Ditipu Menantu Benalu
Tidak Pernah Berubah
Melihat reaksinya, aku menduga Mbak Citra nggak tahu soal utang-utang suaminya. Tapi bisa jadi dia nutupin juga. Mengingat utang dengan menjaminkan BPKB dia juga tahu. Cuma yang jadi pertanyaan, untuk apa uang-uang itu.
"Apa mbak Citra beneran nggak tahu tentang utang-utang itu?" Kutatap matanya penuh selidik. Namun dia mencoba mengalihkan pandangannya dariku. Bola matanya bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri. Mengukuhkan kebohongan yang coba ditutupi.
"Aku nggak tahu," ucapnya sedikit ketus lalu beranjak meninggalkan kami. Emak hanya bisa mengelus dada melihat sikap Mbak Citra yang belum berubah. Kupikir setelah kejadian ini, ia akan kembali seperti Mbak Citra yang dulu. Nyatanya, mengubah karakter seseorang yang telah mengakar, tak semudah membalikkan telapak tangan.
Emak mengkode supaya aku tak memaksa Mbak Citra untuk cerita dulu saat ini. Memberikan ia waktu untuk berpikir.
***
"Dian!"
Teriakan Mbak Citra membuatku tergopoh-gopoh untuk datang ke sumber suara. Tadi setelah makan siang, semua istirahat. Aku memanfaatkan waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang baru dikirim dari kantor tadi pagi. Namun saat konsentrasi mengedit naskah, terdengar ribut-ribut dari ruang TV. Tempat di mana Mbak Citra dan anak-anaknya istirahat sambil nonton film.
Mataku melotot menyaksikan apa yang terpampang saat ini. Dian sudah meringkuk di sofa sambil sesenggukan, sedangkan Mbak Citra berdiri dengan sorot mata tajam. Tangan kiri nangkring di pinggang dan tangan kanannya yang bebas mengepal kuat. Ada apa ini?
Aku segera mendekati Dian yang tampak ketakutan dengan mamanya. Dia langsung menghambur ke dalam pelukanku. Meraung lebih keras dengan tubuh bergetar.
"Mbak Citra, apa sudah kamu lakukan? Kenapa dia bisa menangis seperti ini?"
Perempuan yang telah melahirkan Dian sepuluh tahun lalu ini melengos. Ada kilat kemarahan yang terpancar dari sorot matanya. Dadanya naik turun. Lalu mengambil Eki yang terbaring di atas matras untuk digendong.
"Mbak?" Sekali lagi aku bertanya. Berharap ia mau jujur mengatakan semuanya.
"Dia sudah kurang ajar sama orang tua! Kecil-kecil sudah berani melawan orang tua. Mau jadi apa gedenya?" Nada bicara wanita ini meninggi. Aku khawatir jika ia tak memelankan suaranya, orang-orang yang sedang istirahat ikut bangun. Dan masalah akan semakin runyam.
"Kan bisa diomongin baik-baik, nggak harus seperti ini. Lihat anakmu sampai ketakutan sama kamu, Mbak," ucapku sambil menunjukkan reaksi Dian yang masih gemetar. Entah apa yang dilakukan mamanya hingga anak ini bereaksi demikian.
"Nglunjak! Kalau nggak dikasih pelajaran lama-lama jadi nglunjak dia. Emak sih, terlaku memanjakannya. Ya begini jadinya!" Mata Mbak Citra memerah. Mulutnya terus saja mengumpat tak jelas. Aku sampai tak mengenali kakakku ini.
Apa kehidupan yang dijalaninya bersama Mas Tisna begitu berat hingga mampu mengubahnya menjadi manusia tak berhati seperti ini? Sepertinya jiwanya terganggu. Kekerasan fisik yang sering dialaminya juga kekerasan psikis yang ia terima, benar-benar membawa pengaruh yang buruk untuk kepribadiannya sekarang. Pria itu benar-benar monster.
Setelah beberapa saat, Mbak Citra menagis sendiri. Tubuhnya terguncang-guncang. Tangannya memukul-mukul dada sendiri seolah ada beban berat yang hendak dia keluarkan dari sana. Kubiarkan saja ia menumpahkan semua perasaannya. Sementara Dian sudah terlelap dalam pelukanku. Perlahan kubaringkan ia ke sofa sebelah.
Sepuluh menit kubiarkan Mbak Citra menangisi hidupnya. Lalu aku bangkit dan mendekat. Kuambil Eki yang tertidur di pangkuannya dan membaringkan kembali ke matras. Setelahnya mengambil posisi bersebelahan dengan kakak satu-satunya ini.
"Sebenarnya ada apa, Mbak? Katakan saja. Kenapa kamu jadi seperti ini?" ucapku lirih. Mencoba menyelemi dasar hatinya agar ia merasa nyaman menceritakan beban jidup yang menghimpitnya.
Setelah menyusut air mata dengan tangannya, ia menatapku intens. Banyak sekali keluahan yang tercetak jelas di mata itu. Mungkin inilah yang membuatnya terbebani.
Akhirnya ia membuka suara. Menceritakan betapa dirinya sangat menderita selama ini. Mas Tisna, orang yang ia jadikan sandaran terakhir dalam mengarungi hidup, telah melukai hatinya terlaku dalam. Setiap hari selalu membawa wanita yang berbeda di hadapannya. Mengaku kalau ia tak cinta sama Mbak Citra. Namun setiap kali Mbak Citra mau lepas dan pergi dari rumah kontrakan sempit yang merwka tinggali, lelaki itu selalu mengancamnya.
Entah apa yang diinginkan lelaki itu. Ia tak tak mencintai kakakku tapi selalu menjeratnya agar tak bisa pergi darinya. Mbak Citra selalu tidur dalam bayangan ketakuatan. Surat-surat berharga yang ia miliki semua disita oleh Mas Tisna.
Puncaknya, ketika ia disiksa secara fisik, mencoba kabur tapi selaku gagal. Dan itu menyebabkan ia semakin disiksa.
Tangis Mbak Citra tak bisa dibendung lagi. Tubuhnya yang penuh dengan luka, terlihat bergetar hebat. Dadaku bergemuruh mendengar pengakuannya ini. Selama ini keluarga tak pernah tahu tentang apa yang dialami. Karena Mbak Citra yang terlihat begitu tegar dan garang. Ya, mungkin sifat garang yang baru-baru ini melekat pada dirinya, adalah akumulasi dari semua rasa sakit yang ia derita. Karena tak mampu menanggunya, ia tumpahkan dalam sikap dan ucapannya yang selalu menyakitkan orang lain.
Kuraih kepalanya dalam pukanku. Mendenagr ceritanya, dadanya ikut berdenyut nyeri. Rasa benciku pada lelaki itu semakin menjadi.
"Keputusanmu sudah tepat dengan kabur darinya, Mbak. Setelah ini jangan lagi mau berhubungan dengannya. Putuskan saja pernikahanmu yang tak sehat ini," ucapku lirih. Kuelus kepalanya agara tenang.
"Tidak! Aku juga nggak mau lagi balik sama dia. Aku sakit, Wi. Tiap hari terlantar di jalanan. Ia enak-enakan main sama perempuan, sementara aku dan anak-anak ditinggal di jalanan. Menunggunya pulang membawa sebungkus nasi."
"Kenapa bertahan selama ini kalau kamu nggak kuat, Mbak? Hidupmu masih panjang. Untuk apa mengorbankan waktumu untuk hidup bersama monster tak berakhlak sepertinya?"
"Entahlah, Wi. Aku benci sama dia. Sangat benci. Namun sisi hatiku yang lain sangat menginginkannya." Tatapnnya jatuh pada Eki tang terbaring di bawah kami. " Anakku sudah dua. Nggak mungkin aku meninggalkan Mas Tisna dan menjadikan anak-anak nggak punya papa lagi seperti Dian."
Aku menghembuskan napas lelah. Memikirkan nasib kakakku, membuat jantungku ikut berdenyut nyeri. Kupijat kepalaku yang tiba-tiba pusing. Entah, apa lagi yang harus kukatakan padanya agar dia sadar bahwa ia sudah salah langkah.
Ingin kukatakan pada kakakku ini bahwa hidupnya begini karena ia tak minta restu orang tua. Namun tak sampai hati ketika melihat keadaannya yang begini.
"Sekarang Mbak Citra putuskan, seandainya dia datang kesini dan meminta maaf, apa Mbak Citra mau kembali padanya?"
Dia menjauhkan kepalanya dariku dan menatap intens mataku.
"Nggak. Nggak mau lagi aku kembali padanya!"
Ya memang seharusnya seperti itu. Aku bernapas lega mendengar keinginannya. Semoga ke depan, kakakku ini bisa hidup lebih baik. Memperbaiki hubungan dengan Dian dan Emak agar kembali sperti dulu.
Suara ketukan pintu, membuat kami saling pandang. Aku tak ada janji sama siapapun. Namun, tetap bangkit dan melihat siapa yang datang.