Dinikahi Calon Ipar
Bukan Aku Pelakunya
Meski panik, Diana harus bertindak cepat. Ketiga anak ini harus segera dilarikan ke rumah sakit jika tak ingin terjadi apa-apa. Dia segera meminta tolong salah satu siswa yang ada di kantin untuk mencari pak Sukri, sopir sekolah yang biasa mengoperasikan mobil inventaris.
Ia juga memerintahkan murid lain untuk ke ruang guru mengabarkan hal ini. Hatinya diliputi rasa was-was melihat kondisi muridnya sudak tak bergerak. Ia sendiri tiba-tiba merasa pusing dan mual. Namun sekuat tenaga ia menahannya. Saat ini yang terpenting adalah nasib ketiga siswa ini.
Sepuluh menit kemudian beberapa guru tergopoh-gopoh mendatangi lokasi. Puluhan siswa juga sudah berkerumun di sekitar mereka.
"Apa yang terjadi, Bu Diana?" tanya Pak Seno, kepala sekolah.
"Nggak tahu, Pak. Kami makan bersama, tapi tiba-tiba mereka mengeluh pusing dan akhirnya pingsan."
"Apa yang mereka makan?"
"Mereka makan bekal dari rumah masing-masing ditambah bekal punya saya," lirih Diana.
Tidak mungkin kan, mereka pingsan gara-gara rica-rica pemberian ibunya? Ah, semoga saja bukan.
***
"Kamu apakan anakku?!" Seorang pria bertubuh kekar langsung bertanya pada Diana yang sedang khawatir di depan UGD. Wajah wanita hamil itu tampak pias. Rona di wajahnya menghilang berganti pucat.
"Tidak, Pak. Kami hanya makan bersama," lirih Diana. Hatinya diliputi cemas yang kuar biasa mengingat tiga siswa kesayangannya berjuang hidup di dalam sana.
"Dan kau membubuhkan racun di dalam makanan itu!"
"Tidak. Saya tidak melakukannya!"
"Ternyata kau ini hanya iblis yang bersembunyi di balik wajah malaikat. Bisa-bisanya meracuni muridnya sendiri!" sahut wali murid lainnya.
Diana hanya bisa menggeleng dengan air mata yang sudah menggenang. Ia menatap kepala sekolah dengan tatapan memohon. Berharap orang yang dihormatinya ini bisa membantu.
"Bapak-bapak, tolong sabar dulu. Kita belum tahu apa bu Diana yang meracuninya atau bukan. Sebaiknya kita fokus dulu pada anak-anak. Urusan ini kita selesaikan saja setelah ini." Pak Seno berusaha menengahi. Sebagai kepala sekolah, ia merasa bertanggung jawab dengan kejadian ini.
"Bapak nggak usah melindungi penjahat seperti dia! Sudah jelas anak-anak kami keracunan karena memakan bekal darinya!"
"Tapi bekal itu bukan saya yang membuat, itu pemberian dari--"
"Alah ... nggak usah mengelak lagi! Semua bukti sudah mengarah padamu. Sekarang lebih baik kamu ikut kami ke polisi dan jelaskan saja di sana!"
Pak Seno merasa iba melihat salah satu bawahannya digelandang ke polisi tanpa perasaan. Terlebih ia sedang hamil muda. Dalam hati ia juga tak percaya jika Diana tega melakukan itu. Tiga tahun wanita itu mengabdi, sudah cukup baginya mengerti seperti apa Diana. Wanita lemah lembut yang penuh kasih sayang.
Selain cerdas dan berbakat, Diana juga gadis yang ringan tangan. Selalu membantu rekan sejawatnya jika mengalami kesulitan maslaah administrasi pembelajaran. Rasanya ia tak boaa percaya begitu saja dengan tuduhan itu. Tapi mau gimana lagi, semua bukti sudah mengarah padanya.
Diana mencoba menghubungi suaminya, meski ia tahu bagaimana reaksinya. Namun sayang nomor HP-nya tak aktif. Lalu menghubungi mertuanya. Sama. Nomor mereka juga tak aktif. Kenapa disaat pending begini tak ada seorang pun yang bisa ia hubungi?
Satu yang kembali terlintas di benaknya. Daniel. Ya, dia harus menghubungi pria itu. Pasti abangnya akan berusaha keras untuk membuktikan kalau dirinya tak bersalah.
Sesampainya di kantor polisi, Diana dicecar dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya semakin pusing. Jawaban yang diberikan tak mampu membuatnya terbebas.
Pasrah sambil menunggu Daniel datang. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Tak mungkin ia ngotot sementara semua bukti memang mengarah padanya. Hatinya tak berani menuduh sang ibu yang sengaja melakukan itu. Bagaimanapun ibu adalah sosok yang telah merawatnya sejak kecil. Nggak akan mungkin tega melakukan itu meski sumber racun berasal dari makanan buatannya.
Dengan perasaan tak menentu, Diana menurut saat dibawa ke dalam ruangan berjeruji besi. Hanya Allah penolongnya. Ia terus berdoa semoga anak-anak itu selamat. Mulutnya tak henti menucap zikir.
"Berapa uang jaminan yang Bapak minta, akan saya berikan. Tapi tolong bebaskan dia. Kasihan dia sedang hamil muda," ucap Daniel saat tiba di kantor polisi. Ia segera menemui petugas untuk melakukan negosiasi.
"Simpan saja uangmu, Pak. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Nyawa tiga siswa dalam bahaya, dan kau malah kasihan pada penjahat itu?" Polisi tampak geram melihat Daniel yang berusaha membujuknya.
Tatapan tajamnya menghunjam langsung pada manik kelam Daniel. "Dari pada menghamburkan uang, lebih baik cari pengacara saja untuk membelanya. Dan jangan lupa bawa bukti-bukti kalau dia memang tidak bersalah. Hukum akan berlaku adil kalau memang dia terbukti bersih dari kasus ini."
Menghembuskan nafas panjang, Daniel berusaha tetap tenang. Benar kata polisi. Percuma ia bersikeras kalau ia tak memiliki bukti apapun.
"Kalau begitu, bolehkah saya menemuinya sebentar, Pak?"
"Lima belas menit. Waktumu hanya lima belas menit saja."
Keduanya berjalan menuju ruangan yang terdapat seorang wanita bersimpuh di dalamnya. Tatapannya terlihat kosong. Namun binir wanita itu komat-kamit melanyunkan sesuatu.
Hati Daniel terasa nyeri melihat adiknya mendekam di balik tahanan. Sesaat ia berhenti, menyeka sudut matanya yang basah.
"Tidak jadi menemuinya?"
"Jadi, Pak. Terimakasih."
Perlahan, pria berjambang tipis itu melangkah mendekati jeruji besi. Tatapannya sendu menyaksikan pemandangan di dalamnya.
"Diana," lirihnya.
"Abang! Kau sudah datang?" Diana bangkit dan mendekat pada abangnya. Senyum tulus mengembang meski Daniel tahu hatinya sedang terluka saat ini.
"Maafkan aku, Bang. Aku nggak melakukan itu. Sungguh."
"Iya, Diana. Abang percaya padamu. Hanya saja ...."
"Hanya saja apa, Bang? Diana bisa bebas kan?"
Lagi, hati pria itu bagai disayat-sayat. Bagaimana ia harus mengatakannya pada sang adik. Melihat senyum penuh harap itu luntur berganti kecewa, ia tak akan sanggup melihatnya. Tangan kekar yang dipuenuhi urat menonjol milik Daniel terulur mengelus puncak kepala sang adik. Menyalurkan kekuatan agar adiknya tak tumbang.
"Maafkan Abang. Polisi tak mau menerima jaminan. Tapi percayalah, Abang akan berusaha semaksimal mungkin untuk membebaskanmu dari tempat ini. Kamu sabar dulu sebentar, ya."
Senyum manis itu langsung pudar dari bibir Diana. Harapannya yang sempat membumbung tinggi langsung terjun mendengar kabar itu.
"Nggak papa, Bang. Terimakasih."
Sementara itu di tempat lain, seorang pria tampan dengan berwibawa memimpin rapat. Wajahnya sangat serius mendengarkan pendapat dari bawahannya. Sesekali ia menanggapi. Namun keseriusannya harus terganggu saat seorang perempuan tiba-tiba berdiri meminta izin.
"Ada apa? Apa kamu tidak tahu sekarang kita sedang rapat penting?"
Wanita itu menunduk takut. Tangannya menggenggam erat ponsel yang baru saja menampilkan sebuah pesan penting hingga membuatnya berani menginterupsi rapat. Siapalah dia yang hanya seorang bawahan yang berani meminta izin pulang saat rapat sedang berlangsung.
"Maaf, Pak. Baru saja saya dihubungi pihak sekolah. Anak saya keracunan makanan dan masuk rumah sakit. Kondisinya sangat genting sekarang. Tolong izinkan saya pulang duluan, Pak. Saya mohon," ucap wanita itu dengan suara bergetar.
Desta masih bergeming. Menimbang-nimbang apakah wanita ini berkata benar atau bohongan.
Mengerti tatapan bosnya, wanita itu kembali berkata. "Kalau Bapak tak percaya, telepon saja sekolah Insan Mandiri, anak saya sekolah di sana. Katanya anak saya dan kedua temannya makan bekal gurunya yang sedang hamil muda bernama Diana. Lalu semuanya pingsan."
Mendengar nama istri dan tempatnya mengajar disebut, Desta membulatkan matanya. Lalu mengangguk pada wanita itu.
"Terimakasih, Pak. Permisi."
Setelah wanita itu menghilang dari balik pintu, Desta segera menghubungi sekolah tempat istrinya mengajar. Apa yang dikatakan wanita itu benar. Lalu ia mengecek ponselnya barangkali ada panggilan dari sang istri. Benar. Ada sekitar 10 panggilan tak terjawab melalui aplikasi WhatsApp.
"Maaf, semuanya. Rapat kita tunda dulu. Saya harus segera ke rumah sakit!"