Ditipu Menantu Benalu
Fakta Apa Lagi Ini
Hari ini, Emak, Bapak, Mbak Citra dan semua keponakanku pulang. Tinggal kami berdua menjalani aktivitas seperti biasa. Mas Agus pergi ke tambak dan aku ke kantor penerbitan. Tempat kerja kami yang berlainan arah, membuat kami harus jalan sendiri-sendiri. Kebetulan kami memiliki kendaraan masing-masing.
Hidup kami terasa damai tanpa gangguan para penagih utang itu. Pikiranku yang sempat memanas beberapa hari, kini terasa dingin dan relax. Hari ini aku berencana memanjakan diri dengan shoping ke mall sepulang kerja. Bukan untuk borong barang diskonan, melainkan belanja kebutuhan bulanan yang kebetulan habis.
Satu jam aku berputar-putar mengelilingi swalayan. Mencari kebutuhan dapur, body care dan skin care. Tak lupa membelikan kebutuhan dapur untuk Emak sekalian. Ini memang sudah jadi rutinitasku. Selain memberi jatah uang bulanan, aku juga memberi jatah bahan pokok.
Satu troli sudah penuh. Kudorong menuju kasir untuk membayar. Sambil menunggu giliran, mataku memindai seluruh penjuru. Tak ada yang istimewa, kecuali pada satu titik. Di ujung arah jam tiga dari tempatku berdiri, tampak seorang pria yang perawakannya mirip seperti Mas Tisna. Hanya saja dia nggak sendiri. Ada seorang wanita cantik berpakaian serba minim yang berdiri di sampingnya. Penampilan wanita itu seperti tante-tante sosialita. Ah, nggak mungkin deh. Dia kan lagi di Bandung. Mana mungkin tiba-tiba di sini.
Cukup lama mataku terfokus pada pasangan itu, hingga tiba giliranku membayar. Kalau saja nggak sedang belanja begini, sudah pasti kubuntuti tuh orang. Memastikan pria itu Mas Tisna apa bukan. Lima belas menit urusan pembayaran ini selesai. Mataku kembali tertuju pada tempat semula. Dan mereka masih ada di sana.
Aku mencari sesuatu untuk menyamarkan wajah ini agar tak dikenali. Sebuah kacamata dan masker yang selalu ada di sling bag-ku, bisa membantu berkamuflase. Perlahan langkah kakimu mengayun menuju meja di belakangnya. Posisi pria itu sedang membelakangiku sekarang. Sehingga dia tak akan bisa mengenaliku.
Mataku melotot saat seorang pria bertubuh gempal yang pernah membuatku kesal karena hendak menyita barang berharga Bapak, datang dan bergabung dengan laki-laki yang mirip mas Tisna itu. Pria itu berbicara dengan suara rendah.
Kupasang telinga baik-baik agar bisa mencuri dengar mereka. Mataku membulat saat laki-laki plontos itu menyebut-nyebut namaku. Dada ini bergemuruh mendengar obrolan mereka. Jadi selama ini mereka sengaja menggertak kami? Mereka sudah kongkalikong rupanya.
Kuraih HP dari dalam tas lalu menghidupkan kamera. Aku pura-pura memainkannya, padahal sedang merekam mereka. Sebagai barang bukti kalau sewaktu-waktu dibutuhkan.
"Ternyata Dewi nggak selugu yang kamu pikirkan. Dua kali anak buahku datang menggertaknya, dua kali pula kembali dengan tangan kosong. Dia bukan orang yang bisa diremehkan rupanya," ucap laki-laki tambun yang sering dikenal juragan sawit itu.
"Ya, memang dari awal aku datang, dia yang selalu mengusik ketenangan hidupku. Aku benci dia. Dia itu sok berkuasa. Sok kaya. Sok pintar. Dan, agh ... dia sudah menghancurkan rencanaku!" Pria yang mirip Mas Tisna itu terus merutuki diriku. Bahkan dia memiliki banyak rencana untuk membuat hancur hidupku.
Oke, dia kira aku takut? Rekaman jnii akan kujadikan barang bukti untuk menjebloskanmu ke penjara. Tunggu saja tanggal mainnya.
Cukup lama aku berada di sini. Hingga kedua pria ini saling berjabat tangan dan pergi. Ketika berbalik, tubuhku semakin membeku. Dia, benar iparku yang jahat. Sesaat dia menatapku, tapi langsung pergi menggandeng perempuan seksi itu. Untung dia nggak mengenaliku. Pantas saja Mbak Citra bisa kabur, rupanya dia sedang dengan wanita lain.
***
"Kok sampai jam segini, Dek, lembur lagi?" tanya Mas Agus saat kaki baru menginjak ruang tamu. Rupanya dia sudah pulang lebih dulu. Katanya semua ikan sudah dikirim, dan dia nggak ikut kali ini. Aku mendesah lelah dan duduk disampingnya. Menyandarkan kepala di pundak lelaki yang begitu kucintai ini.
"Ada masalah dikantor?" Tangan pria ini memainkan jemariku.
"Nggak ada, Mas. Tapi ini soal Mas Tisna," lirihku yang mampu membuat laki-laki menegakkan tubuhnya. Kepalaku ikut bergerak saat posisinya berubah.
"Kanapa lagi, dia? Nelponin kamu?"
Entah kenapa bibir ini malas membicarakan manusia yang satu itu. Baru tadi pagi aku merasa bebas dan tenang, tapi pria itu kembali menjajah pikiranku. Ya Allah, sampai kapan aku bisa hidup tenang tanpa gangguan dari benalu itu.
Kuraih HP dari slingbag-ku dan menyerahkannya pada Mas Agus. Tatapan matanya memancarkan kebingungan. Nggak tahu apa maksudku memberikan HP-ku padanya. Tanpa kata, kuputar video hasil rekamanku di mall tadi.
Mas Agus masih belum mengerti, tapi ia tetap menontonnya hingga habis. Tanggan kirinya yang bebas mengepal kuat. Rahangnya mengeras hingga menimbulkan bunyi gemelutuk akibat gigi-giginya beradu.
"Kita laporkan polisi saja, manusia macam dia harus diberi pelajaran!" Tampak sekali emosi menguasai Mas Agus. "Berarti dia ada di sini sekarang?" Aku mengangguk. Membenarkan ucapnnya.
"Sebentar, sepertinya aku pernah lihat perempuan ini. Tapi ... di mana ya?" Alis pria ini mengerut. Matanya menerawang dan tangannyaengelus jenggot yang mulai sedikit lebat akibat belum bercukur.
"Nah, dia kan anaknya juragan sawit!"
"Apa?" Kedua mataku membola. Fakta apa lagi ini? Tubuhku semakin lemas mengingat juragan sawit adalah orang yang berkuasa di kecamatan ini. Usahanya yang sukses dan jaringannya dengan para elit politik di kota ini membuat nyaliku ciut. Sepertinya aku berhadapan dengan orang yang salah.
Kami terdiam. Merenungi masalah ini dengan pikiran masing-masing. Aku tahuas Agus sedang menyusun rencana untuk membalas kelakuan Mas Tisna, sama sepertiku. Namun jika sudah menyangkut juragan Narko, kami harus bisa bermain cantik. Salah-salah malah kami yang dijebloskan ke penjara.
Lelah memikirkan masalah ini, aku melangkah ke kamar mandi untuk berendam air hangat. Melonggarkan otot-otot yang tegang dan mengistirahatkan pikiran. Biar Mas Agus yang membereskan belanjaanku tadi.
Ba'da Isya', Mas Agus mengeluarkan mobil dari garasi. Aku membawa belanjaan untuk Emak dan memasukkannya ke bagasi mobil.
"Tante ..." teriak Chaca berlari menyambutku. Rambut kriwilnya bergerak-gerak lucu saat balita itu berlari. Tangan mungilnya memeluk kakiku.
"Chaca belum bobok?" tanyaku sambil menyejajarkan tinggi kami. Aku berjongkok di hadapannya. Gadis kecil ini langsung melingkarkan tangannya ke leherku. Kepalanya menggeleng-nggeleng.
"Kenapa belum bobok, adek mana?"
"Bobok cama mama. Chaca nggak mau bobok, mama malah-malah telus, Tan. Chaha atut," ucapnya dengan gaya khas anak kecil. Usianya belum genap tiga tahun, tapi sudah sangat cerewet meski belum fasih. Bola mata bemingnya berair mengatakan itu.
Kugendong anak ini dan melangkah masuk mengekor Mas Agus yang sudah duluan salim sama Emak dan Bapak.
"Kenapa lagi, Mak?" tanyaku tanpa basa-basi. Melihat mendung di wajah Emak, aku tahu pasti ada masalah lagi.
"Mbakyumu marah-marah," ucapnya lirih.