Ditipu Menantu Benalu

Temani Saya

Dalam kekalutan berpikir, pria yang terlihat sangat tampan dengan kemeja putih dan dasi warna biru navy itu sudah jalan mendekat. Lalu duduk tak jauh dariku. 

"Bapak ada perlu apa memanggil saya kemari?" 

"Temani saya makan siang!" 

Kedua nataku membola. Apa aku tak salah dengar? 

"Maaf, bapak tadi bilang apa?" tanyaku untuk memastikan pendengaranku masih normal. 

"Temani saya makan siang. Saya malas makan sendiri."

"Tap--tapi, pak?"

Suara ketukan pintu menghentikan ucapanku. Aku mau menolak ajakan tak biasa ini. Kenapa harus aku yang menemaninya? Bukankah masih banyak karyawan laki-laki di kantor ini? Ada Pak Galang asistennya yang biasa menemani. Kenapa sekarang aku?

Seorang OG menata makanan yang mungkin baru dipesannya dari luar. Ekor matanya melirikku yang sedang menunduk di sofa. Mencerna apa yang terjadi di depanku ini. 

Bisa gawat kalau perempuan yang biasa membantuku memfotokopi berkas ini sampai ember mulutnya. Pasti semua karyawan sekantor ini akan terguncang mendengar ini. Seorang Dewi terlihat dengan dengan bos besar. Dan nanti akan dikaitkan dengan naiknya jabatanku ini. Oh tidak. Bagaimana ini?

"Galang sedang tugas di luar. Makanya saya memintamu menemani makan." 

Pria ini menjawab apa yang menjadi pertanyaanku dalam hati. Apa ekspresi wajahku sangat mudah dibaca sampai pria penting di depanku ini dengan jelas bisa membaca pikiranku. 

Selesai menata makanan, pria yang memakai seragam OB ini hendak pergi. Namun pak bos menahannya. Dia meminta perempuan ini untuk menemaniku di sini. Tentu saja untuk makan bersama. Bukan sekadar menjadi penonton.

Apa pria ini tahu aku tak mau berduaan saja dengannya hingga meminta OG ini menemaniku? Semoga setelah ini tidak ada gosip yang menyebar.

"Kamu jangan berpikir macam-macam. Saya hanya tak mau makan sendirian, makanya saya ajak Dewi dan kamu makan bersama. Karena pasti karyawan yang lain sudah pada makan ke kantin," ucap Pak Bos pada perempuan yang tampak takut-takut itu. 

Pintar sekali pria ini beralibi. Padahal tadi aku dipanggil ke sini sebelum jam istirahat tiba. Benar-benar pembohong ulung. Aku mencibir dalam hati. Entah mengapa, sejak dia memberiku hadiah jam tangan waktu itu, ditambah sikapnya yang semakin perhatian, membuatku takut berdekatan dengannya. 

"Oh ya, siapa namamu?" tunjuk Pak Bos pada perempuan yang sedang membereskan bekas makan kami. 

"Tini, Pak!"

"Oj, ya. Tini! Tolong jangan membicarakan apa pun soal ini ke karyawan lainnya ya. Saya nggak mau ada gosip tidak sedap di kantor ini," minta lelaki ini yang lebih mirip perintah daripada permohonan. 

Perempuan itu hanya mengangguk sambil tangannya cekatan membersihkan bekas makan yang masih tersisa. Saat perempuan itu beranjak meninggalkan kami, aku juga ikut berpamitan. Tak ingin berlama-lama dengan pria ini.

Astaghfirullah. Apa yang sudah kulakukan? Mulai besok, aku harus waspada jika pria itu memintaku ke ruangannya. Salahku sendiri sih, tadi nggak tanya dulu keperluai apa. Jika tahu suruh menemani makan siang, pasti sudah kutolak mentah-mentah. 

Aku jadi semakin ragu dengan rumor yang beredar. Katanya pria ini orang yang dingin dan kaku. Nyatanya tidak seperti itu. Meski jika bersamanya, dia lebih banyak diam daripada bicara. Dan lagi, desas-desus yang berkembang, rumah tangganya sedang diambang kehancuran. Apa karena itu dia mulai berani mengajak karyawan perempuan ke ruangannya untuk sekadar menemani makan siang? 

Ah, kenapa aku harus terjebak dengan pria ini? Kalau tahu bakal begini, lebih baik aku tetap berada di tim editor daripada naik jabatan tapi menjadi sering berinteraksi dengan pam Bos. 

Aku kembali ke ruangan dan melaksanakan shalat duhur di sini. Karena kalau aku harus ke mushalla dulu yang ada di lantai dasar, waktu istirahatku akan habis sebelum kembali. 

Sebuah notifikasi mengagetkanku saat aku telah selesai melipat mukena. Segera ku sambar benda pipih yang ada di meja. Dari grouo editor. Ternyata di group itu heboh menanyakan keberadaanku dan alasan aku nggak ikut nyusul ke kantin. 

Aduh bagaimana ini. Masa iya aku bilang diajak makan siang Pak Bos. Bisa gempar dunia persilatan eh dunia penerbitan jika tahu hal itu. Maka dengan gemetar kuketik bahwa aku makan siang di ruangan. Aku tidak sepenuhnya bohong, kan? Karena faktanya memang di ruangan. Tapi ruangan pak bos. 

Setelah balasan itu, tak sedikit yang mengumpat kesal karena aku ingkar janji. Ya Allah, bagaimana ini? Atau kusuruh saja mereka bertanya langsung kepada pak bos kenapa ia menahanku. Ah, tapi yang terakhir ini nggak mungkin. 

 

***

Pukul 14.00 pekerjaan selesai. Semua karyawan berhamburan pulang. Termasuk aku. Langkah kaki ini berjalan menuju ruang editor. Berniat untuk minta maaf karena tak jadi datang. Namun ternyata ruangan ini sudah kosong. Apa mereka sengaja meninggalkanku? 

Tanpa pikir panjang, aku segera bergerak menuju lift. Begitu pintu terbuka, alangkah terkejutnya aku. Di dalam ada Pak Bos sendirian. Gegas pintu lift kututup kembali dan berniat untuk turun dengan lift berikutnya. Namun sayang, kaki panjang pria itu sengaja terulur untuk menahan pintu otomatis itu agar tak menutup kembali. 

"Masuklah! Saya bukan singa yang akan menerkam mangsanya!" ucap pria itu dingin. 

Susah payah aku menelan ludah. Seperti ada benda berduri yang sangat sulit untuk ditelan. 

"Ti--tidak, Pak. Duluan saja," ucapku terbata. Namun pria itu tetap bergeming dengan sebuah tangan menekan tombol lift agar tertahan. 

"Masuklah. Jam segini lantai ini sangat sepi. Kadang ada suara-suara aneh yang terdengar."

Tanpa aba-aba, aku langsung melompat ke dalam lift. Mendengar ucapan pria ini membuat bulu kudukku meremang. Membayangkan aku sendirian sambil menunggu lift, lalu mendengar suara-suara tak jelas. Napasku memburu memikirkan itu. 

Perlahan kurasakan lift telah bergerak turun. Aku berdiri di pojokan agak jauh dengan pria ini. Dari dinding lift dapat kulihat jelas pantulan kami. Sorot pria ini seperti menembus punggungku. Ya Allah, kalau boleh memilih, lebih baik aku terjebak berdua bersama Yola daripada dengan manusia es ini.

Beberapa detik kemudian kami sampai di lantai dasar. Saat pintu terbuka, ternyata teman-temanku sedang menunggu di loby. Senua mata memandang ke arahku. Tidak lebih tepatnya ke arah seseorang yang ada di belakangku. 

Gegas aku keluar lebih dulu tanpa mengindahkan pria yang memiliki jabatan paking tinggi ini. 

"Pantesan nggak ada di ruangan, ternyata sudah pada di sini rupanya," ucapku untuk memecah kebekuan. Entah mengapa, tiba-tiba teman-temanku berubah seperti patung. Hanya bola matanya yang bergerak mengikuti langkah pria tinggi itu. 

"Eh, Wi, seriusan ini tadi kamu berduaan saja sama Pak Bos di lift?" 

Yola dan teman-teman mulai heboh setelah Pak Bos hilang dari pandangan. 

"Iya. Terpaksa. Soalnya aku takut sendirian di lantai dua. Tadi aku mampir ke ruangan kalian, tapi sudah sepi. Pas masuk lift, ternyata ada pak bos di dalam."

"Woah, tahu gitu tadi nggak turun duluan biar bisa satu lift dengan bos tampan," ucap Yola kecentilan. Dasar jomlo ngenes. Kelamaan menyendiri jadi begini deh. 

Kami berjalan beriringan. Mereka mencecarku dengan berbagai pertanyaan karena tak ikut makan siang. Dirambah lagi dengan kebersamaanku dengan Pak Bos tadi membuat mereka semakin heboh. 

Sampai di parkiran, aku baru ingat kalau tadi berangkat diantar suami. Kutelepon Mas Agus berkali-kali, tapi tak diangkat. Biasanya dia akan selalu datang tepat waktu. Tapi kenapa sekarang belum bisa dihubungi? Dia pun tak mengirim pesan apa-apa. 

"Nggak, bawa kendaraan? Bareng saya saja!" 

Sontak semua orang yang sedang menungguku dijemput menoleh pada sumber suara. Semua menganga mendengar penawaran itu. Matanya membola tak percaya dengan apa yang di dengarnya. 

Aduh, mati aku! 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!