapan kamu akan mengorbankan perasaanmu, Di? Dia sudah punya kekasih dan lebih memilih kekasihnya daripada kamu! Apa kamu lupa dengan perjanjian yang ia buat?"

 

Diana menggeleng. Berusaha menyangkal apa yang dikatakan abangnya. Namun faktanya memang pernikahan yang ia jalani hanyalah pernikahan sementara. Air matanya terus mengalir membasahi pipi. Dadanya sesak mengingat bahwa suaminya akan menceraikan dia setelah usia pernikahan mereka 1 tahun. Atau mungkin setelah bayi yang dikandungnya lahir.

 

Iya sadar bahwa dirinya tidak pernah ada dalam hati suaminya. Meski mertuanya telah memintanya untuk tetap bertahan, tapi nggak tahu apakah ia mampu untuk bertahan ataukah tidak. 

 

"Beri aku waktu 3 bulan, Bang. Kalau dalam waktu 3 bulan ini dia tetap gak berubah maka aku akan ikut pergi bersama Abang."

 

Tangan kanan Daniel terulur membelai puncak kepala adik semata wayangnya. Senyum tulus terukir indah di bibirnya. "Baiklah. Abang tunggu 3 bulan. Semoga kamu nggak berubah pikiran lagi, Di."

 

Dari jarak beberapa meter sosok pria yang mereka bicarakan berdiri dengan rahang mengeras dan kedua tangan terkepal disamping tubuhnya. 

 

Desta menatap kakak beradik itu dengan dada terbakar api cemburu. Setelah ia melakukan tugasnya, buru-buru ia ke kamar sang istri untuk membawakan makanan. Namun yang ia dapati kamar tempat istrinya dirawat kosong. Ia terus mencari keberadaan sang istri hingga di ia sinilah menemukannya. Mendapati istrinya bersama Daniel. 

 

"Seharusnya kamu istirahat di kamar bukan malah berduaan di sini," ucap Desta dingin. 

 

Pria itu telah berdiri menjulang di samping Diana. Matanya menyorot tajam pada tangan Daniel yang masih menggenggam tangan sang istri. 

 

"Apa di dunia ini sudah tidak ada stok wanita hingga kamu mengganggu istri orang?" 

 

Mendengar kalimat itu Daniel terkekeh, merasa lucu dengan apa yang diucapkan sahabatnya. 

 

"Apa kamu mengakuinya sebagai istri? Bukankah selama ini kamu lebih sibuk bersama kekasihmu yang manja dan barbar itu?" Daniel tersenyum mengejek. Lalu berdiri menyejajarkan tingginya dengan Desta agar tidak mudah terintimidasi. 

 

"Heh, bahkan aku yakin kamu baru tahu kalau dia hamil. Iya, kan?"

 

Tuduhan Daniel yang bertubi-tubi membuat pria yang berstatus suami itu meradang. Meski apa yang ia tuduhkan itu benar, namun egonya sebagai lelaki tak terima begitu saja. Tangan kanannya terangkat hendak memukul Daniel. Namun satu kalimat yang terucap dari Diana membuatnya membeku. 

 

"Tenang saja, Bang! Aku hanya perlu bersabar hingga bayi ini lahir."

 

Netra Desta beralih pada sosok istri yang selama ini ia sia-siakan. Ada rasa nyeri mendengar kalimat itu meluncur dari bibir mungil istrinya.

 

"A--apa maksudmu, Diana?"

 

"Bukankah Kamu sendiri yang bilang kalau pernikahan kita hanya satu tahun?"

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!