Ditipu Menantu Benalu

Karena Kamu Karyawan Teladan

"Kamu yakin ingin tahu alasannya?" 

Aku mengangguk cepat. Tak ingin berlama-lama berdua dengan pria yang entah sejak kapan menjadi sedikit agresif ini. Padahal sebelumnya cuek-cuek saja. 

"Karena kamu adalah karyawan teladan. Kamu sudah banyak berjasa bagi penerbitan ini. Dan kamu sudab membuat saya bangga. Tidak salah, kan saya memberi hadiah mahal untukmu?"

Aku gelagapan. Di luar ekspektasi. Aku kira dia akan menjawab lain. Ternyata masih sama. Ini benar-benar tak masuk akal. Jika karena prestasi, harusnya Pak Pramu juga mendapatkannya. Karena beliaulah yang paling banyak berjasa. Berkat kepiawaiannya dalam mengatur jadwal dan menharahkan kami, perusahaan ini bisa melejit. Bahkan disaat banyak penerbitan yang mulai gulung tikar karena banyak pembaca dan penulis yang beralih ke platform digital. 

"Tapi, kenapa bukan Pak Pramu yang mendapatkan hadiah istimewa itu, Pak?" tanyaku yang kemudian membuatku menyesal karena berani membantah. 

Pria itu memicingkan mata dan memajukan kepalanya kepadaku. Spontan aku memundurkan kepala untuk menghindari bertatap langsung dengannya. Ini sudah nggak beres. Kenapa Pak Bos berubah agresif begini? Sepertinya ada yang salah dengan pria ini. 

"Jadi kamu masih belum percaya dengan alasan saya? Apa kamu ingin mendengar saya mengatakan saya menyukaimu?" 

"Tidak. Tentu saja itu tidak akan terjadi." Aku menggeleng-gelengkan kepala. Saat ini mungkin wajahku sudah nemerah menahan malu. 

"Kenapa tidak? Kalau emang benar gimana?" Pria itu menyunggingkan senyum misterius bertepatan dengan masuknya beberapa karyawan yang sudah lama kutunggu. Lalu pria itu menjauh dariku.

Dadaku berdetak kencang mendengar kalimat terakhirnya pak bos. Meski hanya gurauan, tapi jantung ini berlompatan tak karuan. Astaghfirullahal'adziim. 

Rapat berjalan lancar. Selama dua jam kami fokus pada program-program baru yang akan kami luncurkan. Juga membahas cabang baru yang akan dipimpin Pak Pramu. 

Selesai rapat, semua gegas keluar. Katanya mau jalan-jalan. Sedangkan aku masih berkutat dengan berkas-berkas yang harus kususun kembali. Setelahnya aku menghubungi Mas Agus untuk menjemput. Tanpa kusadari, pria yang sempat membuatku salah tingkah karena malu masih berada di dalam. Ia juga sibuk dengan gawainya. Karena tak ingin berlama-lama berdua lagi dengan laki-laki ini. Aku beranjak dan mendekat. Masalah ini harus segera kutuntaskan sekarang. 

"Maaf, Pak. Saya kembalikan barang ini. Saya rasa, saya nggak pantas menerimanya. Sekali lagi terimakasih banyak atas apresiasi Bapak," ucapku sambil menyodorkan kotak jam tangan ini. 

"Buang saja di kotak sampah kalau kamu nggak mau menerimanya. Aku tidak membutuhkaannya!" ucap pria itu dingin. Lalu meninggalkan aku membeku di sini. 

 

***

Hari ini hari terakhir kami berada di Malang. Semua karyawan diberi waktu satu hari untuk bersenang-senang. Aku memilih untuk jalan berdua dengan suami. Apalagi besok hari minggu. Jadi, nggak ada salahnya kami menginap semalam lagi di sini. 

Tujuan kami saat ini adalah ke kebun apel. Melihat langsung pohon apel dengan buah yang rimbun membuat suasana hati menjadi tenang. Ingin rasanya memakan semua buah-buah ini atau membungkusnya sebanyak mungkin untuk dibawa pulang. 

Kami terus menyusuri kebun ini. Setelah puas, kami memilih untuk mengelilingi stand hasil olahan apel. Mas Agus membeli beberapa untuk oleh-oleh.  

"Dek, bukankah itu bosmu? Kok dia sendirian, emang yang lain pada kemana?" 

Netraku menangkap sosok tinggi tegap dengan kaos santai dan celana chinos itu sedang berjalan menuju salah satu stand. Sepertinya ia juga sedang mencari oleh-oleh di sini. 

"Iya, Mas. Ya, dah, yuk!" Aku menyeret Mas Agus menuju parkiran. Lebih baik menghindari pria itu daripada nanti Mas Agus melihat sikap aneh orang itu. 

Semenjak kejadian jam tangan waktu itu, sikap pak bos berubah. Ia kembali dingin seperti semula. Aku pun tak berani menyapa kecuali menyangkut masalah pekerjaan. Dan memang begitu seharusnya. 

Meski terlihat bingung dengan sikapku yang tiba-tiba mengajaknya pergi, Mas Agus tetap menurut. Kami terus melangkah sambil bergandengan tangan. Beberapa kali berpapasan dengan para karyawan yang juga berada di sini. Oh, berarti Pak Bos nggak sendiri. Dia datang bersama karyawannya, pasti. 

"Kamu kok nggak ikut gabung dengan teman-temanmu, Dek?” tanya Mas Agus sambil membukakan pintu mobil untukku. Lalu ia memutar untuk masuk melalui pintu sebelah kanan. 

"Kan, Adek sama kamu, Mas." 

Pria itu hanya menanggapi dengan senyum. Matanya fokus pada jalanan. Setelah ini, kami berencana untuk pergi ke tempat kerja Mas Agus. Dia ada janji dengan para koleganya. 

Dua puluh menit kami menempuh perjalanan menuju tempat janjian Mas Agus. Beberapa orang sudah menunggu. Mereka laki-laki semua. Jadi aku memilih untuk duduk di pojok sendiri sambil menunggu Mas Agus selesai. 

Beberapa makanan sudah kupesan. Sambil menunggunya datang, aku memilih untuk membuka-buka story' WA. Tak ada yang menarik. Semua berisi foto-foto dan quotes. Aku beralih ke aplikasi biru. Dapat kulihat banyak postingan cerita terbaru di group yang dibuat perusahaan. 

Tujuannya adalah untuk menjaring penulis-penulis baru yang sesuai dengan visi misi penerbit kami. Siapa pun bebas posting tulisan. Jika beruntung, tulisan mereka akan diterbitkan di penerbit kami. Tentu saja bukan sembarang tulisan. Kami benar-benar menyeleksinya secara ketat. Mulai dari tema, alur cerita, bahasa yang digunakan, hingga konten yang disajikan. 

Karena tulisan itu akan dibaca banyak orang, sebisa mungkin kami memilih tulisan yang bermanfaat bagi pembaca. Yang tidak berisi pemikiran yang sesat dan mengundang maksiat. 

Aroma masakan menusuk hidungku. Seorang pelayan datang membawa pesananku. Kilirik meja samping tak jauh dariku, pria-pria yang di dalamnya ada suamiku juga sedang menyantap makanan. 

Kunikmati makanan ini dengan penuh rasa syukur. Berkat rizki dari-Nya, kami bisa makan seenak ini. Cumi asam manis kesukaanku telah habis kulahap bersama cha kangkung yang begitu nikmat. Dalam diam, aku merasakan makanan ini masuk melalui kerongkongan. 

Tanpa sadar, di depanku sudah duduk seseorang yang aku hindari. Ya, Pak Bos ada di sini. Aku celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang. Mas Agus tiba-tiba menghilang entah kemana. Sedangkan rekan-rekannya juga sudah tak ada. Bekas meja mereka makan juga sedang dibersihkan oleh pelayan. 

Aku semakin kalut kala pria ini terus menatapku. Di mana Mas Agus, kenapa ia tak bilang kalau mau pergi? Apa dia sedang ke toilet? Ah, iya. Pasti ke toilet. Nggak mungkin, kan ia meninggalkan aku di sini? 

Itulah kelemahanku. Jika sudah bertemu makanan kesukaan, aku begitu fokus dan melupakan sekitar. Bagaimana ini, kalau Mas Agus tahu aku sedang duduk berdua dengan pria ini, pasti akan berpikir macam-macam. Duh, gimana aku mengusir pria ini?"

"Saya juga lapar, jadi memilih untuk makan di sini. Karena semua meja telah penuh terisi, maka saya duduk di sini."

Pria itu menjelaskan keberadaannya di sini tanpa kuminta. Menjawab pertanyaan yang berkecamuk dalam hati. Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Bemar, semua kursi penuh terisi. Mungkin karena ini jam makan siang. 

Aku hanya mengangguk dan kembali fokus pada makanan yang belum selesai. Berharap supaya Mas Agus segera datang. 

"Kamu kenapa begitu takut berdekatan dengan saya? Apa saya begitu menakutkan buatmu?" 

Pertanyaan pria ini membuatku tersedak. Berkali-kali aku batuk karena rasanya seperti ada makanan yang masuk ke hidung. Sangat perih. Pria ini membantuku dengan menyodorkan air putih. 

"Apa yang kalian lakukan?" 

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!