Ditipu Menantu Benalu

Apa Kabar, Mas

"Apa kabar, Mas?" Lelaki itu tersentak melihat kami yang tiba-tiba ada di hadapannya. Terlihat sekali dia blingsatan. Bola matanya bergerak-gerak ke kanan dan kiri. Tangan yang tadi bertengger di pinggang wanita cantik itu dilepaskan kasar. 

Tak menyia-nyiakan kesempatan, kuambil benda pipih di hand bag-ku dan menyalakan video. Merekamnya agar Mbak Citra percaya kalau suaminya ini ular berbisa. 

"Ka--kamu kenapa bisa ada di sini, Gus?" Tiba-tiba pria ini jadi gagap. Aku hanya diam sambil terus mengarahkan kamera padanya. Biar Mas Agus saja yang menyelesaikan urusan ini. Soalnya kalau aku yang ikut bicara, nggak jamin pesta ini masih bisa berjalan lancar tanpa keributan. 

Kasihan kan, kalau sampai pernikahan ini gagal karena ulah kami? Wanita cantik yang katanya anak juragan sawit ini menatap kami bingung. Ia menatap Mas Tisna seolah bertanya siapa kami. 

"Kalian kenal Mas Tisna? Kalian ini ..." 

"Ya, sangat kenal. Kami saudara," ucap Mas Agus memotong kalimat perempuan ini. Wajahnya yang tadi tampak tegang, berubah sedikit santai mendengar jawaban suamiku. Berbanding terbalik dengan Mas Tisna yang semakin pias. Buliran keringat nampak nyata di pelipisnya. 

"Mbak ini apanya Mas Tisna?" 

"Oh, kenalkan, saya Lisa!" Perempuan itu mengulurkan tangan untuk berjabatan. Namun Mas Agus membalasnya dengan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. "Istrinya Mas Tisna." 

Kedua mataku membola. Hampir saja HP kesayanganku terlepas dari genggaman kalau saja tak memegangnya cukup erat. Mas Tisna menunduk, mukanya memerah. Entah, apa dia malu atau marah. Namun mendengar pengakuan perempuan seksi ini, darahku mendidih. 

"Oh, pengantin baru?" tegas Mas Agus. Sepertinya dia masih ingin mengorek banyak informasi dari cewek ini. 'Rasain lo, ipar jahat. Siap-siap menunggu balasan atas perbuatanmu,' makiku dalam hati.

Perempuan dengan make up menor ini terkekeh. Matanya menyipit saat tertawa. Dan rambutnya yang tergerai tampak ikut bergerak-gerak seiring dengan getaran tubuhnya akibat tertawa. 

"Masih kelihatan seperti pengantin baru, ya? Padahal kami sudah menikah 5 tahun lalu, loh." Perempuan ini mengatakannya seolah kami teman lama yang baru bertemu kembali. Padahal di sampingnya, pria yang diklaim sebagai suaminya ini sudah gelisah. Wajahnya terus menunduk seakan petak-petak ubin di kakinya lebih menarik dibanding yang lain. 

Fakta apa lagi ini. Jadi selama ini, Mas Tisna menikahi Mbak Citra dalam keadaan beristri? Dan ... kalau benar perempuan ini anaknya jurakan Narko, artinya dia juga tahu kalau Mas Tisna menikah lagi. Lalu kenapa dia nagih ke kami? Ada apa sebenarnya? 

Kepalaku tiba-tiba berdenyut memikirkan masalah ini. Kupejamkan mata untuk menghilangkan rasa ngilu di hati ini. Pria ini sudah menipu keluarga kami habis-habisan. Tunggu aja, Mas. Bukti-bukti ini akan kujadikan alat untuk menjebloskanmu ke penjara. Tapi tidak sekarang. Kamu telah menghancurkan keluargaku, maka kamu juga harus merasakan balasannya. 

Kuhirup udara yang tiba-tiba terasa berkurang. Agar rasa amarah yang merajai hati ini dapat kukendalikan beserta kalimat istighfar yang terus terucap. 

"Mas, kami tunggu di rumah secepatnya! Keluarga sudah kangen katanya!" ucap Mas Agus menepuk pundak pria itu dengan penekanan di setiap kata. Aku tahu mental pria ini mulai jatuh. Karena beberapa tamu undangan tampak menonton alih-alih menikmati pesta. Yang menjadi pusat perhatian tentu saja HP yang ada di genggamanku. Mereka pasti bertanya-tanya, kenapa aku merekam setiap percakapan kami. 

Setelah puas mengintrogasi wanita itu, kami berlalu tanpa menikmati hidangan terlebih dahulu. Kalau saja akan ketemu Mas Tisna di sini, pasti kuajak Mbak Citra agar dia tahu lelaki seperti apa yang selama ini dibelanya. 

Mas Agus merangkul pundakku menuju parkiran. Kami jalan dalam diam. Pikiranku berkelana ke mana-mana. Saat kami hendak memasuki mobil, terdengar suara memanggil. Pintu yang sudah dibuka, akhirnya ditutup kembali dengan cara dibanting hingga menimbulkan suara berdebum. Bahkan kaca yang menutupi sebagian mobil itu ikut bergetar. 

Dari jarak kurang dari 10 meter, tampak Mas Tisna berlari menghentikan kami. Napasnya ngos-ngosan. Sambil memegangi dadanya ia berkata: "Tolong jangan katakan hal ini pada Citra, Gus!"

Mas Agus tertawa sumbang seakan mengejek keadaan Mas Tisna. "Kenapa, Mas Agus takut?" 

Pria itu berhenti tepat di hadapan suamiku. Tatapannya mengiba. Sangat berbeda dengan biasanya yang arogan. 

"Ini urusan rumah tanggaku. Jangan coba-coba ikut campur!" Pria itu melotot setengah mengencam. Suaranya naik satu oktaf. Mas Agus menanggapinya dengan santai. Tak terpancing dengan emosinya. 

"Kalau gitu, Mas Tisna juga jangan pernah ikut campur urusan keluargaku."

"Apa maksudmu? Aku nggak pernah mengganggumu!" Pria itu sudah tak lagi mampu menahan sikapnya. Arogansinya kembali muncul seperti biasa. Beberapa orang yang lewat hendak masuk menatap kami heran. 

"Yakin? Mas Agus utang uang dengan menjaminkan BPKB motor Dewi! Dewi nggak merasakan uangnya, tapi dia yang diteror para rentenir itu. Belum lagi oleh mertuamu itu! Dia sudah mengganggu ketenangan hidup kami dengan membawa algojo. Kamu pikir itu bukan mengganggu?" 

Pria berpakaian necis itu itu terkesiap. Mulutnya membuka lalu menutup lagi. Tak ada suara yang mampu keluar darinya. Kami menunggu jawabnnya sambil tersenyum puas. 

"Kenapa diam? Kamu pikir kami gudang uang yang bisa kamu porotin, hah?" Kalau kamu lelaki sejati, kembalikan semua uang kami!"

"Ya--ya nggak bisa gitu dong, Gus. Mana ada aku uang sebanyak itu? Beri aku waktu ya?" Aku tertawa sinis sekarang. Cuma segitu aja nyalinya? 

"Bukankah istrimu tadi anak juragan? Berarti dia kaya raya kan? Atau aku yang nagih sama dia, mumpung ketemu di sini?" ucapku mendesak. Orang seperti ini memang tak bisa dikasihani. Karena dia akan selalu memanfaatkan kelemahan orang-orang yang punya rasa empati tinggi. 

"Jangan!" teriaknya. Tubuhnya sudah menggigil ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Huh, rupanya dia tak seberani itu kalau menghadapi istrinya. Dasar cemen!

"Oke, kalau nggak mau aku tagish sama istrimu, bayar semua utangmu, dan tinggalkan Mbak Citra! Jangan pernah ganggu keluargaku lagi?" 

Pria itu hendak meraih tanganku dengan tatapan iba. Namun secepat kilat aku mundur. Lalu dia melompat meraih tangan Mas Agus. Tentu saja hal ini menarik perhatian semua orang yang melihat. Hingga tanpa sadar, mereka sudah mengelilingi kami. 

"Gus, tolong! Kali ini saja, beri aku waktu, ya?" bisiknya lirih. Rupanya dia sadar telah jadi pusat perhatian. Dari kejauhan aku melihat wanita cantik yang datang bersamanya tadi mendekat. Berjalan tergesa dan menerobos kerumunan. 

"Mas, ada apa ini? Kenapa Mas Tisna memohon-mohon begitu, Mas?" Pria itu membeku. Mulutnya bungkam seketika mendengar istrinya tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Lalu perlahan dia melepaskan tangan Mas Agus yang tadi digenggamnya. 

"Eng--nggak paoay, Dek. Kami cuma melepas rindu saja karena lama tak bertemu," ucapnya dimanis-maniskan. Dasar ular. Pandai sekali dia beracting. 

"Mbak, suami Mbak ini ..." Pria itu langsung melotot padaku sebelum kalimat yang kuucapkan selesai. Aku tertawa dalam hati. Berpikir gimana ya, kalau aku jujur dihadapan istrinya ini. Menarik.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!