Dinikahi Calon Ipar
Perjanjian Rahasia
"Halo,"
[Bisa datang ke rumah. Ada hal penting yang mau bapak bicarakan]
"Sekarang?"
[Ya. Kalau kamu nggak sibuk]
"Oh, nggak kok, sayang. Aku langsung ke sana."
Desta tersenyum. Akhirnya Meta mau berbicara lagi dengannya. Ia berharap bapaknya membatalkan rencana untuk menikahkan dirinya dengan Diana dan kembali menikahkannya dengan Meta. Gadis pujaannya.
Dengan senyum mengembang, pria berprofesi dokter itu melangkah cepat menuju parkiran. Mengabaikan setiap sapaan yang mampir padanya. Hatinya diliputi kebahagiaan saat ini. Sambil membuka pintu mobil, ia mengetik oesan untuk membatalkan janji dengan sahabatnya yang baru saja sampai dari luar negeri. Ia tak peduli jika sahabatnya nanti marah. Yang penting sekarang urusannya dengan Meta selesai.
Dua puluh lima menit perjalanan yang ia tempuh dari rumah sakit ke rumah kekasihnya. Di ruang tamu ternyata mereka sudah menunggu kehadirannya.
"Duduklah!" perintah bapak lembut.
Sikapnya yang mulai melunak membuat Desta semakin yakin jika orang tua itu sudah memaafkannya dan akan mengubah keputusan.
"Begini, pernikahan kalian tinggal dua hari lagi. Bapak harap kamu tidak mempersulit keluarga kami."
"Maksudnya, Pak? Mempersulit gimana?"
"Kamu tahu kan harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu? Kamu tetap harus menikah sama Diana."
Desta terkesiap. Hatinya mencelos. Ia pikir Meta lah yang akan jadi pendampingnya. Ternyata keputusan keluarga ini tidak berubah. Ia menatap Meta yang duduk di samping bapaknya. Gadis itu bergeming. Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibir manisnya. Ketika tatapan mereka beradu, gadis itu memilih untuk memutuskan kontak terlebih dahulu.
"Pak, Bapak tahu gadis yang saya cintai itu Meta. Kenapa saya harus menikahi Diana? Lagipula, dia juga sudah kelihatan baik-baik saja. Tak bisakah saya kembali pada Meta, Pak?"
"Tidak bisa. Untuk saat ini kamu tetap harus menikahi Diana. Saya nggak mau keluarga ini menanggung malu atas perbuatanmu. Nikahi dia dulu, baru nanti kamu boleh kembali pada Meta."
Lagi-lagi mata pria beralis tebal itu membola. Tak paham dengan maksud sang calon mertua. Apa artinya ia harus menikahi kedua putrinya? Ini gila. Mana boleh begitu? Meski ia tak paham betul dengan ajaran agamanya, ia tahu bahwa menghimpun dua bersaudara dalam satu ikatan pernikahan hukumnya haram.
"Maksud Bapak saya menikahi kedua putri Bapak?"
"Ya. Setelah Diana kau ceraikan, kau boleh menikahi Meta."
Meta yang tak paham dengan rencana bapaknya tak kalah terkejut dengan ucapan orang tuanya itu. Ia menatap sang ibu yang mengangguk mantap. Lalu beralih pada Desta yang sama bingungnya dengan dirinya.
"Maksud Bapak, saya hanya menikahi Diana sementara saja?"
"Ya. Hanya setahun. Jika dalam waktu setahun itu terbukti Diana tak melahirkan anak, maka kau boleh menceraikannya dan kembali pada Meta."
"Pak, nggak boleh begitu dong. Aku kan bukan ban serep. Enak aja dijadikan batu loncatan. Enak kak Diana dong. Masa aku dapat bekasnya dia. Nggak mau ah," protes gadis itu sengit.
Tak habis pikir dengan rencana gila bapaknya. Ia memang sangat mencintai Desta. Ia juga tak rela menyerahkan Desta kepada kakaknya. Yang ia tahu, pertemuan ini untuk membahas pernikahan dirinya dan membatalkan rencana bapaknya untuk menikahkan kakaknya dengan kekasihnya. Ternyata ia salah. Bapaknya mengambil keputusan di luar nalarnya.
"Sayang, kamu masih menciantai Desta kan?"
"Tentu saja!"
"Kalau gitu menurutlah."
"Tidak! Kenapa nggak langsung aku saja yang menikah dengannya, Pak? Kenapa harus kak Diana dulu?"
Bapak terlihat menghembuskan napas lelah. Beberapa hari memikirkan hal ini. Berharap semuanya berjalan lancar. Bagaimanapun, Diana adalah bagaian dari keluarga ini. Sebenci apapun ia padanya, Diana tetap harus menutup aibnya. Ia khawatir gadis itu hamil di luar nikah. Dan itu pasti akan membuat keluarganya malu.
"Dengar, Nak. Kakakmu sudah melakukan kesalahan fatal. Dia harus menutupi aibnya agar keluarga ini tak malu. Akibat perbuatannya, bisa saja keluarga ini menjadi sial ke depannya."
Desta mengacak rambutnya frustasi. Bukan seperti ini yang ia inginkan. Mungkin kalau laki-laki lain akan dengan senang hati menerima tawarannya. Menikahi dua wanita cantik dalam waktu berdekatan. Tapi tidak baginya. Ia mencintai Meta, bukan Diana. Bahkan ia sangat membenci Diana.
"Pak, tapi saya tidak bisa. Diana nggak bakal hamil, karena saya tak sampai melak--" ucapannya terjeda oleh kalimat bapak selanjutnya.
"Cukup, Nak Desta. Keputusan saya sudah bulat. Kamu nikahi Diana. Setelahnya kamu ceraikan seperti kata saya tadi. Nggak ada tawar menawar lagi."
Desta hanya menghembuskan napas pasrah. Tak bisa lagi bernegosiasi dengan orang tua ini. Mungkin sebaiknya ia terima saja permintaannya. Cuma satu tahun. Ia pasti bisa melewatinya.
"Baiklah, Pak. Kalau itu memang sudah jadi keputusan Bapak."
"Desta! Kamu sudah gila? Kenapa kamu mau menerimanya? Oh ... atau kamu memang berharap bisa menikahi kakakku?" jerit Meta dengan berlinang air mata.
Hatinya sakit mendengar persetujuan kekasihnya. Kenapa ia tak minta pendapatnya dulu? Dengan menghentakkan kaki, Meta memilih bangkit dan meninggalkan mereka.
"Kejar dia, kasih dia pengertian. Kamu pasti bisa meluluhkan hatinya," ucap ibu lembut.
Desta yang sudah mendapat persetujuan dari calon mertuanya, melangkah ke tangga menuju kamar gadis yang dicintainya.
"Meta sayang, buka pintunya dong, kita perlu bicara," ucapnya lembut.
Selalu seperti ini. Setiap kali gadis itu merajuk, Desta akan merendahkan suaranya untuk membujuk gadisnya.
Sekali lagi ia mengetuk pintu. Mencoba untuk berbicara dengannya.
"Sayang, buka pint--" suara hendel pintu membuatnya tersenyum.
Gadis itu membuka pintu kamar dengan raut wajah kesal. Bibirnya mengerucut dengan kedua mata sembab. Lalu berjalan menuju sofa yang menghadap jendela.
"Cepat katakan, aku mau istirahat!"
Desta tersenyum. Lalu duduk di sampingnya. Ia meraih tangan halus gadis itu dan menciumnya.
"Percayalah, hanya kamu yang kucintai. Pernikahan ini hanya sementara. Aku pastikan dalam waktu satu tahun, aku akan mencerikannya. Karena dia nggak mungkin melahirkan anak."
"Bagaimana kamu bisa yakin?"
"Karena aku tak melakukan apapun padanya."
"Tapi waktu itu?"
"Belum. Belum sampai sejauh itu."
Spontan Meta memukul Desta dengan bantal sofa yang ada di pangkuannya.
"Jadi kamu berharap akan melakukanya jika kami tak datang tiba-tiba?"
Pria itu tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tahu, ia salah bicara. Tapi melihat respon gadisnya, hati Desta menghangat. Ia tahu, kekasihnya sudah tak marah lagi padanya. Ia mencoba merengkuh tubuh gadis itu dalam pelukannya. Hangat.
"Tapi bagaimana kalau kamu jatuh cinta padanya?"
"Tidak mungkin. Kamu tahu sendiri aku bukan lelaki yang mudah jatuh cinta. Apalagi ada kamu yang menungguku," ucapnya mantap sambil memamerkan senyumnya yang sangat manis.
"Tapi kita masih bisa bertemu seperti biasa, kan?"
"Tentu saja! Aku tak akan menghabiskan waktuku untuknya. Melihatnya saja aku sudah muak. Nggak mungkin aku betah berlama-lama dengannya."
Tanpa mereka sadari, gadis yang dibicarakan berada di balik pintu sejak tadi. Pintu tang tidak tertutup rapat membuatnya bebas mendengarkan pembicaraan dua manusia yang ada di dalam kamar itu. Tak ada yang tahu, bagian mana yang telah di dengar olehnya.