Ditipu Menantu Benalu

Hanya Alat

Langkahku terayun menuju ruangan bertulis Chief Editor. Kutekan dada untuk menetralkan degub jantung yang berdentam-dentam. Sebelum masuk, kuhirup napas sebanyak-banyaknya. Agar debaran di jantung ini sedikit berkurang. 

Dengan mengucap basmallah, kuputar kenop pintu dan mendorongnya perlahan. Netraku memindai seluruh ruangan, barang-barang milikku sudah tertata rapi di sana. Perlahan aku melangkah, menuju kursi baruku. 

Setelah menyalakan komputer, kubuka email untuk mengecek adakah surel yang masuk atau tidak. 

Pukul 16 semua pekerjaan telah selesai. Aku membereskan semua berkas dan gegas ke luar. Di lobi ternyata Yola, lela, Emi, dan beberapa karyawan satu tim-ku dulu berkumpul di sana. Matanya berbinar melihatku keluar dari lift. 

"Akhirnya, yang kita tunggu-tunggu muncul juga," celetuk Lela yang diangguki lainnya. Setelah jarak kami tinggal dua langkah, aku berhenti dan menatap mereka yang sudah siap memberondongku dengan pertanyaan. 

"Dewi, Lo pindah kemana, sih? Kita-kita khawatir tau?" 

Aku memilih duduk di sofa yang ada di lobi, diikuti mereka dengan tatapan tak sabar menunggu jawaban. Kupasanga senyum semanis mungkin agar mereka tak lagi khawatir. 

"Aku tadi dipanggil Pak Bos. Kaget dong aku, kupikir aku ada kesalahan apa sampai Bos sendiri yang memanggilku." Kujeda kalimat untuk melihat reaksi mereka. Semua menagapku antusias. Bahkan Lela sampai tak berkedip seolah takut jika berkedip aku lenyap dari pandangannya. 

"Ternyata ... aku diminta untuk menjadi pengganti Pak Pramu," ucapku lirih.

"What? Demi apa?!"ucap mereka kompak. Kupingku rasanya berdenging mendengar suara mereka yang menggelegar. Sampai-sampai dua receptionis yang sedang fokus pada pekerjaannya menatap ke arah kami. 

"Demikian," ucapku nyengir. "Tadinya aku juga nggak percaya, tapi Pak Bos langsung memintaku untuk menandatangi kontrak. Bahkan katanya sudah melalui rapat khusus. Dan aku nggak boleh nolak."

"Ya jelas lah, nggak boleh nolak. Semua ingin di posisimu sekarang. Dan kamu mau menolak? Jangan gila ya. Susah tauk untuk dapat posisi itu. Apa lagi Pak Bos sendiri yang meminta, uh ... aku jadi iri," ucap Yola dengan gaya yang dibuat-buat.

"Tapi ... aku nggak enak sama Bu Eva, dia kan lebih senior dariku. Masa aku yang baru beberapa tahun kerja di sini sudah diangkat Chief Editor." 

"Yeee, nih anak. Kalau Bos sendiri yang memilih itu artinya kamu emang pantas di posisi ini. Kita kan tahu Pak Bos itu perfectionis banget."

"Iya, Wi, harusnya kamu bangga dengan prestasimu ini. Semangat dong, jangan lesu gitu," bujuk Yola menyemangati. Aku bersyukur punya temen-temen yang begitu peduli dan saling support seperti mereka. Hingga aku merasa nyaman bekerja di sini. Bahkan aku sudah menganggap mereka sebagai keluarga keduaku. 

"Ada untungnya juga, sih kamu diangkat Chief Editor. Sekarang kita punya pemandangan yang seger," ucap Emi cengengesan. 

"Uh, dasar ya Lo, Em. Kelamaan jomblo sih, nggak bisa lihat yang bening dikit!" 

Aku tersenyum menyaksikan mereka saling ledek. Bukan sungguhan, hanya gurauan untuk mencairkan suasana. Setelah cukup lama kami ngobrol, akhinya aku pamit pulang duluan. Meski Mas Agus nggak pernah melarang aku mampir-mampir setelah bekerja, tapi aku tetap tak mau menyalahi kepercayaan yang diberikan padaku. Nggak mudah aku izin untuk bisa bekerja seperti ini. Jadi, aku harus pandai-pandai memanfaatkan kesempatan agar tak sia-sia.

 

***

"Mas, hari senin aku ada acara kantor ke Malang. Boleh?" Mas Agus yang sedang fokus pada pembukuan menoleh dan meletakkan pulpennya. 

"Ke Malang? Sama siapa?" Lelaki yang sudah lima tahun menjadi pendampingku ini menghembuskan napas panjang. Aku tahu sebenarnya dia berat memberiku izin. Baginya kerja buat wanita itu hanya sampingan. Karena secara syar'i hukumnya mubah saja. Tapi jika kemubahan itu mengantarkan pada keharaman, maka aku harus memilih untuk keluar dari pekerjaan ini. 

"Sama Pak Bos dan kepala divisi lain."

"Kok kamu juga diajak, biasanya kalau pas launching buku aja sama penulis. Ini kok ikutan ...." Mas Agus menjeda kalimatnya. Seolah ingin memastikan bagaimana reaksiku mendengarnya. 

"Iya, Mas. Tadi aku dapat amanah baru di kantor. Karena Chief Editor-nya dipindahkan di kantor cabang yang ada di Malang, maka posisi itu kosong. Dan ..." 

"Dan kamu yang menggantikannya?" ucap suamiku memotong kalimatku. Aku hanya mengangguk bahwa itu adalah benar. Kulihat ia menghela napas panjang. "Sayang, kamu tahu kan bahwa Mas mengizinkamu bekerja bukan untuk mengejar jabatan. Mas hanya tak ingin ilmu yang kau miliki sia-sia karena tidak diamalkan, sementara kita masih belum ada amanah momongan. Supaya kamu nggak bosan di rumah seharian. Tapi ... bukan berarti pekerjaanmu menjadi lebih utama dari tugasmu sebagai istri, kan?" 

Aku mengangguk. Benar. Apa yang dikatakannya memang sepenuhnya benar. Bahkan jika aku tidak bekerja pun dia masih lebih dari sanggup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami berdua. 

"Jadi gimana, Mas? Boleh apa tidak?" Aku mencoba bicara selembut mungkin agar tak memancing emosi. Meski selama ini suamiku ini memang jarang sekali emosi. 

"Rencana nginep di mana?"

"Sepertinya di hotel, Mas. Tapi belum tahu jiga pastinya."

"Pastikan dulu jadwalnya. Siang atau malam. Nginep di mana, atau langsung pulang. Baru akan kupertimbangkan untuk memberimu izin atau tidak." Dari sorot matanya terlihat jelas joka suamiku ini gamang. Maka dia butuh fakta di sana nanti seperti apa. 

Dengan ragu, kuraih benda pipih bermerk samsu*g itu. Lalu menanyakan beberapa hal terkait meeting yang akan diadakan senin depan. Butuh waktu beberapa menit untuk mengubah centang hitam menjadi warna biru. Lalu tertulis "Pak Bos sedang mengetik". 

Dengan sabar kutunggu jawabannya. Hingga beberapa deret huruf membuatku tercengang. Ternyata acaranya dari pagi sampai malam dan akan menginap di hotel yang sama untuk meeting. 

Kusodorkan HP pada Mas Agus untuk membacanya. Sejurus kemudian, dia mengatakan sesuatu yang tak terduga. Ia mengizinkanku pergi dan akan menjemputku setelah acara selesai. Menginap di hotel yang sama dengan Mas Agus. Kebetulan di hari yang sama dia juga ke Malang untuk kirim ikan sekaligus ketemu pemasok bibit baru dari Bali. 

Satu masalah telah tersolusikan. Mas Agus kembali pada pekerjaannya. Sedang aku mau tidur. Rasanya hari ini sangat lelah. Menjadi Chief Editor baru memang butuh latihan ekstra. Untungnya Pak Pramu beberapa kali mengajariku dulu. Sebelum akhirnya aku yang menggantikannya. 

Aku berbaring terlentang dengan mata menayap langit-langit kamar. Obrolan tadi siang bersama Yola, terus berputar-putar di kepala. Kucoba mengalanalisa semuanya, hingga muncul satu kesimpulan bahwa Mas Tisna pasti akan kembali. Mengingat dia yang begitu menginginkan keturunan sementara istri pertamanya tak bisa memberinya. 

Bisa jadi itu pula yang membuat ia tak mau melepaskan Mbak Citra begitu saja. Karena anak-anaknya. 

"O ya, Dek, tadi Emak bilang kalau Mbak Citra sudah mulai telponan lagi sama Tisna," ucap Mas Agus tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaannya. Maklum, sekarang sudah memasuki awal bulan. Ia harus merekap semua transaksi bulan lalu. 

"Heran, deh. Apa sih yang membuat Mbakyumu itu tetap bertahan? Padahal kemarin waktu kabur sudah bilang nggak mau lagi balik sama dia. Kok sekarang luluh lagi?" 

Aku menghembuskan napas lelah. Rasanya kepala ini mau pecah setiap kali memikirkan masalah Mbak Citra. Kenapa susah sekali membuka mata hatinya. Fakta-fakta penghianatan di depan mata saja tak membuatnya berpikir ulang. Lalu apa yang bisa membuatnya sadar kalau dirinya hanya diperbudak oleh laki-laki itu? 

Kalau benar ia berstatus istri, tak pernah dinafkahi. Bahkan dijadikan alat untuk menumpuk utang sementara uangnya diberikan pada istri pertama. Hubungan rumah tangga macam apa yang mau dipertahankan Mbak Citra ini? 

Aku bangun dari posisi tidur dan menyandarkan kepala di sandaran ranjang. Lalu menceritakan semua fakta yang baru kudapat dari Yola tadi siang. 

"Astaghfirullah, ini sudah benar-benar nggak masuk akal. Kita harus segera membuka mata Mbak Citra, biar tahu orang seperti apa yang diharapkan itu? Mumpung belum terlanjur kembali, kita harus bergerak cepat, Dek. Kasihan kakakmu kalau sampai kembali lagi."

"Iya, Mas. Aku juga berpikir begitu. Besok malam kita ke rumah Emak ya," pintaku yang langsung diiyakan olehnya. 

Rencana kami untuk datang habis maghrib ternyata sudah di dahului oleh Mas Tisna. Dia sudah datang dan mencoba membujuk Mbak Citra, kata Emak. Tadi saat pulang dari kantor, Mas Agus memintaku untuk langsung ke rumah Emak. 

Dadaku mulai terbakar saat mendengar suara pria yang telah mengcaukan hidup kami. Saat ini, aku sudah sampai di halaman rumah Emak. Mas Agus juga baru sampai bersamaan dengan motorku yang terparkir di halaman. Sebelum masuk, kami saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan seolah saling paham apa yang akan kami lakukan. 

Ucapan salam kami membuat semua orang menoleh ke pintu. Pertama kali yang kulihat adalah reaksi pria itu yang terlihat kaget melihat kedatangan kami. Wajahnya tampak pias. Duduknya gelisah seperti orang sedang menahan kentut. 

Aku tertawa dalam hati. Baru melihat kami saja sudah seperti melihat hantu. Bagaimana kalau kubeberkan semua kelakuannya di depan semua orang, ya? 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!