Ditipu Menantu Benalu

Masih Punya Nyali?

Aku masuk lebih dulu diikuti Mas Agus di belakang. Setelah salim sama Emak dan Bapak, kami duduk berhadapan dengan Mas Tisna yang semakin gelisah. Mbak Citra duduk tak jauh dari Emak yang selisih satu kursi dengan pria itu. 

Masih punya nyali rupanya. Kupikir setelah menghancurkan keluargaku, dia nggak bakal berani menginjakkan kakinya ke sini lagi. Rupanya dia lebih tebal muka di banding perkiraanku. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku. Begitupun Mas Agus. Kami menunggu apa yang sedang dibicarakan saat ini.

Setelah beberapa menit nggak ada yang buka suara, aku memutuskan untuk bertanya. Karena diam-diaman seperti ini seperti berada dalam kendaraan yang tidak saling kenal. Membosankan. 

"Jadi sedang membahas apa ini sebenarnya, kok saat kami datang semua jadi diam?"

Tak ada yang menyahut. Semua menunduk. Kulirik Mas Agus yang sepertinya sama bingungnya denganku. 

"Mak?" 

Perempuan yang selalu kuhormati ini mendongak. Tatapan kami bertemu. Ada kegalauan tercetak jelas di sana. Tapi sepertinya ia nggak berani mengungkapkannya. 

"Pak?" Kini gantian Bapak yang kucecar. Lelaki yang sudah dipenuhi keriput di sekujur kulitnya itu membuka suara. Semua mata tertuju padanya. Namun, tatapan pria yang pernah membuatku tertekan itu seperti mengancam Bapak. 

"Katakan, Pak, ada apa sebenarnya?" 

"Itu ... anu ... itu," Bapak gelagapan menjawab pertanyaanku. Aku bangkit dan duduk di sebelah Bapak. Menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan. "Katakan, Pak, ada apa?" bisikku di telinganya. 

"Mbakyumu mau dibawa Tisna ke kota lagi," lirihnya. Seketika darahku mendidih. Masih belum cukup rupanya pria itu menyakiti kami. 

"Mbak Citra mau?" tanyaku lirih yang hanya bisa di dengar Bapak. Pria yang sudah mengorbankan banyak waktunya untuk membesarkan kami ini mengangguk. Membuat dada ini semakin sesak. 

Baiklah, mungkin ini saatnya aku membongkar rahasia pria itu di depan keluarga. Agar mereka tahu, siapa sebenarnya pria yang mengaku sebagai suami Mbak Citra ini. 

Kulepas genggaman tanganku perlahan. Lalu menegakkan tubuh agar kuat menahan emosi. Kutarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan sebelum bicara. Kutatap Mas Agus yang mengangguk memberi kode. 

"Jadi ini soal hubungan Mas Tisna dan Mbak Citra?" Tak ada yang menyahut. Semua masih sama. Tegang. "Apa Mas Tisna mau membawa Mbak Citra pergi dari sini lagi?" 

"Ya." Pria itu menjawab dengan mantap. Seolah lupa jika dia telah melakukan perbuatan yang menyakitkan. 

"Atas dasar apa?"

Lelaki itu memicing, tak terima dengan pertanyaanku. Mungkin harga dirinya terluka. Biarkan saja, dia menampakkan wujud aslinya di sini. Biar semua tahu seperti apa dia yang sesungguhnya. 

"Apa maksudmu? Citra istriku, kenapa pertanyaanmu seolah aku bukan siapa-siapa?" Bagus. Pria ini sudah mulai terpancing emosi rupanya. 

"Istri? Apa Mas Tisna punya bukti? Tolong tunjukkan padaku kalau kalian adalah sepasang suami istri. Karena selama ini kami nggak pernah tahu kalian berdua sudah menikah," ucapku santai. Kulirik Mbak Citra yang semula diam, kini ikut gelisah. Entahlah, apa dia berniat untuk kembali lagi pada laki-laki tak bertanggung jawab itu?

"Ya--ya itu. Chaca dan Eki buktinya! Mereka anak kami. Hasil dari pernikahan kami!" jawabnya mantap. Aku tertawa dalam hati. Dosakah aku jika mencacinya dalam hati? Astaghfirullah. 

"Yakin itu hasil dari hubungan pernikahan?" 

Pria itu melotot. Tangannya mengepal kuat di atas pahanya. Dadanya naik turun. Sepertinya sesaat lagi amarahnya akan meledak. 

"Tentu saja. Apa kamu menuduh kami berzina?" Nada suaranya semakin tinggi. Tubuh Emak merapat pada Bapak. Mungkin takut akan terjadi perang saudara di sini. 

"Coba ceritakan pada kami, sebagai keluarga Mbak Citra. Kapan kalian menikah? Dan tunjukkan surat nikah kalian!" ucapku santai. 

"Ti--tidak punya. Kami menikah secara siri di Bandung. Kalau nggak percaya, tanyakan saja pada kakakmu itu!"

"Oke. Kalau gitu siapa yang jadi wali?" Bapak menoleh ke arahku. Tatapannya penuh tanda tanya. Tapi biarlah. Nanti saja kalau urusan ini selesai, akan kujelaskan padanya. 

"Kami pakai wali hakim!" ucapnya sengit. Suasana yang tadi diliputi ketegangan kini berganti dengan nuansa perang. Ya, perang argumen. Akan kulihat, sampai sejauh mana ia bisa mempertahankan pendapatnya. Dia yang menang atau kebenaran yang akan jadi pemenangnya. 

"Mas Tisna muslim?" 

"Kamu meragukanku?" 

"Oh, jadi beneran muslim. Berarti harusnya tau dong salah satu syarat nikah adalah wali. Dan ketika wali masih ada, tidak boleh menikah dengan wali hakim?" 

Pria itu makin berang. Matanya menerah dengan rahang sudah mengeras. 

"Citra itu janda. Dia berhak menikah tanpa restu orang tuanya. Kenapa kamu mencoba mengusik kehidupan kami?"

"Janda hanya boleh menikah lagi tanpa meminta restu orang tuanya. Tapi tetap harus pakai wali orang tuanya! Sedangkan Bapak sebagai wali sah Mbak Citra masih hidup dan sehat. Itu pun jika benar status Mbak Citra sudah janda. Karena setahuku Mbak Citra masih bersuami. Itu artinya kamu menikahi istri orang. Dan itu jelas dosa." ucapku dengan menekan kalimat terakhir. 

"Jadi orang jangan terlalu kolot lah. Sok-sokan menasehati, padahal tidak paham hukum agama. Wi, wi ... kupikir kamu itu pintar. Ternyata hanya kulit luarnya saja yang terlihat pintar." Pria itu tertawa sumbang. Rahangnya yang sempat mengeras, kini mulai mengendur. Semua orang menatapnya aneh. 

Jadi sebenarnya yang sok pintar itu siapa? Aku atau dia? Ya Allah, kuatkan kami menghadapi pria macam ini. Beri kami petunjuk-Mu ya Allah. Doaku dalam hati.

"Citra itu sudah janda. Dia sudah pisah dengan suaminya saat itu! Kamu kalau tidak tahu apa-apa, jangan membuat kegaduhan lah, Wi. Itu artinya kamu sudah menuduh kami berzina!" 

Aku memejamkan mata sesaat. Memijat pelipis yang yang tiba-tiba berdenyut. Susah, kalau ngomongnya sama orang yang sedang emosi dan nggak mau menerima kebenaran. Oke. Sekarang aku akan bertanya pada kakakku. Apa benar saat itu di sudah di talak. 

Sebelum bicara lagi, kuhirup udara sebanyak-banyaknya untuk meredakan sesak yang menghimpit dada. Mas Agus masih diam melihat perdebatan kami. Emak sudah menangis sesenggukan dari tadi. Untung anak-anak sedang asik main di luar. 

Kini tatapanku beralih pada Mbak Citra yang dari tadi hanya bergeming. Heran aku, kalau ada Mas Tisna, suaranya hilang. Nggak berani membantah sedikit pun. Apa segitu bucinnya dia sehingga tak berani membantah? Padahal aku sudah sangat yakin dia nggak akan mau kembali pada pria itu setelah penyiksaan yang dialaminya. 

Namun melihat sorot matanya dan bagimana cara ia menatap laki-laki itu, sudah cukup menjelaskan jika Mbak Citra masih sangat berharap bisa kembali padanya. 

"Mbak Citra, apa benar Mas Adi sudah mentalakmu?" Wanita yang bernah berebut baju baru denganku waktu kecil itu mendongak. Tatapannya terlihat bingung. 

"Kamu kan tahu sendiri Mas Adi lama di negeri orang. Dia juga nggak pernah ngasih nafkah batin. Bukankah kalau gitu dia sudah melalaikan tanggung jawabnya sebagai suami?" 

Allahu Rabbi ... dari mana pemikiran itu datang? Selama Mas Adi bekerja di luar negeri ia selalu mengirimkan uang untuk anak istrinya. Ia juga sering telepon dan nggak hilang kabar. Kasih sayangnya tetap tercurah meski berjauhan. Dan ... bukankah awalnya Mbak Citra juga ridlo dengan pekerjaan suaminya? Kenapa jadi dipermasalahkan? 

Status janda hanya diperoleh melaui dua cara. Suami meninggal atau bercerai. Dan cerai itu hanya terjadi jika suami menjatuhkan talak. Sedangkan jika tidak ada talak, tapi tidak dinafkahi lahir maupun batin, tidak otomatis cerai. Istri harus ajukan cerai ke pengadilan agama. Baru saat putusan cerai jatuh, statusnya cerai. Sebelum ini, dia tetap statusnya nikah.

Kenapa mereka bisa menyimpulkan jika sudah cerai dari suami pertama, padahal Mas Adi masih rutin memberikan nafkahnya. Aku sendiri saksinya karena setiap kali transfer uang selalu lewat nomor rekeningku sebagian. Jadi separuh untuk Mbak Citra dan separuhnya lagi untuk Dian yang saat itu hidup dengan Emak. Jadi alasan itu terlalu mengada-ada menurutku. 

Berarti dalam kasus ini suami menafkahi loh, jadi istri tidak bisa nuntut cerai juga. Kalau masalah nafkah batin, bolehlah jadi alasan, tapi prosesnya, kan tetap harus ke pengadilan agama. Kalo dikabulkan, baru dia janda. 

Butuh masa iddah juga untuk bisa menikah lagi setelah putusan cerai dari pengadilan agama. Jadi jelas status kasus ini, nikahnya tidak sah karena 1 hal. Mbak Citra masih sah sebagai istri Mas Adi ditambah nggak ada wali. 

Kedua mata Mbak Citra sudah basah. Entah karena menyesali kesalahannya atau karena dia nggak rela berpisah dengan Mas Tisna. Biarkan saja dia tahu kesalahannya. Agar tidak terus larut dalam kemaksiatan. 

Mas Tisna tampak salah tingkah. Ia tak seperti tadi. Mungkin malu kalah argumen denganku. 

"Baiklah, kalau gitu izinkan aku tetap membawa Citra. Bapak, izinkan kami menikah," ucap Mas Tisna tiba-tiba yang membuat kami semua menganga. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!