Dinikahi Calon Ipar
Kejutan Terindah
Pagi-pagi sekali, Diana sudah berkutat di dapur. Efek tak bisa tidur semalaman karena memikirkan ibu angkatnya, ba'da subub ia sudah berkutat di dapur. Membuat nasi goreng dan roti bakar untuk sarapan.
Bi Ijah berkali-kali sudah melarang. Tak tega melihat majikannya di depan kompor dengan perut besar. Apalagi sesekali Diana menekan punggungnya yang mulai pegal. Namun, dasar Diana, ia tetap melakukan aktivitas meski sudah dilarang. Katanya biar persalinannya nanti lancar. Bahkan andai Desta nggak memaksa, ia tetap ingin pergi mengajar.
Tepat pukul 6 pagi semua sarapan sudah terhidang di meja makan. Delapan puluh persen Diana yang membuatnya. Setelah siap, wanita itu segera masuk ke kamarnya. Semenjak usia kandungannya mencapai tujuh bulan, Desta memindahkan kamar mereka di kamar tamu yang ada di lantai satu. Jadi, Diana tak perlu susah payah naik turun tangga.
"Mas, sarapannya sudah siap, tuh!" Diana mendekati suaminya yang asik dengan HP pintarnya.
"Dari habis subuh kamu menghilang kemana, hem?"
"Buat sarapan," lirihnya tanpa berani menatap mata sang suami. Ia takut suaminya kembali marah karena ia tak mendengar perintahnya.
"Sayang, sudah berapa kali kubilang, jangan ma--"
"Tapi aku bosan," potong Diana sebelum suaminya menyelesaikan ucapannya. Ia tahu kemana arah pembicaraan sang imam.
Pria itu menghembuskan nafas lelah. "Baiklah. Ini terakhir kalinya."
Tak tega ia memarahi istri tercinta. Apalagi istrinya terlihat sangat menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga. Dan kini, istrinya juga nggak mengalami apapun. Saat memasak. Semua hanya kekhawatiran Desta saja.
"Oke, sekarang kamu mandi dan bersiap. Kutunggu di sini, oke?"
"Aku sudah mandi sebelum subuh tadi."
"Tapi kamu kan, habis masak. Mandi lagi aja, terus ganti baju lengkap, ya."
Diana mengerti yang dimaksud baju lengkap oleh suaminya. Maksudnya ia harus memakai jilbab dan khimar plus kaos kaki. Meski ia heran, kenapa suaminya meminta mengenakan pakaian khusus keluar rumah itu, Diana tak membantah. Apalagi ia juga merasa gerah sehabis berkutat dengan wajan dan kompor.
Lima belas menit kemudian Diana sudah siap dengan pakaian syar'i-nya. Dia tak pernah berlama-lama di dalam kamar mandi sesuai dengan anjuran Rasulullah.
"Yuk!"
Desta terpaku di tempat. Melihat bidadari hatinya tampil memukau saat ini. Entah kenapa, wanita ini semakin cantik saja setiap hari. Perut buncitnya semakin membuat Diana tampak memesona. Setiap hari kadar cinta suaminya semakin bertambah. Ah, kenapa baru sadar kalau Diana sangat cantik? Bahkan dia cantik alami tanpa polesan make up.
Di ruang makan sudah ada Mommy dan Daddy yang menunggu. Pasangan yang selalu romantis meski usia pernikahan mereka sudah memasuki 32 tahun, sudah duduk di posisinya. Menatap putra dan menantu kesayangan dengan senyum mengembang.
"Mau kemana kok sudah rapi begitu, sayang?" tanya Mommy saat Diana baru saja mendudukkan bobot tubuhnya.
"Nggak tahu, Mom. Mas Desta yang menyuruhku begini."
Wanita yang memiliki samudra kesabaran ini menatap putranya yang fokus pada nasi goreng buatan istrinya. Dia tahu, semua menunggu jawabannya. Tapi ia tak peduli.
Akhirnya semua menyelesaikan sarapan paginya tanpa suara. Setelah selesai, Desta segera menggandeng istrinya.
"Kami keluar dulu, Dad, Mom!"
"Mau kau bawa kemana mantu Mommy, Nak? Awas kalau sampai kelelahan!"
Pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah itu hanyak mengangguk sekilas. Lalu keluar membawa sang istri. Ia ingin memberi kejutan bagi belahan jiwanya.
Desta tahu, sejak kedatangan ibu angkatnya kemarin, sang istri lebih banyak melamun. Tatapannya kosong dan sering salah fokus. Kebetulan sekali iparnya menghubungi untuk membawanya ke apartemen. Ada kejutan katanya.
"Kita mau ke mana sih, Mas? Kok main teka-teki segala?"
"Kerumah abangmu!"
"Tumben ngajakin ke sana? Ada apa?"
Desta mengusap puncak kepala Diana, lalu melajukan mobilnya tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.
Karena tak mendapat jawaban atas pertanyaan yang memenuhi benaknya, Diana memilih untuk menyalakan murotal dari flashdisk yang ia simpan di dashboard mobil.
Matanya terpejam menghayati setiap ayat-ayat yang terlantun merdu darinya. Hingga tak menyadari kalau mereka sudah sampai di basemen gedung apartemen abangnya.
"Yuk, turun!"
Diana merotasi bola matanya. Memindai sekeliling dan mendapati mereka sudah sampai. Seketika kepingan peristiwa waktu itu membayang di kepala. Namun, ia tak mau ambil pusing. Toh, karena kejadian itu akhirnya ia bisa menemukan keluarga kandungnya.
Setelah memencet bel apartemen beberapa kali, pintu dibuka dari dalam. Sosok tinggi tegap berjambang tipis menyembul dari balik pintu.
Tanpa aba-aba, Diana langsung menghambur ke pelukan abangnya. Sudah cukup lama mereka tak bertemu. Tepatnya pasca kejadian ia dipenjara waktu itu. Dua hari setelahnya, Daniel pamit untuk ke luar negeri beberapa minggu.
"Abang! Kemana aja, sih? Tega banget ninggalin Diana sendiri," ucapnya sambil mengerucutkan bibir. Hal itu tak luput dari pengamatan suaminya.
"Kan, Abang sudah bilang mau ke luar negeri. Lagian, kamu itu sudah gede ya, bahkan sebentar lagi mau jadi ibu?"
Diana melepaskan diri dari dekapan hangat sang kakak dengan bibir masih mengerucut. Hanya kepada abangnya ia bisa bersikap seperti ini. Karena ia masih sungkan untuk bermanja pada suaminya.
Tatapan iri dari Desta terlihat sangat jelas. Ia juga ingin sekali diperlakukan seperti itu oleh istrinya. Namun hingga hubungan mereka membaik seperti saat ini, Diana masih saja malu-malu dan seperti menjaga jarak.
Apa aku terlalu garang ya, sampai Diana nggak berani begitu padaku? Desta terus membatin.
"Kamu nggak mau menyuruh kami masuk?" Desta yang sudah tak tahan dengan adegan itu akhirnya menginterupsi.
Meski sudah tahu kalau mereka saudara kandung, tapi masih saja terselip cemburu melihat kedekatan mereka. Dadanya tetap berdenyut nyeri setiap kali Diana bergelayut manja di lengan abangnya. Apa itu normal? Cemburu pada ipar sendiri?
"Ya udah, yuk, masuk!"
Daniel mengajak mereka masuk. Ruangan itu masih sama seperti pertama kali Diana ke sini karena kesalahan. Ah, kenapa aku masih saja mengingatnya?
"Kalian duduk dulu di sini, ya? Aku ke dalam dulu." Daniel memasuki sebuah ruangan yang mirip seperti kamar. Beberapa saat kemudian ia kembali keluar dengan seorang wanita paruh baya yang mirip dengan Diana.
Ketika tatapan wanita itu bersirobok dengan manik bening Diana, keduanya membeku. Dunia seolah ikut berhenti berputar. Ada perasaan membuncah menyusup ke hati keduanya.
Meski tak dijelaskan, Diana tahu kalau wanita ini adalab wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Kemiripan mereka sangat jelas. Bedanya cuma pada tekstur kulit. Diana masih sangat mulus dan segar, sementara wanita itu sudab dihiasi dengan keriput halus.
"Mama," lirih Diana. Suaranya juga terdengar parau. Kedua netranya sudah memburam terhalang oleh kaca-kaca yang siap pecah dalam sekali kedipan.
Sementara wanita yang dipanggil mama oleh Diana sudah tak mampu membendung air matanya. Rasa haru dan bahagia bercampur jadi satu.
Selanjutnya kedua wanita beda generasi itu saling mendekat dan berpelukan. Menumpahkan rasa rindu yang menggebu.
"Mama yakin kamu masih hidup. Mama yakin suatu saat pasti akan ketemu," ucap Mama lirih diiringi derai air mata.
"Mama!"
"Iya, sayang!"
Tak ada lagi kata yang terucap. Diana larut dalam kebahagiaan yang sempurna.