Dinikahi Calon Ipar

Absurd

"Jadi?"

"Yah, begitulah faktanya." Dengan santai pria yang mengaku bernama Eldi mencomot kembali udang crispy yang masih setengah porsi milik Diana. 

Tentu kelakuan nggak sopan pria ini membuat dua pria lain menganga melihatnya. 

"Hei, kalau mau makan pesan aja sendiri! Jangan main comot gitu, dong!" Desta tampak menggeram melihat kelakuan sewenang-wenang pria yang mengaku teman SMA istrinya. 

Namun sepertinya Eldi tak merasa terganggu dengan tatapan membunuh 2 pria di sampingnya . Mau tak mau Diana menyudahi makannya meski sebenarnya iya masih sangat ingin melahap udang crispy itu. Namun mengingat aura yang mulai berubah horor, wanita hamil ini menekan keinginannya.

"Eh, eh, eh, mau kemana? Temani aku dulu di sini napa? Sepertinya kamu sudah nggak takut ma cowok lagi. Kalau gitu, boleh dong babang El PDKT sama Diana cantik," ucapnya tanpa disaring dulu. 

Iya Bahkan tak mau repot-repot melihat dua orang yang menjadi bodyguard Diana. Baginya dua orang pria itu dianggap seperti bayangan yang mengikuti kemanapun Diana pergi. Tanpa ada keinginan untuk tahu apa status mereka. 

"Dasar nggak waras!" ucap Desta sinis. 

Namun yang dikatai demikian hanya nyengir tanpa beban. Lalu ikut berdiri dan mengekori Diana. Merasa tak ada gunanya melayani pria tak jelas seperti Eldi, Diana hanya diam sambil terus berjalan mengikuti Abang dan suaminya. 

"Di, minta nomor HP-nya, dong. Ntar kukirim cokelat lagi tiap hari!"

"Astaghfirullah, kenapa ada makhluk tak tahu malu begini, ya? Apa Lo nggak lihat Diana sudah bersuami?" Suara Desta sedikit membentak. Dari tadi pria ini terus mengikuti dengan mulut yang terus berbicara. 

"Ya, mana gue tahu! Diana aja nggak pernah ngasih tahu kalau sudah nikah!" 

"Lihat tuh perutnya, sudah hamil. Berarti sudah nikah!"

"Ha? Loh, kok?" Pria itu baru menyadari kalau apa yang dikatakan Desta benar. Ia menatap horor pada perut buncit Diana. Lalu bahunya merosot dengan wajah kecewa meski masih ada senyum di bibirnya.

Daniel sudah tak tahan dengan perdebatan itu. Ia memilih untuk menarik adiknya dan segera masuk ke mobil. Berlama-lama dengan manusia absurd macam Eldi, bisa gila mereka bertiga. 

"Beneran kamu nggak kenal sama dia?" tanya Desta sesaat setelah mobil melaju. 

"Bener. Seperti yang dia bilang. Dulu aku sangat kuper. Nggak mau menonjolkan diri di sekolah. Karena cita-citaku cuma satu. Lulus dengan nilai memuaskan."

"Sepertinya dia penggemar gelapmu. Hati-hati, orang seperti dia bisa berbuat apa saja kalau nekat." Daniel menimpali. 

Mendengar penuturan sang kakak membuat Diana bergidik ngeri. Ia jadi ingat cerita-cerita tentang psikopat. Ah, kenapa harus ketemu dia, sih? Aku kan jadi parno.

 

***

 

Udara pagi menusuk tulang. Dingin. Sangat dingin. Sisa-sisa hujan semalam menguarkan aroma tanah yang disukai indra pembau Diana. Meski ia takut dengan petir yang menyertai hujan, calon ibu ini tetap menyukai jejak yang ditinggalkan oleh tetesan air langit itu. 

Setelah subuh, Diana sengaja keluar untuk jalan-jalan. Menghirup udara pagi yang belum tercemari polusi. Kata dokter kandungan yang menangani, di usia kehamilan yang sudah menginjak bulan ke delapan, harus sering-sering jalan kaki. 

Diana memilih pagi selain masih sepi, ia tak berlu banyak mengeluarkan keringat. Karena ia sering gatal jika keringatnya berlebih. Kali ini ia tak sendiri. Ada suami tercinta yang menemaninya. 

"Capek?" tanya Desta yang tak tega melihat perut buncit Diana. Sesekali bidadari hatinya memijit punggungnya atau mengelus bulatan berisi buah hatinya. 

"Nggak. Cuma sedikit pegal aja pinggangku, Mas."

"Mau istirahat dulu? Sambil sarapan?"

Langit sudah mulai terang. Warna keemasan terlihat indah di ufuk timur. Tanda pekat malam berganti siang. Diana mengangguk menyetujui usulan sang imam. 

"Mau makan apa?" 

Di sekitar mereka banyak stand makanan yang sengaja buka dari subuh. Saat ini mereka berada di taman kota. Tempat yang sangat pas untuk menikmati pagi hari sambil olah raga ringan. 

Jarak dari rumah ke taman kota sekitar satu setengah kilometer. Itu artinya mereka sudah berjalan sejauh itu. 

"Bubur kacang ijo dicampur ketan hitam, ya," jawab Diana sambil menyelonjorkan kakinya yang sedikit bengkak. Tangannya lurus ke belakang sebagai tumpuan badan. 

Perlahan ia memejamkam mata. Menikmati sejuknya udara pagi dan sapuan udara nan lembut di kedua pipinya yang bersih. Mangatur napas sedemikian rupa agar kelak saat melahirkan ia sudah bisa melakukannya. 

Cukup lama ia ada di posisi seperti itu. Satu kursi panjang ia duduki sendiri. Karena kebetulan juga belum banyak pengunjung. 

Lima belas menit Desta datang membawa tentengan berupa sarapan untuk mereka berdua. Saat langkahnya tinggal beberapa meter lagi, ia terpaku menatap sang istri yang terlihat makin cantik. Ada yang berdesir indah ketika menatap perut bulat istrinya. 

"Yuk, makan dulu!" ucapnya kemudian. 

Diana membuka mata dan menampilkan senyum teduhnya. Menurunkan kaki dan memberi space untuk suaminya duduk di sebelah. 

Aroma bubur kacang hijau menguar saat wadah bulat berbahan plastik itu dibuka. Diana yang semenjak hamil sangat menyukai bubur ini langsung menyantap dengan lahap. 

Tanpa aba-aba, tangan suaminya terulur. Membersihkan sisa bubur yang menempel di sudut bibirnya. Perlakuan manis itu mampu mengobrak-abrik hati Diana hingga detak jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. 

Meski mereka sudah menjalani pernikahan ini selama delapan bulan, Diana masih saja salah tingkah bila tiba-tiba sang imam bersikap romantis. Rasanya masih seperti mimpi baginya, bisa berdamai dan menjalani hari indah bersama lelaki di sampingnya. 

Dalam hati ia berdoa semoga rumah tangganya selalu tenteram dan langgeng. 

"Mau nambah?" tanya Desta menginterupsi kegiatan istrinya yang tampak seperti melamun sambil makan. Namun herannya ia terus menyuap bubur itu ke mulutnya meski tatapannya kosong. 

"Di, sayang ... mau nambah?" ucap Desta sekali lagi. 

"E--eh, apa, Mas?"

"Pagi-pagi melamun aja. Kamu lagi mikirin apa, sih?" 

Seulas senyum tersungging dari bibir cerry Diana. Lalu meletakkan wadah bubur yang telah kosong ke tempat sampah. 

"Sudah kenyang. Perutku sudah nggak muat, Mas."

"Kamu harus makan banyak, karena ada satu nyawa lagi yang harus kamu kasih makan." Desta memupus jarak diantara mereka. Mengulurkan tangannya dan mengusap lembut perut Diana. 

"Nanti lagi di rumah. Sekarang aku benar-benar sudah kenyang."

"Baiklah. Sekarang kita pulang atau mau ke mana lagi?" 

Diana menimbang-nimbang sesuatu. Alisnya tampak mengerut dengan lipatan di dahi muncul secara nyata. Menandakan ia sedang berpikir serius sekarang. 

"Mas!"

"Hem."

"Kita beli perlengkapan bayi, yuk. Sekarang kan kandunganku sudah delapan bulan lebih. Dedek belum memiliki apapun loh."

Tanpa berpikir panjang, Desta langsung menyetujui usulan sang istri. Ia juga sudah merencanakan untuk belanja dari minggu kemarin. Sayang karena ia sibuk di rumah sakit, sampai lupa mengajak istrinya. 

Kini justru sang istri yang mengingatkannya. Namun keduanya sepakat untuk pulang dulu mandi dan mengambil mobil. 

Di sinilah mereka sekarang. Di sebuah baby shop yang sangat terkenal. Pertama-tama Diana mengajak ke bagian baju-baju bayi. Lalu ke perlengkapan mandi, perlengkapan kamar dan pernak-pernik lainnya. 

Belanjaan mereka sudah tiga trolly, tapi Desta masih tak menyudahi. Dia kalap berbelanja kebutuhan calon buah hatinya hingga tak sadar iatrinya sudah menuju ke kasir. 

"Kamu yakin sudah nggak ada yang perlu dibeli?

"Nggak. Ini sudah terlalu banyak." tolak sang istri. Ia jadi berpikir kenapa sekarang mereka jadi terbalik? Bukankah biasanya yang kalap belanja itu kaum hawa? Tapi ini justru sebaliknya.

"Hei, Di, kamu belanja juga? Wah kamu sudah hamil? Berapa bulan?"

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!